Don't Leave Me

Don't Leave Me
145



 


 


Beberapa bulan kemudian


Deva merangkak menghampiri Reynaldi dan Shica yang membungkuk merentangkan tangan mereka.


"Sini ke Daddy" kata Reynaldi semangat sambil merentangkan kedua tangannya.


"Lihat Mommy, sayang " kata Shica.


Deva berhenti merangkak dan melihat bergantian pada Shica dan Reynaldi. Dia bangkit dan berdiri.


"Pangeran kecil Mommy pinter, sini sayang" kata Shica.


"Sini jagoan Daddy" kata Reynaldi. Deva mulai berjalan dan langkahnya masih belum benar. Dan dia memeluk Reynaldi.


"Oh jagoan Daddy, Daddy sayang Deva" kata Reynaldi sambil mengecup pipi Deva. Shica cemberut kesal. Dia berlalu.


Reynaldi menoleh kearah Shica. "Mama kamu marah.. Ayo kita samperin Mama" kata Reynaldi sambil menggendong Deva. Dia menghampiri Shica.


"Sayang.. Apa kamu marah? " tanya Reynaldi.


"Aku Mommy nya" gerutu Shica kesal. Reynaldi menurunkan Deva. Deva berjalan pelan dan menyentuh tangan ibunya.


"Mooommm" kata Deva bergumam. Shica terkejut dan menatap Deva.


"Katakan lagi, sayang " kata Shica sambil mengangkat tubuh Deva dan mendudukkannya di pangkuannya.


"Moommmm" kata Deva lagi.


"Ah.. Mommy sayang Devaro" kata Shica sambil memeluk Deva dan menciumnya berkali-kali. Reynaldi tersenyum melihat tingkah Shica.


"Apa aku tidak akan mendapatkan ciumanmu? " tanya Reynaldi. Shica mendelik kesal pada Reynaldi. "Tidak ada ciuman.. " gerutu Shica.


"Baiklah " kata Reynaldi lesu. Shica tersenyum dia memberikan Deva pada Reynaldi. "Meskipun Deva lebih dulu memelukmu saat pertama kalinya dia bisa berjalan, tapi kata pertama yang dia ucapkan, adalah Mommy.. " kata Shica sambil tersenyum.


"Iya.. Asalkan kau senang" kata Reynaldi. Shica tersenyum kemudian mengecup pipi Reynaldi dengan lembut.


"I love you.. " bisik Shica.


Seperti ada bunga yang menghujani perasaan Reynaldi, dia tercengang karena ciuman hangat istrinya. Sementara itu, Shica berlalu dengan kedua pipi merona.


"Rastani.. Rastani tunggu" kata Reynaldi. Shica tidak mengindahkan ucapan Reynaldi. Dia tetap melanjutkan langkahnya.


"Apa kau tidak mau mendapatkan balasan ciuman dariku? " tanya Reynaldi.


Shica menghentikan langkahnya dan berbalik. "Bukankah kita harus mempersiapkan acara ulang tahun yang pertama untuk Deva besok? " tanya Shica kemudian melanjutkan langkahnya.


"Hemm.. Mau kabur lagi dia.. " gumam Reynaldi. Deva tertawa sambil bertepuk tangan. "Kamu seneng Mommy kamu cuekin Daddy? " gerutu Reynaldi kemudian menciumi pipi Deva.


"Mommmm" kata Deva lagi.


Keesokan harinya, mansion Reynaldi sudah didekorasi seindah mungkin karena ini adalah hari spesial untuk Deva.


Semua teman-teman Deva hadir dan memberikan ucapan selamat. Deva terlihat senang. Setelah semuanya selesai, keluarga kecil itu berfoto ria. Namun tiba-tiba, Shica merasa mual. Dia segera pergi ke kamar mandi. Reynaldi menghampirinya.


"Kamu kenapa? " tanya Reynaldi sambil mengusap-usap punggung Shica. "Aku gak tahu, rasanya perutku bergejolak " kata Shica kemudian dia muntah lagi. Reynaldi terus mengusap-usap punggung Shica.


"Kamu ke dalam aja.. Emangnya gak jijik liat aku muntah? " tanya Shica. Reynaldi tertawa melihat ekspresi kesal Shica.


"Meskipun kamu lagi muntah-muntah gitu, kamu tetep keliatan cantik kok" kata Reynaldi sambil tertawa makin keras. Shica mencubit lengan suaminya.


"Udah dua bulan aku telat datang bulan, selama itu juga rasanya mual.. Apa mungkin aku hamil ya? " tanya Shica.


Reynaldi terbelalak. "Iya ya.. " ekspresi Reynaldi terlihat berbinar-binar mendengar perkiraan istrinya.


Jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Namun dokter kandungan yang dihubungi Reynaldi tidak kunjung datang.


"Dokternya kemana sih! Gak tahu apa ini masalah masa depan calon anakku" gerutu Reynaldi kesal. Shica menyentuh bahu Reynaldi.


"Jika saja, perkiraanku salah, kamu jangan sedih ya.. " kata Shica. Reynaldi tersenyum kemudian mengusap rambut istrinya dengan lembut.


"Gapapa.. Kita kan masih muda.. Biar proses pembuatannya juga lama" kata Reynaldi menggoda istrinya. Seketika kedua pipi Shica memerah. Dia mencubit lengan Reynaldi.


Deva berjalan pelan menuju ayah dan ibunya. Dia menunjukkan mainannya. "Mommm.. Moomm" Deva yang baru bisa bilang Moomm memanggil ayah dan ibunya dengan panggilan yang sama.


"Oh my prince.. " Reynaldi menggendong tubuh mungil putranya dan menggelitik perut Deva. Deva yang berada dipelukan ayahnya tertawa. Shica tersenyum melihat keakraban Reynaldi dengan putranya. Reynaldi telah menjadi sosok ayah untuk Deva. Seandainya Raihan masih ada, dia pasti akan seperti Reynaldi, menjadi seorang panutan bagi putranya.


Shica mengalihkan pandangannya. Menyembunyikan air matanya. Reynaldi menoleh kearah Shica. Dia tahu Shica menahan tangisnya. Reynaldi memeluk Shica.


"Aku tahu, kalo kamu nangis itu, pasti lagi inget sama Raihan.. Ya.. Pria misterius itu memang bisa membuatmu bahagia dan menangis dalam waktu yang cepat.. " kata Reynaldi.


"Pria gila.. " kata Shica.


"Hemm.. Deva harus tahu siapa ayahnya.. Dia harus tahu" kata Reynaldi sambil membawa foto Raihan dari laci meja. Dia memperlihatkannya pada Deva.


"Look, He is your dad, Deva.. He handsome like you, right? "


Deva memperhatikan foto itu. "Dad? " Shica terkejut mendengar Deva bisa mengucapkan kata Dad.


"Yes.. " kata Reynaldi. Namun Deva menyimpan foto itu dan malah memeluk Reynaldi. "Dad.. " kata Deva.


Reynaldi melirik Shica. Shica hanya tersenyum. "Yang Deva tahu, hanya kamu Daddy nya" kata Shica.


Terdengar suara bell berbunyi. "Siapa malam-malam begini yang datang ke rumah? " tanya Reynaldi. "Entahlah.. " jawab Shica.


"Oh ya, mungkin dokter yang aku hubungi tadi, sial kenapa malam begini, awas saja.. Aku tidak mau membayarnya " gerutu Reynaldi. Shica tertawa mendengar kekesalan suaminya. Dia menggendong Deva dari pangkuan Reynaldi.


"Sabar sedikit" kata Shica. Terdengar langkah kaki memasuki ruang keluarga. Mereka menoleh. Ternyata Tama dan Salia.


"Haii.. " Salia mencium pipi Deva. Kemudian dia memeluk Shica. "Apa kabar Shica? " tanya Salia. "Aku baik, Kak" jawab Shica.


"Wah.. Keponakanku ulang tahun ya.. " kata Tama sambil menggendong Deva dari Shica. Deva bertepuk tangan senang.


"Deva udah besar yaa.. " Tama mengcup pipi Deva. "Kalian kemari malam-malam begini? " tanya Reynaldi.


"Iya.. Kami mau pulang ke mansion, tapi kami mampir dulu kemari karena mengingat pangeran kecil ini ulang tahun" kata Salia sambil mencubit pipi Deva yang bulat.


"Kalian dari Indonesia? " tanya Reynaldi. "Iya " jawab Salia. "Oh ya Kak Salia, Kakak kan dokter, tolong cek Shica ya" kata Reynaldi.


"Memangnya Shica kenapa? Shica sakit? " tanya Salia sambil menyentuh bahu Shica. "Enggak kak, tadi aku mual-mual" kata Shica.


"Ya udah.. Ayo kita ke kamar" kata Salia. Shica mengangguk. Mereka berdua meninggalkan Reynaldi dan Tama berdua.


"Apa kau tidak keberatan dengan sikap Om Adi? " tanya Tama. Reynaldi menoleh kearah Tama.


"Memangnya ada apa dengan Papa? " tanya Reynaldi penuh selidik. "Bukankah dia sudah bicara padamu, kalau dia tidak akan pernah menerima Deva.. Karena Deva bukan anakmu" kata Tama.


Reynaldi menautkan alisnya. "Deva tetap anakku, selamanya dia akan menjadi anakku" kata Reynaldi penuh penekanan.


"Aku tidak mempersalahkan perasaanmu pada Deva.. Aku juga tidak menyalahkan Deva ataupun Shica.. Jika kau ingin mempertahankan anak ini, jangan kau lepas lagi.. " kata Tama sambil menyentuh bahu Reynaldi.


"Aku akan melakukannya dengan caraku sendiri "


By


Ucu Irna Marhamah