
"I love you so much" kata Shica pelan dengan suara bergetar.
"I love you too"
Tiba-tiba semua lampu menyala. Shica mendongkak menatap orang yang telah memeluknya. Dia terkejut.
Ternyata Reynaldi.
Shica mendorong dada Reynaldi.
"Kamu kenapa, sayang?" tanya Reynaldi.
Shica menatap ke sekeliling. Dia tidak menemukan Raihan dimanapun.
"Ini apa? Apa kau membawanya dari Indonesia? " tanya Reynaldi sambil mengambil kedua buku novel yang terletak diatas ranjang.
Shica melihat jendela kapal terbuka. Dan angin masuk membuat rambut panjangnya bergerak-gerak sesuai arah angin.
Dia masih mengingat dengan jelas apa yang barusan terjadi antara dia dan Raihan.
"Rastani.. Apa yang terjadi denganmu? Kenapa kau terlihat bingung seperti itu? " tanya Reynaldi.
"Aku.. Aku tidak apa-apa.. Dan apa yang telah kau lakukan dengan wanita itu? " tanya Shica penuh selidik.
Reynaldi tertawa. "Memangnya kenapa? " tanya Reynaldi seraya mendekat. Shica menautkan alisnya.
Reynaldi mendekatkan wajahnya. Shica terkejut. Ternyata Reynaldi menghirup aroma leher Shica.
"Aku mencium aroma parfum pria.. " kata Reynaldi penuh selidik. Shica terkejut.
".. Apa ada seseorang yang menemuimu? " tanya Reynaldi.
"Tidak ada" jawab Shica cepat.
Reynaldi menatap Shica penuh selidik. "Aku tahu ini aroma parfum laki-laki.. Mana mungkin kau memakai parfum seperti ini.. Aku juga tahu aroma tubuhmu seperti apa" kata Reynaldi.
"Tidak ada siapapun.. " kata Shica.
Reynaldi mendekatkan wajahnya. Shica terpundur. Kening mereka bersentuhan.
Mata mereka saling menatap.
"Katakan.. " bisik Reynaldi pelan.
"Tidak ada yang perlu dikatakan " jawab Shica gugup.
Hidung mereka bersentuhan. Reynaldi mengecup lembut bibir Shica. Shica diam tidak memberontak.
Reynaldi melepaskan ciumannya kemudian menyentuh bibir Shica.
"Siapa yang berani menyentuh bibirmu? " tanya Reynaldi setengah menggertak.
Shica gemetar melihat kemarahan Reynaldi yang berusaha dia kendalikan.
"Aku.. Aku.. "
"Katakan! " bentak Reynaldi.
Shica menelan salivanya. "Tidak ada siapapun.. Sungguh " kata Shica dengan suara gemetar.
Reynaldi mengepalkan tangannya.
"Ke.. Kenapa kau marah seperti itu.. Sementara kau sendiri bermain dengan wanita lain.. " kata Shica dengan suara gemetar.
Reynaldi menautkan alisnya kemudian tertawa. "Apa kau cemburu? " goda Reynaldi.
Serta merta Shica menatap Reynaldi.
"Biasanya kau tidak peduli dan bahkan dulu kau sering menyuruhku bermain dengan wanita lain asalkan aku tidak menyentuhmu" kata Reynaldi.
"Itu dulu.. Sebelum kita menikah.. Sekarang kita sudah menikah kan" gerutu Shica.
Reynaldi tersenyum dan melupakan kemarahannya yang sudah berlalu. Dia menyentuh dagu Shica.
"Kau marah? " tanya Reynaldi.
"Tentu saja.. Bukankah dia mantanmu, hubungan kalian sudah berakhir, tapi kenapa kau masih terlihat peduli padanya? " gerutu Shica.
Reynaldi tersenyum kemudian dia memeluk Shica.
"Rupanya istriku ini sedang cemburu ya.. Wahh aku senang sekali" kata Reynaldi sambil tertawa.
Shica melepaskan pelukan suaminya dan menatap Reynaldi kesal. "Kau terlihat masih menyukainya.. Dia juga memakai pakaian yang kekurangan bahan.. Dia pasti menarik bagimu kan.. Aku yakin kau menginginkan dia" jawab Shica.
Reynaldi tertawa. "Aku tidak menginginkan dia.. Sayang " kata Reynaldi.
"Tapi aku yakin kau pernah menghabiskan malam dengan dia.. Iyakan? " gerutu Shica.
Reynaldi terdiam.
"Sudah kuduga! Dasar kau! Laki-laki mesum!! " gerutu Shica.
Reynaldi mencekal kedua tangan Shica agar behenti mencubitnya.
"Kau benar-benar cemburu ya? " goda Reynaldi.
"Aku benci padamu!! Aku kesal padamu!! " Shica mendengus dan mendorong Reynaldi kemudian berlalu ke kamar mandi.
Reynaldi tertawa. Dia menghela napas kemudian menatap ke sekeliling. Dia melihat jendela kapal terbuka.
Reynaldi berjalan dan melihat keluar. Terdapat jejak sepatu disana. Reynaldi mengepalkan tangannya geram.
"Jadi.. Kau disini rupanya.. Kupikir kau tidak kembali.. Kali ini kau berhasil menyentuh bibir Rastani, tapi tidak lagi setelah ini" geram Reynaldi kemudian berlalu ke kamar mandi yang satunya lagi.
Shica keluar dari walk in closet dengan dress tidur berwarna putih. Dia merebahkan tubuhnya ke ranjang.
Namun dia merasa menindih sesuatu. Shica bangkit dan melihat dua buku novel yang sepertinya dibawa Raihan.
Shica membawa kedua novel itu. Dia melihat judulnya.
Kita Bahagia Selamanya
Shica mengerutkan keningnya. Kemudian dia melihat buku yang satunya lagi.
Raihan & Shica
Shica terbelalak dengan judul tersebut. Dia melihat nama Raihan tertera di bawah judul novel tesebut.
"Jadi.. Ini novel karya Raihan.. " gumam Shica.
Pintu walk in closet terbuka. Shica terhenyak dan menoleh ternyata Reynaldi sudah selesai mandi.
Shica segera menyimpan kedua novel itu ke nakas.
Reynaldi hanya mengenakan boxer putih. Rambutnya yang basah terlihat acak-acakan namun terkesan seksi.
Dia melirik Shica sekilas kemudian dia bercermin. Shica memperhatikan apa yang dilakukan Reynaldi.
Reynaldi menyisir rambutnya.
"Kenapa tidak memakai pakaianmu? Apa kau tidak kedinginan? " tanya Shica.
Reynaldi berbalik dan menatap istrinya. "Kalau begitu tolong pakaikan aku pakaian" kata Reynaldi.
Shica memutar bola matanya. "Pakai saja sendiri.. " gerutu Shica.
Reynaldi merebahkan tubuhnya disamping Shica.
"Mendekatlah " kata Reynaldi. Shica pun melelapkan kepalanya ke lengan besar Reynaldi.
Reynaldi membelai lembut rambut Shica.
"Reynaldi.." gumam Shica.
"Hmm? "
"Apa.. Kau baik-baik saja? " tanya Shica.
"Memangnya kenapa? " tanya Reynaldi.
"Aku merasa kau tersiksa hidup bersamaku.. " jawab Shica.
"Kalau begitu jangan siksa aku" kata Reynaldi.
"Aku tahu kau mengerti maksudku.. Aku mohon.. Jangan menyakiti dirimu sendiri.. " kata Shica.
"Mau bagaimana lagi.. Kau belum siap melayaniku.. Aku tidak bisa memaksamu.. Tapi aku yakin.. Bagaimanapun juga, kau akan menjadi milikku " kata Reynaldi.
"Aldi.. " gumam Shica.
"Hmm? "
"Jika kau mau memiliki aku.. Jangan pernah kau melepaskanku.. " kata Shica pelan.
Reynaldi terdiam.
"Please.. Don't leave me.. Because you are the last for me" kata Shica.
"You are the last and the first in my heart.. In my life.. Please.. With me forever.. " kata Reynaldi.
Shica memeluk Reynaldi. Reynaldi membalas pelukan Shica.
"Night"
By
Ucu Irna Marhamah