Don't Leave Me

Don't Leave Me
92





Adi dan Ridan duduk berhadapan. Adi meminum jus jeruk yang di sajikan oleh pelayan rumah Ridan.



"Langsung saja, Tuan Mahali.. Aku kemari untuk membicarakan tentang pernikahan putra putri kita." kata Adi.



Ridan tersenyum. "Iya.. Aku mengerti." jawab Ridan.



"Aku senang putrimu yang masih muda itu bisa membuat putraku bertindak lebih dewasa.. Dia sangat baik dan lembut.." kata Adi.



Ridan tersenyum. "Putramu juga baik.. Dia sangat jujur dan bertanggung jawab.." kata Ridan sambil mengingat kemesuman calon menantunya itu.



"Jadi.. Apa kau menerima putraku untuk menjadi pendamping hidup putrimu?" tanya Adi.



"Aku tidak bisa menjawabnya.. Yang akan menjalani hidup adalah mereka berdua.. Biarkan putriku yang menjawabnya." kata Ridan.



Adi tersenyum. "Baiklah," kata Adi.



Sementara itu, Shica tengah duduk sendiri di taman kota. Dia memperhatikan keadaan kota Jakarta.



"Masih sama," gumam Shica.



Reynaldi menghampiri Shica dan duduk di sampingnya. Dia memberikan satu botol minuman soda.



"Minumlah," kata Reynaldi.



Shica mengangguk dan menerima botol itu.



"Terimakasih." kata Shica kemudian meminum soda tersebut.



Reynaldi memberikan Shica sebuah gantungan kunci.



Shica mengerutkan keningnya. Namun dia menerimanya. Shica melihat gantungan kunci yang terbuat dari logam itu bertuliskan R♥R.



"Reynaldi love Rastani." kata Reynaldi.



Shica tersenyum. "Raihan.. Love.. Rastani," batin Shica.



"Terimakasih.. Aldi." kata Shica. Reynaldi tersenyum.



"Sebentar lagi, kita akan menikah.. Bagaimana menurutmu?" tanya Reynaldi.



"Aku senang.." jawab Shica.



"Apa kau yakin?" tanya Reynaldi.



"Iya.. Tentu saja." jawab Shica.



"Aku mau mengatakan sesuatu," kata Reynaldi pelan.



Shica menatap Aldi. "Katakan saja," kata Shica.



"Aku telah membaca diary-mu." kata Reynaldi. Shica terkejut dan menatap Reynaldi.



"Maaf.. Aku lancang," kata Reynaldi.



Shica menghela nafas panjang. "Tidak masalah.. Bukankah kau calon suamiku? Kau berhak tahu." kata Shica.



Reynaldi menatap Shica. "Aku ingin tahu.. Bagaimana Raihan menurut sudut pandangmu, Rastani?" tanya Reynaldi.



"Konyol, menyebalkan, keras kepala, gila." jawab Shica.



"Itu saja? " tanya Reynaldi.



"Ya" jawab Shica pelan.



"Bagaimana dengan.. Tampan, kaya, baik, peduli, lembut, keren, dan.. " Reynaldi tidak melanjutkan kata-katanya karena Shica tertawa.



"Mungkin itu pendapatmu.. " kata Shica.



"Rastani.. Kita akan menikah.. Aku mohon.. Aku ingin tahu apa yang kau rasakan padanya." kata Reynaldi.



"Sudahlah.. Tanpa aku menjawab pun, aku yakin kau tahu dan mengerti.. " kata Shica.



"Rastani.. "



"Dan jangan lupa.. Kau pernah membeliku.. Anggap saja.. Aku ini menebusnya dengan menikah denganmu," kata Shica.



"Jangan katakan itu..  Aku terluka mendengarnya, Rastani.. Lupakan soal uang itu.. Aku sudah melupakannya," kata Reynaldi.



Shica tersenyum. "Aku tahu.. Tapi aku tidak akan pernah melupakannya.. " kata Shica.



Reynaldi merangkul Shica.



"Apa taman kota ini juga bagian dari kenanganmu dengan Raihan? " tanya Reynaldi.



"Kau tahu dari diary juga? " tanya Shica.



"Iya," jawab Reynaldi.



"Aku tidak mau membahasnya."



Mereka pun terdiam dan menikmati pemandangan sore.



Setelah hari mulai gelap, Shica dan Reynaldi pulang ke rumah besar Mahali.



Adi dan Ridan yang sedang berbincang didepan rumah menoleh kearah mobil Reynaldi yang memasuki pelataran rumah.



Reynaldi dan Shica keluar dari dalam mobil.



"Baiklah, ini sudah malam.. Kami harus kembali." kata Adi.



Reynaldi mengerutkan keningnya. "Kami?" tanya Reynaldi.



"Iya.. Kau dan aku.. Tanggal pernikahan kalian sudah di pastikan.. Dan sesuai tradisi Jawa, kalian tidak boleh bertemu sampai hari pernikahan." kata Adi.



Reynaldi menatap Shica. "Tapi kami bisa berkomunikasi-kan?" tanya Reynaldi sambil menoleh pada ayahnya.




Shica tersenyum melihat ekspresi kesal Reynaldi yang di tujukan pada ayahnya.



"Baiklah.. Kami harus pergi.. Sampai jumpa." kata Adi.



"Iya.. Hati-hati." kata Ridan. Mobil yang membawa mereka pun melaju meninggalkan rumah besar Mahali.



Ridan merangkul Shica. "Ayo.. Ini sudah malam, sayang," kata Ridan. Shica mengangguk. Mereka pun memasuki rumah.



"Selamat malam, Papa." kata Shica sambil mengecup pipi ayahnya.



"Selamat malam, sayang." kata Ridan.



Shica pun menaiki tangga menuju kamarnya. Dia membuka pintu kamar dan terkejut melihat keberadaan Regar dengan Megha.



Regar dan Megha menoleh kearah Shica. Megha yang sedang memainkan boneka milik Shica berlari ke belakang ayahnya untuk bersembunyi dari Shica.



Shica yang melihat itu heran. Dia menghampiri kakaknya.



"Emm.. Apa terjadi sesuatu..?? " tanya Shica.



Megha mengintip dari balik punggung ayahnya. Itu membuat Shica gemas.



"Tidak.. Tadi Megha melihat bonekamu.. Dia ingin meminjamnya," kata Regar.



Shica tersenyum melihat tingkah Megha yang malu-malu.



"Hei.. Apa kau tidak mau bertemu bibimu? " tanya Shica.



Regar merangkul Megha agar mau berhadapan dengan Shica. Namun Megha tetap tidak mau.



"Megha.. Tante Shica baik kok.. Ayo sapa dia." kata Regar.



Dengan malu-malu, Megha pun menghampiri Shica dan menatap Shica sesaat.



"Hai.. " sapa Megha pelan membuat Shica terkekeh kecil. Shica mengangkat tubuh Megha kemudian dia duduk di samping Regar dan mendudukan Megha di pangkuannya.



"Katakan nama lengkapmu," kata Shica.



"Aku tidak ingat." jawab Megha. Shica tersenyum dan mencium pipi Megha karena gemas.



"Namaku terlalu pajang.. Papa bilang, nama keluarga Mahali memang panjang." kata Megha lagi.



"Tante manggil kamu Megha aja.. Boleh? " tanya Shica.



"Iya," jawab Megha.



"Kamu suka boneka panda ini?" tanya Shica sambil memegang boneka panda yang di pegang Megha.



"Iya," jawab Megha.



"Kalau begitu, boneka ini buat Megha." kata Shica.



"Benarkah? " tanya Megha. "Iya, tentu saja." jawab Shica.



"Terimakasih.. Tante baik sekali." kata Megha sambil mencium pipi Shica.



Shica tertawa karena tingkah keponakan manisnya itu.



Regar tersenyum melihatnya. Priyanka mengetuk pintu kamar Shica. Mereka bertiga menoleh.



"Mama! " Megha berlari memeluk ibunya.



Priyanka tersenyum pada Shica. Shica juga tersenyum.



"Ayo kita ke kamar mandi.. Kamu harus gosok gigi." kata Priyanka. Megha mengangguk semangat. Dia pun melambaikan tangannya pada Shica.



Shica membalas lambaian tangan Megha. Dia tersenyum dengan kepolosan Megha. Regar memperhatikan Shica.



"Aku merasa tua karena sudah di panggil tante." kata Shica. Regar tertawa.



"Kau tante muda," kata Regar.



Shica tertawa.



Kemudian keadaan jadi sunyi. Dan itu membuat suasana menjadi canggung.



"Apa kau yakin mengambil keputusan yang benar? " tanya Regar.



Shica tersenyum mendengar pertanyaan kakaknya itu. "Tentu saja." jawab Shica.



"Apa pria itu benar-benar membuatmu merasa lebih bahagia daripada bersama Raihan? " tanya Regar.



"Dia sudah cukup banyak membuktikan kalau dirinya memang serius padaku.. Soal aku mencintai Raihan, itu tidak bisa menghalangi cinta tulus pria lain untukku.. Aku tidak bisa menolaknya." jawab Shica.



"Berarti kau tidak mencintainya," kata Regar.



"Aku menyayangi Reynaldi.. Dan aku yakin.. Cinta akan datang setelah kita bersama lebih lama," kata Shica.



"Dan.. Bagaimana dengan Raihan? " tanya Regar.



Shica tersenyum. "Mungkin.. Memang benar.. Cinta pertama sulit dilupakan.. Aku sangat mencintainya.. Semakin lama.. Bukan semakin berkurang.. Tapi semakin bertambah dan semakin menyakitiku juga." kata Shica.



"Kalau begitu, batalkan pernikahanmu.. Aku akan membantumu." kata Regar.



"Aku tidak bisa.. Aku tidak bisa menyakiti Reynaldi," gumam Shica.



"Lalu kau akan menyakiti dirimu sendiri dan Raihan? " tanya Regar.



Shica terdiam.



By



Ucu Irna Marhamah