Don't Leave Me

Don't Leave Me
Mengisi Ruang Hampa



Erick sudah di area kantin menyusul Ari dan teman-temannya. Dia hanya memesan minuman saja, tak ada makanan berat atau cemilan yang lainnya. Erick nampak berbaur dengan teman-temannya di kantin. Wajah Erick tampak sumringah di tengah-tengah temannya.


Erick nampak mengikuti alur candaan teman-temannya. Tak ada rasa canggung yang dia tunjukkan. Tapi ada satu hal yang pasti dia rasakan. Gurat wajah kehampaan masih terasa dalam ekspresi senyumnya. Ya, hampa. Kosong. Tak terisi.


Senyuman Erick seperti pengalih suasana saja. Padahal jelas sekali dalam hatinya masih ada ruang kosong yang nyata.


Sekeras apapun dia berusaha mengikuti alur candaan teman-temannya, nyatanya Erick tetap merasa sepi. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi menghindari teman-temannya. Dia memilih berlalu meninggalkan teman-temannya untuk mengisi kehampaannya.


"Aku pergi dulu, Ri." Ucap Erick sambil mencolek sahabatnya yang tengah asyik melahap batagor di piringnya.


"Kemana?" Tanya Ari penasaran, sampai makanan dalam mulutnya tak sempat dia telan.


"Ke toilet." Jawab Erick enteng.


"Ok." Jawab Ari mengizinkan Erick pergi.


Erick pun pergi meninggalkan teman-temannya, memilih ruang yang membuat dia nyaman dan bersahabat dengan hatinya.


Erick menemukan bangku panjang dekat dengan taman, tepat menghadap lapangan basket. Di sampingnya sebuah pohon besar yang rindang, sehingga membuat siapapun yang berada di bawah bayangannya akan merasakan kesejukan dan tak akan dibiarkan kepanasan oleh teriknya sang surya.


Seperti Erick saat ini, dia nyaman duduk di bawah bayangan pohon besar dan tak merasa silau oleh pancaran sinar matahari siang itu. Erick terdiam sejenak melihat ke sekeliling. Dia mengingat sesuatu disini.


Tempat dimana pertama dia menyapa Lexa yang memilih menyendiri, berpaling dari teman-temannya termasuk dirinya. Masih ingat jelas dalam ingatan Erick, tatapan mata Lexa yang menatapnya takut. Dan bagaimana gerak tubuh Lexa saat ingin menghindarinya. Semuanya masih tersimpan rapi dalam ingatannya.


Erick menghela napasnya panjang, menghirup udara segar sebanyak-banyaknya dari tempatnya kini. Berharap kesejukan udara dari luar bisa ikut menyejukkan hatinya yang hampa. Erick juga mulai memejamkan matanya, meresapi setiap hembusan udara yang mengisi setiap ruang di hatinya. Dan kini Erick mulai merasakan sentuhan jemari lentik yang ikut menutup matanya.


Erick terkejut dan perlahan langsung membuka matanya, mencari tahu siapa pemilik jemari yang dengan lembut menutupi matanya. Dan betapa senangnya dia ketika mengetahui pemilik jemari itu adalah Lexa. Lexa yang duduk di sampingnya dengan senyum penuh pesona hanya untuknya.


Erick membalas senyum sosok yang dilihatnya sebagai Lexa penuh rasa. Erick tahu, Lexa yang ada di hadapannya adalah bayangannya semata. Tapi tepat saja, bayangan Lexa mampu membuat hatinya tenang. Erick tak peduli ini nyata atau hanya mimpi belaka. Yang Erick tahu, saat dia memikirkan Lexa dengan hati dan pikirannya. Lexa selalu datang untuk menemuinya. Erick yakin, Lexa pasti merasakan apa yang Erick rasakan untuknya.


Keduanya saling membalas senyum bahagia. Saling menyapa dalam tawa. Dengan iringan suara semilir dari angin yang menari-nari di dekat mereka. Menerbangkan dedaunan kering yang juga ikut menari untuk mereka yang sedang berbahagia.


Waktu seperti bergerak perlahan. Jarum jam berdetak amat pelan. Bumi juga hampir terasa seperti berhenti dibuatnya. Tapi Erick dan Lexa tak peduli. Yang mereka tahu hanya ini waktu untuk mereka. Walaupun hanya untuk saling menyapa lewat mata, tanpa bisa berbincang membicarakan hal-hal seru. Tapi mereka tetap merasa bahagia. Karena dari kedua senyum yang saling bersahutan itu ada rasa yang tak bisa diungkapkan dengan untaian kata.


****


Ratih dan Angga sudah berada di mobil untuk melanjutkan perjalanan mereka setelah Ratih baru saja berkunjung ke makam Danang untuk berpamitan. Hari ini Ratih akan pulang ke rumahnya, yang jauh dari bisingnya suara kendaraan Ibu Kota dan kemacetan yang membuatnya jenuh. Ditemani Angga yang selalu setia menemaninya.


Angga merapikan sabuk pengaman yang Ratih pasang, karena Angga merasa sabuk pengaman yang Ratih pasang untuk menjaganya kurang pas di matanya. Ratih agak terkejut karena Angga tiba-tiba saja mendekat ke arahnya.


Ratih sudah salah paham akan sikap Angga. Ratih mengira Angga akan meneruskan usahanya semalam untuk menciumnya. Tapi ketika kenyataannya Angga hanya merapikan sabuk pengamannya saja, membuat Ratih jadi malu. Mukanya memerah, menandakan perasaan malu yang dalam. Dadanya saja masih bergetar saat Angga berusaha mendekatinya, apalagi darahnya. Mendesir seperti butiran pasir yang jatuh dari jam pasir.


Ratih memejamkan matanya, menggigit bibir bawahnya. Berusaha mengatur napas dan hatinya yang sudah salah tingkah. Betapa malunya Ratih dengan perasaannya sendiri.


"Baiklah, semua sudah siap. Yakin gak ada yang tertinggal?" Tanya Angga memastikan.


Ratih masih diam. Dia sepertinya tidak sadar jika Angga sedang mengajaknya berbicara. Ratih pasti masih sibuk menata hatinya yang masih terguncang dengan pikirannya sendiri.


"Ratih???" Sapa Angga.


Tapi Ratih masih belum bergeming. Angga pun akhirnya sedikit menepuk pundak Ratih untuk menyadarkannya dari lamunan.


"Ratih??" Sapa Angga lagi.


Kali ini usaha Angga untuk menyadarkan Ratih berhasil. Ratih akhirnya menoleh ke arahnya.


"Ya???" Balas Ratih kikuk.


Angga menggelengkan kepalanya. Merasa tidak habis pikir dengan sikap Ratih yang terus saja melamun.


"Kamu sedang memikirkan apa? Sampai melamun seperti itu?" Tanya Angga penasaran.


"Mmm.. Gak. Ayo kita jalan!" Jawab Ratih yang masih nampak canggung.


Angga menahan tawa geli karena sikap Ratih. Tapi tak menyurutkan niatnya untuk pergi mengendarai mobilnya mengantar Ratih untuk pulang.


Ratih masih belum bisa menghilangkan warna merah yang merona di pipinya. Dia memikirkan sesuatu untuk membuatnya kembali bersikap normal. Dan akhirnya menemukan ide untuk mengambil pemutar musik milik Lexa.


"Mau apa kamu??" Tanya Angga kepada Ratih yang terlihat sibuk dengan pemutar musik di tangannya.


"Mau mendengarkan musik." Jawab Ratih singkat.


Angga nampak kesal, jadi dia meraih satu bagian earphone untuk dia pakai di telinganya. Ratih agak terkejut dengan sikap Angga, tapi tak bisa menolak tingkah Angga itu. Ratih hanya mengembangkan senyum untuk tingkah Angga yang sedang merajuk.


"Ayo putar lagunya. Aku ingin dengar lagu yang sering Lexa dengarkan." Ucap Angga penasaran.


"Baiklah.." Balas Ratih yang langsung memutar lagu dari pemutar musik di tangannya.


~~ I always needed time on my own ~~


~~ I never thought I'd ~~


~~ Need you there when I cry ~~


~~ And the days feel like years when I'm alone ~~


~~ And the bed where you lie ~~


~~ Is made up on your side ~~


~~ When you walk away ~~


~~ I count the steps that you take ~~


~~ Do you see how much I need you right now? ~~


~~ When you're gone ~~


~~ The pieces of my heart are missin' you ~~


~~ When you're gone ~~


~~ The face I came to know is missin', too ~~


~~ When you're gone ~~


~~ The words I need to hear ~~


~~ To always get me through the day ~~


~~ And make it okay ~~


~~ I miss you ~~


Lagu itu diputar lewat pemutar musik Lexa yang dihubungkan ke earphone yang melekat di salah satu sisi telinga Ratih dan Angga. Keduanya terlihat menikmati alunan lagu tersebut.


"Bagus juga lagu yang Lexa dengarkan." Puji Angga.


"Sejak kapan kamu tahu tentang musik?" Tanya Ratih yang terlihat mengerutkan keningnya karena merasa heran dengan pernyataan Angga.


"Memang kenapa? Musik itu bisa dinikmati kapan saja loh, Tih. Kita gak perlu harus tahu tentang musik dulu, lalu bisa berkomentar. Kalau musiknya enak di dengarkan, kenapa gak dinikmati saja?!" Jelas Angga.


"Tunggu. Kapan kamu tahu tentang lagu? Kamu tuh cuma sibuk buat resep." Ledek Ratih.


"Tuh kan?! Makanya, kamu itu harus sering-sering sama aku. Jadi tahu apa saja kegiatan dan kesukaanku." Balas Angga.


"Aku tahu, Ngga!" Tegas Ratih tak terima pernyataan Angga.


"Masa??? Apa coba makanan kesukaanku?? Dan warna favoritku??" Uji Angga.


"Hii... Gampang. Kamu suka makan seafood. Tapi kalau sudah ada mie instan, kamu lebih suka makan mie instan karena lebih praktis dan mudah dibuat. Dan pasti kamu akan menyuruh aku untuk masak mie instan dengan banyak cabai. Terus kamu itu suka semua warna gelap. Hitam, biru dongker, cokelat tua. See??" Jawab Ratih yang agak kesal.


Angga tersenyum puas. Dia tahu, kalau Ratih masih mencintainya. Dia pasti tahu semua hal tentangnya. Bahkan jawabannya lebih dari cukup. Jawaban Ratih membuat hati Angga lega dan berbunga-bunga. Dia semakin yakin, kalau Ratih adalah wanita yang sudah Tuhan takdirkan untuknya. Meskipun Ratih terlihat cemberut karena sikap Angga yang menantangnya.