Don't Leave Me

Don't Leave Me
Buku Harian Lexa



Ratih sedang pamit masuk ke dalam rumah, mengambil sesuatu yang sepertinya akan ditunjukkan kepada Erick.


Erick yang sedang sendiri, termenung memandang bintang yang berkelap-kelip di langit. Sinarnya agak redup tertutup awan malam. Sementara sang bulan sudah tak lagi menampakkan diri.


Bintang masih setia di tempatnya, menunggu bulan yang dengan tega menghilang dan sembunyi di balik pekatnya malam.


"Rick..." Sapa Ratih yang baru saja ikut menghilang.


Tapi Ratih tidak menghilang dalam pekatnya malam, dia hanya pergi mengambil sebuah buku berwarna cokelat berhias daun kering milik Lexa.


"Apa ini tante??" Tanya Erick.


Erick merasa sangat penasaran saat Ratih memberikan buku milik Lexa itu kepadanya.


"Ini adalah diary milik Lexa." Jawab Ratih.


Erick tertegun menatap buku yang Ratih suguhkan untuknya.


"Kenapa tante memberikannya kepada Erick??" Tanya Erick lagi.


"Di dalamnya banyak hal-hal yang bisa menyulut semangatmu." Jelas Ratih yakin.


Tapi Erick sedikit mengerutkan keningnya. Dia tampak bingung..


"Bawalah! Dan baca dengan baik." Pesan Ratih.


Tangannya menarik tangan Erick agar mau menerima buku Lexa yang Ratih harap bisa membantunya membuat keputusan.


"Tapi tante.... Ini milik Lexa. Erick gak boleh membacanya." Tegas Erick yang segera menolak buku yang ada di tangannya.


"Tak apa. Bahkan mungkin Lexa malah ingin kamu membacanya. Karena tante rasa banyak kata bertuliskan Erick di dalam sana." Ucap Ratih.


Ratih meyakinkan Erick dengan sedikit melirik buku Lexa yang masih berada di antara tangan Ratih dan tangan Erick.


Erick mengembangkan senyum, antara malu, bahagia, bangga dan ragu tergambar jelas di raut wajahnya yang sendu di bawah sinar lampu teras rumah Ratih. Dan Ratih pun tersenyum kecil. Dia merasa puas karena Erick mau menerima pemberiannya.


"Erick...." Sapa seorang Ibu yang terlihat sedang mencari anak laki-lakinya.


Erick hanya melirik tempat Martha saja. Dia masih fokus pada benda yang ada di tangannya.


Martha mendekat ke arah anaknya. Dia memposisikan diri berdiri di tengah-tengah antara Ratih dan Lexa.


"Maaf ya, Bu Ratih... Saya jadi merepotkan anda dengan masalah Erick. Saya agak sedikit menyerah dengan sikap anak ini." Gerutu Martha yang dengan lembut mengacak-acak rambut Erick.


Erick yang diperlakukan seperti itu oleh Martha hanya diam saja, dan memperlihatkan senyum santai. Ternyata Martha adalah orang yang menyuruh Erick untuk membicarakan masa depannya yang sedang dipertaruhkan.


"Gak apa-apa, Kak." Ucap Ratih.


Martha dan Erick tampak terkejut dengan sapaan Ratih kepada Martha. Tapi Ratih terlihat santai, dia malah menunjukan raut wajah senang karena sudah mengikuti saran Angga.


"Erick sudah saya anggap seperti keponakan sendiri. Lagian Erick selalu mengingatkan saya tentang Lexa, Kak." Jelas Ratih.


Martha terharu. Tanpa persiapan, Ratih mendapatkan pelukan hangat dari Martha. Pelukan yang sedikit emosional, sampai-sampai mereka berdua tak sengaja menitikkan airmata bahagia yang disaksikan oleh Erick yang tersenyum bahagia melihat pemandangan menyejukkan di hadapannya.


'Lexa pasti akan bahagia melihat hal seperti ini.'


Gumam Erick dalam hati.


Dan malam yang ditemani rintik-rintik hujan syahdu pun ikut bergembira menyaksikan pemandangan di bumi malam ini.


****


Martha dan Erick sudah sampai di rumah mereka setelah berpamitan dengan Ratih. Martha mulai mengunci rumahnya, karena malam sudah semakin larut dan hawa dingin akibat hujanpun terasa menusuk tulang. Erick masih setia menemani Martha mengunci pintu.


Martha selesai dengan perkejaannya. Dia langsung menggandeng lengan Erick agar segera berlalu dari ruang tamu dan beranjak ke kamarnya untuk beristirahat.


"Ma..." Kata Erick.


"Iya...." Sahut Martha yang tangannya masih bergelayut di lengan Erick.


"Erick minta waktu satu hari lagi untuk memantapkan keputusan Erick." Tegas Erick.


Martha melpaskan rangkulan dan gelayut manjanya di lengan Erick. Dengan lembut menatap sosok remaja yang diciptakan Tuhan menjadi anaknya. Diusapnya wajah remaja di hadapannya itu penuh kasih sayang.


"Silahkan, Nak. Mama mengerti. Kamu adalah anak Mama yang paling dewasa. Walaupun usiamu masih muda tapi pemikiranmu jauh ke depan. Mama bangga akan hal itu, Nak." Ucap Martha lembut.


"Mama percaya atas semua keputusanmu, Nak. Mama sebagai orang tua hanya bisa berharap kelak kamu akan bangga dengan keputusan yang akan kamu ambil saat ini. Dan yakinlah, Nak. di setiap malam yang Mama lalui, tak terlewat sedetikpun doa untuk anak-anak Mama. Mama doakan agar kalian dimudahkan segala urusannya. Mama juga doakan agar kalian bisa menggapai apa yang dicita-citakan." Imbuh Martha.


****


Erick masih beluk terlelap. Dia masih berdiri tegak menatap langit yang sedang menurunkan rezekinya lewat hujan. Dia masih kokoh di dekat jendela. Menerawang kelamnya malam, mencari apa yang tidak bisa dilihat dan dia genggam.


Angin sepoi-sepoi masih menyapa. Hawa dinginnya seperti tak bisa menembus tebalnya kulit Erick. Dia masih saja berdiri, menyapa gulita yang terasa menyembunyikan apa yang sedang dia cari.


Tanpa sadar, tetesan air hujan mendarat tangannya. Sedikit mengalihkan perhatiannya kepada langit. Dua bunga kuning di samping tangannya bergoyang-goyang, tersapu angin malam yang membuatnya dingin. Sinarnya sedikit redup.


Air hujan sedikit membasahi tubuhnya, namun tak sampai basah kuyup. Tetesan air langit yang jatuh dari kelopak dan dedaunannya itu nampak seperti lelehan airmata di mata Erick.


Erick pun tersadar. Perlahan memejamkan mata. Menyadarkan akalnya, bahwa Lexa sudah tenang disana. Harusnya dia tidak membebani pikiran Lexa dengan rindunya.


Erick mengepalkan tangannya. Menahan sakit yang masih saja terasa di lubuk hatinya. Betapa sakit ternyata memendam kata rindu dalam dada.


Erick melangkah pergi dari tempatnya. Membiarkan daisy kedinginan, membiarkan daisy menahan tangis hujan. Biar dia juga ikut merasakan betapa sakitnya rasa yang Erick pendam.


****


Embun pagi mulai menyongsong. Secercah sinar kuning keemasan sudah menyinari kamar Erick. Mengeringkan daisy yang nampak bugar setelah semalaman diguyur hujan. Nyatanya hujan tak menggetarkan kelopak dan dedaunannya. Dia malah tampak lebih bersinar setelahnya.


Erick masih berselimut kain. Terlelap dalam tidur malamnya yang panjang. Matanya terlihat sedikit sembab.


Martha membuka pintu kamarnya, memastikan Erick bangun tepat waktu untuk menemaninya sarapan. Dia masih belum berharap Erick memakai seragam sekolahnya sekarang, karena dia berjanji akan memberi Erick waktu untuk berpikir.


Martha mengelus manja rambut anaknya. Menatapnya dalam sendu. Melirik tubuh jangkung Erick yang terlihat kuyu. Ingin rasanya dia memeluk tubuh bungsunya itu. Tapi belum sempat dia rengkuh, mata Erick sudah terbuka sempurna.


"Mama... Sudah pagi, ya?!" Tanya Erick sambil melirik jendela.


"Mmmmm.." Jawab Martha singkat.


Tangan Martha masih mengelus rambut Erick. Melempar senyum sayang kepada anaknya itu.


"Ayo bersih-bersih dulu, terus ke bawah. Kita sarapan, ya?!" Pinta Martha.


"Mmmmmm..." Kali ini Erick yang menjawabnya singkat.


Martha pun pamit dari ranjang Erick. Bersiap menunggu Erick di meja makan. Erick pun segera bangkit, dia lekas pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


****


Makanan pagi sudah selesai mereka santap. Erick terlihat meneguk susu putihnya. Sementara Martha sedang menaruh piring kotor ke wastafel.


"Ma...." Sapa Erick.


"Iya..." Sahut Martha.


"Erick mau ke makam Lexa.." Kata Erick.


Martha menghentikan aktifitasnya. Mengalihkan perhatiannya kepada Erick yang menatapnya penuh harap.


"Boleh...." Jawab Martha ikhlas.


Erick pun tersenyum tenang.


"Mama hanya mengingatkan, Rick. Lexa sudah tenang di dunianya sendiri. Kita hanya bisa mendoakan Lexa dari sini, dan yang paling penting Lexa masih tetap ada disini." Tangan Martha menunjuk dadanya, menunjukkan hati yang selalu ada Lexa disana.


"Ingat... Lexa akan terus ada selama kita masih mengingatnya. Dan... Selama semangat kita masih sama seperti Lexa, pasti dia akan merasa bangga." Imbuh Martha.


"Iya, Ma...." Jawab Erick yakin.


****


Erick menenteng tas di tangannya. Di dalamnya ada rangkaian bunga daisy yang indah, dan di sampingnya ada buku milik Lexa yang belum disentuh oleh Erick sama sekali.


Dia melenggang melangkahkan kaki menuju arah pusara Lexa. Kakinya melangkah pasti seperti tak sabar mengunjungi Lexa yang semalam mengganggu pikirannya.


Dan akhirnya tempat tujuannya tiba. Langkahnya pun sontak terhenti. Dia mengambil napas dalam menyapa Lexa.


Erick duduk di samping pusara Lexa. Membelai nisan Lexa yang basah sisa hujan semalam. Bunga yang ada di tas sekali pakai dia ambil dan segera meletakkannya di atas tanah yang menutupi raga Lexa.


"Hai... Apa kabar? Maaf baru mengunjungimu." Ucap Erick.


"Tante Ratih memberikanku buku ini." Kata Erick sambil menunjukkan buku harian Lexa.


"Maaf karena aku ingin membacanya. Mudah-mudahan kamu tidak keberatan." Ujar Erick sambil terus mengusap nisan Lexa.