Don't Leave Me

Don't Leave Me
Masa Lalu (3)



Sudah tiga hari berlalu. Kondisi Lexa masih belum sadar. Ratih masih setia menunggu. Hampir tak bisa memejamkan mata. Ratih tak ingin melewatkan satu detik pun kemajuan dari keponakannya itu.


"Istirahat, Ratih..." Ucap Angga yang selalu mengkhawatirkan kesehatan Ratih.


Tapi Ratih hanya menggeleng. Dia hanya setia duduk di samping tubuh Lexa, memegang tangannya, mengecup punggung tangan dan keningnya, selalu. Ratih melakukannya hampir setiap jam. Tak peduli perut kosong, dia hanya minum air putih dan beberapa jus yang Angga berikan. Matanya hampir berubah seperti panda. Dia meninggalkan Lexa ketika dia ingin pergi untuk membersihkan diri saja, selebihnya dia akan duduk memandang wajah Lexa dan berurai airmata. Untungnya Angga adalah salah satu dokter di Rumah Sakit ini, dia baru bekerja hampir dua bulan. Jika jam istirahat datang, Angga dengan cepat menemui kekasihnya itu untuk melihat kondisinya. Memastikan dia baik-baik saja.


Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Ratih sedang berada di kamar mandi, ketika jemari Lexa sedikit bergetar, dan kelopak matanya hampir terbuka. Lama Lexa berusaha membuka matanya, sinar lampu ruangan belum sepenuhnya menyadarkan Lexa. Hanya ada rintihan yang keluar dari mulut Lexa.


"Lexa....." Sahut Ratih yang melihat pergerakan kecil jari tangan dan kelopak mata Lexa.


Ratih mengelus lembut rambut Lexa. Memanggil namanya lirih. Ada airmata juga yang sudah siap jatuh menyambut Lexa.


"Lexa..." Ucap Ratih lirih.


"Tan..... te" Ucapan Lexa sangat lirih bahkan seperti tidak bersuara, tapi pelafalannya jelas memanggil Ratih dengan sebutannya.


"Ya, sayang... Tante disini... Tante disini sama kamu."


"Ayaaah...." Ucap Lexa yang masih belum terdengar nada suaranya.


"Ada, tante disini sayang... Tante nemenin kamu." Ratih semakin mengharu biru. Memeluk kepala Lexa untuk dia dekap di tubuhnya. Menghindari tatapan pilu Lexa yang sudah meneteskan airmata ketika menyebut Ayahnya.


****


Angga terlihat serius berbincang dengan dokter yang menangani Lexa. Ratih memperhatikan dari tempat Lexa berada, karena dokter Lexa baru saja visit dan meminta untuk berbincang dengan Angga di luar ruangan.


Lexa sudah terlihat membaik. Hanya saja beberapa luka lebam masih terlihat di ujung bibir sebelah kanan, dekat mata dan pipi. Tangannya juga masih diberi infus karena Lexa tak mau makan sejak kembali sadar. Lexa juga tidak berbicara banyak dengan Ratih dan juga Angga. Lexa mengunci mulutnya, untuk makan dan untuk bicara.


Angga perlahan menghampiri Ratih dan Lexa. Melempar senyum manis ke arah mereka berdua. Ratih membalas, tapi balasan senyumnya tak semanis milik Angga.


"Lexa akan menjalani beberapa tes sebelum dia diperbolehkan pulang." Angga berkata sambil memandang Lexa penuh dengan rasa iba.


"Dokter bilang apa?" Tanya Ratih penasaran.


"Dia hanya menyarankan Lexa untuk menjalani satu tes lagi." Jawab Angga yakin.


Ratih pun berhenti penasaran karena muka Angga terlihat jujur.


Lexa masih di ruang laboratorium untuk diambil beberapa sampel darah dan tes rumit lainnya. Ratih berjaga di luar ditemani Angga. Tiba-tiba ada seorang wanita paruh baya berjalan mendekati mereka.


"Mama..." Angga memanggil wanita tersebut dengan sebutan Mama.


Ratih sangat terkejut. Ratih merapikan penampilannya. Kemudian menatap wanita tersebut hormat.


Si wanita paruh baya itu berjalan mendekati Ratih.


'Paaakkkkk'


Suara tamparan yang keras memecah ketegangan diantara mereka. Ratih hanya bisa diam diperlakukan seperti itu oleh calon mertuanya.


"Ma... Ada apa??" Tanya Angga yang langsung pasang badan melindungi Ratih.


"Kamu mau belain dia sampai kapan??" Mata si wanita terlihat melotot.


"Kamu.. Diam dulu, Ngga. Kamu ga bisa dibilangin. Mama sudah sering ngomong sama kamu, Mama ga setuju dan ga rela kamu pacaran sama dia apalagi mau tunangan!" Keluh Mama Angga berapi-api.


"Ma... Ini Rumah Sakit." Angga mencoba menenangkan Mamanya.


Ratih masih diam seribu bahasa, dia masih mematung menerima semua perlakuan Mamanya Angga.


"Saya peringatkan kamu, ya... Jika kamu terus-terusan menempel anak saya, saya jamin pengobatan keponakan kamu yang dijamin Angga akan saya cabut." Ancam Mama Angga.


"Ma!!" Angga sedikit emosi.


Ratih masih berusaha sabar. Padahal Ratih sudah mengatakan kepada Angga bahwa semua biaya rumah sakit dia yang akan bayar. Tapi ternyata Angga tidak mempedulikannya. Begitu besar perhatiannya kepada Ratih dan Lexa yang sebenarnya semakin membuat Ratih jatuh hati kepada Angga, tapi jalan cintanya tak mudah.


"Kamu pahamkan?! Satu hal lagi, rumah sakit kami tak menampung pasien HIV-AIDS! Jadi, segeralah pergi mencari rumah sakit baru dan lekas jauhi anak saya! Saya harap anda sangat mengerti Nona." Serangan Mama Angga membuat Ratih sangat terkejut. Seperti disambar petir di siang bolong, ucapan Mama Angga benar-benar membuat hatinya bergemuruh.


"Apa maksud ucapan Mamamu, Ngga??" Tanya Ratih penasaran setelah mendengar perkataan Mama Angga yang sudah berlalu dari hadapan mereka.


Kini Angga yang memilih bersikap diam. Walaupun Ratih mengguncang kerah jas dokter milik Angga.


'Kreekk'


Pintu ruang pemeriksaan terbuka, Lexa terlihat duduk di kursi roda yang didorong oleh suster. Tatapannya kosong, ada bekas tangis airmata juga di pelupuk matanya. Ratih masih syok, dia hanya memandang wajah Lexa dalam. Angga berinisiatif menggantikan sang suster yang masih harus bertugas di dalam ruangan.


"Ayo, Kita bawa Lexa ke kamarnya." Perintah Angga. Ratih masih belum bisa berpikir jernih. Dia masih berusaha mencerna perkataan Mama Angga. Sementara Angga dan Lexa sudah mulai menjauh.


****


"Lexa mau pulang!" Keluh Lexa yang suaranya sedikit terisak menahan airmata di hatinya.


"Kenapa? Lexa harus dirawat disini dulu, beberapa hari sampai kesehatanmu pulih." Ucap lembut Angga.


"Ga mau, Om. Lexa mau pulang aja. Lexa ga mau disini." Rintih Lexa.


"Lexa kenapa mau pulang? Lexa masih harus menjalani tes, biar dokter disini tau gimana tindakan selanjutnya." Angga masih mencoba merayu.


"Ga mau, Om. Lexa mau pulang." Tangis Lexa akhirnya pecah. Tangisnya terdengar sangat pilu, hingga Angga tak kuasa menahan airmatanya juga. Angga hanya bisa menunduk meremas bahu Lexa. Sementara Ratih sudah terkulai lemas di lantai. Sendiri di luar ruang rawat Lexa dan berderai airmata.


****


"Aku akan usahakan yang terbaik untuk Lexa, kalau perlu kita bawa dia ke luar negeri untuk berobat." Saran Angga.


"Apa ada jaminan Lexa akan sembuh?" Tanya Ratih.


"Kita akan terus berusaha." Jawab Angga mantap.


"Sebaiknya kamu mengikuti perintah Ibumu, Ngga. Kamu tidak perlu repot-repot untuk mengurusi Lexa. Lexa tanggung jawabku." Ketus Ratih.


"Kenapa kamu bersikap seperti ini? Kami tahu kan, aku juga menganggap Lexa sepertik keluargaku. Aku cinta sama kamu. Aku mau menerima kamu apapun yang terjadi." Ucapan Angga begitu mantap mencoba meyakinkan Ratih.


Dan selama ini, Ratih tidak pernah sekalipun merasa dikecewakan oleh Angga. Tapi semakin Angga peduli dengannya, konsekuensi yang Ratih terima akan lebih besar. Angga adalah masa depannya, tapi Lexa adalah segalanya.


Ratih berada di titik dimana dia harus memilih. Dan pilihannya adalah Lexa. Ratih rela menghabiskan sisa hidupnya hanya untuk menemani Lexa. Dia tak peduli dengan pendapat orang tentangnya yang tak memiliki pasangan di hari tua. Yang penting baginya adalah kehidupan Lexa, karena hidup Lexa sekarang adalah tanggung jawabnya. Ratih akan selamanya hidup dengan rasa bersalah dalam dirinya atas kejadian Lexa, jadi hal yang paling tepat yang bisa dia lakukan adalah menebus hidup Lexa dengan mengabaikan hidupnya sendiri.