
Erick masih tertegun di kebun belakang rumah Lexa. Sendiri. Terpaku di bumi. Tubuh dan pikirannya seperti terhenti memahami apa yang Lexa katakan kepadanya. Baru saja dia merasakan hal yang tidak pernah lagi menggetarkan hatinya. Membuatnya susah tidur, susah makan, susah untuk melalui hari. Dengan seketika tersapu oleh kejamnya takdir kehidupan. Erick tak menyangka. Sampai sebuah tangan lembut menepuk pundaknya. Erick sedikit bisa menggerakkan kepalanya ke asal tangan yang menyentuhnya. Dan senyum Ratih terkembang menyambut tatapan Erick yang sudah mengetahui asal tangan yang menepuk pundaknya.
"Mari bicara, Rick!" Santun Ratih menuntun Erick untuk duduk di ayunan bersamanya. Tangan Ratih bak magnet untuk Erick, dia menuruti kemana Ratih membawanya. Masih dengan tatapan tidak menyangka yang terlihat jelas di raut wajahnya.
Ratih menjelaskan semua yang di alami Lexa kepada Erick, tanpa ada yang terlewat. Erick menunduk menghayati setiap cerita Ratih. Kadang tangannya mengelus punggung Ratih yang bercerita sambil berurai airmata. Kadang dia mengepalkan tangannya seperti menahan emosi ketika Ratih menceritakan Ayah Lexa. Ekspresi Erick berubah menjadi iba ketika Ratih selesai menceritakan persoalan Lexa. Raut muka yang terkejut tak menyangka berubah sendu sekarang. Seperti cuaca siang ini yang tak terasa panas tapi terasa dingin karena tertutup awan hitam.
"Tante tak menyangka jika di tempat ini, Lexa juga tak diberi kesempatan untuk hidup dengan layak. Padahal hari kemarin tante mulai menemukan sosok Lexa yang lama hilang. Tapi ternyata, itu hanya sekejap. Lexa yang malang..." Serunya sambil menutup wajahnya yang mengeluarkan deraian airmata.
Erick lagi-lagi mengelus tubuh Ratih yang terlihat menyusut. Rasa haru langsung menyeruak dalam benak Erick. Tapi dia tak bisa berbuat apa-apa.
"Kemarin ketika kami pergi ke kota, tante mengajak Lexa untuk kontrol. Karena sudah lama Lexa tak minum obat. Tante khawatir, Rick. Lexa sering menggigil saat malam, dia juga sering mimisan. Jadi tante meminjam telepon Mamamu untuk menghubungi kenalan dokter tante."
"Lalu bagaimana hasilnya??" Tanya Erick penasaran.
Ratih menatap Erick nanar. Airmatanya sudah hampir jatuh kembali. Ratih hanya menjawab dengan menggelengkan kepalanya.
"Kami tidak dapat mendapat kabar baik apapun disana. Malah kami mendengar hal yang menyakitkan." Nada suara Ratih sedikit terisak.
"Ada apa tante? Ada kabar apa??" Erick bertanya dengan raut muka serius.
"Ayah Lexa, Kakakku. Dia sudah meninggal 1 minggu yang lalu." Ratih menahan napasnya dalam. Dia kehilangan saudara kandung satu-satunya. Saudara yang membuat Lexa menderita. Dan Ratih serta Erick paham, kejadian yang menimpa Ayah Lexa bisa terjadi kapanpun kepada Lexa. Mereka hanya bisa menunggu waktu. Kapan kabar mendung itu sampai, mengundang hujan semalaman atau bahkan seumur hidup.
****
Martha sedang mempersiapkan makan malam untuk anak laki-laki keduanya yang terlihat memandangnya dengan serius. Martha menuangkan sayur ke dalam piring makan milik Erick sambil sesekali melirik anaknya yang masih mengamatinya.
"Ma.. Apakah penyakit AIDS menular lewat sentuhan tangan??" Tanya Erick serius.
Martha nampak menghentikan aktifitasnya mendengar perkataan Erick.
"Apakah AIDS juga menular lewat udara??" Tanya Erick makin menelisik.
"Mama harusnya yang paling paham tentang penyakit itu kan?" Pertanyaan Erick seperti sedang menghakimi Martha.
Martha mendesah panjang, melipat tangan ke dadanya sambil menatap anak laki-laki yang dengan serius mengharap jawaban darinya sebagai seorang tenaga kesehatan, bukan sebagai ibunya.
"Semua jawabannya, tidak." Ucap Martha datar.
"Lantas, kenapa Lexa harus dijauhi? Bukankan seseorang yang sedang sakit harus kita lindungi? Paling tidak kita harus peduli terhadap mereka kan? Bukan malah mengutuk mereka. Padahal kita sendiri tidak tahu alasannya apa. Mereka yang sakit, tidak pernah meminta untuk mendapatkan penyakit bukan?? Lalu apakah yang kita lakukan itu adil untuk mereka??" Rentetan pertanyaan Erick hanya dijawab helaan napas panjang dari Martha.
"Oke, Mama memang salah. Mama melarang kamu menjauhi mereka. Tapi Mama melakukan itu karena Mama peduli sama kamu. Apa kata orang, Rick. Kami dekat-dekat dengan orang yang punya penyakit yang ga lazim. Apalagi penyakit itu menular dan berbahaya. Sampai sekarang belum ada obatnya. Mama hanya mau menjaga kamu dari hal-hal yang ga diinginkan." Tegas Martha.
"Atas dasar apa Mama langsung berprasangka Lexa akan menularkan penyakitnya kepada kita? Lexa ga minta penyakit itu datang kepadanya, Ma... Lexa hanya terkena musibah. Bukankah tidak adil jika kita memperlakukan mereka seperti aib dunia. Mereka juga berhak mendapat hidup yang layak dengan segala keterbatasan mereka, Ma... Erick ga habis pikir, Mama yang berpengalaman bisa melakukan tindakan sepicik ini. Mama keterlaluan." Ucap Erick emosi dan langsung berlalu pergi tak menyentuh makanan secuil pun. Meninggalkan Martha yang termenung sendiri tersentil perkataan Erick.
****
"Widia Agustin?" Tanya Irma yang sedang mengabsen anak-anak di kelasnya.
"Iya, Bu.." Jawab anak yang dipanggil namanya oleh Irma.
Irma masih memperhatikan satu nama yang masih tertera di buku absennya. Tapi tak berusaha untuk mengucapkannya. Dia sedang membagi kelompok untuk tugas praktikum IPA. Anak-anak murid kelasnya sudah dia boyong ke laboratorium IPA untuk melaksanakan praktek. Ada satu kelompok yang masih belum lengkap, karena masih ada satu nama yang harusnya datang dan berbaur dengan kelompok yang Irma bentuk. Tapi sayang, nama itu sudah dianggap tercoret dari kelasnya. Irma menahan kesedihan melihat nama yang sudah tidak bisa disebut lagi masih nyata ada di daftar absennya.
"Kenapa, Bu?" Tanya Erick yang sedari tadi duduk sendiri di pojok tapi matanya mengamati teman-teman sekitar dan juga gurunya, Irma.
"Ya, Rick?" Tanya Bu Irma mencoba meminta Erick mengulang kembali pertanyaannya.
"Kenapa, Bu? Kenapa Ibu ga menyebut nama Lexa? Dia masih murid anda dan masih menjadi teman sekelas kita." Ujar Erick.
Semua yang ada di ruangan mendadak terdiam, memelototi Erick seperi seorang yang bersalah karena menyebut nama Lexa.
Erick balas menatap mereka satu persatu. Tatapannya tajam, menghunus tepat di hati teman-temannya. Mencoba menyadarkan mereka, kalau Lexa adalah teman mereka.
"Lexa temanmu kan, An??" Tanya Erick pada Ana yang hanya terdiam dan memainkan pulpen di tangannya.
"Dia juga temanmu, Len." Erick melempar pertanyaan yang sama kepada Helen.
" Gimana ketua kelas?? Lexa masih bagian dari kelas ini kan?" Tanya Erick meminta penjelasan dari Ari.
Tapi Ari menunduk, menghindari tatapan Erick.
"Ya, Lexa memang masih teman kita." Jawab Irma lembut.
"Lantas kenapa Ibu tidak menyebut namanya. Saya memperhatikan Ibu semenjak berada di kelas. Ibu bahkan tak mengabsen kehadiran Lexa hari ini. Padahal jelas-jelas Ibu tahu Lexa tidak masuk. Apa ini, Bu?? Pantas ga sih kita melakukan ini kepada Lexa?" Perkataan Erick menggelegar memenuhi ruangan.
Tapi tak satupun yang berani menjawab Erick.
"Lexa sakit, Bu. Bukankah Ibu selalu memberi kami nasihat kalau teman sakit harus kita bantu, kita tolong, kita jenguk. Sebagai tindakan kepedulian kita kepada sesama kan?" Erick memperjelas.
"Tapi apa yang kita lakukan sekarang? Kita bahkan tak mengganggap ada Lexa di antara kita. Kita dengan mudah melupakan kenangan kita bersama Lexa di kelas ini. Hanya karena Lexa sakit." Erick bak seorang pemandu demonstrasi. Ucapannya benar-benar lantang.
"Ayolah... Ini ga adil untuk Lexa. Kita ga bisa langsung menghakimi dia dengan cara seperti ini. Lexa juga ga mau sakit. Kalian ga tau alasannya juga kan, kenapa Lexa jadi seperti ini?" Kali ini Erick emosi.
"Andai saja kalian yang jadi Lexa sekarang!" Pernyataan Erick langsung membuat semua yang ada di ruangan itu tersentak. Mata yang tadi memelototi Erick kini berubah kosong. Mungkin sedang menghayati ucapan Erick tadi sebelum dia dengan kesal menendang kursi dan pergi dari ruangan tempat mereka akan belajar.
Erick dengan perasaannya yang kacau meninggalkan ruang laboratorium. Dia mengacak-acak rambutnya sendiri, seperti hendak menyalahkan diri sendiri. Dan bergegas meninggalkan sekolah dengan perasaan yang tidak tenang. Dia tak sadar, bahwa ada Adhit yang berdiri bak patung di balik pintu ruang laboratorium.
****
"Ada apa, Ma??" Tanya Erick penasaran melihat Martha yang sedang mengelus punggung Ratih di teras rumahnya.
Ratih tampak kacau. Airmata mengalir di pipinya.
Muka Erick panik, wajahnya menjadi pucat pasi.
"Ada apa tante???" Erick sedikit berteriak, karena Martha tak juga menjelaskan keadaan yang sedang terjadi.
Ratih melirik Erick. Wajahnya benar-benar dalam keadaan sedih yang amat sangat.
"Ada apa dengan Lexa, tante???" Erick benar-benar dibuat khawatir, dia hampir tak bisa menguasai tubuhnya. Dia sangat takut hal buruk terjadi pada Lexa.
"Lexa kabur dari rumah, Rick." Ucap Martha menjelaskan singkat keadaan yang membuat Ratih pilu.
"Kabur???" Erick kaget. Tapi ada rasa lega karena hal buruk yang dia pikirkan tidak terjadi.
Lama Erick diam. Sampai kemudian lari kedalam rumahnya.
Erick akan melakukan sesuatu. Dia akan melakukan sesuatu yang dia bisa untuk Lexa dengan harapan Lexa mau menerimanya. Apapun akan dia lakukan untuk menjaga dan melindungi Lexa seperi janji yang pernah dia ucapkan kepada Ratih.
*Flashback*
Erick melihat motor Adhit sedang terparkir di rumah Lexa. Ada perasaan marah menyeruak di hati Erick, karena Adhit berani mendekati Lexa sampai ke rumahnya.
Tanpa pikir panjang, dia langsung pergi ke rumah Lexa. Berusaha untuk bersikap biasa saja di hadapan dua muda-mudi yang tampak asyik mengobrol. Mengalihkan perhatian Lexa dengan menanyakan keberadaan Ratih, kemudian menyelonong masuk bertemu Ratih tanpa permisi.
"Tante..." Sapa Erick kepada Ratih yang sedang asyik beradu dengan mesin jahit.
"Hai, Rick... Ada apa?" Jawab Ratih lembut.
"Tante... Boleh Erick ngomong sesuatu?" Izin Erick kepada Ratih yang dibalas anggukan persetujuan dari Ratih.
"Tan, Erick janji. Erick bakal jagain Lexa. Walaupun Lexa bersama orang lain yang dia suka, Erick tetap akan jagain Lexa dengan baik. Erick ga akan buat Lexa sedih. Erick akan berusaha untuk tetap membuat Lexa seneng. Ini janji Erick, tan." Ucap Erick mantap.
Ratih sedikit terkejut mendengar janji Erick. Dia ragu apakah Erick bisa menepati janjinya atau tidak. Dia hanya mendekati Erick, membalas janji Erick dengan senyum hangat andalan Ratih. Mengelus rambut kusut Erick penuh kasih sayang.
"Terimakasih, Rick." Kata itu yang hanya bisa Ratih sampaikan kepada Erick. Ratih tak mau berharap banyak kepada Erick. Tapi Ratih menghargai niat tulus Erick untuk Lexa.
***