
Sahabatnya tidak habis pikir dengan pemikiran Lexa. Rima menggelengkan kepalanya dengan mantap. Dia menunjukkan sikap kecewa.
"Lex... Kita ini masih anak bau kencur. Gak patut buat kerja serabutan gak jelas." Rima melotot ke arah Lexa.
Lexa hanya tersenyum mendengar pendapat sahabatnya. Sementara Rachel masih terdiam, berpikir dengan pendapatnya sendiri.
"Lexa... Sesusah-susahnya kamu, kamu gak boleh bekerja asal-asalan seperti ini." Rima jelas menentang Lexa yang dia pergoki di sebuah warnet.
Lexa dan Rachel tak tahu menahu soal Ayah Lexa yang berubah menjadi seorang yang kasar dan tak beradab.
Tatapan Rachel dan Rima seperti menguliti Lexa. Sakit, menyayat hati dan sanubarinya. Tapi tak dia tunjukkan, dia hanya menundukkan pandangan mengalihkan matanya agar tidak bertemu dengan mata Rachel dan Rima.
"Benar, Lexa. Tugas kita sebagai pelajar adalah belajar, bukan berkerja." Rachel membuka suara.
"Satu hal yang tidak aku percayai sampai detik ini. Mana Lexa yang aku kenal sebagai Lexa yang rajin dan penuh gairah tentang pendidikan? Apa hanya karena Ayahmu bangkrut, kamu lantas putus asa dan membiarkan angan dan cita-citamu pergi jauh?" Nada Rachel meninggi.
Lexa paham, sahabatnya ingin mendukungnya untuk tetap bersekolah. Sahabatnya hanya ingin Lexa mengejar impiannya. Mereka melihat Lexa sebagai petarung sejati untuk masa depan, tapi yang dilihat kini adalah Lexa yang malas dan tidak peduli dengan sekolah yang dia bangga-banggakan.
Tak ada jalan lain bagi Lexa waktu itu. Sebesar apapun keinginan Lexa untuk membuka buku pelajaran dalam kelas tidak bisa terwujud secara cepat. Dia harus memikirkan biaya obat untuk ibunya, meski Ratih berjuang sekuat tenaga, kepala menjadi kaki dan kaki menjadi kepala tetap saja Lexa akan sulit bersekolah.
Sekolah Lexa adalah sekolah ternama, dimana setiap bulannya Lexa bisa mengeluarkan uang jutaan rupiah untuk administrasi sekolah. Lexa benar-benar tidak sanggup. Walaupun salahnya juga yang akhirnya terhanyut dalam dunia kerja Yang dia geluti dan melupakan indahnya bersekolah.
***
Suatu ketika, Rachel ingin memberikan sebuah bingkisan untuk Lexa. Dia berusaha mendapatkan alamat kos milik Lexa, dan akhirnya ketemu. Rachel bersyukur bisa menemukan kosan milik Lexa di saat sedang panas-panasnya. Dia bisa numpang istirahat dan meneguk beberapa gelas di kos Lexa.
Sesampainya disana, Rachel hendak mengetuk pintu kos milik Lexa. Tapi ada suara yang sedikit mengganggunya, membuat Rachel menempelkan telinganya di pintu memastikan suara yang dia maksud.
Mata Rachel terbelalak, mendengar jelas apa yang dia tangkap dari dalam kamar. Sebuah ******* dari seorang perempuan yang menikmati puncak surgawi yang diciptakan seorang laki-laki. Suaranya begitu panas. Rachel sampai menjatuhkan bingkisan yang dia bawa. Perlahan mundur ke belakang, dengan mulut yang ditutup dengan telapak tangannya.
Rachel masih belum mempercayai apa yang dia dengar. Mungkinkah sahabatnya menjadi liar seperti ini? Oh tidak! Lexa benar-benar kelewatan. Pikir Rachel. Seketika itu juga, Rachel memutuskan untuk menjauh dari Lexa.
Lexa benar-benar sudah mengecewakannya dan Rima. Sahabat macam apa Lexa sampai setega itu merusak kepercayaan sahabatnya sendiri. Rachel tak berhenti menangis meratapi nasib sahabatnya itu.
Rachel tak habis pikir. Mengapa Lexa sampai setega itu hanya demi sebuah kepuasan semata. Rachel tahu, hidup Lexa sudah sangat susah tapi apa dia harus menjual harga dirinya? Sungguh sebuah kegilaan.
Rachel sudah mengagumi Lexa sejak kali pertama bertemu, namun kini Lexa yang dia kagumi berubah menjadi Lexa yang tidak dia kenal. Lexa pemberani dan tak mudah putus asa juga sudah tidak bisa dia temukan. Rachel benci. Benci sekali dengan Lexa.
Sejak kejadian itu, dia dan Rima sudah memutuskan menjauh dari Lexa. Karena Lexa bukanlah seseorang yang mereka kenal. Lexa berubah entah menjadi apa, yang pasti bagi mereka Lexa tak ubahnya sebagai langkah yang sesat. Jika mereka terus bersama, maka bukan tidak mungkin Lexa akan membawa pengaruh buruk untuk mereka.
Sampai pada akhirnya dia harus pindah bersama keluarganya, karena Ayahnya dimutasikan ke sebuah desa yang akhirnya menakdirkan Lexa dan Rachel untuk bertemu kembali.
Rima dan Rachel yang masih sering berhubungan sudah mendengar jika Lexa sakit. Sakit yang mereka yakini karena perbuatannya sendiri. Mereka tidak pernah secara langsung mengkonfirmasi kepada Lexa mengapa atau bagaimana hal itu bisa terjadi, mereka sudah sibuk dengan pikiran dan jawaban mereka sendiri sampai akhirnya lupa bahwa mereka hanya membuat hipotesis.
Rachel baru sadar ketika Adhit mengatakan segala yang dia dengar dari Erick. Dia tidak tahu apa yang harus diperbuat, Rachel sangat lamban untuk mengakui sebuah kesalahannya. Dan akhirnya Rachel benar-benar merasa terlambat dan tak punya kesempatan kembali.
***
Erick masih mengawasi Rachel yang terus menangis. Erick nampak bosan, karena sedari tadi dia hanya menangis dsn menangis. Membuat Erick menjadi semakin muak.
"Rachel!" Tegas Erick.
Rachel belum menoleh ke arahnya, masih sesenggukan sendiri.
"Rachel! Tolong, berhentilah menangis!" Pinta Erick.
Rachel sedikit melirihkan tangisannya. Namun badannya belum berbalik ke arah Erick.
Rachel baru membalikkan badan, mukanya tiba-tiba memerah. Erick sedikit takut melihat perubahan raut wajah Rachel.
"Apa maksudmu aku harus segera pergi? Memang kamu pikir kamu siapa bisa mengaturku? Apa Lexa milikmu?" Rachel menggebu-gebu.
Erick tampak panik, tak siap dengan situasi seperti ini.
"Aku tahu aku bukan teman yang baik untuk Lexa. Dan aku tahu, aku adalah orang yang paling dibenci kamu dan Lexa. Tapi bisakah kamu menghargai perasaanku? Aku hanya ingin disini, aku hanya ingin mengatakan banyak hal kepada Lexa. Aku bahkan belum sempat bercerita kepadanya kalau aku sudah mendapat piala penyanyi terbaik di sekolah. Aku bahkan belum sempat memberikan kepadanya buku yang sangat ingin dia baca. Banyak yang harus aku katakan!" Teriak Rachel yang tidak bisa lagi membendung emosinya atas kehilangan Lexa.
Rachel tersedu, terduduk di tanah. Meratapi kepergian Lexa.
"Lexa... Maafkan aku! Lexa... Bisakah kita kembali menjadi seperti dulu? Lexa... Tolong maafkan aku!" Rintih Rachel di depan pusara Lexa.
Erick mundur, menjauh dari hadapan mereka. Erick paham, Rachel harus menghabiskan waktu bersama. Walaupun sekali lagi, semua dirasa Erick terlambat.
Erick memilih bersandar di pohon besar. Melihat Rachel yang selalu mengelus nisan Lexa. Jelas terdengar dari tempatnya kalau Rachel menangis. Berkali-kali mengucapkan permohonan maaf kepada Lexa. Keadaannya kacau, sama seperti dia di waktu yang lalu.
Lama Erick mengamati Rachel dalam diam. Panas matahari juga semakin terik, posisinya sudah tinggi. Tapi Rachel masih belum beranjak dari tempatnya. Masih dengan posisi yang sama pula.
Akhirnya Erick berinisiatif untuk mendekati Rachel.
"Rachel.." Sapa Erick datar.
"Sudah siang, kamu tidak pulang? Bukankah kamu harus sekolah?" Tanya Erick.
Rachel melirik Erick, dengan tatapan sinis. Erick hanya menghela napas melihat tatapan Rachel kepadanya.
Rachel membuang muka. Dia melanjutkan kekhusyukannya di pusara Lexa. Erick sedikit kesal. Akhirnya dia memilih pergi meninggalkan Rachel. Tapi baru beberapa langkah Erick ambil, Rachel mengatakan sesuatu.
"Sejak kapan kamu menyukai Lexa?" Tanya Rachel sedikit menohok.
Erick langsung berhenti bak dicengkeram sebuah rem, langkahnya langsung sigap tak bergerak.
Rachel menatap punggung Erick. Dia tidak bisa lihat ekspresi muka Erick karena dia membelakanginya.
"Apakah alasanmu menjauh dariku karena kamu menyukai Lexa?" Tanya Rachel lagi.
Erick masih bergeming.
"Kamu tidak bisa membohongi diri kamu selamanya, Rick. Aku tahu kamu menyukai Lexa, atau mungkin kamu sudah jatuh hati kepada Lexa?" Pertanyaan Rachel mengusik dirinya.
Erick langsung berbalik menghadap Rachel.
"Apa urusanmu dengan perasaanku?" Tanya Erick ketus.
Rachel terdiam. Dan Erick melanjutkan perjalanannya hendak meninggalkan Lexa.
"Kamu tahu arti bunga daisy?" Tanya Rachel.
Erick menghentikan langkahnya lagi.
"Cinta yang tersembunyi." Jelas Rachel.
Erick hanya melirik sebentar dan tak menunggu waktu lama bergegas meninggalkan Rachel yang pasti masih menatapnya.