Don't Leave Me

Don't Leave Me
05



Minggu ini Anna berniat untuk tidur seharian karena badannya sudah kelelahan saat mendekor lapangan sekaligus kencannya dengan Alvin kemarin.


Tiba-tiba handphonenya berdering. Anna dengan malas meraba-raba ponselnya yang berada disampingnya.


"Halo," ucapnya dengan suara khas orang bangun tidur.


"Lo baru bangun?! Astaga Na. Cepet mandi sekarang. Kita bakal camping ke villa kakek gue." Ternyata yang meneleponnya pagi-pagi begini adalah Keisa.


"Gue gak ikut. Bye," ucapnya ingin mematikan sambungannya.


"EH EH EH. Jangan dimatiin dulu, ****! Gue belum selesai ngomong."


"Apaan?"


"Alvin bakal ikut juga."


"Terus?"


Keisa menghelas nafasnya. "Lo sebagai pacarnya juga harus ikut dong. Cepet deh, emangnya lo mau ntar Alvin digoda cewek-cewek disana."


"Tapi besok sekolah loh."


"Bagi yang bantu dekor kemarin diliburin sehari kok. Ketosnya juga udah izinin."


"Lo kan gak bantuin. Kenapa lo juga libur?"


"Hehehe, gue buat alesan sakit. Udahlah jangan bahas itu. Cepetan lo mandi. Ntar gue jemput."


"Nyusahin. Ok."


Anna mematikan sambungannya dan perlahan-lahan bangun dari tidurnya. Dia merasa sangat mengantuk saat ini. Namum mau bagaimana lagi. Paksaan Keisa tidak pernah bisa dibantah.


Dia mengambil handuk dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. 20 menit berlalu, akhirnya dia selesai mandi.


Keisa yang baru saja sampai langsung masuk ke kamar Anna dengan tampang kesal. "Na... sumpah Na. Lo mandi lama banget. Gue otw ke sini lo baru selesai mandi."


"Yaelah biasa aja kali. Ini masih terhitung cepat tau. Biasanya gue sejaman di kamar mandi."


Keisa melongo mendengar jawaban Anna. "Na, lo didalam mandi atau nonton drakor, huh?! Gila Na. Lo udah ngalahin lamanya bapak gue berak di kamar mandi."


"Emangnya lo ngitung berapa lama bapak lo berak di kamar mandi?"


"Gue hitung pake stopwatch. Ternyata dia berak 50 menitan. Karna gue bangga dengan rekor bapak gue, jadi gue sebar disosmed."


"Gue berasa bodoh nanya lo tadi."


"Emang bodoh. Yaudah gue tunggu di mobil."


Keisa pun keluar dari kamar Anna dan berjalan menuju mobilnya yang ia parkirkan di depan rumah Anna.


Tidak lama kemudian Anna masuk ke dalam mobil Keisa dengan menggunakan pakaian t-shirt putih polos dengan jaket denim dan juga celana hitam panjangnya.


"Ngomong-ngomong Kei, siapa aja yang ikut?" tanya Anna setelah Kei melajukan mobilnya.


"Gue, lo, Alvin, Lis, dan David."


Anna langsung menoleh ke arah Keisa. "Ngapain lo ngajak si kodok?! Astaga Kei. Liburan gue bisa hancur."


"Gue juga sebenarnya gak ngajak dia, gue cuma ngundang Lis. Eh taunya Lis malah ngajak David."


Anna menghembuskan nafasnya pasrah sambil melihat ke luar jendela. Dia memejamkan matanya perlahan dan mulai tertidur karena mengantuk.


-~-


"Na, bangun. Kebo banget sih. Udah sampe nih," ucap Kei menepuk kuat pipi Anna.


"Sakit ****," ucap Anna bangun dan mengelus pipinya.


"Lo nya sih kebo. Cepet turun. Yang lain udah nungguin kita didalem."


Mereka turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam villanya. Tatapan tidak suka sudah dipancarkan Anna saat melihat David yang tersenyum remeh ke arahnya.


"Karna semuanya udah sampe. Yuk gue tunjukin kamar kalian." Kei memimpin mereka menuju kamarnya masing-masing.


"Ini kamar gue, disampingnya kamar Anna dan Lis. Didepan kamar gue itu kamar David sama Alvin."


Mereka hanya menganggukkan kepalanya sambil berjalan memasuki kamarnya. Anna dan Lis memasuki kamarnya dan langsung berbaring diatas kasurnya.


"Gue gak ikut kalian main ke pantai ya. Gue mau tidur. Nanti sampein ke mereka," ujar Anna memeluk gulingnya sambil memejamkan matanya.


"Ok. Kalau gitu gue duluan ya."


Lis keluar dari kamarnya dan menghampiri Alvin dan David yang sudah duduk diruang depan.


"Anna mana?" tanya Alvin.


"Anna bilang dia mau tidur jadi nggak ikut kita."


"Kalau gitu gue juga gak ikut deh. Pengen tiduran dikamar juga. Kalian pergi aja." David melangkahkan kakinya memasuki kamarnya. Lis menatap heran David. Padahal tadi David paling semangat saat diajak ke pantai.


Lis menganggukkan kepalanya dan mereka berjalan berdampingan menghampiri Keisa.


-~-


"Duh laper lagi nih perut." Anna bangun dari tidurnya dan keluar dari kamarnya menuju ruang makan.


"Ngapain lo disini?" tanya David yang berdiri di belakang Anna.


Anna yang awalnya menghentikan langkahnya langsung melanjutkan kembali langkahnya. David menatap kesal Anna dan mengikutinya dari belakang.


"Udah gendut masih aja cari makan."


Anna tetap diam.


"Diem aja terus."


Masih tidak ada respon dari Anna.


David yang jengah tiba-tiba mendapat ide. Dia tersenyum licik. "Alvin tadi pergi berdua aja loh sama Lis."


Anna tiba-tiba menghentikan tangannya yang ingin mengambil lauk untuk nasinya. Tapi hanya sebentar dan kembali melanjutkannya.


"Asal lo tau... waktu gue anterin lo pulang itu. Alvin bilang dia gak bisa antrtin lo kan?" tanya David yang berdiri disamping Anna.


Anna tetap diam namun dia mendengarkan omongan David.


"Alesannya pasti antara sibuk, ada urusan, atau latihan basket," lanjutnya.


Anna masih tidak mau merespon omongan David.


David mendekatkan kepalanya pada Anna. "Saat itu gue liat dia nganterin Lis pulang," bisiknya.


Anna langsung menoleh ke arah David. "Lo jangan asal ngomong ya. Gue tau lo pasti cuma mau gue putus sama Alvin kan?!"


David tersenyum remeh sambil menjauhkan dirinya dari Anna. "Kalau gak percaya tanya aja sendiri ke Alvinnya. Atau...." David berbisik sesuatu pada Anna dan pergi meninggalkannya sendirian.


-~-


Anna yang sejak kejadian di ruang makan tadi memilih untuk mengurung dirinya di kamar. Dia melihat ke arah jam dinding yang diletakkan tepat diatas televisi. Jam 7 tepat. Dia mengingat ucapan David.


"Kalau lo gak percaya tanya aja sendiri ke Alvinnya. Atau jam 7 malam nanti lo datang ke tengah pantai untuk denger jawabannya langsung dari Alvin."


Anna berusaha untuk mengabaikan omongan David. Namun karena penasaran akhirnya dia bangun dan mengambil jaketnya. Dia berjalan menuju tempat yang dikatakan David.


-~-


"Ngapain lo manggil gue ke sini?" tanya Alvin malas.


David tersenyum. "Gue mau denger kejujuran lo."


"Maksud lo apa?"


"Lo tau dimana 'dia' kan? Jawab yang jujur."


Alvin terdiam dan mengalihkan pandangannya ke laut. "Kalau lo cuma mau ngomongin ini, percuma. Gue gak tau." Alvin kembali menatap David dengan tatapan tajamnya. "Sekarang giliran gue yang nanya lo."


"Silahkan."


"Kenapa lo bisa boncengin Anna hari rabu kemarin?"


David tersenyum remeh. "Terus ngapain lo boncengin Lis hari rabu itu juga?"


"Jadi lo liat? Karna itu lo mau bales dendam sama gue? Sialan lo!" bentak Alvin


"Jadi benar...?"


Alvin terdiam kaget. Dia membalikkan badannya dan terkejut melihat Anna berdiri disana sambil menatap ke arahnya. "Na... Sejak kapan?"


Anna berusaha menahan emosinya. "Sejak tadi."


David yang sedari tadi memang sadar kalau Anna ada disana hanya tersenyum licik ke arah Alvin. Dia menepuk bahu Alvin. "Gue tunggu kabar putusnya." David melangkahkan kakinya meninggalkan Alvin dan Anna disana.


"Jadi Vin. Barusan yang kamu omongin itu benar?"


Alvin menatap Anna dengan rasa bersalah. "Iya."


Anna tersenyum paksa. "Oh yaudah. Aku pergi dulu. Disini dingin."


Alvin langsung berjalan mendekat ke arah Anna dan menahan pergelangan tangannya. "Na, dengerin penjelasan aku dulu."


Anna menoleh ke arah Alvin. "Apa?"


Alvin menghela nafas lega. "Aku anterin Lis karna kami mau cari bahan-bahan untuk festival. Jadi aku nggak bisa nganterin kamu pulang. Maafkan aku."


Anna tersenyum pahit. "Aku nggak peduli kamu boncengin siapa. Tapi aku cuma kecewa karna kamu bohongin aku. Kenapa nggak jujur aja? Kenapa yang kamu pengen jelasin itu bukan alasan kenapa kamu harus bohongin aku?" Anna melepaskan tangan Alvin yang masih menggenggam pergelangan tangannya. "Udahlah kita lupain aja. Aku mau ke kamar dulu. Bye." Anna melangkahkan kakinya meninggalkan Alvin yang masih terdiam mendengar ucapan Anna.


Alvin mengepalkan tangannya. "Liat aja lo David. Gue bakal bales lo."