Don't Leave Me

Don't Leave Me
Tanah Merah



Lexa sudah siap di dalam mobil, hendak diantar menuju tempat abadi. Langit mulai menghitam kini, suara gemuruh saling bersahutan. Langit sudah tak sabar ingin menangis rupanya. Apa langit juga ikut sedih karena kepergian Lexa?


Erick menatap langit dengan gagah berani. Seperti ingin memberi tahu kepada langit agar cepat menurunkan hujan. Erick ingin semua orang yang ada disini pergi. Semua orang yang hanya menyia-nyiakan waktu Lexa.


Sejak Lexa di keluarkan dari sekolah secara sepihak, Erick sudah merasa kesal kepada sekolahnya. Sekolah yang menjadi tempat untuk menuntut ilmu bagi siapapun, berubah menjadi tempat yang pandang bulu.


Apa salahnya jika Lexa ingin bersekolah? Itu hak mutlak bagi seorang anak. Apa salah juga, jika Lexa sakit? Bukankah sakitnya tidak menular hanya dengan bertatapan mata? Bukankah selama ini juga Lexa selalu berusaha menjaga jarak kepada mereka?


Lexa paham betul sakitnya akan mendatangkan bencana, maka dari itu dia membuat benteng sendiri untuk dirinya dengan orang lain. Lagi pula, bukan salah Lexa juga dia sampai sakit seperti ini. Pikiran Erick seketika mulai dipenuhi emosi jika memikirkan hal-hal menyangkut Lexa.


Erick melirik Angga, dia memberi isyarat kepada Angga agar segera membawa Lexa pergi dari sini. Sudah sangat lama Irma berbasa-basi kepada Ratih. Belum lagi Ratih harus menyalami satu persatu teman-teman Lexa, akan sangat memakan waktu.


Angga paham maksud Erick. Dia langsung mengangguk sebagai tanda persetujuan atas isyarat dari Erick itu.


"Mohon maaf, Ibu Guru Lexa... Kami harus segera pergi. Tidak baik jika kami berlama-lama membiarkan Lexa." Pinta Angga dengan sangat hormat.


"Oh ya, Pak... Silahkan! Sekali lagi saya minta maaf atas segala kesalahan kami baik yang disengaja ataupun tidak disengaja untuk Lexa dan Bu Ratih tentunya. Maaf Bu, mudah-mudahan Bu Ratih berkenan memaafkan kami." Ucap Irma yang sedari tadi menggenggam tangan Ratih.


Ratih hanya menjawab dengan senyum seadanya.


"Baiklah, ayo Pak kita berangkat!" Perintah Angga kepada supir mobil yang akan membawa peti Lexa.


Angga mengajak Ratih untuk masuk ke dalam.


"Permisi, Bu..." Pamit Angga.


"Ya, Pak.. Selamat jalan Lexa..." Ucap Irma seraya melambaikan tangan ke arah peti Lexa.


Erick dan Martha pun segera menyusul untuk segera memasuki kendaraannya yang terparkir tepat di belakang mobil yang membawa Lexa. Tak lupa Pak RT ikut serta bersama mereka.


Kedua mobil berlalu. Irma dan teman-temannya kompak melambaikan tangan sebagai ucapan selamat jalan untuk Lexa. Erick acuh, tak mempedulikan mereka.


"Loh, saya kira Bu Gurunya mau ikut." Celetuk Pak RT.


"Mau ngapain Pak RT? Mereka hanya formalitas saja datang kesini. Mana mungkin mereka ingin repot di acara pemakaman." Ketus Erick.


"Husss... Tidak baik bicara seperti itu." Gertak Martha.


Erick nampak melegos tak mempedulikan ucapan Martha. Mengarahkan pandangannya keluar jendela mobil yang dia buka. Mencoba menghirup udara segara dan bebas, agar hatinya tidak merasa sesak.


Perjalanan menuju tempat pemakaman dimulai. Berkendara melewati tanjakan, turunan, tikungan, dan belokan tajam. Kadang jalannya mulus dan kadang jalannya berubah terjal. Sepeti roda kehidupan manusia, berjalan sesuai dengan jalan yang sudah digariskan oleh Sang Pencipta. Kita hanya bisa mengikuti alur yang sudah ditakdirkan, tentunya harus dijalani dengan usaha dan kerja keras. Tapi berserah diri jangan sampai terlupa.


Mereka berhenti di sebuah tempat luas, berpagar tembok putih sekitar satu meter yang tegak kokoh mengelilingi tempat luas itu dibawah langit yang masih saja menunjukkan warna hitam. Terlihat di sana banyak gundukan tanah yang ditumbuhi rerumputan hijau sejauh mata memandang.


Mereka turun dari kendaraan, bekerja sama membawa peti Lexa untuk diantar ke dalam area pemakaman. Kini Erick dan Angga berada di barisan paling depan, membawa peti Lexa di pundak mereka.


Ratih dan Martha mengikutinya di belakang. Ratih sudah tampak kacau. Berjalan embawa foto Lexa yang tersenyum bahagia dan masih terlihat bulat di kedua pipinya, digandeng Martha yang sudah mengenakan kacamata hitam yang menutupi mata merahnya. Ditangannya sudah tertenteng keranjang berisi bunga warna-warni.


Pak RT berjalan paling depan diikuti dua orang suruhannya yang menunjukkan tempat dimana Lexa akan dibaringkan disana di dalam peti yang aman menjadi temannya.


Erick dan Angga tak terlihat gontai, berjalan dengan orang yang mereka sayangi berada di dalam peti di pundaknya. Terlihat sangat tegar.


Berjalan menyusuri gundukan-gundukan tanah yang berjajar rapi dengan rerumputan hijau sebagai penghias. Ada juga gundukan tanah yang belum kering, masih dihiasi bunga warna-warni di atasnya. Semuanya bertahtakan batu nisan yang bertuliskan pemilik gundukan tanah itu.


Kita tidak akan pernah tahu kapan waktu kita akan berkahir di tempat ini. Kita hanya bisa menunggu giliran sambil terus melanjutkan kehidupan. Tapi hanya satu kehidupan yang diharapkan, yaitu kehidupan yang berarti. Berarti bagi diri sendiri, berarti bagi orang lain, berarti kepada sesama makhluk, dan berarti bagi Sang Maha Besar.


Sesulit apapun hidup kita, selalu ada jalan untuk menyelesaikannya. Jalan yang tidak boleh jauh dari Sang Maha Kuasa. Lexa sudah melalui banyak hal. Hidupnya pasti sulit, tapi selalu ada orang yang masih tulus menyayanginya. Bukankah itu juga salah satu jalan keluar diantara sulitnya kehidupan Lexa.


Perlahan tapi pasti, pembawa peti Lexa sudah sampai di tempat yang dituju. Pak RT sudah mengisyaratkan untuk berhenti di sebuah tanah yang sudah berlubang. Erick dan yang lainnya menurunkan perlahan peti Lexa.


Di dalam tanah yang sudah digali itu, sudah ada dua orang yang sedari tadi sudah menunggu peti Lexa. Sekarang sudah waktunya, Erick dan Angga sudah bersiap untuk menurunkan peti Lexa dibantu dua orang yang berada di belakangnya dan dua orang lagi yang berjalan bersama Pak RT.


Perlahan mereka menurunkan peti Lexa dengan hati-hati, petinya terlihat kokoh tapi bobotnya sangat ringan. Mungkin karena isi dari peti itu adalah tubuh Lexa yang sudah semakin menyusut beratnya.


Tak sulit bagi mereka yang membawa peti Lexa untuk diturunkan ke liang tanah. Mereka tak perlu tenaga ekstra untuk melakukannya. Lexa benar-benar tidak menyulitkan pekerjaan mereka.


Begitu peti Lexa sudah sempurna di dalam sana, dua orang yang tadi di dalam liang bergegas naik ke atas untuk mengirim tanah hasil galiannya agar menjadi selimut peti Lexa.


Satu persatu tanah merah mulai turun menimpa peti Lexa. Ratih yang sedari tadi berdiri menyaksikan peti Lexa masuk ke dalam tanah, seketika roboh. Tubuhnya tak punya tenaga untuk berdiri lagi. Ratih menangis haru di pelukan Martha yang juga ikut menangis. Angga naik ke atas, hatinya tergerak untuk menjaga Ratih agar tetap tabah.


Sementara Erick masih bertahan di dalam liang bersama dua orang lainnya yang sama-sama sibuk merapikan tanah merah di peti Lexa.


Peti Lexa hampir tak akan bisa terlihat, menyisakan celah di bagian atas tepatnya di bagian kepala Lexa. Kaki Erick terhenti meratakan tanah di peti Lexa. Dua orang yang menemaninya sudah naik ke permukaan.


Erick melihat celah yang belum tertutup tanah itu, membayangkan wajah Lexa di dalam sana. Angannya melayang seketika. Dilihat wajah Lexa yang ayu dari dalam sana. Menyapanya dengan lembut, mengembangkan senyum manis untuknya. Kemudian melambaikan tangan ke arahnya sambil menggenggam daisy yang dia berikan.


Seketika rasa haru menyergap ke dalam hatinya, menusuk relung hatinya yang paling dalam. Tulang tubuhnya terasa linu, hatinya tersayat dalam tapi tak berdarah. Sampai dia benar-benar hanyut dalam tangisan yang tak sempat dia teteskan di hadapan Lexa.


Erick benar-benar menangis di dalam kubur Lexa. Tangisnya mengundang gemuruh yang semakin bersautan kencang, sehingga langit pun semakin menghitamkan lagi warnanya. Menggambarkan pikiran Erick yang mendadak menjadi gelap.


Dia tak kuasa menahan tangisnya, sampai-sampai Angga yang sedang menjaga Ratih beralih menyadarkan Erick yang menggila dengan tangisannya sendiri di dalam kubur Lexa.


Dengan cengkeraman kuat dan penuh tenaga, Angga menarik tubuh Erick agar naik ke permukaan. Masih berusaha menyadarkan Erick agar tetap waras menghadapi kenyataan yang kejam ini. Dan akhirnya berhasil.


Erick sudah berada di atas tanah. Masih sesenggukan memanggil nama Lexa. Ratih yang terlihat rapuh sedari tadi sampai ikut menenangkan Erick.


"Lexa...." Teriak Erick penuh haru, saat melihat tanah merah sudah benar-benar menyembunyikan tubuh Lexa dengan sempurna.


"Lexa..." Tangis Erick.


Di dalam pelupuk matanya masih ada bayangan Lexa yang masih melambai kepadanya.


Angga yang sedari tampak tegar pun akhirnya goyah. Dia ikut menangis bersama Erick yang ada di pelukannya. Begitupun Martha yang merangkul Ratih yang berada di samping Angga. Mereka berpelukan dengan rasa sedih yang amat dalam. Mereka benar-benar belum bisa merelakan kepergian Lexa.


Dan langit pun kini sudah tidak sabar lagi, mengguyur mereka dengan hujan kecil. Hujan yang mulai membasahi tanah yang mereka pijak. Hujan yang pasti ikut meresap ke dalam tanah merah di atas peti Lexa. Hujan yang menyamarkan airmata mereka yang ditinggalkan. Mungkin pertanda agar mereka segera menghapus airmata agar tidak semakin larut dalam kesedihan hari ini.


Pikiran Erick melayang jauh bersama bayangan Lexa yang semakin tinggi menyentuh langit. Senyumnya benar-benar tak bisa lepas dari pandangan Erick.


**


Lexa.. Andai saja aku lebih lama mengenalmu, apakah kita akan menjadi seperti ini? Atau malah kita hanya bisa saling kenal tanpa sempat berbicara atau bertegur sapa? Apakah ini memang sudah takdir yang terbaik untuk kita?


**