Don't Leave Me

Don't Leave Me
81




".. Aku pikir setelah memberimu kesempatan kedua, Kau akan benar-benar berubah. Nyatanya kau hanya ingin mengulang kejadian yang sama menyakitiku hingga kembali terluka.."



***





Perlahan kedua mata kecil itu terbuka, memperlihatkan manik hazel yang tersembunyi disana.


Shica merasakan lengan besar itu memeluk perutnya dan itu terjadi semalaman.



Shica dan Reynaldi tidur dalam satu ranjang. Namun tidak terjadi apapun semalam.


Reynaldi masih terlelap dengan tangan kanan menjadi bantalan bagi kepala Shica dan tangan kiri memeluk tubuh Shica.



Shica beranjak pelan-pelan dari ranjang karena dia tidak mau membangunkan Reynaldi.


Namun, tangan Reynaldi bergerak memegang tangan Shica. Shica menoleh kearah Reynaldi.


Kedua manik sapphire itu menatap Shica. "Mau kemana?" tanya Reynaldi.



"Ke kamar mandi," jawab Shica.


Reynaldi-pun melepaskan Shica. Shica berlalu keluar dari kamar Reynaldi menuju kamar mandi. Reynaldi menatap langit-langit kamarnya.



Apa Shica benar-benar akan menerimanya setelah dia mengancamnya semalam?


Reynaldi tahu dia egois dan licik. Tapi dia tidak bisa melepaskan Shica begitu saja dari hidupnya. Dia mencintai Shica. Reynaldi bangkit dari ranjang. Dia berjalan menuju cermin. Reynaldi menatap pantulan dirinya dari cermin. Tangannya bergerak membenarkan rambutnya yang sedikit acak-acakan.



"Aku jauh lebih tampan dari Raihan. Tapi, kenapa Rastani begitu mencintai Raihan?" gumam Reynaldi.


Shica mengetuk pintu kamar Reynaldi. Reynaldi menoleh kearah pintu. "Masuk," kata Reynaldi



Shica memasuki kamar Reynaldi dengan pakaian berbeda. "Kenapa belum berangkat?" tanya Shica.


"Hari ini aku tidak akan ke kantor. Aku mau menghabiskan waktu bersamamu," kata Reynaldi sambil beranjak dari ranjang king size-nya itu.


"Apa Papa Adi tidak akan marah?" tanya Shica. "Tidak, aku juga gak ada kerjaan disana. Lebih baik kita sarapan di halaman belakang." kata Reynaldi.



"Emm, aku akan menyiapkan semuanya." kata Shica. "Aku mau mandi," kata Reynaldi. Shica mengangguk kemudian berlalu.


Shica dibantu para pelayan mansion menyiapkan makanan untuk sarapan. Seperti yang Reynaldi inginkan. Mereka menyajikan makanan di halaman belakang.



Halaman belakang mansion tersebut sangat luas. Ada kolam renang dan taman kecil disana ditumbuhi berbagai macam bunga. Shica meletakkan dua gelas susu ke meja tersebut. Meja berbentuk persegi dengan sepasang kursi berhadapan.



Ketukan sepatu pada lantai marmer mengalihkan perhatian Shica. Dia menoleh, ternyata Reynaldi sudah rapi dengan pakaian rumahan. Dia mengenakan kaos putih lengan pendek dengan celana jeans hitam. Baru kali ini Shica melihat Reynaldi tampak santai dengan pakaian tersebut. Biasanya Reynaldi mengenakan kemeja meskipun berada di rumah.



Para pelayan membungkukkan badan, kemudian berlalu meninggalkan mereka berdua. Mereka berdua-pun duduk berhadapan.



"Hanya roti? Kupikir kau akan memasak untukku," kata Reynaldi setelah melihat sajian di meja. "Emm, kalau kau mau, aku akan memasak untukmu," kata Shica sambil beranjak dari tempat duduknya. Namun, Reynaldi meraih tangan Shica. "Tidak perlu, asalkan bersamamu, sarapan apapun aku bahagia," kata Reynaldi sambil tersenyum tampan.



Shica mengerutkan keningnya. Sejak kapan Reynaldi bisa menggombal?


"Emm, Baiklah." kata Shica. Reynaldi tersenyum. Mereka-pun menyantap sarapan tersebut.


"Emm, Oh ya. Selama kau bersamaku, kau tidak pernah bilang mau sesuatu. Jika kau mau sesuatu katakan saja." kata Reynaldi setelah menghabiskan rotinya.



Shica tampak berpikir. "Jika aku meminta lepas darimu, apa kau akan mengabulkannya, Reynaldi? "


"Jangan ragu, katakan saja." kata Reynaldi. "Aku tidak ingin apa-apa," jawab Shica.



"Aku dengar kau suka novel, ya." kata Reynaldi. "Aku yakin kau tahu itu dari mata-matamu, kan?" tanya Shica. Reynaldi tertawa. "Tepat sekali,"



"Iya, aku suka novel. Karena aku bisa berpetualang di kisah yang berbeda-beda." Shica menjawab pertanyaan yang sempat tertunda.


"Apa kau mau juga kalau aku membelikanmu novel?" tanya Reynaldi. "Tentu saja," jawab Shica semangat. Reynaldi tersenyum.


"Emm, aku lihat kau sungguh berbeda hari ini, ada apa?" tanya Shica. Reynaldi tersenyum. "Kukira kau menyadarinya," kata Reynaldi.


"Menyadari apa? " tanya Shica.


"Aku sedang mengikuti gaya Raihan," kata Reynaldi.



Shica terdiam, mendengar nama Raihan disebut, jantung Shica berdetak.


"Untuk apa?" tanya Shica. "Emm, Entahlah. Aku hanya ingin mencoba seperti dia. Gombal, konyol, aneh dan tidak jelas." kata Reynaldi.


"Pantas saja dia terlihat aneh," batin Shica.



"Jadi, bagaimana menurutmu?" tanya Reynaldi. "Apanya?" Shica balik bertanya.


"Jika aku bertanya, apa kau lebih suka Raihan, atau aku?" tanya Reynaldi.


Shica tersenyum. "Bukan pilihan yang sulit, kalian sama-sama aneh," jawab Shica sarkas. Reynaldi tertawa.



"Setidaknya aku lebih banyak memperlihatkan bukti, daripada banyak bicara." kata Reynaldi.


Shica mengangguk. "Iya, tapi kau banyak ingkar janji. Sayang sekali, Tapi aku sudah terjebak. Terjebak selamanya bersamamu." kata Shica sambil mengalihkan pandangannya.



"Apa kau menyesal?" tanya Reynaldi.


Shica terdiam sejenak, namun kemudian dia kembali berbicara. "Kita lihat saja nanti, jangan membuatku menyesal."


Reynaldi tersenyum, "Oh ya, kudengar kau pandai dalam seni lukis dan menggambar. Aku juga pernah melihat sketsa wajah Raihan. Apa kau yang membuatnya?" tanya Reynaldi.


"Tidak terlalu bagus, tapi memang benar, sketsa wajah itu karyaku." jawab Shica.


"Boleh aku minta sesuatu?" tanya Reynaldi.


"Tentu saja," jawab Shica.


"Tolong, lukis sketsa wajahku di kanvas." kata Reynaldi.


Shica menatap Reynaldi.


"Kuharap tidak ada alasan," kata Reynaldi.


"Tentu tidak, aku akan melakukannya sesuai dengan permintaanmu." kata Shica.


Reynaldi tersenyum.



By



Ucu Irna Marhamah