
Ratih sedang berada di kamar mandi. Dia sedang berusaha membersihkan kerak-kerak yang menempel di lantai kamar mandinya. Dia teringat akan kedatangan tamu agung, yaitu Mama Angga. Dia merasa harus membuat rumahnya menjadi sempurna. Bagaimanapun Mama Angga adalah orang yang perfeksionis, dia tidak ingin terlihat cacat di hadapannya. Meskipun Ratih sendiri tak yakin kalau Mamanya Angga akan masuk ke dalam kamar mandinya.
Ratih bekerja sangat keras hari ini, dia mempersiapkan betul rumahnya agar terlihat rapi dan bersih. Dia tidak memperhatikan penampilannya. Dia hanya memakai daster berlengan pendek dengan rambut dia gulung ke atas. Tangannya berselimut sarung tangan kuning, dan tubuhnya terbungkus celemek khas cleaning service.
Ratih menghentikan aktifitasnya sejenak. Dia merasa ada seseorang yang mengetuk pintu rumahnya. Dia segera melepas celemek dan sarung tangannya. Ratih agak kikuk. Dia sedikit merapikan baju dan rambutnya, dia takut jika seseorang yang berada di luar rumahnya ternyata Angga dan Mamanya.
Ratih mengintip dari balik tirai jendela dekat dengan pintu. Hatinya sedikit berdegup kencang. Napasnya juga tidak karuan. Dia mengintip lewat celah kecil tirai yang dibuka. Betapa leganya Ratih ketika melihat tamu di depan rumahnya adalah Erick.
Ratih menghela napas lega. Segera dia membukakan pintu untuk Erick.
"Hai, Rick... Ada apa?" Sapa Ratih tanpa basa-basi.
"Ekh, ya tante... Maaf mengganggu. Ini ada titipan makanan dari Mama. Katanya buat tamunya tante." Ucap Erick sambil menyerahkan sebuah kantong plastik yang berisi dus kue basah.
Dari aromanya terasa lezat dan sepertinya baru masak dari oven.
"Wah.... Apa ini? Mmm... Enak sekali baunya. Terimakasih Erick. Tapi, apa kamu gak mau coba rotinya?" Tanya Ratih tak enak hati.
"Gak tante... Mama beli dua koq. Satu buat Erick dan satu buat tante." Jelas Erick.
"Ok. Tolong sampaikan terimakasih buat Mama, ya! Tante jadi merasa tidak enak." Kata Ratih.
"Gak apa-apa, tante..." Balas Erick.
"Memang ada tamu siapa tan?" Tanya Erick penasaran.
Ratih agak terkejut dengan pertanyaan Erick. Dia seperti tak siap mendapat pertanyaan spontan dari Erick.
Erick terlihat menunggu jawaban Ratih. Dia tampak penasaran, tapi dia juga merasa kalau pertanyaannya mungkin membuat Ratih tidak nyaman.
"Dokter Angga..." Jawab Ratih.
Dengan senyum mengembang di bibirnya, Ratih akhirnya menjawab pertanyaan spontan Erick itu dengan santai. Dan Erick pun mengangguk pelan. Dia juga tampak merasa puas dengan jawaban Ratih.
"Kalau gitu, Erick pulang dulu tante. Takut ganggu." Canda Erick.
Ratih sedikit mengernyitkan dahinya. Dia merasa sedang diledek oleh bocah.
"Maaf, tante. Erick bercanda." Ucap Erick agak takut, karena melihat perubahan ekspresi Ratih yang tidak biasa.
Ratih terkekeh. Dia tersenyum geli melihat wajah Erick yang seperti ketakutan. Takut karena ucapannya tadi membuat Ratih menjadi marah.
"Gak apa-apa. Memang kamu kalau disini terus pasti mengganggu. Kan kamu menghalangi jalan mereka untuk masuk." Balas Ratih dengan candaan.
Erick pun lega. Dia mengira Ratih akan marah. Tapi mendengar Ratih berbicara seperti itu, Erick jadi kembali sumringah.
"Ok, tante. Erick pamit, ya! Mari, tante!" Salam Erick.
"Ya... Jangan lupa sampaikan rasa terimakasih tante untuk Mama!" Ucap Ratih sedikit berteriak.
Ratih mengawasi Erick sampai dia benar-benar menghilang dari pandangannya. Erick langsung kembali ke rumah lagi, tak terlihat mampir kemana-mana.
Ratih pun memutuskan untuk kembali ke kamar mandi menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda.
Baru saja Ratih memakai sarung tangan dan celemek, pintu rumah Ratih kembali bergetar oleh suara ketukan.
"Erick mau apa lagi kesini." Ucap Ratih lirih.
Kali ini Ratih tidak melepas sarung tangan dan celemeknya. Dia juga tak terlihat mengintip tamu yang datang dari balik tirai.
Begitu pintu rumah Ratih terbuka sempurna, dia nampak kaget. Hampir saja jantungnya lepas. Dia tak menyangka bahwa tamu yang mengetuk pintu rumahnya kali ini bukanlah Erick, melainkan Angga dan Mamanya.
Ratih menelan ludahnya kasar. Dia terpaku melihat sosok tubuh di hadapannya.
Angga melihat Ratih dengan ramah, sementara Mamanya melihat Ratih dengan tatapan mata yang terasa seperti menusuk jantung hatinya.
"Ehmmm" Kode Angga.
Ratih masih terdiam bak patung. Mata tajam Mama Angga sudah menghipnotisnya. Ratih seperti tidak bisa bergerak.
Kali ini agak sedikit keras. Dan sontak membuat Ratih tersadar. Dia segera melirik Angga. Angga pun memberi sinyal untuk Ratih agar melepas sarung tangan dan celemek yang dia kenakan.
Ratih langsung paham. Dengan cepat dia melepas sarung tangan yang menutupi kedua tangannya. Tapi Angga masih memberi sinyal untuk melepas celemek yang masih terpasang. Dan Ratih menjadi merasa bodoh. Ratih sedikit membuang napas pasrah. Dengan perlahan Ratih melepas celemek yang membalut tubuhnya. Lemas sekali gerakannya saat melepas celemek. Ratih pasti merasa sudah mengacaukan acara pembuka menyambut kedatangan Angga dan Mamanya.
"Silahkan masuk, tante..." Ucap Ratih dengan nada pasrah.
Mama Angga sedikit enggan untuk masuk ke dalam rumah Ratih, tapi Angga mendorongnya perlahan untuk segera mengikuti arahan Ratih.
Tanpa penolakan berarti, akhirnya Mama Angga memasuki rumah Ratih yang sudah bersih, kinclong dan wangi. Sementara Angga mengulum senyum, memberi nilai lucu untuk tingkah Ratih tadi. Ratih melirik Angga dengan muka kecewa.
****
Ratih sudah duduk di kursi tamu miliknya. Di depannya sudah ada Angga dan Mamanya yang matanya masih mengamati setiap jengkal rumah Ratih.
Ratih diam membisu. Belum ada perkataan berarti dari mulut mereka bertiga, sejak saat Ratih pamit untuk berganti pakaian dan membuatkan minum untuk tamunya ini.
Ratih sudah rapi, Dia memakai blus pendek berwarna putih bersih yang dipadukan dengan rok hitam selutut. Terlihat anggun, karena Ratih rupanya sedikit berdandan. Ada lipstik warna natural dan sedikit pewarna pipi terlihat jelas di wajahnya yang sudah ayu.
Angga menikmati sekali pemandangan di depannya. Sesosok wanita yang terus saja dia rindukan. Wanita yang membuatnya susah tidur. Kini sudah berada tepat di depannya. Angga merasa bahagia bisa melihat Ratih dari tempatnya kini. Ingin rasanya Angga duduk bersamanya, mengelus rambut dan pipinya dan mencuri sebuah pelukan dari Ratih untuk lebih mengobati rasa rindunya.
"Silahkan diminum, tante..." Ucap Ratih.
Dia tak tahan melihat Mama Angga yang celingukan menelanjangi setiap sudut rumahnya.
Pandangan mata Mamanya berhenti berputar-putar. Dia menjadi fokus ke arah Ratih. Dan Ratih kembali tegang, pikirannya menjadi galau. Niat hati ingin menyudahi tatapan tajam Mama Angga ke arah rumahnya, tapi malah giliran dirinya sendiri yang menjadi sasaran tatapan tajam mata Mama Angga.
"Dimana kita bisa berbicara berdua?" Kata Mama Angga tanpa ragu.
Ratih tampak bingung. Dia sedikit melirik Angga untuk meminta bantuan.
"Saya hanya ingin berbicara berdua saja dengan Anda." Tegas Mama Angga.
Ratih paham, dan secara spontan mengangguk perlahan.
Ratih mengarahkan Mama Angga untuk mengikutinya ke arah belakang rumah. Ratih bermaksud memberi ruangan terbuka agar Mama Angga dan dirinya bisa berbicara lebih leluasa.
"Mari, tante... Kita bisa bicara disana." Tunjuk Ratih ke arah ayunan yang ditemani dua kursi rotan dan sebuah meja kayu.
Mama Angga terlihat mengangguk, pertanda setuju atas usul Ratih. Dia pun langsung mengambil langkah mendahului Ratih yang sudah pasti mengimbangi dirinya dari belakang. Sementara Angga masih setia duduk di kursi tamu sambil harap-harap cemas untuk hal-hal yang akan menjadi pembicaraan Ratih dan Mamanya.
Mama Angga memutar ke sekeliling taman belakang rumah Ratih. Dia mengangguk bangga. Mata tajamnya sedikit berbinar.
"Saya tidak menyangka kalau rumah anda memliki taman belakang yang luas." Puji Mama Angga.
Ratih tersenyum kecil dan sedikit menunduk hormat atas pujian Mama Angga.
Mama Angga memposisikan dirinya duduk di salah satu kursi rotan yang tersedia disana tanpa permisi. Dan dengan segera Ratih juga memilih satu kursi rotan yang tersisa untuk dia duduki. Keduanya saling berhadapan. Ratih nampak tegang, tapi dia berusaha untuk tampak rileks di depan Mama Angga agar dia tidak mudah terintimidasi oleh ucapan Mama Angga nantinya.
"Baiklah, langsung saja. Saya tidak akan berbasa-basi lagi." Tegas Mama Angga.
Ratih sudah siap mendengarkan perkataan Mama Angga dengan baik. Dia juga sudah mempersiapkan hatinya, jika saja Mama Angga akan mengatakan hal-hal yang tidak pantas dia dengar. Ratih sudah mempersiapkan lahir dan batin.
"Saya tahu anda dan anak saya saling mencintai. Say tidak pernah memungkiri itu. Saya juga tahu betapa besarnya rasa cinta dan sayang anak saya kepada anda. Tapi, saya juga tidak bisa menutup mata saya tentang latar belakang keluarga anda." Ucap Mama Angga.
Ratih masih diam mendengarkan setiap kata-kata Mama Angga kepadanya. Sejauh ini, belum ada kata-kata yang menusuk hatinya. Ratih masih tenang.
Mama Angga pun masih terlihat rileks. Wajahnya tidak terlihat sedang menghakimi, walaupun kata-katanya terdengar tegas tapi Ratih masih bisa dengar bahwa Mama Angga sengaja memilih kata-kata yang lembut dan tidak menyinggung.
"Sebagai seorang Ibu, saya tentu ingin melihat anak saya bahagia. Anda pasti tahu, bahwa Angga adalah anak semata wayang kami. Dia seorang dokter. Dia punya wawasan yang luas, dan dia punya citra baik dalam hidupnya. Dia adalah anak kebanggaan kami." Jelas Mama Angga.
Ratih masih terdiam, masih pula mendengarkan cerita Mama Angga yang sangat memuji anaknya. Walaupun sedikit terkesan, bahwa Angga adalah langit sementara Ratih adalah bumi.
"Baru kemarin Angga membuat sebuah kesalahan. Dia mengabaikan pekerjaannya di Rumah Sakit. Sebelumnya dia selalu mendengarkan semua perkataan kami. Angga itu penurut. Tapi entah apa yang menjadikan dia sampai mengabaikan pekerjaan dan karirnya." Jelas Mama Angga.
Ratih menggigit bibir bagian bawahnya. Dia agak tersentil dengan perkataan Mama Angga. Ratih sedikit melirik Mama Angga yang ternyata sedang menatap tajam ke arahnya.
Ratih menelan ludahnya. Berusaha menegakkan kepalanya di hadapan Mama Angga. Dia masih tidak ingin terintimidasi oleh Mama Angga.