Don't Leave Me

Don't Leave Me
133



Raihan dan Shica sedang berada di rumah sakit. Mereka mengecek kondisi kehamilan Shica.


"Keadaan bayi kalian sehat.. Dan bisa di pastikan, Nyonya Abdurrachman akan melahirkan secara normal" kata dokter perempuan itu.


"Syukurlah " kata Raihan.


"Kemungkinan.. Pada tanggal 28 Januari ini bayi kalian akan lahir" kata Dokter lagi.


"Benarkah? Kami sungguh tidak sabar menanti" kata Raihan.


Selesai berkonsultasi dengan dokter, mereka pun memilih jalan-jalan di kota Paris.


Tiba-tiba, ponsel Shica bergetar. Shica melihat nama Reynala dilayar.


Dia segera mengangkat panggilan dari mantan kakak iparnya itu. "Halo kak? " tanya Shica.


"Aku mohon.. Kemarilah.. Reynaldi sedang sakit.. Dia menyebut namamu terus " kata Reynala dengan ekspresi sedih. Sementara dibelakangnya ada Reynaldi yang terlelap dengan wajah pucat.


Shica terkejut. Dia melirik Raihan. Raihan juga tengah menoleh kearahnya.


"Emm.. Mungkin kami bisa menjenguknya" kata Shica.


"Kumohon.. "


"Aku akan bicara dulu pada suamiku" kata Shica kemudian menjauhkan ponselnya.


"Emm.. Sayang.. Yang barusan nelpon aku itu kakaknya Reynaldi, dia bilang Reynaldi sakit.. Apa kita akan menjenguknya atau tidak? " tanya Shica.


"Kurasa lebih baik kita menjenguknya.. Dia pasti kesepian di mansion besarnya " kata Raihan. Shica menatap Raihan.


"Apa tidak apa-apa? " tanya Shica.


"Tentu saja.. Dia sudah baik padaku dan padamu.. " kata Raihan.


Raihan pun melajukan mobilnya menuju mansion Reynaldi. Jaraknya cukup jauh membutuhkan waktu dua jam untuk sampai di mansion Adiwijaya.


Mobil Raihan pun terhenti di pelataran mansion Adiwijaya. Shica dan Raihan keluar dari mobil.


Shica menatap mansion itu. Kenangan lamanya terusik kembali. Namun saat ini dia belum mau bernostalgia dengan semua itu.


Raihan menggenggam tangan Shica kemudian memasuki mansion. Zack mempersilakan mereka untuk memasuki kamar Reynaldi.


Shica dan Raihan pun memasuki kamar Reynaldi. Disana ada Reynala yang terlihat mencemaskan adiknya dan Reynaldi terlelap lemah diatas ranjangnya.


"Kak.. " panggil Shica. Reynala menoleh. "Shica.. Kemarilah.. Kumohon" kata Reynala.


"Rastani.. " gumam Reynaldi.


Shica melirik kearah Raihan. Raihan menganggukkan kepalanya pada Shica. Shica pun menghampiri mereka.


Reynaldi menggenggam tangan Shica. "Aku merindukan dirimu " kata Reynaldi lirih. Shica mengerutkan keningnya.


Sementara Raihan tidak beraksi berlebihan. Dia hanya menatap mereka.


"Emm.. Kenapa kau sakit? Apa kau tidak menjaga pola makanmu? Kau tidur terlambat? Atau main perempuan? " tanya Shica.


Bibir Reynaldi tersungging mendengar tuduhan dari Shica.


"Bagaimana bisa aku memakan masakan yang bukan buatanmu.. Bagaimana bisa aku tertidur saat aku selalu memikirkan dirimu.. Dan bagaimana bisa aku bermain dengan perempuan lain, sementara kau sendiri adalah perempuan yang selalu ada dihatiku" kata Reynaldi.


Shica menoleh kearah Raihan. Dia tidak mau Raihan tersakiti karena ucapan ataupun sikap Reynaldi padanya.


Namun Raihan hanya mengangguk pada Shica. Memberikan kesempatan pada Reynaldi untuk mengungkapkan perasaannya.


"Aku harus bicara.. Maaf ini memang urusan keluarga kalian.. Tapi.. Jika aku tidak bicara, ini akan lebih buruk " kata Reynala.


Shica menatap Reynala. "Sebenarnya, Reynaldi belum menceraikan dirimu.. Surat yang kau tanda tangani itu bukan surat perceraian.. Kau masih istri sahnya Reynaldi " kata Reynala.


Shica menatap Reynaldi dengan tatapan tidak percaya. Dia melepaskan tangan Reynaldi yang menggenggamnya.


"Kenapa? Kenapa kau melakukan ini? Kenapa kau mempermainkan pernikahan kita? " tanya Shica dengan suara bergetar dan air mata berlinang. Raihan menghampiri Shica dan merangkulnya.


"Jangan salahkan Reynaldi, dia melakukan itu untuk membahagiakan dirimu.. Dia ingin kau bahagia bersama Raihan sementara dia disini menderita.. Dia sudah banyak berkorban.. Itu untukmu Shica.. Kesalahannya mungkin memang benar-benar tidak termaafkan.. Tapi itu setimpal dengan apa yang sudah dia korbankan.. Itu terserah padamu dan Raihan.. Maaf aku terlalu banyak bicara aku sudah menjadi seorang ibu.. Aku harus menemui putriku.. Sampai jumpa.. " kata Reynala sambil sejenak menatap perut besar Shica kemudian berlalu.


Shica menyentuh dahinya karena bingung. Raihan menghampiri Reynaldi.


"Aku mengerti perasaanmu.. Kau berkorban terlalu jauh.. Aku minta maaf.. Tapi aku akan meminta Shica untuk merawatmu sampai sembuh.. Jika perlu, aku akan memberikan kalian berdua ruang dan waktu " kata Raihan.


"Tidak.. Kau suaminya.. Kau tidak bisa meninggalkannya bersamaku.. " kata Reynaldi.


"Kau juga suaminya.. Dia istrimu.. Dia tidak bisa meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini " kata Raihan.


Sementara Shica yang mendengar percakapan itu merasa muak. "Aku butuh udara" kata Shica kemudian berlalu.


Raihan dan Reynaldi menatap punggung Shica yang menghilang dibalik pintu.


"Dia pasti marah padaku" kata Reynaldi.


"Aku akan bicara padanya.. Dia pasti akan mengerti dengan pengorbananmu" kata Raihan.


"Kenapa kau tidak marah padaku? " tanya Reynaldi.


Raihan tersenyum. "Karena jika aku berada diposisimu, maka aku akan melakukan hal yang sama.. Aku mengerti perasaanmu.. Jadi biarkan aku membujuk istriku.. Emm maksudku.. Istrimu.. Emm.. " Raihan jadi bingung.


"Istri.. Kita? " tanya Reynaldi ragu.


"Emm.. Iya mungkin lebih tepat seperti itu.. Iya.. Istri.. Kita" kata Raihan ragu kemudian bangkit.


"Aku akan menemuinya" sambung Raihan kemudian berlalu mencari istrinya.


Ternyata Shica duduk termenung tepi kolam renang. Dia terlihat sedih dan kesal.


Raihan memeluk Shica dari belakang. Dia mendongkak menatap pemilik tangan besar itu.


Siapa lagi kalau bukan Raihan.


"Apa kau tidak merasa sedih melihat keadaan Reynaldi? Dia juga tampaknya sedang menderita.. Apa kau tidak kasihan padanya? " tanya Raihan lembut.


"Lalu.. Jika aku bertanya padamu, apa kau tidak keberatan dengan statusku yang ganda? Apa kau tidak kesal? Apa kau menerimanya? " tanya Shica menggerutu.


"Mau bagaimana lagi, ini semua sudah terjadi.. Status tidak bisa dirubah.. " kata Raihan.


"Bisa jika aku bercerai dengan salah satu diantara kalian" kata Shica sambil berbalik melepaskan pelukan Raihan.


"Dan.. Siapa yang akan kau pilih? " tanya Raihan.


"Tentu saja dirimu" kata Shica. "Kau ayah dari bayi yang kukandung" sambung Shica.


"Lalu, bagaimana dengan Reynaldi? Apa kau tega? Dia sudah berkorban demi dirimu.. Demi kita.. " kata Raihan.


Shica kembali terdiam. Raihan ada benarnya.


"Reynaldi membutuhkan kita.. Membutuhkan dirimu" kata Raihan.


"Baiklah, aku tidak bisa berpikir lagi sekarang.. "


By


Ucu Irna Marhamah