Don't Leave Me

Don't Leave Me
Antara Lexa dan Rachel (2)



Sinar mentari mulai menampakkan sinarnya menyapa lembut bumi dan seisinya. Memberi hari baru bagi setiap insan yang masih diberi hidup. Titah sang pencipta kepada sang mentari, mengingatkan insan untuk melanjutkan tugasnya lagi di dunia dengan menunaikan segala yang dia perintahkan.


Begitu juga dengan sosok laki-laki yang masih duduk di sana, di sebuah gundukkan tanah yang masih merah dengan bunga warna-warni yang masih segar belum layu. Terlihat seorang wanita menyapanya, sepertinya hendak pamit undur diri terlebih dahulu bersama seorang pria berkacamata.


Si laki-laki muda masih mengamati gundukan tanah itu dengan tenang, tidak seperti kemarin yang terbakar emosi. Hari ini dia lebih kalem. Tak ada sorot mata yang terlihat, karena tertutup oleh kacamata hitam. Mungkin dia ingin menyembunyikan perasaannya.


Terlihat dia mengelus papan nisan yang jelas bertuliskan 'Alexa Diandra Putri' dengan tinta berwarna hitam pekat. Dia seperti sedang melakukan perbincangan dengan nisan itu.


Sebuah senyuman sedikit tersungging di wajahnya yang tampan, kemudian menaruh bunga kecil berwarna kuning terang. Daisy. Bunga yang selalu bisa membuatnya bahagia, karena banyak cerita dibalik cerahnya si kuning.


Lama dia duduk disana mengelus papan nisan, kadang dia juga sedikit menghela napas panjang. Erick menyendiri. Dia datang selepas subuh, bersama Ratih dan Angga. Tapi nampaknya Ratih dan Angga lebih merelakan Lexa berlama-lama dengan Erick, sehingga kini dia duduk sendiri berbicara dari hati kepada Lexa.


Sedang asyik dengan lamunannya, Erick dikejutkan dengan suara perempuan yang memanggil namanya.


"Erick!" Sapa si perempuan.


Erick yang paham asal suara itu sedikit terkejut dan langung membalikkan badan mengarah kepada si pemilik suara.


"Rachel?" Balas Erick sambil mengerutkan dahinya.


Rachel berdiri kokoh di hadapan Erick yang kini sejajar dengannya. Erick tak duduk dalam diam lagi, dia segera bangun terperanjat mendengar suara Rachel yang sudah ada di belakangnya. Dengan balutan dress hitam selutut dan kacamata yang satu warna dengan yang Erick kenakan.


Rambut Rachel dikuncir satu. Leher jenjang dan putihnya terlihat jelas. Rachel begitu cantik dan elegan, pantas saja jika Erick dulu juga menyukainya. Walaupun berakhir dengan rasa kebencian Erick, tapi Erick juga tak bisa menampik kalau Rachel memang bisa membuat hatinya bergetar.


"Kamu sedang apa disini?" Ucap Erick yang dengan serta merta melepaskan kacamatanya.


Mungkin dia benar-benar terkejut dengan kedatangan Rachel di makam Lexa.


"Aku baru dengar kalau Lexa..." Ucapannya terhenti.


Rachel melirik tanah gundukan di hadapannya. Bibirnya terlihat bergetar. Rachel pasti merasakan hal yang tidak biasa dari dalam hatinya.


Rachel mengambil langkah maju, membelakangi Erick lebih mendekat ke arah tubuh Lexa dikebumikan. Kemudian menaburi makamnya dengan bunga yang sudah dia bawa di sebuah keranjang rotan. Bunganya berwarna putih bersih, baunya harum. Erick tak tahu apa nama bunga itu, dia tak begitu mempedulikannya. Yang dia tuju adalah setiap gerakan dari tubuh Rachel di hadapannya.


Rachel sudah dalam posisi jongkok, dengan tangan masih menabur bunga yang masih tersisa di dalam keranjang. Tangan lentiknya sesekali terlihat bergerak di pipinya, seperti seseorang yang sedang menyeka airmata.


Erick masih mengamatinya, matanya yang tajam kini terlihat dengan jelas. Sorot matanya benar-benar sedang merekam setiap detail kegiatan Rachel disana.


Rachel memegang papan nisan milik Lexa yang masih terbuat dari kayu, belum diganti dengan batu yang kokoh. Rachel menangis. Erick yakin betul Rachel menangis. Suaranya begitu sangat jelas, apalagi Erick tepat berada di belakang tubuh Rachel.


Tangisan Rachel terdengar berat. Sesekali Rachel terlihat mendongak, menahan airmata agar tidak semakin jatuh lebih banyak. Tapi ternyata tidak bisa, kepalanya kembali tertunduk kemudian menangis lagi. Dadanya pasti amat sesak.


Rachel adalah mantan sahabatnya. Ketika di kota, mereka mempunyai ikatan yang baik, akrab dan harmonis. Saling mendukung dan berbagi banyak hal. Tapi waktu memang bisa merubah segalanya. Yang baik bisa menjadi kejam, yang akrab bisa menjadi musuh, dan sebaliknya.


Rachel mengingat masa-masa mereka bersama sebagai pelajar yang banyak diidolakan. Kenangan mereka sangat indah, sampai-sampai mengingatnya hanya akan menjadi sebuah luka yang tak bisa terobati.


**


"Hai... Namaku, Lexa" Kata perempuan dengan tali sepatu kuning membentuk pita di kedua pocongan rambutnya yang dikepang. Sama seperti dirinya.


Sapaan Lexa itu hanya dibalas anggukan kecil darinya.


Si gadis yang disapa Lexa tampak malu dan ragu-ragu menyambut Lexa. Tapi Lexa sepertinya punya jurus tersendiri untuk mencairkan suasana. Sekejap mata saja, mereka sudah bisa mengakrabkan diri.


Lexa langsung Rachel anggap sebagai teman, ketika yang lain malah tidak mendekatinya sama sekali karena Rachel terlalu takut bergaul. Apalagi hari itu adalah hari pertama mereka duduk di bangku kelas 1 sekolah menengah pertama. Mereka bertemu saat MOS, saat yang paling menakutkan bagi seorang siswa baru kala itu.


Rachel sudah cemas sejak pertama kali berangkat untuk MOS, dia terlalu takut menghadapi masa-masa itu. Tapi dengan santainya seorang Lexa melalui masa-masa MOS dengan suasana riang. Tak heran dia selalu dilirik oleh kakak-kakak kelas yang menaruh pehatian karena kelincahan dan keriangannya.


Rachel sangat mengagumi Lexa sejak pertama kali bertemu. Dia melihat Lexa sebagai sosok yang kuat, pemberani, dan ceria. Dia bahkan tak segan untuk memukul kakak kelas laki-laki yang berani memalak teman sekelas mereka.


Masa-masa SMP mereka dilalui dengan sangat bahagia. Mereka berdua sering menjadi andalan sekolah untuk kegiatan kompetisi sains dan seni. Lexa sering mengikuti lomba Matematik, sedangkan Rachel sering tampil untuk bernyanyi.


Rachel mengingat ketika Lexa benar-benar mengubahnya dari seorang Rachel yang pemali berubah menjadi Rachel yang percaya diri.


Hari itu, pelajaran seni musik. Pelajaran kesukaan Rachel. Lexa yang paham kalau sahabatnya itu pandai bernyanyi, sedikit tidak sabaran karena Rachel yang pemalu enggan untuk membuka mulutnya untuk menyanyikan sebuah lagu untuk didendangkan.


Rachel masih menjadi patung di kelas yang baru seminggu ditempati. Teman-teman mulai menyorakinya, membuat Lexa marah melihat sahabatnya menjadi bahan olok-olok. Pak Guru masih berusaha menenangkan para muridnya yang mengacau, sambil sesekali meyakinkan Rachel untuk bernyanyi.


Lexa langsung berdiri di samping Rachel, mengambil mikrophone yang Rachel pegang dan mulai bersenandung. Suara Lexa sangat sumbang. Membuat teman sekelasnya merasa telinga mereka seperti dikutuk. Pak Guru langsung menyuruh Lexa berhenti, tapi Lexa menolak. Dia terus saja menyanyikan lagu yang seharusnya dinyanyikan Rachel dengan suaranya yang menggelegar dan melengking tanpa nada yang jelas.


Rachel yang mengetahui keadaan menjadi kacau langsung merebut kembali mik miliknya dan memulai untuk bernyanyi. Suaranya lembut mendayu-dayu, tidak seperti Lexa yang terdengar sumbang dan tak memiliki nada.


Suasana kelas yang tadi ricuh menjadi tenang. Teman-teman di kelas Rachel memandang Rachel dengan tatapan tidak percaya. Bahkan Pak Guru yang sedari tadi menyalahkan Lexa kini tercengang menyaksikan Rachel berdendang dengan merdunya. Sontak teman-teman memberi tepukan bangga.


Rachel melihat Lexa dengan penuh rasa bangga untuknya. Dia bangga memiliki Lexa disampingnya. Mulai saat itu, Rachel tidak pernah lagi merasa malu. Rachel menjadi lebih percaya diri.


Sudah dari SMP, Rachel dan Lexa bersahabat. Kedua orang tua mereka pun saling mengenal. Rachel sering sekali menginap di rumah Lexa, mengerjakan PR Matematika yang menjadi masalah berat untuknya. Dan Lexa dengan senang hati membantu sahabatnya itu.


Persahabatan berlanjut ke tingkat SMA, kali ini mereka tidak berdua lagi. Ada satu teman lagi yang bergabung dengan mereka. Rima.


Ketiganya menjadi sahabat ketika resmi menempati satu ruang kelas yang sama. Rima duduk di kursi bagian belakang sendirian. Kepribadiannya menarik, supel, pemberani, sama seperti Lexa. Tapi Rima lebih kocak dan lebih berani.


Rachel, Lexa dan Rima adalah tiga cewek yang banyak jadi incaran Kakak Kelas atau bahkan teman seangkatan. Bukan hanya di sekolah mereka saja, tapi di sekolah lain kecantikan dan kekompakan mereka mendapat perhatian lebih.


Tapi ternyata kekompakan sebuah tim selalu mendapat ujian. Ada yang kokoh bertahan demi sumpah setia yang tak terucap, dan ada juga yang rela melepaskan semua yang telah dibangun dengan kepercayaan. Tak ada yang tahu isi hati seseorang, yang harus diyakini adalah bahwasannya seorang manusia tidak boleh bergantung kepada sesama manusia, tetapi harus selalu bergantung kepada Sang Maha Kuasa. Dia yang tidak akan pernah mengecewakan harapan manusia.


Ujian datang ketika Rachel dan Rima mengetahui kalau usaha Ayah Lexa bangkrut dan terlilit banyak hutang. Rachel berusaha menguatkan Lexa di setiap waktu yang dimiliki bersama. Rachel meyakinkan bahwa Lexa pasti akan baik-baik saja. Lexa paham betapa sebenarnya sahabatnya memang sangat peduli kepadanya.


Suatu hari Lexa datang ke sekolah dengan luka lebam di ujung bibir sebelah kanan Lexa.


"Lexa kenapa???" Tanya Rachel yang penasaran.


Pandangan Rachel terlalu jeli, sehingga ganjal di wajah Lexa dia tahu persis.


"Mmm... Kenapa? Aku? Gak.. Ini tuh, tadi aku.. Mmm... Ada kecelakaan ringan dengan tutup botol kaca." Bantah Lexa.


"Dasar.... Gak hati-hati banget sih kamu!" Kata Rachel yang mengelus pipi Lexa mencoba melihat lebam Lexa dengan baik.


"Gila kamu, Lex... Kamu mikirin Dion sampai segitunya? Kamu cium-cium si botol sambil membayangkan Dion?" Tatap Rima yang menatap Lexa dengan geli.


Lexa tahu Rima bercanda. Dia cuma menjambak rambutnya saja perlahan. Mereka saling tarik menarik rambut diiringi gelak tawa.


Itu baru awal saja. Lama kelamaan, Lexa sudah tak bisa membohongi kedua sahabatnya itu. Sering sekali Lexa membolos dari sekolah. Rachel pernah mencoba menemui Lexa di rumah, ternyata tidak ada. Lexa pindah. Dia menjadi anak kosan.


Rachel merasa sahabatnya sudah tidak menganggap dia ada. Segala masalah Lexa, dia tidak tahu. Yang dia tahu hanya Ayah Lexa sudah bangkrut, hidupnya bergantung pada Ratih tantenya. Karena Ayah Lexa masih sibuk mencari pekerjaan.


Pernah suatu ketika saat Lexa masih di awal titik terendahnya, Rachel menawarkan pekerjaan untuk Ayah Lexa. Kebetulan meski seorang pegawai, Ayah Rachel memiliki bisnis furniture yang cukup mentereng. Tetapi Ayah Lexa dengan tegas menolak karena gengsinya yang cukup tinggi.


Sampai suatu hari Rachel dan Rima berbicara serius mengenai Lexa.


"Ini sih sudah kelewatan. Lexa sebenarnya nganggap kita apa? Bukankah kita juga tidak pernah menyembunyikan hal sekecil apapun satu sama lain?" Kata Rima emosi.


Rachel masih saja diam. Dia memikirkan sesuatu.


Lexa datang ke sekolah. Bajunya tak terlihat rapi dan kucel. Rima memandang kecut Lexa, sementara Rachel menatap tajam sahabatnya itu. Namun Lexa tetaplah Lexa. Dia tetap memasang muka santai tak terjadi apa-apa.


"Mau sampai kapan kamu mau bohong sama kita?" Ketus Rachel.


Tatapan matanya tajam mengarah ke Lexa yang tidak bisa berkutik.


"Kamu sadar gak sih? Kamu itu sudah melukai persahabatan kita!" Tegas Rima.


Lexa mengambil napas panjang.


"Aku hanya gak ingin lihat kalian cemas. Aku masih bisa menjalani hidupku seperti ini. Mungkin terlihat agak kasar dan keras, tapi aku bersyukur setiap harinya karena aku masih bisa makan, bisa bernapas dan masih bisa belajar dari buku-buku yang aku punya." Jawab Lexa enteng.