Don't Leave Me

Don't Leave Me
Senyum yang Selalu Dirindukan



Erick masih terdiam membisu di hadapan Lexa. Sementara Lexa membalas tatapan Erick dengan wajahnya yang lembut. Ada rasa haru, sedih dan bahagia tersirat di raut wajah Lexa yang bersih. Dan Erick masih saja terdiam. Tapi sorot matanya yang sudah sendu menjadi semaki sendu, melihat Lexa yang jelas tampak di hadapannya.


Lexa tak nampak kurus sekarang. Tubuhnya terlihat segar dan sehat. Tidak seperti saat terakhir kali Erick bertemu dengannya. Sementara Erick masih saja kumal, acak-acakan, tidak rapi. Tapi ada daya tarik tersendiri dari penampilannya yang agak nyeleneh itu.


Lama mereka bertatapan dalam diam, saling mencurahkan rasa tanpa suara. Kemudian Lexa berinisiatif melakukan sesuatu. Tangannya seperti ingin meraih sebuah benda dari balik gaun putihnya.


MP3 Player.


Ternyata benda itu yang ingin dia raih. Erick sedikit mengernyitkan dahinya, mengamati apa yang akan Lexa lakukan dengan benda di tangannya itu.


Lexa terlihat menyiapkan earphone yang sepertinya bagian yang satu akan dia kenakan sendiri dan bagian sebelahnya akan diberikan untuk Erick.


Benar saja. Tangan halus Lexa mencari celah di telinga Erick. Sedikit menyibak rambut gondrong Erick dan meletakkan satu bagian earphone disana. Sementara satu bagian lagi dia selipkan di lubang telinganya.


Jarinya yang lentik mulai mengontrol MP3 Player miliknya itu. Memilih sebuah lagu yang tersimpan disana dan mulai menekan tombol play.


Pandangan Erick tak lepas dari wajah Lexa. Baru kali ini ada hal selain musik yang bisa mengalihkan perhatiannya.


Matanya tak bisa menghindari pemandangan ayu di sampingnya. Melihat wajah Lexa adalah hal yang ingin dia saksikan setiap hari. Wajah berseri Lexa dengan senyum yang manis berhasil menggetarkan hatinya. Ditambah lagi kedipan mata Lexa yang seakan memberinya kebahagiaan.


"Lexa....." Suara Erick begitu lirih.


Tapi rupanya Lexa masih bisa mendengarnya. Karena kini Lexa menoleh ke arahnya dan mulai memandangnya.


"Lexa... Aku rindu..." Suara Erick bergetar.


Sosok Lexa yang sedang menatapnya kini tampak haru. Dia juga sedikit menghela napas panjang. Terlihat tarikan napas dalam di dadanya. Keduanya bertatapan dalam. Sampai Lexa dan Erick tanpa sadar saling menitikkan airmata.


Tapi tangan halus Erick seperti biasa dengan sigap menyeka air yang meleleh membasahi pipi Lexa. Dia tak tega melihat wajah ayu lexa tercampur oleh airmata yang tak ingin dilihatnya.


Perlahan tangan Lexa juga mengusap airmata di pipi Erick. Erick merasakan kelembutan di setiap sentuhan jemari Lexa di pipinya. Erick sampai tak kuasa membendung airmatanya lagi. Dia terisak sambil menggenggam tangan Lexa di pipinya.


Airmatanya bak banjir yang langsung menerjang wajahnya. Erick sampai terisak. Dia menumpahkan perasaannya lewat tangisan getir.


"Aku merindukanmu, Lexa... Sangat rindu...."


Kata itu Erick ucapkan dengan menahan isak tangis.


Erick benar-benar ingin melepaskan beban di hatinya yang sangat merindukan Lexa di setiap hari-harinya.


Tangis Erick sangat pilu, hingga Lexa juga tak kuasa menahan tangisnya lagi. Mereka terisak dalam tangis haru yang dipenuhi rasa rindu yang baru saja mereka akui.


****


Erick masih menatap Lexa yang terbaring di sampingnya. Berbaring di rerumputan bersama Lexa menambah kekagumannya akan kecantikan Lexa dari sisi yang lain. Kepala Erick beralaskan tangan kirinya, sedangkan kepala Lexa menyatu bersama rerumputan hijau.


Ya, mereka sama-sama berbaring di rerumputan. Hanya berjarak beberapa jengkal saja. Menikmati suasana yang alam ciptakan hanya untuk mereka.


Erick menatap Lexa lekat. Senyum tak pernah lepas dari wajahnya. Bagaimana tidak, Lexa jelas ada di sampingnya. Sesuatu yang selama ini mengganjal dalam hatinya sedikit bisa terbebas.


Erick merasa kehilangan Lexa, sehingga sebuah rasa yang diakui Erick sebagai rindu itu pun muncul dari lubuk hatinya. Untungnya sekarang sudah terobati. Lexa di sampingnya dan bisa dia sentuh. Tapi tetap masih ada rasa yang tertinggal jauh di dasar hatinya yang paling dalam. Yang Erick sendiri tidak bisa mengartikannya.


Lexa sesekali melirik Erick yang terus saja memandanginya. Tapi Lexa tak terganggu. Dia selalu membalas tatapan Erick dengan seutas senyum yang membuat hati Erick berbunga-bunga.


Erick tak fokus pada lagu yang dia dengar di telinganya. Dia hanya ingin memuja perempuan yang dekat dengannya saat ini. Perempuan yang berhasil membuatnya rindu.


Lexa masih tampak menikmati alunan musik yang dia dengar. Tanpa sadar, kakinya juga ikut bergerak mengikuti alunan musik yang dia nikmati sendiri. Senyum bahagia masih terlukis indah di wajahnya yang berseri. Sungguh pemandangan yang memanjakan hati Erick.


Ingin rasanya Erick hentikan laju bumi untuk berputar. Sebab dia tak ingin keajaiban ini cepat berlalu. Dia masih ingin bersama dengan Lexa. Masih ingin menghabiskan waktu lebih lama bersama Lexa.


Erick merasa saat ini dia sedang diliputi keajaiban. Tuhan pasti memberikan Erick waktu untuk melepaskan segala kegundahan yang ada dalam hatinya. Maka dari itu, Tuhan kirimkan Lexa kepadanya sekarang. Tapi Erick menjadi serakah, dia malah menginginkan Lexa untuk tetap bersamanya.


Erick masih memandang wajah Lexa, tatapannya berubah menjadi haru. Ada sebuah rasa yang berkecamuk dalam hatinya, dan itu membuat hatinya terasa sakit. Ngilu dan perih. Hampir saja airmata yang dia simpan dalam matanya berderai ke pipi. Tapi Erick urungkan. Sekuat tenaga dia tahan tangisnya agat tak bercucuran di hadapan Lexa. Bukankah ini adalah momen bahagia? Mengapa Erick harus bersedih?


Berkali-kali dia yakinkan hatiya agar mensyukuri kehadiran Lexa. Entah ini mimpi atau bahkan sebuah kenyataan yang ajaib atau apapun ini, Erick harus merasa bahagia. Erick harus membuat Lexa merasa nyaman di dekatnya.


Erick memalingkan wajahnya dari hadapan Lexa. Memejamkan matanya untuk mempersiapkan diri menghadapi situasi ini. Tak lupa Erick hela napas panjang untuk menenangkan hati dan pikirannya yang kacau.


Erick menoleh lagi ke arah Lexa. Dan sekarang Lexa yang menatapnya. Masih dengan senyum yang terukir jelas untuknya. Entah sadar atau tidak jemari Erick meraih telunjuk lentik milik Lexa.


Erick melihat reaksi Lexa dengan menelan ludahnya cepat. Dia takut akan tindakannya yang tidak sopan. Tapi Lexa baik-baik saja. Dia malah melebarkan senyum untuknya. Hati Erick menjadi lega.


Dan dengan kesadaran penuh, akhirnya jemari Lexa benar-benar berada dalam genggaman Erick sepenuhnya. Erick tak merasa takut lagi, karena Lecxa ternyata merasa nyaman dengan sikapnya. Hati Erick menjadi semakin berdesir. Tangan lembut dan hangat milik Lexa ada dalam genggamannya. Sungguh Erick tidak ingin ini hanya sebatas mimpi belaka.


Mereka saling bertatapan. Mencurahkan segala rasa yang ada di dalam hatinya lewat tatapan mata mereka yang beradu. Erick ingin sekali mengatakan sesuatu yang mengganjal dalam hatinya. Tapi entah kenapa dia tidak bisa mengatakannya, lidahnya mendadak kelu.


"Erick..." Lirih Lexa menyapa.


Erick masih terpejam. Dia terlelap dalam genggaman tangan Lexa rupanya. Lexa menjadi semakin haru. Dengan hati-hati Lexa gerakkan tangan yang tidak dalam genggaman Erick untuk menyapu pipi Erick yang lembut.


Ada sedikit keraguan dalam diri Lexa yang hendak mengelus lembut pipi Erick dengan tangannya sendiri. Hampir Lexa mengurungkan niatnya untuk mengelus pipi Erick. Tapi akhirnya dia beranikan diri untuk melakukannya.


Jemari Lexa sudah mendarat di pipi Erick. Mengelus lembut pipi Erick yang juga tak kalah lembut. Ada rasa sedih tersirat dari wajah ayu Lexa. Bahkan kini airmata Lexa jatuh membasahi rerumputan yang menjadi alas tubuhnya.


Lexa tercekat dalam tangis. Dia merasa pilu menyerbu hatinya. Begitu sakit sampai dia tak kuasa lagi menyentuh pipi Erick. Tapi tertahan. Erick terlanjur menyadari jika Lexa menyentuhnya, sehingga Erick tak rela jika sentuhan Lexa berakhir.


Erick sedikit mencengkeram tangan Lexa. Dia menatap Lexa dengan tatapan sendu yang menawan. Lexa tak bisa menyembunyikan tangisnya lagi. Airmatanya semakin berderai. Erick sampai tak tega melihatnya.


Tangan Lexa dia letakkan di dadanya yang bidang, sehingga tangan Erick leluasa mengusap airmata Lexa yang berjatuhan. Lexa tersentuh dengan sikap Erick yang tulus kepadanya. Dengan sekuat tenaga dia coba untuk mengembamgkan senyum tulus juga kepada Erick.


"Erick..." Sapa Lexa lagi.


"Iya..." Jawab Erick.


Tangan Erick kini membelai rambut hitam Lexa yang wanginya bisa dirasakan dari tempat Erick. Tangannya mengelus lembut kepala Lexa. Membuat keduanya merasa semakin nyaman. Lexa mengutas senyum kecil namun terasa memiliki arti begitu dalam untuk Erick.


"Erick... Aku harus pergi..." Lirih Lexa.


Ucapan Lexa membuat Erick sedikit terkejut. Dia menghentikan aktifitasnya di kepala Lexa, dan memandang tajam ke arah Lexa.


Lexa masih tersenyum untuknya. Senyum yang jelas lebih terasa sebagai senyum perpisahan sekarang.


Erick masih terdiam. Hatinya bergejolak lagi. Erick masih ingin bersama Lexa. Tapi Lexa malah ingin pergi meninggalkannya. Apakah Lexa merasa tak nyaman dengannya?


"Erick..." Sapa Lexa lagi dengan lembutnya.


Sapaan Lexa yang menyebut namanya selalu membuat hati Erick berdesir hebat. Tapi kali ini sapaannya sedikit membawa kepedihan di hatinya.


"Kamu mau kemana?" Tanya Erick serius.


Lexa tersenyum. Tangan yang berada di dada Erick kini beranjak menggenggam tangan Erick yang berada di atas kepalanya.


"Aku harus pergi. Aku harus cepat kembali. Waktuku tidak banyak." Jawab Lexa santai.


Masih dengan senyum yang tak pernah lepas untuk Erick.


"Boleh aku ikut denganmu?" Tanya Erick lagi.


Wajahnya menunjukkan keseriusan. Tak ada gurat gurauan disana.


Lexa tersenyum geli mendengar pertanyaan Erick. Lexa bahkan tanpa ragu untuk sedikit terkekeh. Suasana yang tadi tegang dan sedih berubah santai. Erick terlihat memerah. Dia merasa malu karena tawa Lexa. Tapi apakah pertanyaannya salah? Dia memang sedang merasakannya. Merasa tak ingin jauh dari Lexa.


Lexa masih terkekeh melihat Erick.


"Kamu mau aku ikut kemana? Aku mau pulang, aku mau bertemu tante Ratih." Ucap Lexa enteng.


Erick menjadi tertunduk di hadapan Lexa. Mengukir senyum kecut. Karena dia tahu sekarang, ini semua adalah mimpi. Mimpi yang dia bangun sendiri. Bukan kenyataan atau bahkan keajaiban dari Tuhan.


Erick menjadi lesu. Dia beranjak untuk bangkit dan memposisikan diri duduk di samping tubuh Lexa yang masih di tanah.


Erick tertunduk lesu. Mencoba mengalihkan pandangan ke segala penjuru danau untuk melampiaskan kekesalannya. Situasi macam apa ini? Sesaat membuat dia bahagia, kemudian membuatnya sedih. Padahal Erick sudah mempersiapkan diri menerima kenyataan yang terjadi, tapi tetap saja nyatanya Erick tak bisa.


Lexa menepuk pundak Erick, tapi Erick masih memalingkan wajahnya menghindari Lexa. Erick nampak sangat kesal, sehingga dia berusaha menghindari Lexa.


Lexa tak patah arang. Dengan sekuat tenaga, Lexa balikkan tubuh Erick agar menghadap ke arahnya. Tak mudah rupanya meluluhkan hati Erick yang sedang kesal, karena Lexa nampak kewalahan dengan sikap merajuk Erick itu.


Erick menjadi seperti anak kecil yang egois. Dia masih menghindari Lexa. Tubuh dan badannya dia arahkan membelakangi Lexa. Sampai akhirnya dia melihayt sebuah bunga berwarna kuning di depan matanya. Bunga yang tak asing baginya itu dipegang erat oleh Lexa yang sedang membujuknya.


Erick segera menoleh ke arah Lexa. Dan Lexa pun tersenyum puas. Dia berhasil merayu Erick agar kembali berhadapan dengannya.


Erick masih tertegun dengan rayuan Lexa. Sementara Lexa memberi isyarat dengan bahasa tubuhnya agar Erick mau menerima bunga pemberian Lexa. Erick nampak mengernyitkan dahi, tapi Lexa tak mau kalah. Dia semakin memaksa Erick untuk menerima bunga pemberiannya.


Erick mengamati bunga itu lekat. Bunga Daisy kuning cerah yang tampak begitu indah di matanya. Erick nampak terpesona dengan bunga pemberian Lexa di tangannya.


Erick memandang wajah Lexa sekali lagi, memberi senyum hangat untuk perempuan yang membuatnya bahagia.


Kemudian diiringi dengan senyum cantik miliknya, tangan Lexa bergerak menutupi mata Erick. Sehingga Erick terbawa suasana. Masih jelas dalam ingatannya senyum manis Lexa untuknya. Senyum yang akan selalu Erick rindukan.