Don't Leave Me

Don't Leave Me
122



Hari mulai pagi..


Shica dan Reynaldi tidur dalam satu kamar, yaitu kamar mereka. Tapi selama tidur, mereka saling membelakangi dan sama-sama terdiam meskipun mereka belum tertidur.


Banyak pemikiran yang terbesit di kepala mereka.


Saat ini, Shica ingin membicarakan semuanya agar jelas dan tuntas.


Pagi ini, Reynaldi sudah bertengkar lagi dengan Shica. Lebih tepatnya Shica yang kesal dengan keputusan Reynaldi.


"Bagaimana kita bisa berpisah sementara Papa dan Ibu akan kembali.. Sama saja kebahagiaan mereka tidak utuh" kata Shica penuh emosi namun masih dalam batas wajar.


Sebagai menantu satu-satunya, dia sangat menghormati dan menyayangi mertuanya. Panggilan Papa dan Ibu sudah terbiasa dia ucapkan. Wajar jika Shica sangat memikirkan perasaan kedua orang yang sudah dia anggap sebagai orang tuanya sendiri.


"Aku ingin bertanya.. " kata Reynaldi seraya memegang kedua lengan Shica dan menatap dalam manik hazel milik Shica. Shica menatap balik manik sapphire milik Reynaldi.


".. Katakan.. Apa kau bahagia bersamaku? Apa kebahagiaanmu bersamaku utuh? Apa kau merasakan kebahagiaan itu? " tanya Reynaldi.


"Aku bahagia " jawab Shica cepat.


"Kau berbohong.. Aku ingat dengan apa yang sudah kita lalui.. Setiap kita mendapatkan kebahagiaan, kita juga akan bertengkar lagi.. Ini bukan kebahagiaan dalam rumah tangga yang sesungguhnya, Rastani.. Dan aku yakin Raihan bisa memberikanmu kebahagiaan yang kau inginkan" kata Reynaldi.


Shica terdiam. Ucapan Reynaldi ada benarnya. Namun jika mereka berpisah, apa yang akan terjadi pada keluarga Adiwijaya?


"Papa dan Ibu pasti sudah bangun.. Ayo kita harus menemui mereka.. Dan kau sendiri yang akan mengatakannya " kata Shica kemudian berlalu meninggalkan Reynaldi dalam kebimbangan.


Shica menuruni tangga menuju ruang makan. Dia melihat Adi dan Olivia duduk di meja makan dengan hidangan yang tersedia didepan mereka. Namun hidangan itu masih  utuh.


"Selamat pagi, Papa.. Ibu.. " sapa Shica kemudian duduk berhadapan dengan mertuanya.


"Selamat pagi, sayang.. Kau tampak segar.. Dimana Reynaldi? Jangan bilang dia masih tidur " kata Olivia.


Adi tertawa. "Dia bukan lagi anak kecil, sayang " kata Adi.


Shica tersenyum melihat kemesraan mereka berdua.


Reynaldi memasuki ruang makan dengan jas yang melekat rapi ditubuhnya.


"Pagi.. " dia duduk di samping Shica.


"Hei.. Apa yang kau pakai? Kau mau pergi ke kantor saat kedua orang tuamu mengunjungi dirimu? " gerutu Olivia.


Shica tersenyum geli mendengar kekesalan Olivia.


"Emm.. Iya.. " jawab Reynaldi dengan polosnya.


"Oh ayolah.. Satu hari ini saja kau di rumah untuk menghargai keberadaan kami" kata Adi.


Reynaldi tersenyum. "Baiklah.. Kenapa tidak.. Ayo kita makan " kata Reynaldi.


"Oh ya, kapan kalian akan memberikan kami cucu? " celetuk Adi yang membuat Reynaldi dan Shica terkejut dengan pertanyaan itu.


"Kami masih muda dan kami akan merencanakan itu nanti " kata Reynaldi.


"Merencanakan apa? Merencanakan perceraian, maksudmu? " batin Shica.


Shica teringat pada Raihan. Dia tahu Raihan tidak mungkin menampakkan dirinya saat ada Adi dan Olivia.


Shica segera menuangkan nasi dan lauknya kemudian tidak lupa dia juga membawa segelas air dan membawanya diatas nampan. Kemudian dia berlalu.


"Kemana dia membawa makanan itu? " tanya Olivia.


"Menantu kita sangat baik, Padahal ada pelayan yang mampu melakukannya " kata Adi.


Reynaldi tersenyum


"Kami semakin menyayanginya " kata Olivia.


Sementara itu, Shica memasuki kamar Raihan. Raihan terlihat masih terlelap dalam mimpinya.


Perlahan, Shica melangkahkan kakinya dan duduk ditepi ranjang. Dia menyentuh lengan Raihan.


"Raihan.. Apa kau tidak mau bangun? Ini sudah pagi.. Aku membawa makanan untukmu " kata Shica lembut.


Raihan bergulir dalam tidurnya. Dia berbalik pada Shica namun kedua mata indahnya masih tertutup. Shica terkejut melihat dada Raihan yang terbuka. Belum lagi perutnya yang kotak-kotak.


Kulit eksotisnya membuatnya terlihat berkilau dan mulus tanpa tatto. Tidak seperti Reynaldi yang sengaja mengukir tatto di lengan kirinya.


Jadi, Raihan tertidur tanpa memakai baju. Kedua pipi Shica merona. Dia mengalihkan pandangannya.


Padahal dia pernah melihat pria telanjang sepenuhnya di depannya. Siapa lagi kalau bukan Reynaldi.


Shica menyelimuti tubuh Raihan. Namun dia tidak sengaja menyentuh dahi Raihan. Dan suhunya cukup tinggi.


Shica meletakkan tangannya di dahi Raihan. Shica terkejut.


"Raihan demam" gumam Shica. Dia segera membawa baskom berisi air dan juga handuk putih kecil.


Tanpa basa-basi, dia meletakkan handuk setengah basah itu ke dahi Raihan. Alhasil, Raihan sedikit terperanjat dan menoleh kearah Shica.


"Shica.. " gumam Raihan.


Shica menatap Raihan kemudian tersenyum. "Aku membuatmu terkejut ya" kata Shica setengah bertanya.


Raihan tersenyum. "Apa kau ingat? Handuk putih kecil adalah saksi pertemuan pertama kita" tanya Raihan diakhiri pernyataan.


Shica tersenyum. "Waktu itu kau mau kabur di jam sekolah waktu SMP.. Tentu aku ingat" kata Shica.


"Iya.. Dan kau menolongku dengan ini.. Aku pikir cita-citamu ingin menjadi seorang dokter " kata Raihan.


Shica tersenyum. "Kau pernah bilang.. Jika aku ini gadis pemarah dan jika aku menjadi dokter, apa kau tidak kasihan pada pasienku nantinya? " tanya Shica.


Raiha tertawa. "Kau memang gadis pemarah.. Tapi kau sangat peduli pada orang di sekitarmu.. Bahkan kau bisa berubah 180°, dari galak menjadi baik dan lembut " kata Raihan.


Shica tersenyum mendengar ocehan Raihan. Raihan menoleh kearah pintu kamar. Reynaldi berdiri disana memperhatikan mereka dengan ekspresi yang tidak bisa ditebak.


"Emm.. Reynaldi.. Kenapa kau berdiri disana? " tanya Raihan.


Reynaldi terhenyak. Shica menoleh kearah Reynaldi.


"Orang tuaku sedang jalan-jalan.. Kita akan membicarakan hal yang kemarin sekarang " kata Reynaldi.


Raihan dan Shica saling pandang.


By


Ucu Irna Marhamah