Don't Leave Me

Don't Leave Me
84





".. Jika aku tahu saat itu kau akan kembali mematahkan hatiku yang belum seutuhnya pulih, aku memilih untuk tidak mengenalmu terlebih dulu.. "



***



Selama di perjalanan pulang, Reynaldi dan Shica sama-sama terdiam. Reynaldi fokus menyetir dan Shica melamun dengan pandangan tertuju ke jalanan.



Tangan Reynaldi bergerak menyentuh tangan Shica. Shica terhenyak dan menoleh ke tangan Reynaldi dan menatap Reynaldi.



Reynaldi menggenggam tangan Shica dengan erat. Shica terlihat sedih, Reynaldi menarik Shica agar mendekat padanya. Shica melelapkan kepalanya ke bahu Reynaldi.



Reynaldi merangkul Shica dengan lembut. "Jangan dengarkan dia, dia hanya menakutimu." kata Reynaldi.



Shica tidak merespon. Hatinya masih belum bisa berdamai dengan pikirannya.



Ponsel Reynaldi bergetar. Dia melihat layar sentuh tersebut dan melihat nama kakaknya.



Reynaldi mengangkat panggilan tersebut.



"Halo, Reyna?"



"Dasar kau adik sialan! Kenapa kau tidak bilang ingin membawa Shica pulang! Aku panik, bodoh!" teriak Reyna kesal.



Reynaldi tertawa. "Maafkan aku, aku benar-benar lupa." kata Reynaldi sambil tertawa renyah.



"Dasar menyebalkan! Apa tidak terjadi sesuatu yang buruk yang membuatmu membawa Shica mendadak seperti itu?" tanya Reyna.



"Tidak ada, tenang saja. Semua nya baik-baik saja." jawab Reynaldi kemudian mengakhiri panggilannya.



Mobil yang mereka tumpangi pun berhenti di depan mansion besar milik Reynaldi.



Reynaldi melihat Shica yang tertidur dibahunya. Dia merasa sedih melihat Shica menangis seperti tadi didepannya karena Raihan.



"Kau tidak tahu, seperti apa perasaanku saat berada disini, waktu itu aku sendirian.. Aku takut, Raihan " bentak Shica dipelukan Reynaldi.



Kata-kata itu terus terngiang-ngiang ditelinga Reynaldi. Dia mulai berpikir, apa Shica takut saat bersamanya? Apa Shica takut kepadanya?



Apa Shica begitu mencintai Raihan?



Sehingga Shica menangis dan sampai menyesal telah mencintai Raihan?



Apa Raihan begitu berarti bagi Shica?



Reynaldi menatap wajah tenang Shica.



Tidak akan lama lagi, dia akan memiliki Shica.



Dia akan menikah dengan Shica. Dia sudah memutuskan berhenti bermain wanita untuk merubah sikapnya dan menikah dengan gadis pilihannya, Shica.



Reynaldi keluar dari mobil sambil menggendong tubuh Shica dan membawanya ke dalam mansion.



Reynaldi membaringkan tubuh Shica ke ranjang kamar. Dia membelai lembut rambut Shica dan mengecup bibir Shica sekilas kemudian berlalu keluar.



Dia menutup pintu kamar Shica dan berbalik. Namun dia terkejut mendapati sang ayah berdiri berhadapan dengannya.



"Papa," gumam Reynaldi.



"Apa ada masalah, nak?" kata Adi. "Tidak, Pa. Oh ya, Papa kenapa tidak hubungi aku saja agar Papa tidak repot kemari." kata Reynaldi.




"Iya, besok pagi kau harus pergi ke Italia bersamaku." kata Adi. "Apa? " tanya Reynaldi.



"Ada sesuatu yang sangat penting, kau harus ikut." kata Adi. Reynaldi tampak berpikir. Dia sedikit cemas jika harus meninggalkan Shica, apalagi sekarang Raihan ada di Perancis. Bisa-bisa mereka bertemu apabila ada kesempatan. Bagaimana jika Shica memilih pergi bersama Raihan dan meninggalkannya?



Reynaldi tidak ingin itu terjadi.



"Apa boleh aku membawa Rastani?" tanya Reynaldi. "Sebaiknya jangan, kita akan lama disana, sekitar dua minggu. Nanti Rastani malah bosan." kata Adi. Reynaldi menghela napas berat. "Baiklah,"



Hari mulai malam..



Reynaldi dan Shica duduk di meja makan. Mereka menyantap hidangan makan malam.



Tidak ada yang memulai pembicaraan. Yang terdengar hanyalah ketukan sendok dan garpu.



"Mulai sekarang, aku tidak akan ada di mansion lagi. Aku harap kau tidak kemana-mana tanpa di temani orang-orangku." kata Reynaldi.



"Iya.. Tapi, kau mau kemana?" tanya Shica. "Ada kepentingan di Venesia, Papa dan aku harus pergi" kata Reynaldi.



"Berapa lama? " tanya Shica. "Sekitar dua minggu, setelah itu kita akan menikah." jawab Reynaldi. Shica terdiam kemudian mengangguk pelan.



"Nanti setelah kembali dari Venesia, aku akan membawamu ke Indonesia untuk menemui orang tuamu dan melamarmu." kata Reynaldi.



Selesai makan malam, mereka memasuki kamar masing-masing.



Shica merebahkan tubuhnya ke ranjang queen size nya. Dia menatap langit-langit kamar.



Dia masih mengingat kejadian waktu di toko buku tadi. Dia merindukan Raihan.



Sangat merindukan Raihan..



Tapi..



Dia juga kesal pada Raihan..



Dia benci pada Raihan..



Dia juga mencintai Raihan



Menurutnya, Raihan selalu terlambat dalam melakukan apapun. Dia tidak suka keterlambatan. Apalagi soal Raihan itu masalah perasaan dan masa depannya.



Shica juga ingat saat Raihan dan Reynaldi menariknya secara kasar. Shica meringis dan Raihan melepaskan Shica.



Shica tahu Raihan tidak akan tega menyakitinya..



Raihan mengalah pada Reynaldi karena tidak ingin menyakiti Shica. Shica merasa sedih dengan sikap Raihan itu. Namun dia akan tetap memilih Reynaldi yang banyak membuktikan bahwa dirinya memang mencintai Shica. Reynaldi sudah mau menikahi Shica. Meskipun Shica tahu Reynaldi bukan pria yang baik, namun pria yang benar-benar tulus mencintai seseorang, maka dia akan menikahi orang itu. Seperti Reynaldi yang selalu mendesak Shica untuk menerimanya.



Sementara Raihan terbilang labil dan kurang berani mengambil tindakan membuat Shica kesal dan tidak sabar. Raihan terlalu memikirkan perasaan orang lain dibandingkan hubungan mereka yang tidak pernah jelas dari dulu sampai sekarang.



"Hatiku memilih Raihan, tapi pikiranku terpaksa memilih Reynaldi." gumam Shica. "Apa kebingungan dan kesulitan ini akan terus berlanjut?" Shica menatap ban kapten ditanganya. Ban kapten yang tak lain milik Raihan saat dulu menjadi kapten voli waktu SMA.



"Selamat malam,"



By



Ucu Irna Marhamah