Don't Leave Me

Don't Leave Me
Hanya Untuk Erick



"Ma, makan daging yang ini aja!" Kata Erick reflek ketika melihat Martha akan mengambil daging panggang yang gosong karena ulah Angga.


"Kenapa?" Tanya Martha heran.


"Itu masakan Om Angga, lihat deh bagian bawahnya gosong!" Seru Erick.


Ratih mengecek daging yang dimaksud Erick, dan langsung tertawa melihat daging yang bagian bawahnya berwarna hitam itu. Sementara pelaku utama, yaitu Angga menunjukkan sikap tak berdosa sambil terus mengunyah makanan di mulutnya.


"Nih, buat kamu! Kan kamu yang masak ini. Berarti ini spesial buat kamu!" Kata Ratih yang langsung menaruh daging gosong itu ke piring Angga.


Angga belum bereaksi, dia masih sibuk mengunyah dan masih berusaha untuk menelan makanannya. Ratih dan Erick sudah tertawa geli, tapi Martha hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum manis melihat tingkah ketiganya.


Angga mengambil air minum di depannya. Rupanya dia butuh tambahan air agar makanan di mulutnya tertelan sempurna. Tawa Ratih dan Erick yang meledeknya membuat kerongkongannya sedikit sesak.


"Sudah, sudah! Sini Ngga, gak apa-apa yang gosong buat Mama aja, Rick. Kasihan tuh Om Angga!" Ucap Martha yang tak tega melihat Angga susah payah menelan makanannya.


"Tuh kan?! Kak Martha memang luar biasa! Terimakasih Kakak Martha yang masih punya hatai nurani." Jawab Angga sambil mengangkat kedua jempol untuknya.


"Hu... Iya, sama-sama adikku." Celoteh Martha membalas Angga.


"Dih... Cari muka!" Ledek Ratih sambil tersenyum sinis manja ke arah Angga.


Angga menjulurkan lidahnya kepada Ratih. Angga menjadi besar kepala karena Martha sedang membelanya. Sementara Erick tertawa lepas. Dia girang sekali melihat candaan orang dewasa di depannya.


Keempatnya melanjutkan makan malam dengan perasaan riang. Semua makanan yang disajikan di meja sudah habis dan yang tersisa hanyalah hidangan pencuci mulut yang berisi buah-buahan dan beberapa makanan kecil yang rasanya gurih lainnya.


****


Angga dan Erick menyalakan api unggun. Martha dan Ratih sudah duduk di kursi santai yang dibawa Erick dari rumahnya. Kursi yang biasa dia gunakan untuk camping bersama saudara laki-lakinya. Sementara Angga dan Erick duduk di tanah, beralaskan rerumputan hijau. Menyatu dengan alam dan malam yang semakin larut.


"Oh ya Rick. Kamu gak mau pulang dulu? Ini sudah malam loh! Kamu harus sekolah besok! Kamu juga, Ngga?! Besok kamu harus kembali lagi ke Jakarta kan?!" Ungkap Ratih mengingatkan.


"Tante....Besok tanggal merah. Erick libur." Kata Erick yang masih fokus dengan api di depannya.


"Sesibuk apa sih kamu? Sampai tidak tahu kalau besok tanggal merah? Long weekend malah." Ucap Angga menimpali pernyataan Erick.


"Masa sih??" Ucap Ratih tak menyangka.


"Iya, Tih. Besok libur. Ah... Senang sekali rasanya bisa long weekend." Imbuh Martha yang tampak lega karena dia bisa berlibur lama tanpa harus memikirkan pekerjaan atau tugas piket.


Ratih terlihat melongo. Dia sedikit menertawakan dirinya sendiri yang sampai lupa untum memeriksa tanggal. Entah apa saja yang dia lakukan. Sepertinya sangat lama, dia tidak memeriksa kalender.


"Mau menyalakan kembang api?" Tanya Angga kepada Erick yang sedang duduk di sampingnya.


"Boleh. Memang ada??" Tanya Erick penasaran.


"Tenang." Jawab Angga bangga.


Angga terlihat berlari kecil ke arah dapur rumah Ratih dan kembali dengan membawa satu kantung plastik berwarna hitam berukuran sedang.


"Nih..." Balas Angga yang langsung menyodorkan isi dalam kantung plastik yang dia bawa, yaitu kembang api.


"Wow...." Kata Erick.


Menunjukkan sikap takjub kepada Angga dan Ratih yang ternyata sudah mempersiapkan dengan baik makan malam spesial hari ini.


"Ayo main!" Seru Angga.


Mereka berdua seperti anak kecil kembali. Dengan raut wajah yang tampak riang gembira menyalakan kembang api bersama. Kemudian setengah berlari, Erick dan Angga mengelilingi Martha dan Ratih yang juga tampak ikut bergembira bersama mereka.


Ratih ditarik Angga untuk menyalakan kembang api kembali bersamanya. Awalnya Ratih menolak, tapi seperti biasa Angga orang yang gigih. Angga pasti bisa membujuk Ratih untuk ikut bermain dan menjadi anak kecil lagi bersamanya.


Martha tertawa melihat ekspresi Ratih yang sedikit takut memegang kembang api yang sudah dinyalakan oleh Angga. Tapi karena Angga dan Erick tak berhenti membantu untuk menghilangkan rasa takutnya akan api, akhirnya Ratih pun ikut terbawa suasana asyik ketika bermain kembang api bersama Erick dan Angga.


Ketiganya berlarian bersama. Saling kejar dan saling berkeliling mengitari Martha. Keempatnya tertawa riang seperti tidak ada beban yang sedang mereka pikul. Tawanya cukup lepas, seperti hendak melepaskan semua rasa yang sudah lama mengganjal dan membuat sesak hidup mereka.


Angga yang sangat bersemangat malam ini, tak ragu menarik lengan Martha yang sedari tadi hanya duduk diam saja mengamati Angga, Erick dan Ratih pun akhirnya ikut terbawa suasana.


Erick menyiapkan kembang api untuk Mamanya. Dia menyalakan dengan penuh semangat. Martha yang awalnya malu-malu untuk bergabung dengan mereka akhirnya tak kuasa untuk ikut serta juga menjadi anak kecil kembali yang haus akan tawa bahagia.


Mereka berempat menyalakan kembang api penuh suka cita. Hampir suara tawa dari keempatnya selalu terdengar riuh memecah dinginnya malam, menunjukkan rasa senang yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.


Erick berlarian mengelilingi halaman belakang rumah Martha. Tawanya renyah sekali, mendengarkan celotehan Angga yang tak hentinya mengundang gelak tawa.


Tiba-tiba Erick terjatuh, tersandung sesuatu di tanah. Martha langsung menghampirinya, wajahnya terlihat khawatir. Tapi melihat Erick yang masih tertawa membuatnya yakin kalau anaknya itu baik-baik saja. Martha hanya membantunya berdiri kembali.


"Gak apa-apa, Ma. Kesandung sedikit." Kata Erick.


"Hati-hati." Jelas Martha.


Erick akhirnya memilih untuk duduk diam sejenak. Melihat ketiga orang dewasa dihadapannya yang masih asyik memainkan kembang api di tangan mereka.


Erick mengambil satu gelas air teh yang dicampur susu hangat untuk dia minum sambil mengamati sekitar. Berlarian seperti anak kecil membuatnya merasa haus. Ratih, Angga dan Martha terlihat kompak dan lucu di mata Erick. Dia mengamati ketiganya sambil duduk beralas rumput.


Erick mengamati Angga yang terlihat keren dengan kemeja abu-abu panjang yang lengannya ditekuk sampai ke siku, dipadukan dengan celana hitam panjang. Ya, Angga belum sempat berganti pakaian. Namun setelan formalnya menambah kesan maskulin malam itu. Apalagi ditambah dengan kacamata yang dia kenakan, menambah kesan gagah di mata Erick.


Sementara Ratih yang memakai gaun panjang sampai hampir menyentuh mata kaki, terlihat feminim dan Anggun. Pakaian yang dikenakan berwarna biru gelap dengan aksen bunga-bunga kecil, berlengan pendek. Dipadukan dengan sweater tebal berwarna abu-abu.


Dan Mamanya, Martha. Dia terlihat agak berbeda. Martha memakai jeans biru muda dipadukan dengan jaket hitam tebal miliknya. Terlihat eksentrik dengan gayanya yang kasual. Ditambah rambut Martha yang sedikit ikal sebahu dibiarkan tergerai indah. Mamanya terlihat mempesona di bawah sinar bulan malam ini.


Erick tersenyum penuh rasa melihat orang-orang yang dia sayangi berkumpul malam ini. Terlepas dari saudara laki-lakinya yang memang sedang menyelesaikan pendidikannya di Universitas.


Tapi ada satu yang kurang malam ini. Dia masih belum merasakan Lexa di dekatnya. Erick tersadar. Lexa pasti akan senang dan bangga melihat pemandangan malam ini.


Erick mulai memejamkan matanya. Memikirkan Lexa dari lubuk hatinya yang paling dalam. Kemudian menghela napas panjang dan menyebut nama Lexa lirih.


Perlahan Erick merasakan ada tangan yang lembut menutup matanya. Sama seperti saat di bangku taman tadi. Dengan perlahan, Erick mulai membuka matanya. Menatap ke samping kirinya dan yakin sekali. Dia merasakan kehadiran Lexa di sampingnya. Duduk bersamanya beralas rumput yang sama. Lexa memakai gaun putih yang panjang sampai menutup mata kaki. Badannya terbalut sweater krem, dan di lehernya tersemat syal merah bercorak kotak-kotak kesukaanya. Matanya tampak indah berbinar, mengutas senyum manis untuk Erick.


"Lexa...." Sapa Erick lembut.


Suaranya menyatu dengan hembusan angin malam ini. Lirih. Menusuk sanubari malam yang menjadikan suasana menjadi hangat. Ditambah senyum Lexa yang terkembang sempurna untuknya. Hanya untuknya.