
".. Melangkah untuk mengambil resiko lebih baik daripada terdiam untuk menghindari resiko, sukses butuh diperjuangkan bukan melepas kesempatan.. "
***
•••Shica Mahali•••
Perlahan aku membuka mataku. Aku mendapati diriku sedang berada di kamar. Kamar yang asing.
Oh iya.. Aku baru ingat..
Aku sudah menikah..
Aku sudah resmi menjadi seorang istri..
Istri dari seorang Reynaldi Alexander Adiwijaya..
Aku masih mengingat kejadian semalam dimana aku dan Reynaldi lagi-lagi bertengkar kecil.
Semalam Reynaldi keluar dari kamar dan dia bilang ingin mencari wanita lain.
Aku rela jika Reynaldi mencari wanita lain. Karena selama ini pun aku tidak pernah membuat Reynaldi bahagia.
Bodohnya aku..
Reynaldi begitu tulus mencintaiku.. Tapi kenapa aku tidak bisa mencintai dia?
Kenapa selalu Raihan yang ada di kepalaku?
Saat ini, Reynaldi pasti sedang bersenang-senang dengan wanita lain..
Hmm..
Aku berbalik untuk menyamankan posisiku. Aku terkejut mendapati Reynaldi berada disampingku..
Entah sejak kapan dia disana..
Apa semalam dia tidak jadi pergi?
Aku menatap wajah tampannya. Dia sungguh mempesona.
Kedua mata indahnya tertutup rapat. Dia hanya mengenakan boxer.
Tubuh tegapnya selalu melindungiku. Memelukku erat apabila aku berada dalam kerapuhan.
Bahunya yang selalu menjadi tempat untukku bersandar.
Aku menarik selimut untuk menyelimuti tubuhnya. Namun aku terkejut saat tangannya bergerak menyentuh tanganku.
Kedua manik sapphire itu menampakkan dirinya menatapku.
"Hmm.. " gumaman kecil yang kudengar dari bibir kissable miliknya.
"Mana morning kiss nya? " tanya Reynaldi yang membuat kedua pipiku memanas. Aku yakin sekarang kedua pipiku sudah merah.
Dia tersenyum tampan. Aku tidak berani menatapnya. Aku memilih mengalihkan pandanganku. Namun dia menarik daguku dan yang kurasakan selanjutnya adalah kecupan hangat dan basah di bibirku.
Aku membelai rambutnya dengan lembut.
Reynaldi melepaskan ciumannya dan menatapku penuh makna.
"Maaf semalam aku marah padamu.. " kata Reynaldi dengan raut menyesal.
"Tidak.. Maafkan aku yang.. Sering membuatmu kecewa.. Maafkan aku.. Aku sungguh tidak berguna" kataku menyesali diriku sendiri.
"Suutsss.. Aku yang salah.. Sekarang bersiaplah kita harus jalan-jalan untuk menghabiskan waktu bersama" kata Reynaldi.
"Memangnya kita akan kemana? " tanyaku.
"Taman kota" jawab Reynaldi.
Taman kota?
Kenapa kesana?
Aku tidak mengerti, kenapa belakangan ini dia seperti Raihan..
Atau ini hanya perasaanku saja..
Namun aku tidak mau banyak tanya. Aku pun mengangguk dan beranjak dari ranjang menuju kamar mandi.
Kamar kami..
Ehm.. Aku malu menyebut kata KAMI untuk aku dan dia.
Kamar ini memiliki dua kamar mandi dan satu walk in closet.
Selesai mandi, aku membuka lemari dan kulihat banyak sekali dress yang Indah.
Aku suka sekali..
Sejak kapan semua dress ini disini?
Lalu kemana pakaian-pakaian yang kekurangan bahan itu?
Ah siapa peduli..
Aku memilih dress berwarna biru navy yang menurutku sangat Bagus. Aku melihat pantulan diriku di cermin.
Aku rasa cukup pas.
Aku pun keluar dari walk in closet dan bercermin lagi di cermin kamarku.
Terdengar pintu kamar mandi yang satunya lagi dibuka, aku menoleh ternyata Reynaldi dengan handuk melilit di pinggangnya.
Rambutnya basah dengan tubuhnya mengkilap.
Oh dia sangat seksi. Kedua pipiku terasa panas. Pasti sudah memerah lagi.
Dia tersenyum padaku. Aku mengalihkan pandanganku. Aku tidak berani menatap manik sapphire-nya yang terang.
"Dress itu sangat pas di tubuhmu.. Istriku" kata Reynaldi.
"Terimakasih " kataku pelan.
"Aku akan memakai pakaian berwarna senada dengan dressmu" kata Reynaldi.
Dia membuka handuknya. Aku segera berbalik membelakanginya. Apa-apaan dia membuka handuknya itu didepanku.
Apa dia tidak malu bertelanjang didepan perempuan?
Oh aku lupa..
Dia pasti sudah sering berhadapan dengan wanita tanpa pakaian sekalipun.
"Kenapa kau membelakangiku? " tanya Reynaldi.
Pertanyaan polos itu terucap tanpa beban..
"Kau benar-benar tidak punya malu ya! " kataku menggerutu kesal.
Kudengar dia terkekeh kecil.
"Kenapa harus malu, sayang? Kau kan istriku.. Melihatku tanpa busana itu hakmu" kata Reynaldi lagi.
"Menjijikan.. Aku malu.. Dasar kau menyebalkan! " kataku lagi menggerutu.
"Aku mau kau berbalik dan melihatku" kata Reynaldi.
"Tidak.. Tidak.. Nanti mataku bintitan karena melihatmu telanjang.. Aku tidak mau" kataku kesal.
Reynaldi menyentuh bahuku dan menarikku untuk berbalik melihatnya.
Aku menutup mataku dengan kedua tanganku. Sungguh dia benar-benar tidak punya malu.
"Rastani.. Bukalah matamu.. Jangan malu-malu.. Yang telanjang kan aku.. Bukan kau.. Aku juga tidak malu" kata Reynaldi.
Menjijikkan!
Kedua tangan Reynaldi menarik tanganku. Aku tetap menutup rapat mataku.
"Lihatlah.. Aku mau kau melihatku.. Sekali saja.. " kata Reynaldi dengan suara lembut tidak seperti biasanya.
Aku pun perlahan membuka kelopak mataku.
Aku terkejut melihat Reynaldi sudah rapi dengan kemeja biru navy dan celana panjang hitam.
"Kau benar-benar sedang berpikir mesum ya" goda Reynaldi yang tentu saja membuatku malu.
"Cepat sekali kau memakai pakaian.. " kataku bergumam.
"Oh.. Kalau kau mau, aku akan membuka pakaianku lagi" kata Reynaldi sambil akan membuka kancing kemejanya.
"Tidak-tidak.. Itu tidak perlu.. " kataku menggerutu sambil menarik tangannya. Dia tersenyum tampan.
"Emm.. Kenapa kau mengajakku ke taman kota? Apa tidak ada tempat lain? " tanyaku penasaran.
"Bukankah kau juga sering ke taman kota dengan Raihan? " pertanyaan itu terlontar begitu saja.
Hmm..
Aku tidak mengerti..
Kenapa dia selalu membawa nama Raihan dalam percakapan kami..
"Kita akan jalan kaki kesana.. Lalu sore ini kita akan pergi berbulan madu ke Perancis" kata Reynaldi lagi.
Aku mengerutkan keningku.
"Kenapa terburu-buru? " tanyaku.
"Karena aku mau" jawab Reynaldi cepat.
"Baiklah.. Ayo kita akan pergi le taman kota dengan jalan kaki" kata Reynaldi sambil menarik tanganku dan menggandengkan ke tanganya.
Jalan kaki?
By
Ucu Irna Marhamah