Don't Leave Me

Don't Leave Me
Bertemu Ayah dan Ibu



Perjalanan mereka menyusuri gedung-gedung pencakar langit. Membelah kemacetan khas Ibu Kota dengan membawa beban di pundak mereka. Sebuah harapan yang mereka bawa dari tempat nun jauh dari hiruk pikuk kota, ternyata masih tertunda takdir yang belum bisa merestui.


Keramaian kota tak menyudahi keheningan mereka yang sedang dirundung duka. Menikmati jalanan kota dengan diam, tak saling sapa. Padahal di hati mereka berkecamuk seribu rasa yang sedang meronta. Menahan pilu dan sesak di dada mereka.


"Lexa ingin menemui Ayah dan Ibu, Om!" Ucapan Lexa yang tiba-tiba membuat Angga sedikit tercengang.


Hampir saja tuas rem yang serta merta dia injak tak melukai penumpangnya. Ratih juga tak kalah tercengang. Dia melotot ke arah Lexa. Memastikan apa yang baru saja dia dengar.


"Lexa ingin menemui Ayah dan Ibu.." Ucap Lexa lagi. Dengan raut wajah mantap, meyakinkan kedua orang dewasa di dekatnya itu.


Angga pun mengiyakan apa yang Lexa minta, setelah mendiskusikan dengan Ratih melalui isyarat.


Perlahan tapi pasti, mobil sedan Angga dia kendarai menuju tempat peristirahatan Ayah dan Ibu Lexa.


Ayah dan Ibu Lexa tidak dimakamkan dalam satu tempat yang sama. Ibu Lexa dimakamkan tak jauh dari Ayah Ratih. Sedangkan Ayah Lexa dimakamkan di pemakaman belakang tempat rehabilitasi yang dalam waktu kurang dari satu tahun ini menjadi rumah singgahnya.


Angga mengajak Lexa ke makam Ibunya terlebih dahulu. Mobil yang mereka kendarai sudah terparkir di depan pelataran makam. Ketiganya masuk ke area pemakaman bersama. Wajah ketiganya tidak tampak tegang. Mereka terlihat santai membawa sekantung bunga yang mereka beli di luar area pemakaman.


Mereka duduk bersama mengitari makam Riyanti yang terawat. Bersih dan tak ditumbuhi rumput liar. Rupanya Angga yang selalu membayar uang perawatan makam Riyanti.


Lexa menabur bunga yang tadi dia bawa, diikuti Ratih yang juga melakukan hal yang sama. Sedangkan Angga menuang air di tanah Riyanti. Mereka kompak merawat pusara Riyanti dengan sepenuh hati.


Ratih menyaksikan keponakannya yang berada tepat di sampingnya. Menyibak beberapa helai rambut Lexa yang menutupi pipinya yang berseri. Lexa jelas terlihat bahagia berada disana, dekat dengan Ibunya. Ratih merasa ada bunga-bunga yang bermekaran dalam hatinya. Sudah sangat lama rupanya, dia tak melihat wajah Lexa yang berseri-seri.


Ratih membiarkan Lexa terdiam sendiri dengan bangga, karena Lexa tampak bahagia. Dia pasti sedang bercakap-cakap dengan Riyanti, Ibunya. Sungguh pemandangan saat itu membuat Ratih tak berhenti berdecak kagum, karena Lexa tampak begitu ayu.


Tak lama mereka duduk disana melepas rindu dengan Riyanti, kemudian Lexa pamit dengan mengecup batu nisan Riyanti. Disusul Ratih dan Angga yang bergantian mengusap batu yang Lexa kecup sebelumnya. Memberi isyarat pamit untuk melanjutkan ke tempat yang lain.


****


Angga masih bersama Ratih dan Lexa, hendak mengantar mereka ke tempat tujuan mereka yang kedua. Perasaan Ratih mulai sedikit kacau. Bunga-bunga yang tadi bermekaran di dalam hatinya mendadak seperti berguguran. Gelisah adalah hal yang paling kentara terlihat dari gurat wajah Ratih.


Mobil Angga mulai berhenti. Dia sudah mendapat tempat parkir yang pas untuk mobilnya. Tepat di halaman belakang gedung bercat putih. Tempat yang akan dia tuju akan melewati pagar hitam yang tinggi menjulang. Pagar yang besar dan kokoh itu adalah gerbang area pemakaman Ayah Lexa. Areanya di kelilingi pohon-pohon besar. Suasananya sepi dan tampak gelap. Karena cahaya matahari terhalang dedaunan yang rimbun.


Tempat yang mereka tuju sedikit sepi. Walaupun ada beberapa orang yang terlihat lalu lalang di dalam sana, tapi mereka tampak hening tak bersuara.


Lexa orang yang pertama membuka mobil Angga, padahal Ratih tak ada niatan untuk meninggalkan mobil Angga. Tapi karena Lexa mantap untuk pergi melihat Ayahnya, Ratih terpaksa menentang hatinya.


Angga berdiri di samping Lexa, melirik Lexa dan menggandeng tangannya erat. Lexa menatap Angga dan tatapan ramah, melempar senyum kecil untuk Angga. Ratih hanya terdiam di samping mereka. Wajahnya sangat murung. Airmatanya sudah berada di pelupuk matanya, membuatnya berkaca-kaca.


Lexa melangkah pasti bersama Angga yang setia memberi Lexa dukungan lewat genggaman tangannya. Sementara Ratih melangkah dengan kaki yang terasa berat. Membayangkan makam Danang saja sudah membuatnya getir. Apalagi jika dia berhadapan mata dengan pusara Danang. Apa yang akan terjadi?


Lexa tampak mengitari sekeliling, melihat sekitar area pemakaman yang sepi. Banyak batu nisan tak bernama disana. Tak begitu terurus karena banyak rumput kecil yang tumbuh disana. Walaupun tak lebat, tapi cukup menandakan kalau makamnya tak cukup sering dikunjungi keluarganya.


Angga mengarahkan tubuh Lexa untuk mengikutinya. Arahnya sedikit lebih masuk ke dalam area pemakaman. Agak jauh dari gerbang utama. Angin sepoi-sepoi mulai beradu mengayunkan dedaunan lebat disana. Membuat suasana menjadi sejuk, walaupun masih terasa lembab karena sinar matahari hanya secuil masuk lewat celah dedaunan.


Angga berhenti melangkah yang secara naluriah juga menghentikan langkah Lexa yang sedari tadi masih fokus mengamati sekitar. Ratih pun ikut berhenti karenanya.


Lexa langsung mengalihkan perhatiannya ke arah gundukan tanah yang masih merah. Tak ada bunga disana. Hanya sebuah gundukan tanah yang dipasang kayu bertuliskan Danang Kusuma.


Lexa mengambil napasnya dalam-dalam. Tangannya sudah mulai mendingin. Tubuhnya juga terlihat sedikit bergetar, sehingga Angga semakin mempererat genggamannya. Pandangan mata Angga menatap Lexa dengan sayu. Kesedihan jelas dirasakan oleh Angga.


Ratih yang berada di belakang sudah merasa tak bertenaga. Dia hampir lunglai melihat pusara Kakak kesayangannya. Dia sedikit menjaga jarak dengan Lexa dan Angga di depannya, menahan isak tangis yang sudah tak mampu dia bendung.


Lexa menunduk perlahan. Berusaha untuk menggapai pusara sang Ayah. Hampir saja menyentuh pusara kayu milik Danang, tapi kemudian diurungkan. Tanpa sadar airmatanya meleleh ke pipi. Berkali-kali dia berusaha mengusap airmata yang jatuh itu dengan tangannya. Tapi entah mengapa, airmata itu terus ada. Lexa menjadi cengeng di depan pusara sang Ayah. Tak seperti saat berada di depan pusara Riyanti. Kecantikan tersembunyi Lexa sampai terpancar keluar. Namun berbeda situasi kali ini. Aura Lexa tampak begitu pilu.


Angga merangkul hangat tubuh Lexa. Mengelus lembut punggung Lexa yang kurus, tanpa bisa mengucapkan satu patah katapun untuk menenangkan Lexa yang sudah menangis. Karena Angga sendiri saja tak bisa menguatkan dirinya di hadapan kedua wanita terkasihnya.


Lexa tenggelam dalam tangisnya yang pilu dalam rangkulan Angga yang juga ikut tenggelam di dalamnya. Ratih pun tak kalah pilu. Terombang-ambing oleh ombak kesedihan Lexa yang berada di dekatnya, tanpa mampu berbuat banyak untuk menyelamatkannya.