Don't Leave Me

Don't Leave Me
108





Perlahan kedua mata Shica terbuka. Sejenak mengerjap untuk menyesuaikan matanya dengan cahaya di ruangan minibar milik suaminya itu. Shica merasa kepalanya begitu berat.



Shica terkejut mendapati dirinya setengah telanjang dengan keadaan tubuhnya di penuhi kissmark.



Shica segera membenarkan dressnya. Shica melihat Reynaldi masih tertidur pulas di sampingnya dengan telanjang dada pula.



Shica tampak panik.



"Apa mungkin semalam dia sudah melakukannya padaku? Bodohnya aku.. Kenapa aku meminum minuman haram itu " batin Shica.



Shica terkejut saat sebuah tangan menggenggam pahanya. Shica menoleh ternyata Reynaldi yang sudah terbangun dari tidurnya. Shica segera menepis tangan Reynaldi.



"Apa yang kau lakukan! " gerutu Shica.



Reynaldi tertawa dan seraya bangkit duduk menatap istrinya yang terlihat begitu panik.



"Apa kau tidak ingat? " tanya Reynaldi.



Shica menggeleng-gelengkan kepalanya.



"Semalam kau mabuk dan terus menggodaku.. Memaksaku untuk menyentuhmu.. Apa kau masih tidak ingat? " tanya Reynaldi.



Shica terbelalak.



Apa mungkin dia melakukan hal bodoh saat mabuk?



"Ini juga perbuatanmu" kata Reynaldi sambil menunjukkan lehernya dan dadanya yang dipenuhi kissmark seperti Shica.



Shica makin terkejut. Kedua pipinya memerah. Dia tidak bisa membayangkan betapa memalukannya jika itu benar-benar terjadi.



"Itu pasti perbuatanmu sendiri " gerutu Shica.



"Apa? Mana mungkin aku menggigit leherku sendiri? Bagaimana caranya? " gerutu Reynaldi.



"Aku tidak peduli! Dasar kau menyebalkan! " gerutu Shica sambil beranjak dari ranjang dan melihat sprei putih yang baru saja dia tiduri.



Reynaldi memperhatikan setiap tingkah istrinya yang terlihat begitu konyol.



"Apa yang kau cari? " tanya Reynaldi.



"Kau tidak perlu tahu" gerutu Shica tanpa melirik Reynaldi sedikitpun. Reynaldi bangkit dari ranjang dan masih memperhatikan istrinya.



Sesaat kemudian dia tertawa. "Hahaha kau pasti mencarinya kan? Kau tidak akan menemukannya, aku sama sekali tidak menyentuhmu.." kata Reynaldi.



Shica menatap Reynaldi penuh selidik. Reynaldi mendekatkan wajahnya. Namun Shica segera mundur.



"Mana mungkin aku melakukannya padamu sementara kau sendiri dalam keadaan tidak sadar dan agak.. Kurang waras.. Ya meskipun kau begitu seksi semalam.. " kata Reynaldi dengan seringaian nakalnya.



Kedua pipi Shica semakin memerah mendengar ucapan Reynaldi yang cukup vulgar itu.



"Aku ingin saat kita bercinta, kau menikmatinya.. Bukan hanya aku.. " kata Reynaldi.



Shica kembali teringat dengan foto-foto itu. "Dan apa kau juga begitu pada jalang-jalangmu? " tanya Shica menggerutu.



"Apa? Kenapa kau bertanya soal itu? " tanya Reynaldi.



"Tentu saja kau pasti melakukannya dengan lembut kan pada mereka? Pantas saja mereka menempel padamu" gerutu Shica sambil melipat kedua tangan didepan dada.



Reynaldi mengerutkan keningnya melihat kemarahan Shica yang tiba-tiba itu.



"Kenapa kau terlihat bingung? " gerutu Shica. Dia mengambil foto-foto itu dari laci dan melemparnya ke lantai.



"Apa kau tidak punya malu memotret kegiatan mesummu itu? Dasar! " gerutu Shica kesal.



Reynaldi mengambil foto-foto itu dan melihatnya satu persatu.



"Bukankah kau sudah tahu kalau aku memang suka menyewa wanita penghibur? " tanya Reynaldi.



Ucapan Reynaldi membuat Shica makin kesal. "Apa kau bilang!! " gerutu Shica.



"Itu dulu sebelum kita menikah, sayang " kata Reynaldi.



"Iiihhh!! Dasar menyebalkan! Aku benci melihat foto itu!! " gerutu Shica.



"Apa bedanya kau mendengar tentang masalah ini dan melihat foto ini? " tanya Reynaldi dengan polosnya.



"Dasar!! Tidak peka! " gerutu Shica sambil menghentakkan kedua kakinya dan berlalu kesal keluar dari ruangan.



Sejenak Reynaldi berpikir, kemudian dia tertawa. "Ah kau cemburu rupanya.. Rastani.. Apakah sesulit itu untuk menyatakan kecemburuanmu? "




"Ada apa lagi? " gerutu Shica.



Reynaldi tersenyum. "Baiklah, Ok abaikan saja foto bodoh itu, itu sudah berlalu, aku minta maaf" kata Reynaldi.



"Hmm.. Untuk apa kau minta maaf? " gerutu Shica.



"Lalu kenapa kau marah? " tanya Reynaldi.



"Kau tidak bersalah.. Tapi aku yang salah.. Telah mencintai pria mesum sejenis dirimu" kata Shica namun kemudian dia menutup mulutnya.



Reynaldi tertawa. "Akhirnya kau mengakuinya juga.. Kalau kau cemburu.. Senangnya" kata Reynaldi sambil memeluk Shica.



Shica mendengus kesal.



Setelah itu, mereka pun memilih untuk sarapan bersama.



"Kemarin sore, aku ke kantor karena urusan mendadak.. Bukan kemana-mana.. " kata Reynaldi.



"Hmm" Shica merespon Reynaldi dengan bergumam pelan.



"Biasanya aku yang over protective.. Tapi sepertinya sekarang giliran dirimu ya" goda Reynaldi. Seketika Shica menatap Reynaldi.



"Aku tidak over protective.. Aku kesal padamu.. Apa kau bercinta sambil berselfie? " tanya Shica kesal.



"Aku juga tidak tahu siapa yang memotretku secara diam-diam begitu" kata Reynaldi dengan ekspresi serius.



"Kau bisa setenang itu? Padahal foto itu bisa menghancurkan reputasimu " kata Shica.



Reynaldi menatap Shica. "Iya.. Kau benar.. Aku harus mencari tahu, siapa yang memanggil maut datang sebelum waktunya " geram Reynaldi.



Shica sadar. Ucapannya membuat Reynaldi marah. Namun dia berniat menyelamatkan nama baik suaminya. Nama baik keluarga Adiwijaya.



"Emm.. Maaf.. Mungkin aku terlalu kasar bicara padamu.. Seharusnya, sebagai seorang istri, aku bicara baik-baik padamu.. Sungguh aku hanya mengingatkanmu" kata Shica sambil menyentuh lengan besar Reynaldi.



Reynaldi tersenyum sambil menggenggam tangan Shica.



"Aku tidak marah padamu.. Aku mengerti.. Kau marah karena kau cemburu, benar kan? " goda Reynaldi.



Shica akan mencubit perut Reynaldi tapi dengan cepat, Reynaldi memegang kedua tangan Shica.



"Tidak ada cubitan lagi " kata Reynaldi sambil tertawa.



"Dasar! Suami menyebalkan! " gerutu Shica.



Reynaldi tertawa. "Tidak apa-apa aku menyebalkan, yang penting aku tampan" kata Reynaldi.



"Dasar kau besar rasa! " gerutu Shica.



"Apa? Bukankah kau sendiri yang mengatakannya" gerutu Reynaldi.



"Kapan! Pasti aku mengatakan itu saat aku sedang tidak waras! " gerutu Shica.



"Kau mengatakan itu saat kau mabuk, orang mabuk selalu bicara jujur " kata Reynaldi.



"Tidak bagiku! " gerutu Shica dengan kedua pipi sudah merah seperti kepiting rebus.



Reynaldi tertawa. "Kedua pipimu menyangkal, sayang " kata Reynaldi.



Shica mendengus kesal.



--------



Kalian bisa vote pasangan Raihan & Shica atau Reynaldi & Shica di Instagram @ ucu_irna_marhamah, bisa juga di WA (0855-2467-7955), atau komen di bawah. Cukup sebutkan nama pasangannya. Misalnya satu nama vote di 3 akun yang berbeda akan aku hitung 3 sekaligus.



Sekedar info :



Vote di Instagram sementara terbanyak vote untuk team Raihan & Shica.



Vote terbanyak sementara di WA Reynaldi & Shica .



Vote terbanyak di Mangatoon sementara Reynaldi & Shica





By



Ucu Irna Marhamah