
Follow ig @ucu_irna_marhamah
Baca cerita-cerita baru aku yaaa
Atherio Park dan Drucless
Shica menyiapkan barang-barangnya dan barang Deva. "Mom? Kita akan kemana?" tanya Deva. "Kita akan ke Indonesia menemui nenek dan kakek, kamu pasti merindukan mereka, kan?" kata Shica. Terlintas bayangan Ratna dan Ridan dalam benak Deva.
Alvin memasuki kamar Deva. "Mom, kenapa Mom tidak mengajak Alvin?" gerutu Alvin. "Ini tidak akan lama sayang, kami hanya ingin menemui nenek dan kakek." kata Shica lembut. Reynaldi bersama Farez dan Stela memasuki kamar Deva.
"Sudah selesai dengan persiapannya? Aku sudah memesan tiket untuk hari ini," kata Reynaldi. "Iya, aku sudah selesai." kata Shica. Farez dan Stela memeluk Shica.
"Mom jangan lama, ya." kata Stela. "Iya sayang," kata Shica sambil mengecup Stela dan Farez bergantian. Shica juga akan memeluk Alvin. Namun Alvin malah menjauh dan pergi. Terlihat raut kekesalan diwajahnya. Shica menghela napas panjang. Dia menoleh kearah Reynaldi.
"Kita bicara padanya." kata Reynaldi. Shica mengangguk. Mereka menghampiri Alvin yang tampak kesal. "Al, Mom tidak akan lama, Mom merindukan nenek Ratna," kata Reynaldi sambil menyentuh bahu Alvin. Deva dan kedua adiknya mengintip dan menguping pembicaraan mereka.
Alvin berbalik. "Nenek Ratna juga nenekku, kan? Kenapa Mom hanya membawa kak Deva? Kenapa tidak dengan aku dan kedua adikku?" gerutu Alvin. "Itu karena besok kamu ada ulangan, sementara kak Deva gak ada. Lalu kedua adikmu juga tidak mau ikut." Reynaldi yang menjawab.
"Iya, ini tidak akan lama. Tadinya Mom mau berangkat sendiri, tapi Deva mau ikut. Jadi Mom mengajaknya," kali ini Shica angkat bicara.
"Mom mau mengajaknya ketemu sama Papa Raihan, kan? " pertanyaan itu terlontar begitu saja dari Alvin. Shica merasa tersentak mendengar nama yang sudah terpatri lama dihatinya itu kembali disebut. Nama sederhana yang mampu membuat seorang Rastani menangis dan bahagia dalam waktu yang cepat.
Reynaldi menautkan alisnya. Deva terkejut dan tidak mengira Alvin akan tahu soal itu.
"Mom lebih sayang sama Deva, kan? Karena Deva anak dari pria yang Mom cintai, kan? Mom tidak cinta sama Daddy, kan? "
"Hetikan Aldianold! " bentak Reynaldi menggelegar. Kedua lutut Shica terasa lemas. Dia terduduk ke lantai. Air matanya menetes. Belasan tahun dia sudah melupakan nama itu dan kini anaknya sendiri yang menyebut nama itu didepannya.
"Kamu benar nak, Raihan adalah ayahnya Deva. Tapi, Raihan.. Sudah tiada," kata Shica dengan suara bergetar. Belum sempat Shica melanjutkan kata-katanya, Alvin kembali bicara.
"Dad juga lebih sayang sama kak Deva, kan? Padahal aku ini anak Daddy! "
Plakkk
Tamparan keras mendarat diwajah Alvin. Reynaldi yang melakukannya. "Jangan mempertanyakan kasih sayangku, anak muda, apa kau sadar dengan apa yang kau katakan? Dia ibumu!" teriak Reynaldi. Farez dan Stela menangis karena menyaksikan itu. Reynaldi terkejut karena tidak menyadari keberadaan mereka bertiga. Deva menghampiri Alvin dan melindungi Alvin dari amukan ayahnya.
Reynaldi memeluk Stela dan Farez. "Jangan marah sama Alvin, Dad," kata Deva. Reynaldi menghela napas berat. "Adikmu itu terlalu banyak bicara," kata Reynaldi.
"Mom, kita pergi lain kali saja." kata Deva. "Tidak, kau harus berangkat sekarang. Kau harus tahu siapa kakek dan nenekmu yang sebenarnya. Mereka adalah orang tuanya Papa Raihan. Papamu, nak." kata Shica. Alvin merasa bersalah. Dia telah bicara yang bukan-bukan. Dia telah menyakiti hati ibunya.
Tanpa mereka sadari, Adi berdiri didekat tangga dan mendengar semuanya. Dia terlihat geram dan sedih bersamaan. Tangannya mengepal dan berlalu pergi tanpa berniat mengganggu mereka.
Pada akhirnya, Shica dan Deva tidak jadi pergi ke Indonesia. Reynaldi memilih untuk menjelaskan semuanya. Dia dan Shica memperlihatkan semua foto usangnya bersama Raihan.
Reynaldi dan Shica menceritakan semuanya tentang Raihan. Tentang apa saja yang sudah mereka lalui bersama. Semua anaknya mendengarkan dengan serius.
"Jadi, meski kalian berbeda ayah dengan Deva, kalian harus tetap sayang kepada Deva karena Deva juga sayang sama kalian." kata Reynaldi. Alvin merasa bersalah pada ibunya. Dia memeluk Shica. "Maafin Alvin ya, Mom." Shica tersenyum kemudian memeluk putranya itu.
Alvin juga meminta maaf pada kakaknya. Dia memeluk Deva. "Maafin Alvin ya kak, Alvin sayang kakak." kata Alvin. Deva membalas pelukan Alvin. Farez dan Stela juga memeluk kedua kakak mereka.
Shica tersenyum haru melihat keempat anaknya berpelukan seperti itu. Reynaldi merangkulnya. Shica melelapkan kepalanya di bahu Reynaldi.
"Terimakasih, kau telah sabar menjadi suami dan ayah yang baik. Aku sangat bahagia, kau telah menepati janjimu. Terimakasih telah menjadi cinta terakhir dihidupku, Aldi." kata Shica. Reynaldi tersenyum kemudian mengecup kening Shica.
"Terimakasih telah menerimaku dan memberikanku anak-anak tampan dan cantik untukku. Kau istri dan ibu yang baik bagi mereka. Kamu cinta terakhirku, Rastani." kata Reynaldi. Mereka berdua menoleh pada anak-anak mereka yang ternyata sedari tadi memperhatikan mereka. Shica dan Reynaldi segera membenarkan posisi mereka.
Keempat anak manis itu tertawa. "Kenapa romantisnya berhenti?" gerutu Farez dengan polos. Kedua pipi Shica sudah memerah, begitupun dengan Reynaldi.
Tahun berlalu..
Saat ini, Reynaldi, Shica dan keempat anaknya mengunjungi makam Raihan di Jakarta bersama keluarga Abdurrachman dan keluarga Mahali. Deva dan ketiga adiknya tampak serius berdoa.
"Raihan, putra kita sudah besar. Usianya 14 tahun, dia mirip sekali denganmu, namun aku merasa tenang karena dia tidak konyol dan gila sepertimu. Aku bahagia bersama Reynaldi. Terimakasih Raihan atas segalanya." batin Shica.
"Kami selalu berdoa untuk kebahagiaanmu disana, Raihan. Bagaimanapun, manusia pasti akan kembali pada penciptanya, begitupun denganku. Aku harap kau tidak marah padaku karena kami jarang berkunjung kemari." batin Reynaldi.
"Papa, meskipun kita tidak pernah bertemu, entah kenapa aku merasa dekat dengan Papa. Mungkin karena novel karya Papa yang membuatku merasa kalau Papa disampingku. Papa tenang dialam sana ya, Pa. Aku disini baik-baik saja bersama Daddy Reynaldi yang memperlakukan diriku seperti anaknya sendiri begitupun dengan saudara-saudaraku dan Mommy juga bahagia bersama kami. Aku yakin Mommy juga merindukan Papa. Aku akan mengingat pesan Papa. Aku selalu mendengar apa yang Papa katakan saat aku berada didalam kandungan Mommy. Aku tahu ini konyol, tapi begini kenyataanya." batin Deva.
Hariz mengusap rambut Deva. Deva bangkit dan tersenyum.
Hujan turun begitu derasnya mengguyur kota Jakarta. Shica duduk berhadapan dengan seorang wanita paruh baya yang berkacamata tebal.
"Cerita anda sangat keren, Nyonya Adiwijaya, para pembaca dan pembeli menyukai cerita anda. Novel anda laku keras ditoko buku. Bahkan ada orang asing yang ingin menerjemahkan karyamu itu dengan bahasa mereka." kata wanita itu. Shica tersenyum.
"Terimakasih," kata Shica sambil menatap novel karyanya yang dia pengang berjudul Don't Leave Me
"Baiklah, aku harus pulang. Suamiku menunggu diluar." kata Shica. "Setidaknya tunggu sampai hujan reda," kata wanita itu. Shica tersenyum. "Tidak masalah, sampai jumpa." kata Shica.
"Sampai jumpa, hati-hati jalanan licin." kata wanita itu lagi sambil menatap punggung Shica yang kian menjauh dan hilang dibalik pintu.
Shica keluar dari gedung penerbitan novel itu. Dia membuka payungnya. Namun pandangannya tertuju pada seorang pria berkemeja putih diseberang sana dengan senyuman hangat terpampang diwajahnya. Kedua alis Shica terangkat. Mata kelam itu menatapnya penuh makna. Namun dia menghilang saat taksi lewat menghalanginya. Shica mengerutkan keningnya. Apa dia salah lihat?
Mobil merah terhenti didepannya. Shica terkejut. "Kamu nungguin apa? Ayo masuk." kata Reynaldi yang mengemudikan mobil tersebut. Shica mengangguk dan segera memasuki mobil suaminya itu. Mobil itu pun melaju meninggalkan gedung tersebut.
Pria itu masih berdiri di seberang sana dan masih tersenyum juga. "Happy ending.." ucapnya kemudian menghilang.
By
Ucu Irna Marhamah