Don't Leave Me

Don't Leave Me
116



 


 


Kaki jenjang itu melangkah menaiki tangga menuju kamar di lantai atas. Langkahnya terhenti saat dia berdiri didepan pintu kokoh berwarna putih itu.


Shica merasa perasaannya tidak enak. Seolah akan ada sesuatu yang buruk yang akan terjadi. Belum lagi tadi Reynaldi terlihat berbeda dari biasanya.


Shica terlihat cemas. Namun dia menghapus pemikiran negatifnya.


Dia mengangkat tangannya akan mengetuk pintu. Namun dia ingat, Reynaldi akan berkomentar jika kebiasaannya mengetuk pintu tidak segera dia hilangkan.


Reynaldi tidak suka jika Shica menganggapnya orang lain dan selalu mengetuk pintu di rumahnya, yang merupakan rumah mereka saat ini.


Shica pun menyentuh knop pintu kemudian dengan segenap hati, dia membuka pintu.


Dia memasuki kamar. Terlihat Reynaldi membelakanginya. Shica melangkahkan kakinya memasuki kamar tersebut.


"Kunci pintunya " kata Reynaldi. Tanpa membantah, Shica mengunci pintu kamar mereka.


Reynaldi berbalik. Shica menatap suaminya.


"Sekarang kau harus melayaniku" kata Reynaldi. Shica terkejut.


"A.. Apa.. Ta.. Tapi aku sedang.. " Shica tidak melanjutkan kata-katanya karena Reynaldi melangkahkan kakinya menghampiri Shica.


"Apa kau yakin kau sedang PMS? " tanya Reynaldi menyelidik.


"I.. Iya" jawab Shica sambil berjalan terpundur. Reynaldi mendekatinya. Shica terus mundur sehingga punggungnya menyentuh tembok.


Reynaldi menyentuh selangkangan Shica. Shica terkejut dengan aksi Reynaldi. Reynaldi tidak merasakan ada pembalut disana.


"Apa yang kau.. " Shica tidak melanjutkan kata-katanya.


Reynaldi terlihat marah. "Kau tidak PMS! Dan malam itu kau menolak melayaniku! Apa maksudmu, Rastani! " bentak Reynaldi. Suaranya terdengar menggelegar di telinga Shica.


Shica gemetar ketakutan. Saat ini Reynaldi tengah murka. Dia tidak bisa menyurutkan amarah Reynaldi saat Reynaldi memasang wajah sekejam itu.


"Anggap saja.. Aku marah padamu karena foto-foto itu " kata Shica pelan.


"Apa! Jadi itu masih masalah foto! " bentak Reynaldi seraya mencengkram kedua lengan Shica dengan kasar. Shica meringis.


"Kau tahu itu terjadi sudah sangat lama! Dan kau juga tahu aku sudah berubah! Itu untukmu! Sementara kau masih saja egois! Bukankah mengabaikan keinginan suami adalah dosa! Dan kau sudah mengabaikan diriku! " teriak Reynaldi.


"Aku mohon berhenti berteriak! " kata Shica tegas. Di menatap Reynaldi. Reynaldi masih terlihat marah. Rahangnya mengerat.


"Yang egois adalah kau.. Kau selalu menyakiti perasaanku dan aku selalu memaafkanmu.. Saat kau bersama wanita itu di kapal pesiar, aku tidak marah! Meski aku sangat kesal! " kata Shica dengan tatapan kesal.


"Dan kau waktu itu bersama Raihan! " bentak Reynaldi.


Shica terdiam. Dia tidak mengira Reynaldi akan mengetahuinya.


"Kau mencintai dia! Meski kau mencintai diriku, cintamu jauh lebih besar untuk dia! " teriak Reynaldi.


Shica tidak bisa mengelak. Dia terdiam seribu kata.


"Dan ya.. Kau bahkan bertemu dengan dia setelah menikah denganku! Kau berciuman dengan dia di belakangku! Siapa yang lebih jahat! Kau atau aku! " teriak Reynaldi.


Shica terdiam..


Reynaldi membawa amplop yang tadi dia dapat dari Sean. Dia melemparkan foto-foto itu ke lantai.


Shica terkejut melihat isinya. Itu memang foto asli. Namun darimana Reynaldi mendapatkannya.


Shica akan bicara. Namun Reynaldi menarik lengannya dan dia berbisik.


"Tanpa istirahat! Malam ini kau harus memuaskanku, jalang! " kata Reynaldi penuh penuntutan.


"Aldi.. Dengar dulu, itu tidak seperti yang kau lihat.. Raihan yang melakukannya, bukan aku" tangis Shica.


"Tapi kau terlihat menikmatinya! Jangan-jangan kau sudah tidak perawan" kata Reynaldi.


Shica terbelalak. Dia terkejut dengan tuduhan itu. Dia mendorong Reynaldi. Reynaldi sedikit terpundur.


"Aku wanita baik-baik! Aku tidak melakukan hal serendah itu! " teriak Shica.


Reynaldi mendorong Shica ke ranjang dan menindihnya. Shica meringis merasa beban tubuh Reynaldi menghimpitnya.


"Kalau begitu, buktikan! " Reynaldi merobek dress yang melekat ditubuh Shica.


Shica berontak. Dia tidak mau diperlakukan seperti wanita penghibur.


Dia adalah istrinya Reynaldi, bukan jalangnya.


"Reynaldi! Berhenti! Jangan menyakitiku dengan cara ini! " teriak Shica sambil menahan tangan Reynaldi yang masih berusaha merobek dress yang dikenakan istrinya.


"Aku tidak peduli kau merasa sakit atau menikmatinya! Aku marah dan kecewa padamu! " teriak Reynaldi.


Dia berhasil merobek dress Shica. Shica berusaha menutupi tubuhnya. Dia merasa terhina.


"Jangan berpura-pura seolah kau belum pernah melakukannya! Kau pasti pernah melakukannya dibelakangku! " gertak Reynaldi sembari meringkus kedua tangan Shica ke atas.


Shica meronta-ronta. Reynaldi menghisap kuat leher Shica. Shica merasa perih. Mungkin Reynaldi juga menggigitnya.


"Aldi! Hentikan! Ku mohon! Hentikan!!! " teriak Shica.


Shica berontak. Dia mencakar tubuh Reynaldi. Dia berusaha melepaskan diri dari Reynaldi.


"Diamlah, jalang! Kau harus diam! Atau aku akan semakin kasar dan kejam! " teriak Reynaldi.


"Jangan.. Jangan sakiti aku.. Jangan.. Bunuh saja aku.. " tangis Shica.


Pandangan kejam Reynaldi melemah. Namun sejurus kemudian, dia mengeratkan cengkraman tangannya pada pergelangan tangan Shica.


"Ini hakku, jadi apa salahnya kau memberikan tubuhmu pada suamimu sendiri? " tanya Reynaldi sambil menyeringai mengerikan.


"Aku belum siap.. Aku mohon.. " tangis Shica.


Namun Reynaldi tidak memperdulikan jeritan, teriakan dan kesakitan yang Shica alami.


Dia sudah dibutakan oleh kecemburuan, kemarahan dan napsu yang bercampur menjadi satu.


Malam itu juga, Reynaldi merenggut kesucian Shica dengan kasar dan penuh kekerasan.


Reynaldi tidak lagi memikirkan perasaan Shica.


Marah..


Kesal..


Kecewa..


Cemburu..


Napsu..


By


Ucu Irna Marhamah