Don't Leave Me

Don't Leave Me
88




"Sesekali, abaikan perasaan mereka. Prioritasmu adalah kebahagian dirimu sendiri."


_Ucu Irna Marhamah_



Di kediaman Mahali



Ridan dan Ratna sedang menyantap makan siang mereka. Mereka tampaknya tidak bersemangat menjalani hari seperti dulu. Tidak ada siapa pun di rumah besar itu. Hanya mereka berdua dan beberapa pelayan. Regar tinggal di New York karena dia memegang salah satu perusahaan ayahnya disana. Sementara Shica, dia kabur ke Perancis sudah berbulan-bulan. Ridan menyesal karena telah mencabut semua fasilitas untuk putrinya itu.



Jika saja waktu itu hatinya luluh dan mengerti pada kemauan putrinya, maka dia tidak akan merasakan kesedihan yang teramat dalam seperti ini. Sekarang dia tidak bisa melacak keberadaan putrinya. Dia sangat menyesal.



Ridan menatap istrinya yang terlihat lelah dengan masalah ini. Ridan menyentuh tangan istrinya untuk menyalurkan ketenangan lewat sentuhan hangatnya selaku seorang suami.



"Dimana Putri kita.. " tanya Ratna lirih dengan kesedihan yang terlihat jelas di wajah cantiknya, meskipun usianya tidak muda lagi. Tidak menghela napas panjang. Dia juga terlihat sedih. "Maafkan aku.. Aku sangat menyesal" kata Ridan pelan.



"Ini salahku.. Salahku Ridan.. " tangis Ratna. Dia tidak mau lagi melanjutkan makannya. Ratna mengusap kasar wajahnya.



"Seandainya.. Seandainya aku tidak memisahkan Raihan dari Shica.. Semua ini tidak akan terjadi " kata Ratna dengan suara bergetar. Ridan merangkul wanita yang telah mendampinginya selama bertahun-tahun.



"Salahku juga.. Aku terlalu keras padanya.. Maafkan aku." kata Ridan.



"Besok Regar akan kembali dari New York.. Apa yang akan kita katakan?" tanya Ratna. Regar tidak tahu menahu tentang kaburnya Shica dari Indonesia. Jika Regar tahu, dia bisa marah dan kabur juga.



"Kita katakan yang sebenarnya." jawab Ridan. Ratna menangis dalam pelukan suaminya.



"Aku sudah tidak peduli lagi.. Siapapun Raihan, aku akan menerima dia untuk Shica.. Demi Shica." kata Ratna dengan suara bergetar. Ridan mengusap punggung istrinya.



Salah seorang pelayan menghampiri mereka. "Tuan, Nyonya.." napas pelayan yang tak lain adalah Darmi itu terengah-engah. Disertai kedua pipi keriputnya dibasahi air mata.



"Ada apa Bi Darmi?" tanya Ridan. "Nona Shica.." kata Darmi sambil menunjuk ke belakang. Ratna dan Ridan terkejut mereka berdua saling pandang. "Ada apa dengan Shica?" tanya Ratna cepat sambil berdiri.



"Nona Shica.."



Tanpa menunggu ucapan Darmi, Ratna dan Ridan segera bergegas ke ruang tamu. Mereka melihat sepasang kekasih yang tengah memperhatikan foto besar Ratna dan Ridan yang sedang menggendong kedua anak kecil di pangkuan mereka.



Ratna dan Ridan saling pandang. Kedua orang itu berbalik melihat Ridan dan Ratna. Ratna terbelalak.



Itu adalah Shica.



Putrinya.



"Shi.. Shica," serta merta dia memeluk putrinya dengan erat. Shica hanya diam. Ridan juga memeluk kedua wanita yang sangat dia sayangi itu. Pria yang berada di samping Shica tersenyum melihat pemandangan mengharukan itu. Pria yang tak lain Reynaldi itu berdeham pelan.



Ratna dan Ridan melepaskan pelukan mereka kemudian menatap Shica dari ujung kaki sampai ujung kepala. "Kamu dari mana saja? Apa kamu marah sama Papa? Sampai-sampai kamu gak mau lagi ketemu Papa dan Mama?" tanya Ridan dengan ekspresi sedih dan penyesalan yang begitu dalam tersirat diwajahnya.



"Kami sangat khawatir.. Berbulan-bulan kamu menghilang tanpa kabar.. Apa kamu tidak merindukan kami?" tanya Ratna menimpali. Dia sudah tidak bisa membendung lagi air matanya.



Shica tidak kunjung menjawab pertanyaan kedua orang tuanya. Dia melirik Reynaldi. Ridan menoleh kearah Reynaldi.



"Dia.. Reynaldi Adiwijaya." kata Shica.



Reynaldi pun menjabat tangan Ridan dan Ratna.



"Halo.. Senang bertemu denganmu lagi, kita sering bertemu di pertemuan, aku mengenalmu." kata Ridan sambil tersenyum. "Senang bertemu dengan anda juga, iya anda benar." jawab Reynaldi sambil tersenyum.



"Reynaldi calon suamiku," kata Shica tanpa basa-basi.



Tentu saja kata-kata Shica membuat Ridan dan Ratna terkejut. Shica tersenyum tipis. Dia menggandeng lengan Reynaldi. Reynaldi menatap Shica yang tidak seperti biasanya lebih dulu menyentuh Reynaldi.


"Aku yakin.. Papa dan Mama kenal sama keluarga Adiwijaya.. " kata Shica.



Ratna dan Ridan saling pandang. Mereka bingung. Bagaimana bisa Shica dan Reynaldi bisa memutuskan secepat itu?



"Tapi.. Bukankah.. " Ratna tidak melanjutkan kata-katanya. Dia terlihat sedih.



"Reynaldi berasal dari keluarga terhormat dan bermoral tinggi.. Bukankah Mama dan Papa menginginkan menantu seperti dia?" kata Shica di akhiri pertanyaan.



Ratna terlihat sedih. Ridan mengalihkan pandangannya. Dia tidak mampu melihat ekspresi putrinya yang memperlihatkan senyuman palsunya. Reynaldi menatap Shica. Dia tidak mengerti dengan apa yang di katakan oleh Shica.



"Reynaldi adalah laki-laki yang berpendidikan tinggi.. Dia laki-laki yang baik.. Tidak seperti Raihan.. Laki-laki yang berasal dari rakyat biasa.. Laki-laki yang pekerjaannya hanya menjual nasi goreng.. " kata Shica sarkas.




"Sepertinya orang-orangku ketinggalan sedikit info.. Ada beberapa yang tidak aku ketahui " batin Reynaldi.



"Kenapa Papa sama Mama malah diam? Apa Papa sama Mama tidak setuju? " tanya Shica yang terlihat sedih dan ekspresi itu membuat Ratna sakit.



"Emm.. Ayahku akan datang kemari besok untuk membahas tentang hari pernikahan " kata Reynaldi mengalihkan pembicaraan.



"Emm.. Kenapa buru-buru? Kalian masih muda" tanya Ridan.



Shica tersenyum. "Papa jangan mengkhawatirkanku.. Aku sudah dewasa" kata Shica sambil tersenyum.



"Kalian tidak bisa menikah! " kata Ratna yang membuat Shica dan Reynaldi tekejut.



"Ma.. Maksudku.. Kalian tidak bisa menikah sebelum Regar menikah.. Kamu tidak boleh melangkahi kakakmu" kata Ratna sambil menyentuh bahu Shica.



"Regar akan kemari besok" kata Ridan.



Shica tersenyum. "Aku sangat merindukan kakak" gumam Shica sambil membayangkan wajah kakaknya.



"Kalian pasti lelah.. Bi Minah akan menunjukkan kamar padamu Reynaldi" kata Ridan sambil merangkul Reynaldi dan berlalu meninggalkan Shica dengan Ratna.



Ratna menatap Shica dengan ekspresi sedih. "Ada apa denganmu, Shica? " tanya Ratna.



Shica tersenyum. "Percayalah.. Aku sangat bahagia" kata Shica kemudian berlalu.



Ratna mengusap air mata yang mengalir membasahi pipinya.



"Bahagia? Kenapa? Apa kau yakin? Aku ibumu.. Kau tidak bisa membohongiku" gumam Ratna.



Malam pun tiba..



Keluarga Mahali tengah menyantap hidangan makan malam mereka. Sekaligus menjadikan moment bahagia kembalinya putri di rumah itu.



Selesai makan, Reynaldi permisi untuk menelepon ayahnya di Italia. Ya, saat Reynaldi kembali ke Perancis, dia tidak kembali bersama Adi. Karena Adi masih banyak kepentingan yang tidak bisa ditinggalkan disana.



"Apa dia seorang muallaf? " tanya Ridan setelah Reynaldi benar-benar pergi ke kamarnya. "Bukan.. Dia memang muslim sejak lahir" jawab Shica.



"Apa kau yakin dengan pilihanmu? " tanya Ratna yang sama sekali tidak mau mendengar basa-basi suaminya yang menurutnya tidak penting. "Tentu saja.. Jika tidak, kenapa aku mengajaknya kemari" jawab Shica.



"Shica.. Kami tahu dia baik dan sopan.. Dia juga terlihat begitu mencintaimu.. Tapi kami tidak yakin kau mencintainya" kata Ridan. "Aku mencintai dia" jawab Shica cepat.



"Lalu.. Apa kau sudah melupakan Raihan? " tanya Ratna cepat. Shica tertawa. "Tentu saja.. Bukankah Mama membenci pedagang nasi goreng itu? " jawab Shica di akhiri pertanyaan. Ucapannya terdengar sarkas.



"Shica, Mama tahu cintamu hanya Raihan.. " belum selesai Ratna bicara, Shica sudah tertawa. Ridan mengerutkan keningnya. Ratna juga. Shica tertawa semakin keras seolah ada lelucon yang garing yang membuatnya tertawa.



"Hahaha.. Mama tahu.. Mama tahu aku mencintai Raihan? Lalu untuk apa Mama melarangku bersama dia?" tanya Shica. Ratna menautkan alisnya geram. "Kenapa kau menyakiti dirimu dengan memilih pria lain untuk pernikahanmu nanti? Shica jangan main-main dengan pernikahan! " bentak Ratna.



Shica tersenyum menyeringai. "Karena kalian tidak suka kepada Raihan.. Aku menuruti yang kalian mau " jawab Shica.



"Persetan dengan nasi goreng! Kami ingin kamu bahagia!! Lupakan kami benci anak itu!! Hentikan drama ini, Shica!! Kami akan menerima anak itu untukmu.. Meskipun dia bukan siapa-siapa!! " bentak Ratna geram sambil berdiri dengan ekspresi kesal.



Shica tertawa. "Drama? Bukankah Mama yang memulai drama ini? Mama menyuruh Raihan pergi! Pergi sejauh mungkin dariku! Dan tanpa sadar, Mama menyiksaku!! Mama tidak mengerti.. " Shica belum sempat menyelesaikan kata-katanya.



Tamparan keras mendarat di pipinya. Ratna yang melakukannya. Ridan terkejut. Dia merangkul Putrinya. Namun Shica berontak dan melepaskan diri dari Ridan.



"Ratna! Apa yang kau lakukan! " bentak Ridan.



"Sekarang aku akan menikah laki-laki yang menurut kalian baik! Dan aku masih di anggap salah juga! " teriak Shica.



"Shica.. Kami hanya ingin yang terbaik untukmu" kata Ratna.



"Cukup.. Aku menyesal.. Aku terlalu lemah untuk menjadi bagian dari keluarga ini!! " teriak Shica.



Tanpa mereka sadari, Reynaldi menguping pembicaraan mereka. Dia menautkan alisnya.



By



Ucu Irna Marhamah