
"Kehidupan baru muncul dan kehidupan lama pun berakhir, seperti itulah hidup didunia ini"
Ucu Irna Marhamah
***
Kedua tangan Sean diborgol di belakang. Joshua yang meringkusnya. Dia masih agak lemah karena tadi Shica menembaknya. Namun beruntung sekali pria itu masih bisa hidup dan baru saja pelurunya dikeluarkan dokter.
"Haha! Pria itu mati! Seharusnya aku menghabisi kalian semua! " teriak Sean pada Reynaldi dan Shica. Reynaldi menautkan alisnya tajam. Jika saja tidak ada polisi disana, maka dia akan menghajar Sean lagi sampai tidak bisa bicara.
"Berhenti bicara! " bentak Joshua sambil mendorong Sean kedalam mobil polisi. Mobil itupun melaju meninggalkan rumah sakit.
"Rasakan itu! Terima! " teriak Sean.
Shica masih terlihat lemas meski dia duduk di kursi roda. Bayinya tertidur di pangkuannya.
"Tuan, kita harus bicara " kata dokter pada Reynaldi. Reynaldi mengangguk kemudian berlalu bersama dokter itu.
Kini Shica bersama Joshua. Joshua merasa sedih melihat keadaan Shica.
"Maafkan aku, Nyonya Rastani.. Ini semua adalah kesalahanku " kata Joshua. Shica mengusap air mata yang mengalir di pipinya.
"Sudahlah.. Semuanya sudah berlalu.. Kau tidak perlu meminta maaf " kata Shica.
"Ini salahku.. Jika waktu itu aku tidak mempertemukan anda dengan Tuan Reynaldi, maka anda tidak akan kehilangan Tuan Raihan " kata Joshua.
"Kenapa kau baru minta maaf sekarang? Kenapa tidak dari dulu? Dengan kau meminta maaf, Raihan tidak akan kembali hidup bersamaku.. Dia tetap akan tiada.. " geram Shica.
Joshua tidak berani mengatakan apa-apa lagi. Reynaldi kembali dan mendorong kursi roda Shica.
"Terimakasih, Joshua.. Kau sudah menunggu disini.. Kau boleh kembali " kata Reynaldi. Joshua membungkukkan badannya kemudian berlalu.
Keesokan harinya, pemakaman Raihan berjalan lancar. Diiringi tangisan duka dari pihak keluarga Abdurrachman. Reynaldi memilih untuk tidak hadir, atau keluarga Abdurrachman dan Mahali akan curiga dengan hubungan mereka. Shica juga tidak hadir karena dia tidak bisa membawa bayinya yang baru lahir bepergian jauh. Apalagi dari Perancis ke Indonesia.
Setelah satu minggu pemakaman di Indonesia selesai, keluarga Abdurrachman dan keluarga Mahali kembali mengunjungi Shica di Perancis. Riska memeluk erat Shica. Dia memberikan ketenangan lewat pelukan seorang kakak. Walau sebenarnya hatinya juga terasa lebih rapuh.
Keluarga Abdurrachman merasa sangat kehilangan dengan kepergian Raihan, namun disisi lain, mereka juga bahagia dengan kehadiran pangeran tampan putra dari Raihan, Aldevaro.
Keluarga besar Abdurrachman dan Mahali menemani Shica tinggal di mansion. Mereka membantu Shica merawat Aldevaro. Namun, bagaimanapun juga mereka harus kembali dan melaksanakan tugas masing-masing di Indonesia. Mereka mengajak Shica kembali ke Indonesia. Tapi dia menolak karena dia tidak mungkin meningalkan suaminya yang satu lagi, Reynaldi.
Beberapa bulan kemudian, pihak keluarga kembali ke Indonesia. Ratna juga mengajak Shica kembali. Tapi dia bilang dia akan menyusul. Saat ini dia memilih untuk tinggal di mansion Raihan bersama Aldevaro.
Shica masih merasa sangat kehilangan. Bagaimana tidak, Raihan adalah Cinta pertamanya, suaminya, dan ayah dari anaknya. Shica menggedong Aldevaro di ruang keluarga. Dia menatap foto pernikahannya yang besar di ruangan itu. Raihan terlihat tampan dan begitu bahagia.
"Apa sekarang kau bahagia disana? Apa akan ada yang bisa mengingatkanmu saat sarapan? Apa akan ada yang membenarkan dasimu? Apa kau bisa tidur nyenyak tanpa aku? " gumam Shica dengan suara bergetar.
"Lihatlah.. Putra kita membutuhkan sosok ayah.. Dia membutuhkanmu.. " gumam Shica. Buliran bening kembali menetes membasahi pipi Shica.
"Nyonya, Tuan Adiwijaya datang untuk menemui anda" kata salah satu pelayan. Shica segera mengusap air matanya. Dia berbalik melihat Reynaldi berdiri disana. Pelayan itu membungkukkan badannya kemudian berlalu.
Shica duduk di sofa. "Duduklah " kata Shica. Reynaldi pun duduk berhadapan dengan Shica.
"Aku tahu " kata Shica.
"Kemarilah.. Aku ingin menggendong Deva" kata Reynaldi. Shica memberikan Aldevaro pada Reynaldi. Aldevaro meraih dagu Reynaldi.
"Seharusnya Deva ditidurkan, karena bayi di usianya harus banyak tidur " kata Reynaldi sambil menimang Aldevaro. Perlahan matanya yang kecil tertutup diiringi napas teratur.
Reynaldi tersenyum melihat betapa manisnya bayi itu. "Tidak masalahkan aku memanggilnya Deva? " tanya Reynaldi. Shica mengangguk. "Itu Bagus" kata Shica.
"Namanya Aldevaro Abdurrachman.. Bagaimana jika kita menambahkan nama lagi agar keren? " tanya Reynaldi. Shica tersenyum.
"Bagaimana jika namanya Aldevaro Fariez Ravindra Abdurrachman keren gak? " tanya Reynaldi. "Iya, itu bagus, aku suka nama itu " kata Shica sambil tersenyum. Reynaldi tersenyum.
Sunyi..
"Apa kau tidak kasihan pada Deva? Dia membutuhkan kasih sayangmu yang besar untuknya.. Jangan membuat putramu kehilangan sosokmu.. " kata Reynaldi.
Shica mencerna kata-kata Reynaldi dengan ekspresi kosong. "Dia tidak pernah menepati janjinya " kata Shica.
"Kau benar.. Tapi yang ini.. Bukan dia tidak menepati janjinya.. Tapi Tuhan telah mengambilnya.. Bukan salah dia.. Ini takdir, Rastani " kata Reynaldi.
Shica terdiam.
"Kau harus bangkit, demi Deva " kata Reynaldi. Shica menatap Reynaldi.
"Aku bisa menjadi ayah Deva.. Aku akan menjaganya.. " kata Reynaldi.
"Kau memang suamiku.. Tapi bagaimana dengan keluargaku yang tidak tahu soal hubungan rumit kita? " tanya Shica.
"Kita harus menikah lagi, didepan mereka.. Bukan masalahkan? " jawab Reynaldi diakhiri pertanyaan.
Shica mengangguk. "Tinggalah disini.. Aku sangat membutuhkan bantuan darimu.. " kata Shica.
"Tentu saja, kau istriku.. Mana mungkin aku meninggalkanmu sendirian mengurusi persoalan ini " kata Reynaldi.
Shica tersenyum tipis. "Terimakasih " kata Shica. "Aku senang melihatmu tersenyum " kata Reynaldi. Shica menunduk menyembunyikan wajahnya yang memerah karena malu.
"Emm.. Baiklah, bisa tunjukan dimana kamarmu? Aku ingin menidurkan Deva" kata Reynaldi. Shica menunjukkan kamarnya. Reynaldi menidurkan Deva yang sudah terlelap tidur itu di ranjang bayi di samping ranjang Shica.
Reynaldi melihat foto pertunangan Raihan dengan Shica diatas meja. Dia mengambilnya dan menatap kedalam foto itu. Raihan tampak bertatapan dengan Shica. Mereka tersenyum bahagia di foto itu. Reynaldi tersenyum getir.
"Dia membuatmu bahagia, tidak seperti aku" kata Reynaldi. Shica melangkahkan kakinya menghampiri Reynaldi.
"Kau tidak bisa dibandingkan dengan siapapun.. Karena dia maupun dirimu memiliki perbedaan.. Kau selalu menepati janjimu.. Kau bertanggung jawab.. Sementara dia.. Aku.. Aku tidak mau membahasnya untuk saat ini.. " gumam Shica.
Reynaldi membelai lembut rambut Shica. Kemudian dia memeluk istrinya itu. "Yang perlu kita lakukan sekarang adalah mendoakannya agar dia bahagia disana" kata Reynaldi. Shica mengangguk dipelukan Reynaldi.
By
Ucu Irna Marhamah