
Tiga orang gadis remaja sedang asyik bercengkerama di kelas. Tawanya sama-sama lebar. Berbagi suka cita bersama, tidak ada kata malu atau segan yang tersirat dari ketiganya.
"Kalian tahu ga sih? Kemarin Dion ngajak ketemuan. Tapi langsung aku tolak." Kata salah satu diantara mereka.
"Seriusan???" Ucap dua orang secara bersamaan.
"Hii... ga percaya? Ini serius. Dion ngajak ketemuan." Sambung gadis yang pertama.
"Kenapa kamu tolak?? Dion itu bad boy sekolah kita looh! Banyak cewek-cewek bisa antri gara-gara dia." Kata cewek yang berambut ikal panjang.
"Ya jelas aku tolak, lah. Si Dion ngajak ketemuan di ruang guru. Gara-gara aku ngasih surat ke dia." Kata gadis pertama dengan tawa yang menggelegar.
"Emang surat apa yang kamu kasih?" Tanya salah satu dari mereka.
"Surat tagihan listrik."
Tawa ketiganya pecah bersama-sama. Beberapa cubitan kecil menyerang gadis yang membuat lelucon. Ketiga gadis itu adalah Lexa, Rachel dan Rima. Tiga gadis yang menjadi sahabat sejak mereka pertama bertemu di MOS SMA. Ketiganya menjadi kompak dalam segala hal.
****
Suatu ketika, usaha milik Ayah Lexa mengalami kebangkrutan. Lexa beserta orang tuanya kehilangan rumah, aset berharga, dan harta benda lainnya. Ratih sebagai saudara kandung Ayah Lexa mencoba untuk membantu semampunya. Ratih masih kuliah jurusan tata busana, berada di semester 7 dan hampir menyelesaikan gelar sarjananya. Tapi karena kondisi keuangan saudaranya membuat Ratih memutuskan untuk cuti kuliah dan bekerja sebagai buruh pabrik.
Lexa dan keluarganya tinggal bersama Ratih di rumah orang tua Ayah Lexa. Ibu Lexa mulai memburuk, kondisi kesehatannya semakin tidak stabil. Sering bolak-bolak berobat dengan biaya yang pasti tidak murah. Tapi Ratih mengusahakan Lexa untuk tetap sekolah. Ratih banting tulang menghidupi Lexa dan keluarganya. Sementara Ayah Lexa hanya sibuk melakukan hal-hal yang malah menghambur-hamburkan uang.
Ayah Lexa sudah beberapa kali melamar pekerjaan, tapi belum membuahkan hasil. Dia menjadi frustasi dan sangat tempramental. Terlebih kondisi istrinya yang menjadi beban tersendiri untuknya. Ayah Lexa terperangkap lingkaran judi dan minuman keras. Setiap hari dia hanya bisa judi dan mabuk. Tak peduli peluh Ratih yang bercucuran untuk keluarganya. Melihat situasi rumah yang tidak memungkinkan untuk Lexa, Ratih berinisiatif untuk membiarkan Lexa tinggal di kos-kosan. Walaupun Lexa tak tega melihat kondisi Ibu dan tantenya. Tapi Ratih bersikeras agar Lexa bisa hidup damai dan mengejar cita-citanya.
Sampai suatu hari, Ibu Lexa sudah tidak kuat menahan sakit yang diderita. Luka batin dan fisik membuat Ibu Lexa cepat dijemput ajal. Lexa begitu terpukul. Lexa sempat beberapa kali bolos sekolah untuk bekerja di sebuah warnet. Melihat kehidupan Lexa yang menjadi kacau, teman-temanya hanya bisa pasrah. Tidak ada niat untuk membantu atau sekedar menghibur Lexa. Rachel dan Rima adalah anak orang berada, hartanya tidak akan habis hanya untuk membantu biaya sekolah Lexa. Tapi kenyataannya, mereka lebih memilih untuk mengasingkan diri dari Lexa.
Ayah Lexa semakin tidak bisa dikendalikan. Dia bahkan berani untuk menemui Lexa ditempat kerjanya dan meminta uang. Bahkan dia sering membuat onar di tempat kerja Lexa. Pernah suatu hari Rima menemui Lexa di warnet tempat Lexa bekerja, tapi melihat sikap Ayah Lexa yang sedikit tidak sopan kepadanya, Rima langsung memutuskan untuk tidak lagi menjadi sahabat Lexa.
Hal yang membuat Lexa miris adalah kelakuan Ayah Lexa yang semakin menggila. Suatu malam, Ayah Lexa mengunjungi Lexa di tempat kosnya. Ayah Lexa tak datang sendiri, dia membawa perempuan paruh baya yang tampil menor.
"Ayah..." Sapa Lexa melihat Ayahnya yang sudah berdiri dengan seorang perempuan berpakaian minim di depan pintu kosnya.
"Ayah mau tidur disini!" Ujar sang Ayah.
Napasnya beraroma menyengat. Mata Lexa berkaca-kaca.
"Ga boleh, Yah... Ini rumah kos, bukan hotel!" Jawab Lexa ketus.
"Ayah maunya disini! Biarkan Ayah masuk, Ayah udah ga tahan." Sambil melirik perempuan di sebelahnya.
"Ga mau, Yah! Ayah pergi aja!" Lexa emosi.
Baru saja akan menutup pintu dan segera menguncinya, Lexa sudah didorong oleh Ayahnya hingga terjungkal ke lantai.
"Ayah mau tidur disini. Kamu paham ga sih? Anak durhaka. Tidak tahu kesenangan Ayahnya sendiri." Ucap Ayah Lexa sambil mendorong kepala Lexa.
"Kalo kamu pengin Ayah pergi dari sini, beri Ayah uang. Nanti Ayah akan pergi ke hotel." Sinis Ayah Lexa.
"Aaaaaa......." Lexa berteriak sekencang-kencangnya.
Tapi pipi merona Lexa langsung ditampar keras oleh Ayah Lexa menyisakan tanda kemerahan yang akan berubah lebam.
"Kamu mau izinin Ayah disini atau kamu mau beri Ayah uang??" Ayah Lexa memberi pilihan.
Tanpa pikir panjang, Lexa langsung menyambar tas kecil miliknya dan langsung keluar dari kamar kosnya setelah membuang air ludah disana.
Ayahnya terlihat marah, tapi ditahan oleh si perempuan yang memapahnya masuk ke kamar kosnya. Lexa pergi menuju rumah Ratih dengan berurai airmata.
****
Lexa benar-benar berhenti sekolah kali ini. Dia fokus untuk bekerja, kadang bekerja di warnet, kadang dia bekerja paruh waktu di sebuah restoran cepat saji, atau kadang membimbing anak usia TK untuk les membaca. Semua dikerjakan demi menghilangkan tekanan batin yang dirasakannya, dia tidak bisa kembali ke sekolah karena di sekolahnya sudah tidak ada tempat untuknya. Kepala sekolah secara resmi mengeluarkan surat peringatan kepada Lexa akibat laporan Rima yang mengadu kepada komite sekolah yaitu Ayahnya sendiri tentang kejadian yang tidak menyenangkan yang di alami oleh Rima akibat ulah Ayah Lexa. Jelas hal tersebut menjadikan Lexa sebagai bahan olok-olok. Akhirnya Lexa memutuskan untuk bekerja tapi bukan semata-mata karena uang. Lexa tidak bisa hanya duduk diam di rumah menikmati hasil jerih payah Ratih, Lexa juga ingin menghilangkan penat dalam kesehariannya dengan bekerja. Setidaknya dia lebih produktif dengan bekerja. Walaupun usia Lexa saat ini belum genap 16 tahun, tapi dia sudah hidup layaknya orang dewasa berusia 25 tahun.
Malam gelap mencekam. Ratih belum pulang dari pabrik, sepertinya Ratih mengambil lemburan. Sedangkan Lexa berada di rumah sendiri di lantai dua. Rumah peninggalan orang tua Ratih, tidaklah besar. Berada di sebuah perumahan yang tak jauh dari kota. Rumahnya tidak terlalu besar hanya sebatas 6x8 meter persegi. Makanya dibuat dua lantai agar bisa menampung banyak orang, karena pada dasarnya rumah itu memang diperuntukkan untuk Ayah Lexa yang sudah berumah tangga.
Dilantai bawah hanya ada ruang tamu, kamar Ratih, ruang keluarga, ruang makan, dapur dan kamar mandi. Sementara di lantai atas, ada kamar Lexa, kamar kosong, kamar mandi, dan ada tempat cuci dan jemur.
Lexa sedang tertidur pulas memakai kaos oblong oversize milik Ratih. Lexa belum sempat mengemasi barang-barangnya di kos, hanya ada beberapa baju Lexa yang sudah ada di rumah Ratih dan beberapa lagi Ratih pinjamkan untuk Lexa.
Lexa terlelap dalam mimpi, sampai tak sadar jika ada seseorang yang sudah berdiri dengan aura gelap di hadapannya. Mengamati tubuh remaja Lexa dari rambut sampai ujung kaki. Bola matanya sudah dipenuhi hasrat yang tidak bisa dibendung. Si lelaki beraura gelap sudah naik ke ranjang Lexa. Mencium wangi aroma tubuh Lexa yang tidak seperti dirinya yang berbau miras. Matanya memerah pertanda si lelaki dalam keadaan mabuk. Tangannya sudah sampai di rambut Lexa yang tergerai. Lexa hanya sedikit menggeliat. Tapi tangan si lelaki itu sudah hilang akal, menjamahi tubuh Lexa yang mulus. Dan sentuhannya membuat Lexa terperanjat.
"Ayah???" Tatap Lexa terkejut melihat sosok lelaki yang dipanggil Ayah itu sudah siap menerkam tubuh Lexa.
"Ayah mau apa???" Tanya Lexa dengan rasa takut yang dalam.
Tapi lelaki tersebut hanya mengisyaratkan agar Lexa tetap diam.
"Jangan Ayah... Lexa mohon!! Lexa anak Ayah. Ayah ga boleh kayak gini. Lexa mohon, Ayah harus pergi dari sini." Pinta Lexa memelas.
"Ayah cuma mau nengok anak Ayah. Anak Ayah ternyata baik-baik saja dan sudah semakin dewasa rupanya." Ucap Ayah Lexa yang menatap anaknya dengan tatapan tak pantas.
"Ayaahh... Lexa mohon. Ampun Ayah, Lexa punya banyak uang di lemari. Ayah bisa ambil berapapun Ayah mau. Tapi tolong Ayah, turunlah. Jangan dekat-dekat Lexa Ayah." Suara Lexa memberat, tangisnya juga sudah mulai pecah.
Tapi pikiran sang Ayah sudah tidak bisa dikendalikan. Dengan ganasnya, dia sudah menarik kasar tubuh Lexa mendekat kepadanya. Tak mempedulikan teriakan Lexa yang memohon untuk dilepaskan. Tapi tubuh Lexa kalah kuat dengan tenaga Ayahnya yang sudah dipenuhi hawa jahat, seperti ada iblis yang membantunya.
Lexa menjerit, mengerang, meronta atas perlakuan Ayahnya dia atas tubuhnya. Tangannya tak berhenti menjambak, memukul, bahkan kuku Lexa sampai tertancap di kulit Ayahnya. Tapi Ayahnya tidak peduli, hawa nafsunya mengalahkan rasa sakit yang dia terima. Tubuh mungil Lexa dibolak-balik tak tentu arah. Lexa tak berhenti berteriak, menahan sakit yang dia terima. Ayahnya tak peduli sekalipun Lexa mengeluarkan banyak darah karena lesakkan paksa yang diberikan oleh sang Ayah. Tubuh Lexa sampai melemas. Pandangan Lexa kabur, di detik-detik akhir tenaganya Lexa masih mencoba membela diri dengan menggigit telinga Ayahnya. Hal ini membuat Ayah Lexa berhenti dari aktifitasnya di atas tubuh Lexa. Mukanya memerah, ada rasa amarah yang sudah membumbung tinggi hampir meledak di ubun-ubunnya. Kemudian dengan gegabah, menarik tubuh Lexa memukul pipi Lexa yang tadi memberinya dia kenikmatan. Lexa benar-benar hancur lebur, sampai tak sadarkan diri.
Tapi sang Ayah masih saja tak peduli, malah kembali berulah pada tubuh Lexa yang sudah penuh memar dan darah. Baik darah dari mulutnya ataupun darah yang keluar dari alat vitalnya.
Ratih sudah tiba di rumah, dia melihat bahwa pintu rumahnya sudah terbuka. Ratih sedikit cemas, dia berlari kecil menuju kamar Lexa. Dengan hati yang was was, Ratih terperanga. Tubuhnya mendadak lunglai, melihat Lexa sudah terkapar dengan kondisi yang memprihatinkan. Sementara Kakak laki-lakinya sedang terkulai lemas di lantai dengan celana kolor. Ratih menjerit histeris.