Don't Leave Me

Don't Leave Me
146



Baca cerita baru aku juga yaaaa




"Meskipun Deva memiliki darah ayahnya, dan memakai nama belakang ayahnya, dia tetap anakku.. Anak sulungku.. Raihan juga sudah menitipkan dia padaku. Jadi sekarang terserah padaku" kata Reynaldi.


"Lalu bagaimana jika Om Adi membedakan antara Deva dengan anakmu? Apa kau akan tinggal diam? " tanya Tama. "Soal itu, aku tidak akan mengambil tindakan.. Karena hak Papa untuk menyayangi cucu kandungnya.. Aku akan memberitahu Deva tentang siapa ayahnya.. Nanti dia juga akan mengerti " kata Reynaldi.


Tama tersenyum kemudian menepuk bahu Reynaldi. "Kau benar-benar berubah menjadi pria sejati.. Entah bagaimana dengan perasaan Om Adi terhadap dirimu, namun bagiku, kau membuatku bangga.. " kata Tama. Reynaldi hanya tersenyum mendengar perkataan sepupunya itu.


Shica dan Salia kembali dari kamar menuju ruang keluarga. Tama dan Reynaldi menoleh.


"Bagaimana? Apa kamu hamil? " tanya Reynaldi. Shica dan Salia saling pandang. Kemudian Shica mengangguk. Kedua mata Reynaldi membulat.


"Terimakasih sayang " Reynaldi memeluk Shica kemudian mengecup pipi Shica. Salia hanya tersenyum melihat kemesraan pasangan itu.


Reynaldi mengambil Deva dari Tama. "Deva.. Mommy punya bayi diperutnya.. Dia akan menjadi teman Deva main" kata Reynaldi. Deva bertepuk tangan. Entah dia mengerti atau tidak dengan apa yang diucapkan ayahnya.


"Terimakasih, Kak Salia" kata Reynaldi. Salia tersenyum sambil mengangguk.


"Baiklah, kami harus pulang.. Oh ya. Ini kado untukmu, tampan" kata Tama sambil menyimpan kado besar ke meja. "Ini dariku " kata Salia sambil menyimpan kado berukuran sedang keatas kado Tama.


"Terimakasih, Kak" kata Shica. Salia mengangguk sambil tersenyum.


"Sampai jumpa.. " kata Salia sambil mengecup pipi Deva. Mereka berdua pun pergi meninggalkan mansion Reynaldi.


"Baiklah.. Sepertinya Deva sudah mengantuk, ayo tidur" kata Reynaldi. Shica mengangguk.


Keesokan harinya..


Deva sedang bermain di taman di temani para pelayan. Kedua penjaga membuka gerbang kokoh pelindung mansion besar Adiwijaya. Sebuah mobil memasuki pelataran mansion.


Ternyata Adi. Deva menoleh, dia bertepuk tangan melihat kedatangan pria yang usianya sudah tidak muda lagi. Adi menghampiri Deva.


Tatapan tidak suka terpancar dari matanya. "Dimana Reynaldi? Aku ingin bertemu dia" kata Adi.


"Akan saya beritahu Tuan bahwa Tuan besar kemari" kata salah satu dari mereka kemudian berlalu.


"Kalian pergi.. Biarkan aku berdua dengan pria kecil ini" kata Adi. Para pelayan pun berlalu. Kini tinggal Adi dengan Deva. Deva pun berdiri dan merentangkan kedua tangannya dia ingin digendong Adi. Namun Adi sama tidak bergeming.


"Aku bukan siapa-siapa bagimu.. Reynaldi juga bukan ayahmu.. Tidak ada darah Adiwijaya dalam tubuhmu.. Kau bukan bagian dari kami.. " kata Adi. Deva memeluk kaki Adi. Adi terkejut.


"Opaa.. " kata Deva. Adi semakin terkejut, kedua alisnya terangkat.


"Deva.. Come here.. " Adi terkejut dan menoleh. Ternyata Reynaldi sudah berdiri disana entah sejak kapan. Deva menurut, dia berjalan pelan menghampiri ayahnya. Reynaldi mengangkat tubuh Deva. Dia menghampiri ayahnya.


"Berapa kalipun Papa bicara, aku tetaplah ayahnya Deva" kata Reynaldi. Adi menautkan alisnya geram.


"Iya.. Itu benar.. Tapi dia anakku.. Hak Papa jika Papa tidak mau mengakuinya.. Namun aku akan tetap mengakuinya.. Dia anakku" kata Reynaldi.


"Terserah! " kata Adi.


"Ada urusan apa Papa kemari? Biasanya Papa yang memanggilku" kata Reynaldi mengalihkan pembicaraan.


"Aku dengar dari Salia, bahwa Rastani sedang mengandung.. Apa itu benar? " tanya Adi.


"Iya.. " jawab Reynaldi.


"Pastikan jika itu anakmu.. Pastikan jika dia mengandung darah daging seorang Adiwijaya " kata Adi kemudian berlalu.


Reynaldi menautkan alisnya melihat mobil ayahnya melaju meninggalkan mansion besarnya.


"Opaa" kata Deva. Reynaldi tersenyum. "Wah Deva hebat bisa bilang Mom, Dad, Opa.. Deva udah besar yaa.. " kata Reynaldi.


"Opa" kata Deva lagi.


"Opa juga sayang sama Deva.. Cuma dia lagi gaje aja.. Nanti dia dateng lagi kesini main sama Deva" kata Reynaldi.


Tanpa dia sadari, Shica berdiri tak jauh dari mereka. Dia mendengar semuanya. Mendengar apa yang diucapkan Adi. Kata-kata yang membuat hati seorang ibu terluka.


Dia menyentuh dadanya. "Raihan.. Rasanya sakit.. Jika tidak ada Reynaldi, maka rasa sakit ini akan semakin besar.. " gumam Shica pelan.


Reynaldi berbalik. Shica segera mengusap air matanya. Reynaldi tersenyum, dia menghampiri Shica.


"Momm" seru Deva. Shica tersenyum kemudian menggendong Deva. Dia mengecup pipi putranya yang bulat itu.


"Tadi kudengar ada suara Papa Adi.. Sekarang kemana? " tanya Shica pura-pura tidak tahu.


"Emm.. Iya.. Tadi Papa kesini.. " kata Reynaldi.


"Emm.. Apa yang Papa katakan? " tanya Shica.


"Emm.. Papa bilang.. Selamat atas kehamilanmu.. Dia juga menitipkan salam untukmu" kata Reynaldi.


Shica tersenyum kecut. "Terimakasih, Reynaldi.. Terimakasih kau sudah berbohong demi menghilangkan lukaku ini"


By


Ucu Irna Marhamah