
Raihan Alfarizi
Aku menghentikan mobilku didepan mansion besar Adiwijaya. Dengan kebahagiaan dihatiku, aku membawa sebuket bunga dan sekotak kado berukuran cukup besar.
Aku memasuki mansion dan mendapatkan sapaan berbahasa Perancis dari para pelayan terutama Zack.
"Selamat datang di mansion Adiwijaya, Tuan Abdurrachman " sapa Zack.
Aku tersenyum. "Terimakasih.. Selamat siang" kataku menyapa mereka.
"Selamat siang, Tuan " mereka membungkuk hormat.
"Silakan" kata Zack sambil merentangkan tangan kanannya.
Aku pun memasuki mansion. Kulihat Reynaldi sedang membenarkan kado yang berukuran lebih besar dari yang aku bawa.
"Hai, Reynaldi.. Selamat siang " kataku seraya menghampirinya. Dia menoleh kearahku kemudian tersenyum.
"Siang.. Duduklah " katanya. Kami pun duduk berhadapan.
"Dimana yang sedang berulang tahun? " tanyaku semangat. Dia hanya tersenyum.
"Dia sedang bersiap-siap.. " jawab Reynaldi.
"Wah pasti kau memberikan dia kado terindah.. Bagaimana caramu mengucapkannya pada dia? " tanyaku.
Dia hanya tersenyum. "Aku menjadikan dia wanita seutuhnya " kata Reynaldi menjawab pertanyaanku.
Keningku mengernyit bingung. Apa maksud perkataannya?
Aku melihat banyak bekas cakaran di leher dan sedikit di wajahnya. Apa di mansionnya ada kucing?
Tidak mungkin..
Aku tahu benar, Shica takut dengan kucing. Dan mana mungkin Reynaldi memelihara kucing sementara istrinya benci kucing.
Kudengar langkah kaki menuruni tangga. Aku menoleh. Ternyata Shica. Dia mengenakan dress hijau toska berleher panjang.
Dengan perlahan dia melangkah menghampiri kami. Aku merasa bingung melihat cara dia berjalan.
Dia duduk di samping Reynaldi.
"Selamat siang" sapaku. Shica tersenyum. "Siang, Raihan" jawab Shica sambil tersenyum manis.
"Hei suts" aku berbisik pada Reynaldi. Reynaldi menoleh padaku.
"Apa? " bisik Reynaldi.
"Berikan hadiahmu" bisikku.
Sungguh kenapa Reynaldi jadi tidak peka begitu.
Reynaldi memberikan kadonya pada Shica. "Ini dariku.. Aku mencintaimu, sayang " kata Reynaldi kemudian mengecup lembut pipi Shica.
"Terimakasih " kata Shica.
Aku pun memberikan sebuket bunga dan kado yang ku bawa.
"Terimakasih, Raihan " kata Shica.
"Apa tidak ada kue? " tanyaku pada Reynaldi.
Zack dan para pelayan memasuki ruangan dimana kami berada. Masing-masing dari mereka ada yang membawa kue berukuran sedang dan ada yang membawa balon serta papan bertuliskan huruf yang tersusun membuat nama Rastani Adiwijaya.
"Selamat ulang tahun untuk Nyonya Adiwijaya" kata mereka serempak.
Shica tersenyum haru. "Terimakasih semuanya " kata Shica.
Aku bahagia sekali melihat senyumannya.
Zack meletakkan kue ulang tahun yang dia pegang ke meja.
"Potonglah kuenya, sayang " kata Reynaldi. Shica pun memotong kuenya. Kemudian dia menyuapi Reynaldi dan dia juga menyuapiku.
Para pelayan membungkuk hormat kemudian berlalu meninggalkan kami bertiga lagi.
"Sekarang buka kadonya" kataku. Dia mengambil kado dari Reynaldi dan membukanya. Ternyata isinya sepatu high heels berwarna merah yang Indah dengan tas mahal berwarna senada.
"Terimakasih.. " kata Shica.
Reynaldi merangkul Shica. Shica mengambil bunga yang ku bawa kemudian dia menghirup aromanya sejenak.
"Terimakasih " kata Shica. Aku tersenyum. Kemudian dia membawa kado dariku.
"Boleh aku membukanya? " tanya Shica. Aku mengangguk.
Dia membukanya.
Shica tersenyum. "Ini.. Ini aku.. Saat usiaku lima tahun " kata Shica. Aku tersenyum.
"Kau mendapatkan ini dari mana? " tanya Shica.
"Dari Regar" jawabku.
Shica menatapku terkejut. "Apa.. Dia bertemu denganmu? " tanya Shica.
"Iya dan ini kado dari kami.. Aku, kakakmu dan kakak iparmu" kataku.
"Kenapa mereka tidak kemari untuk mengunjungiku? " tanya Shica dengan ekspresi sedih.
Sungguh aku tidak bisa melihat ekspresi sedihnya itu.
"Mereka tidak disini, waktu itu aku bertemu mereka di Inggris untuk mempersiapkan kado ini.. Dan mereka menyampaikan salam padamu" kataku.
Shica tersenyum. "Terimakasih " kata Shica.
"Dari tadi kau berterimakasih terus, hari ini hari ulang tahunmu, jadi hari ini adalah hari kebahagiaan untukmu.. Tidak ada kata terimakasih untuk teman" kataku.
Dia tersenyum.
"Ehmm" Reynaldi berdehem pelan. Aku dan Shica menoleh kearahnya.
"Baiklah aku.. Harus pergi.. Ada urusan penting di kantor " kataku seraya beranjak dari kursi.
Mereka pun mengantarku sampai ke depan.
Aku akan memasuki mobilku, tapi tiba-tiba Shica tersungkur tak sadarkan diri kedalam pelukan Reynaldi.
Aku tidak jadi memasuki mobilku dan segera kembali menghampirinya.
"Kenapa Shica bisa pingsan? Apa yang terjadi? "
"Kita harus membawanya ke rumah sakit " kata Reynaldi.
Aku mengangguk. Kami pun membawa Shica ke rumah sakit dengan mobilku.
Sesampainya di rumah sakit, Shica segera diperiksa dokter.
Reynaldi terlihat panik. Sejak sampai di rumah sakit, dia sama sekali tidak duduk dan terus menerus bolak-balik didepan ruang pemeriksaan.
Aku sendiri tidak mau menegurnya. Aku juga cemas tapi akan terlihat berlebihan jika aku mondar-mandir seperti Reynaldi.
Pintu ruang pemeriksaan terbuka. Dokter perempuan itu keluar dari sana.
Reynaldi dan aku segera menghampirinya.
"Dokter, bagaimana keadaan istriku? " tanya Reynaldi dengan bahasa Perancis.
"Istri anda hanya kelelahan dan sedikit stress.. Tubuhnya juga lemah.. Sepertinya dia mengalami syok.. Nyonya Adiwijaya membutuhkan istirahat yang cukup" jawab dokter itu.
"Terimakasih, dok. Apa saya bisa menemuinya?" kata Reynaldi diakhiri pertanyaan. "Maaf, belum bisa.. Karena pasien masih belum siuman" kata dokter itu kemudian dia permisi dan berlalu dari hadapan kami.
Stress?
"Reynaldi, kenapa Shica bisa stress? Bukankah dia baik-baik saja? Lalu.. Kenapa tubuhnya bisa lemah?" tanyaku.
Tidak ada respon..
"Mungkin dia stress karena menjalani hidup bersamaku.. Seharusnya dari awal dia menikah denganmu, bukan denganku " kata Reynaldi.
"Jangan bicara begitu, dia bahagia bersamamu.. Buktinya dia mencintaimu" kataku sambil menepuk bahunya.
Reynaldi menatapku.
"Jika Rastani tidak mampu lagi hidup bersamaku, aku mohon, jadilah pendampingnya sebagai penggantiku" kata Reynaldi.
Aku sangat terkejut mendengar ucapannya. Aku yakin dia tidak berpikir dulu sebelum bicara.
Dia tidak seperti Reynaldi yang ku kenal..
Aku merasa bicara dengan orang lain.
By
Ucu Irna Marhamah
Jika ada yang perlu ditanyakan\, kalian bisa chat aku 085524677955. Chat-nya harus baik-baik\, ya. Aku pasti bales kok. IG @ucu_irna_marhamah follow yaaaa.