Don't Leave Me

Don't Leave Me
107




Reynaldi Alexander Adiwijaya



Aku menghentikan mobilku didepan mansionku. Sore ini aku baru pulang dari kantorku. Ada urusan yang sangat penting yang harus aku lakukan.



Semalam Shica sangat cantik dan seksi. Dia benar-benar berhasil menggodaku. Aku kesal sekali, setiap aku mau menyentuhnya, ada saja gangguan yang datang.



Namun, malam ini, aku akan melakukannya.



Aku juga masih ingat saat dia bilang dia mencintai diriku..



Apa itu benar?



Aku sangat bahagia mendengarnya, tapi bagaimana jika dia berbohong hanya untuk membahagiakanku?



Aku tidak yakin..



Aku melemparkan kunci mobilku pada penjaga mansion. "Masukkan mobilku " kataku kemudian memasuki mansion.



Aku melihat para pelayan sedang menjalankan tugas masing-masing. Mereka membungkukkan badan saat aku melewati mereka.



"Dimana Rastani? " tanyaku.



"Nyonya di halaman belakang sedang melukis " jawab salah satu pelayan.



Aku pun melangkahkan kakiku menuju halaman belakang. Namun tidak ada siapapun disana.



Mungkin Shica ada di kamar kami. Aku menaiki tangga menuju kamar kami. Namun disana juga tidak ada.



Kemana gadis nakalku itu.



Dia tidak mungkin kabur karena aku melihat ada ponselnya di nakas. Belum lagi novel-novel berharganya juga ada di rak. Mana mungkin dia meninggalkan semua itu.



Aku tidak mungkin meminta bantuan pada para pelayan. Aku pun memilih mencarinya sendiri ke seluruh ruangan di mansionku.



Setelah mengelilingi seluruh ruangan, aku benar-benar tidak menemukan dia.



Hanya satu ruangan yang belum aku cek. Yaitu mini bar ku.



Apa mungkin dia disana. Tapi mana mungkin dia mau kesana.



Aku pun memasuki mini bar ku. Kulihat Shica duduk dengan melelapkan kepalanya ke kedua tangannya membelakangiku.



Aku melangkahkan kakiku menghampiri dia.



Aku menyentuh bahunya. Shica mengangkat kepalanya menatapku. Rambutnya tampak acak-acakan. Pandangannya begitu sayu membuatku bergairah.



Shica tersenyum tipis saat melihatku dan perlahan bangkit dari duduknya. Dia menyentuh dadaku.



"Sudah pulang, sayang? " tanyanya.



Sayang?



Wah.. Rasanya jantungku berdetak kencang.



Aku merangkul pinggangnya. Pandanganku tertuju pada gelas berisikan minuman kerasku itu di meja bar.



Aku sangat terkejut. Apa Shica meminum minuman itu?



Tidak mungkin..



Shica tidak mungkin meminumnya..



Shica mendekatkan wajahnya. Hidung kami beradu. Tatapannya yang sayu membuat kedua pipiku memanas.



"Kenapa lama? Apa kau tidak merindukanku? " tanya Shica. Dan bersamaan dengan itu, aku mencium bau alkohol dari mulutnya.



"Rastani, apa kau meminum minuman ini? " tanyaku sambil menangkup wajahnya.



Namun dia malah tertawa. "Kau juga meminumnya kan.. Hmm.. Aku jadi pusing" katanya sambil berdiri agak limbung.



"Rastani.. Ada apa denganmu? " tanyaku menggerutu. Namun dia seolah tidak mendengarku. Dia malah menatapku penuh makna.



"Kau begitu tampan.. Sayang.. " kata Shica sambil menyentuh bibirku.



Oh dia menggodaku ya..



Hei aku memang tampan..



Apa dia baru menyadarinya?



Ah ya tentu saja.. Selama ini yang ada dipikirannya hanya Raihan, tidak ada yang lain.



Shica sangat menggoda dan seksi saat mabuk seperti ini. Aku sangat suka keadaannya yang agak liar ini.



".. Kenapa wajahmu menggodaku hmm? Kau ini Reynaldi, atau dewa? " tanya Shica yang mulai tidak waras.



".. Boleh aku menciummu? " tanya Shica lagi.



Kenapa tidak?



Tanpa menunggu jawabanku, dia mengecup lembut bibirku. Aku membalas ciumannya.




Aku suka ekspresi nakalnya itu.



".. Jangan meninggalkanku.. " kata Shica pelan dengan ekspresi sedih.



Tidak.. Tidak..



Dia tidak boleh menangis..



Aku menangkup wajahnya yang manis dan bulat itu.



"Aku tidak mungkin meninggalkanmu, sayang.. Bukankah kau sendiri melihat pengorbananku? Untuk apa aku berkorban jika pada akhirnya aku meninggalkanmu" kataku.



Dia menatapku kemudian tersenyum. "Kau berbeda dengan Raihan.. " kata Shica pelan.



Aku menautkan alisku kesal. Untuk apa dia membandingkan diriku dengan pria itu?



"Dia mencintaiku dengan tulus,  sementara kau mencintai karena hal lain yang tidak aku ketahui.. Tapi.. Pengorbananmu lebih besar dari dia.. Dan karena itu aku memilihmu.. Sampai.. Aku jatuh Cinta pada dirimu.. Aku mencintaimu Reynaldi Alexander Adiwijaya.. " kata Shica sambil memeluk erat tubuhku.



Aku sangat bahagia mendengarnya. Walau aku tahu dia juga masih mencintai Raihan dan bahkan mungkin cintanya pada Raihan lebih besar.



Temanku bilang, wanita mabuk itu selalu berkata jujur..



Shica melepaskan pelukannya dan menatapku. Dia menurunkan dressnya membuat belahan dadanya terlihat begitu jelas.



Dia menarik tanganku dan meletakkannya di dadanya.



"Sentuh aku.. " kata Shica pelan.



Apa?



Dia mendorongku ke sofa dan dia duduk di pangkuanku. Aku yang masih menyentuh dadanya tidak berani melakukan apapun.



Dadanya ternyata lebih besar dari kelihatannya karena begitu besar di ditanganku.



"Lakukan sesuatu " kata Shica.



Ok, aku mulai gugup sekarang.



Mana mungkin aku menyentuh dia saat dia sendiri tidak sadar begini.



Sama saja seperti aku memperkosanya.



"Kenapa kau ragu? Aku istrimu kan? " gerutu Shica.



"Iya, tapi aku tidak bisa melakukannya saat kau mabuk seperti ini.. Kita lakukan lain kali saja" kataku sambil beranjak. Namun dia tidak mau beranjak dariku.



"Apa aku tidak semenarik jalang-jalangmu? Apa aku ini tidak secantik dan tidak seseksi mereka sehingga kau tidak sudi menyentuhku? Begitukah? " nada bicara Shica meninggi seolah dia marah.



Apa yang dia katakan?



Tentu dia lebih menarik dari jalang-jalangku, makanya aku menikahi dia.



Dia juga cantik dan seksi..



Apa dia bertanya begitu karena dia cemburu?



"Atau kau lelah karena sudah melakukannya dengan mereka tadi?! Sampai kau pulang telat! " kini Shica berteriak dengan beruraian air mata.



"Aku dari kantor, bukan dari klub malam! " kataku menggerutu.



Namun dia bangkit dari tubuhku dan menarik kemejaku. Aku pun bangkit. Dia mendorongku ke ranjang dan menindihku.



"Kita akan melakukannya malam ini! Aku yang diatas! " kata Shica penuh penekanan.



Dia sudah tidak waras!



Kalau begini jadi dia yang seolah memperkosa diriku.



Oh bagaimana ini?



Tapi..



Mana mungkin aku menyia-nyiakan kesempatan emas ini kan?




By



Ucu Irna Marhamah




*Cerita masih panjang, endingnya masih jauh.. Jika para pembaca menyukai pasangan yang berbeda di cerita ini, kalian bisa vote pasangan "Raihan & Shica" atau "Reynaldi & Shica" .. pilih salah satu untuk menentukan pasangan mana yang akan berakhir di happy ending.. kalian bisa mengirimkan pilihan pasangan kalian ke wa, ig, atau komentar di bawah*



Terimakasih semuanya, 😊





WA 085524677955


ig @ucu_irna_marhamah