Don't Leave Me

Don't Leave Me
Tamu Malam



Mata Erick terpejam karena sentuhan tangan Lexa yang menutupi pandangannya. Masih jelas dalam sorot matanya, wajah Lexa yang menebar senyum ke arahnya. Masih jelas juga wangi harum tubuh dan rambutnya yang hitam, yang membuat Erick terhanyut dalam suasana.


Perlahan Erick buka matanya yang terpejam. Melihat jelas sinar matahari yang masuk ke dalam bola matanya. Erick memutar pandangannya. Ada gitar kesayangannya yang masih dalam dekapannya. Mata Erick berkeliling lagi mencari perempuan yang sedari tadi mengutas senyum untuknya, tetapi nihil.


Erick ada di kamarnya sendiri, memeluk gitar yang tadi sempat dia mainkan. Erick terbaring di kasur seorang diri. Perasaannya masih tak menentu. Dia bersama Lexa tadi, tapi sekarang dia sendiri.


Erick berusaha membangunkan tubuh dan pikirannya. Dia tidak ingin terlarut dalam khayalannya. Dia berusaha untuk duduk di tepi ranjangnya. Mengusap bola matanya yang masih terpengaruh oleh kehadiran Lexa.


Baru saja dia akan mengucek bola matanya. Hati Erick sedikit tersentak. Ada sesuatu yang mengganjal di tangan kanannya. Erick lekas menoleh ke arah tangan yang membuatnya merasa tidak nyaman.


Betul saja. Di tangan kanannya terlihat setangkai bunga berwarna kuning cerah. Bunga yang tidak asing baginya. Mata Erick sedikit terbelalak. Ada rasa keterkejutan yang sangat menggangu hati dan pikirannya perihal bunga daisy yang ada di tangannya kini.


Erick melirik pot bunga daisy yang dia letakkan di pinggir jendela. Dan ternyata masih utuh. Pikirannya mulai sibuk menerka. Darimana datangnya bunga daisy ini? Pikiran itu begitu menggelora di dalam akal sehatnya.


Erick lihat sekali lagi bunga yang benar-benar nyata di tangannya. Kemudian mengingat lagi khayalannya tentang Lexa. Lalu dengan raut wajah yang tak tertebak, Erick hela napasnya panjang. Dan merobohkan lagi tubuhnya di atas kasurnya yang empuk dan masih menggenggam bunga kuning itu erat.


****


Ratih sedang menyiapkan makan malam untuk dirinya. Dia menyalakan kompornya untuk memasak menu makan malam yang sudah disiapkan. Sebuah telur yang sudah dia kocok lepas ditambah sayuran berwarna hijau sebagai pelengkap.


Belum sempat dia memulai memasak telurnya, pintu rumahnya sudah bergetar oleh suara ketukan dari luar rumahnya. Ratih masih merasa enggan membukakan pintu, tapi karena suara ketukan pintu semakin keras sehingga membuat Ratih tak nyaman.


Ratih menghentikan aktifitasnya untuk membuat hidangan makan malam. Menu yang belum matang itu dia tinggal. Ratih bergegas membuka pintu untuk tamunya.


Ratih tak menyangka, jika dari balik pintu rumahnya yang sudah terbuka, sudah ada sosok Martha dan Erick tang dengan ramah menyapanya.


"Maaf mengganggu, Bu Ratih. Ini saya bawakan makanan untuk Bu Ratih." Sapa Martha hangat.


Martha bersama Erick membawa beberapa box makanan yang tersusun rapi di tangannya.


"Saya masak banyak. Takut gak habis, jadi saya bawa kesini." Ucap Martha lagi.


"Boleh kita ikut makan disini? Kita belum makan malam. Bu Ratih juga belum kan?!" Imbuh Martha meminta izin kepada Ratih untuk makan malam bersama di rumah Ratih, meski makanan Martha dia masak dari rumahnya sendiri.


Ratih tersenyum lebar. Mempersilahkan Martha dan Erick masuk ke dalam rumahnya dan mengabulkan maksud dan tujuan kedatangan mereka.


Mereka bertiga pun akhirnya masuk ke dalam rumah Ratih dan mulai menyiapkan makanan yang Martha bawa di meja makan.


Martha dibantu Erick menata makanan yang akan mereka santap di atas meja makan. Sementara Ratih menyiapkan minuman untuk mereka minum. Ketiganya nampak akrab, menepiskan sedikit kesedihan yang sebenarnya masih bergelayut di hati mereka.


Akhirnya semua hidangan sudah siap untuk di makan. Erick memimpin doa untuk mengawali kegiatan santap makan malam mereka. Setelah selesai, Martha langsung melayani kedua orang di samping dan di depannya itu dengan memberikan nasi beserta lauk pauk yang jelas sangat enak.


"Coba tumis ini, Bu Ratih. Ini enak, loh?!" Rayu Martha yang menunjuk sebuah tumis kedelai yang dicampur dengan cabai hijau. Sungguh menggugah selera.


Ratih mengangguk mengiyakan tawaran Martha kepadanya. Terlihat Ratih juga ingin menyicipinya. Di piringnya sudah penuh lauk sekarang. Ada tumis kedelai, orak-arik tempe, ayam goreng dan tak ketinggalan ada sambel juga. Menu makanannya benar-benar menggugah selera. Ratih tak sabar ingin menikmatinya.


Ketiganya makan malam dengan bahagia. Banyak candaan dan gurauan yang diciptakan. Erick, Martha dan Ratih saling bertukar cerita. Mereka tidak ingin suasana makan malam yang hangat dan memanjakan lidah hari ini, menjadi hambar karena mengingat kesedihan yang sebenarnya belum kunjung usai.


****


Ratih dan Martha asyik mengobrol santai di ruang keluarga. Televisi yang dinyalakan Ratih malah tidak dijadikan tontonan. Keduanya lebih memilih bertukar pengalaman kehidupan masing-masing.


Erick masih membenahi peralatan makan yang sudah dia cuci bersih setelah tadi sebelumnya digunakan untuk bersantap. Erick terlihat luwes mengerjakan pekerjaan yang identik dengan pekerjaan perempuan itu. Tapi karena dia sering diminta untuk membantu ibunya di dapur, membuat Erick sudah tak canggung lagi mengerjakan urusan dapur walaupun di rumah Ratih.


Pekerjaan dapur sudah selesai. Dapur Ratih menjadi bersih dan tidak berantakan. Telur yang tadi sudah siap masak, akhirnya disimpan di kulkas agar awet dan bisa dimasak di lain waktu.


Erick menghampiri Ratih dan Martha di ruang keluarga. Erick memilih karpet merah yang berada di lantai sebagai alasnya untuk duduk. Dia menghindari kursi.


"Tenang saja, Bu Ratih.. Erick sudah terbiasa dengan urusan dapur. Dia paling jago kalau soal bersih-bersih." Ucap Martha bangga.


Ratih tersenyum mendengar perkataan Martha, sementara Erick hanya mengutas senyum kecil saja. Dia tidak ingin sombong dan terhanyut oleh pujian Ibunya sendiri.


Ratih dan Martha melanjutkan kembali ngobrol santai dan asik mereka. Keduanya terlibat percakapan seru. Ratih terlihat bahagia dan tidak tertekan. Erick menebak bahwa Ratih sudah bisa menerima kepergian Lexa. Raut wajah Ratih tampak sedikit berseri, walaupun kesedihan juga masih bergelayut di matanya. Tapi Ratih terlihat begitu tegar.


Erick menatap jauh ke depan, berusaha untuk tidak ikut campur dengan percakapan kedua wanita hebat di sampingnya.


Tapi pandangannya malah tertuju pada kamar Lexa.


Tiba-tiba hatinya berdesir. Dia teringat akan pertemuannya dengan Lexa tadi siang. Erick yakin Lexa memang datang menemuinya. Membawa setangkai bunga daisy juga untuknya. Hal itu sungguh membuat Erick bahagia dan hatinya pun diliputi rasa haru yang belum bisa dijelaskan.


Ingin rasanya Erick melangkahkan kaki ke sana, melihat ke dalam kamar Lexa. Apakah Lexa ada disana? Pertanyaan itu muncul tiba-tiba di benak Erick. Tapi kemudian Erick berusaha menguasai dirinya sendiri, berusaha agar dia terlihat tenang dan senang.


Erick menghela napas panjang, mengontrol emosi di dalam dadanya. Kemudian melempar pandangan ke arah televisi yang sedari tadi tidak ada yang menonton. Berusaha tetap fokus menonton, agar pikirannya tidak tertarik lagi dengan isi di dalam.ruangan kamar Lexa.


"Rick!!" Ucap Martha setengah berteriak.


Erick sedikit terkejut dengan panggilan Martha. Dia menoleh ke arah ibunya. Martha nampak agak kesal. Tapi kenapa?


"Ayo, bangun! Sudah jam sembilan malam." Gerutu Martha.


"Hakh? Jam sembilan??" Tanya Erick tak yakin.


Martha mengangguk.


"Gak apa-apa Bu Martha, barangkali Erick mau tidur disini juga saya persilahkan." Ucap Ratih menenangkan.


Martha melirik Erick yang sibuk mengucek matanya yang masih terasa berat untuk terbuka.


"Gak tante... Erick pulang aja!" Kata Erick yang sudah berdiri pertanda siap untuk pulang.


"Maaf ya, Bu Ratih. Kami sudah mengganggu Bu Ratih." Kata Martha kepada Ratih dengan sedikit menepuk lengan Ratih lembut.


"Tidak apa-apa, Bu Martha. Saya malah merasa senang, Bu Martha dan Erick mau menemani saya." Ucap Ratih tulus.


Martha memeluk tubuh Ratih sambil mengucapkan salam perpisahan. Diikuti Erick yang juga melakukan hal yang sama kepada Ratih.


"Selamat istirahat, tante.." Ucap Erick manis.


Ratih mengangguk. Diusapnya rambut Erick yang acak-acakan. Ratih menatap Erick dengan tatapan haru.


"Selamat beristirahat juga, Rick!" Balas Ratih lembut.


"Kami pamit dulu, Bu Ratih." Sahut Martha.


Ratih mengangguk, merelakan tamunya pergi meninggalkan rumahnya.


Ada rasa haru terselip di hatinya. Ratih merasa tersanjung dengan sikap keluarga Erick yang masih saja mempedulikan dirinya.


Benar kata Lexa, dia memiliki orang-orang yang masih mau menerimanya. Orang yang tulus menemani di saat kita dalam keadaan sedih dan terpuruk akan jauh lebih bermakna kehadirannya.


Mata Ratih merelakan tetangganya itu menghilang dari pandangannya. Rupanya Ratih merasa lega, bisa memiliki orang lain yang bisa di ajak berbicara dan berbagi selain Lexa.