
" .. Aku akan mendapat hidup ini untukmu dan untuk cinta kita sudahlah aku bahagia memilikimu.. "
***
•••Reynaldi Alexander Adiwijaya••
Shica membawa kanvasnya dan pensilnya. Dia duduk didepanku. Sementara aku memperhatikan dia.
"Apa kau akan bergaya seperti itu?" tanya Shica.
Aku tersenyum mendengar pertanyaannya. "Mau bagaimana lagi? Kau bahkan tidak memerlukan Raihan di depanmu untuk membuat sketsa wajahnya," kataku.
Kulihat ekspresi Shica menjadi sendu.
Sungguh aku benci pada laki-laki yang bernama Raihan itu. Apa yang membuat Shica begitu mencintai dia?
Aku sudah mencari informasi tentang dia. Dia memang putra dari pengusaha kaya. Hanya saja aku merasa kalau aku lebih baik di banding dia. Dia bahkan tidak putih.
"Kau bisa membuat sketsa wajah Raihan hanya dengan membayangkannya saja," kataku.
"Jadi mau atau tidak?" gerutu Shica.
Aku tersenyum dan membuka jas serta kemejaku.
"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau membuka pakaianmu?" tanya Shica menggerutu sambil memasang ekspresi bingung.
"Aku mau mandi," kataku menggerutu.
"Apa?" tanya Shica.
"Aku mau kau membuat sketsaku dengan gaya seperti ini," kataku sambil duduk dan bergaya sambil bertelanjang dada.
Kulihat kedua pipi Shica merona. "Tidak punya malu," gerutu Shica.
Aku tertawa. Aku yakin dia malu-malu melihatku seperti ini. Semoga dia terpesona dengan ketampananku.
Kulihat Shica menggerakkan tangannya membuat goresan-goresan pada kanvas besar itu dengan pensilnya.
Sesekali sepasang manik hazel itu melirik diriku.
Oh aku suka sekali diperhatikan seperti itu.
Setelah beberapa menit, Shica beranjak dari duduknya.
"Sudah selesai, sungguh ini sangat sulit." kata Shica.
"Kemarilah, aku mau melihatnya." kataku. Dia menghampiriku dan memberikan kanvas tersebut.
Aku menarik pinggangnya sehingga Shica terduduk dipangkuanku. Aku melihat kanvas besar itu.
Sungguh sketsa wajah yang Bagus. Aku terlihat begitu tampan. Aku suka lukisan ini, apalagi yang membuatnya.
Shica bergerak ingin lepas dariku. Mungkin dia merasa risih.
"Aldi, lepaskan aku." kata Shica.
Aku menyimpan kanvas itu ke meja. Kemudian aku mencium pipinya.
"Mana yang mau dilepaskan? Bajumu dulu, atau.. "
"Aldi!" gerutu Shica memotong ucapanku. Aku tertawa.
"Apa kau bahagia?" tanyaku.
"Menurutmu?" Shica malah balik bertanya.
"Aku akan bahagia jika kau benar-benar membuatku bahagia.. " jawabnya pelan. Namun kedua matanya mengatakan hal yang lain.
"Tentu saja, aku tidak mungkin menyianyiakan dirimu.. " kataku. "Rastani," kataku.
Shica menatap diriku. "Apa?" tanya Shica.
"Apa sekarang kau mau menjadi istriku?" tanyaku.
Aku yakin dia akan memberikan alasan baru. Aku tahu, dia akan selalu menolakku.
"Aku.. Tidak yakin.. Ini terlalu cepat.. Bukankah aku memang setuju untuk menikah denganmu? Tapi tidak sekarang," kata Shica.
Sudah kuduga..
Dia akan memberikan alasan.
"Kenapa kau selalu memberikan alasan?" tanyaku lembut.
"Aku.. " Shica tidak melanjutkan kata-katanya. Mungkin dia lelah dan bingung dengan desakanku.
"Aku belum siap.. Kita baru saja satu bulan lebih saling mengenal, aku belum siap menerima orang baru dalam hidupku," kata Shica.
"Aku akan melakukan apapun yang kau mau, asalkan kau benar-benar akan menikah denganku," kataku.
"Aku tidak memintamu melakukan apapun.. Bukankah aku sudah menerimamu?" kata Shica diakhiri pertanyaan.
"Menerimaku? Jika iya.. Kau harus menikah denganku," kataku. Aku yakin dia akan memberikan alasan lain lagi.
"Iya.. Aku sudah menerimamu.. Sejak kita bicara di restoran bersama Papa Adi, kak Tama, kak Salia dan kak Reyna." jawab Shica.
"Lalu?" aku bertanya lagi.
"Untuk menikah, aku belum bisa menjawabnya, karena pernikahan itu sangatlah sakral.. Kita tidak boleh bermain-main." kata Shica.
"Apa kau berpikir kalau aku main-main?" tanyaku.
"Bu.. Bukan begitu.. Aku hanya.. "
"Kau meragukanku?" aku memotong ucapannya.
"Tidak.. Bukan begitu," kata Shica.
"Lalu bagaimana? " tanyaku kesal.
"Aku.. " Shica tampak berpikir.
Aku benci jika dia terus memberikan alasan.
"Masih mencintai Raihan?" aku menebak dan..
Dia pun terdiam.
Aku tahu..
Jawabannya benar..
"Baiklah, jika kau mau.. Kita akan menikah.. Tapi jangan buru-buru." kata Shica pelan.
Tentu aku mau..
Dengan senang hati..
By
Ucu Irna Marhamah