
".. Semakin berusaha aku melupakan, semakin besar perasaan ini padamu.."
***
Selama dua minggu ini, Reynaldi tidak ada di mansion. Selama itu pula Shica tidak keluar rumah. Shica menghabiskan waktunya dengan membuat sketsa.
Dia sama sekali tidak merasa bosan. Sekarang ini dia membuat sketsa pemandangan kota Perancis beserta menara Eiffel yang menjulang tinggi dan gagah.
Terdengar pintu kamarnya diketuk. Shica menoleh kearah pintu. Dia pun bangkit dari tempat duduknya dan membuka pintu kamarnya.
Ternyata pelayan mansion. "Nona Rastani, ada yang mencari anda." kata pelayan itu.
"Siapa?" tanya Shica.
"Saya tidak tahu, dia seorang laki-laki muda," jawab pelayan itu.
"Apa mungkin dia, Raihan?" batin Shica.
"Apa Zack tahu ada yang mencariku?" tanya Shica.
"Tidak," jawab pelayan itu.
"Kalau begitu, usir saja dia.. Bilang saja aku tidak ada." kata Shica.
"Emm.. Baiklah Nona." kata pelayan itu kemudian berlalu.
Shica melanjutkan sketsanya. "Terserah dia mau apa.. Aku tidak peduli lagi, aku sudah lelah." gumam Shica.
Beberapa saat kemudian, pelayan tadi kembali.
"Maaf, Nona.. Tapi laki-laki itu tidak mau pergi.. Dia bilang dia tidak akan pergi sebelum Nona menemuinya.. Karena katanya sangat penting." kata pelayan itu.
"Biarkan saja," kata Shica. Pelayan itu pun membungkukkan badannya kemudian berlalu.
Shica menyimpan kanvas itu kemudian dia melihat ke balkon.
"Jika itu Raihan, pasti dia kemari dengan mobil.. Tapi aku tidak melihat mobil dibawah. Apa mungkin dia bukan Raihan?" gumam Shica.
Shica pun menuruni tangga untuk melihat siapa yang datang. Dia membuka pintu utama. Yang Shica lihat adalah seorang pria bertubuh tinggi berdiri membelakangi Shica. Shica mengerutkan keningnya.
"Ehm.. "
Mendengar Shica berdeham pelan, pria itu berbalik menatap Shica. Shica terkejut.
"Rangga? " gumam Shica.
"Hai.. Kau masih mengingat ku ya" kata Rangga sambil tersenyum lebar. "Hal penting apa yang ingin kau bicarakan? " tanya Shica.
"Aku merasa ini sangat penting" kata Rangga. "Penting? " tanya Shica.
"Iya.. Makanya aku mau menunggumu karena aku tahu pasti kau akan menemuiku" kata Rangga.
"Duduklah" kata Shica.
Mereka berdua pun duduk di kursi di depan mansion.
"Kau pasti mau bicara soal Raihan ya" kata Shica.
"Kau tahu rupanya" kata Rangga.
"Tentu saja.. Aku sudah biasa mendengarmu menceritakan apapun soal pria itu.. Tapi asal kau tahu, aku sudah tidak peduli lagi pada Raihan.. Karena dia juga tidak peduli padaku" kata Shica.
"Dia peduli padamu" kata Rangga.
"Apapun yang kau ceritakan tidak akan mengubah keputusan awalku.. Aku akan tetap menikah dengan Reynaldi " kata Shica.
Rangga terkejut dan menatap Shica. Rangga tahu Shica masih mencintai Raihan. Namun dia juga tahu kalau Shica merasa kecewa pada Raihan.
"Aku tahu, kau kemari pasti disuruh Raihan untuk memanipulasi diriku kan? " tanya Shica menyelidik.
"Kau salah.. Bukan dia.. Tapi aku yang ingin kalian kembali bersama" kata Rangga.
"Kenapa kau begitu peduli pada Raihan? Oke, aku tahu kau sahabatnya, tapi melihatmu sampai seperti ini, aku jadi bingung " kata Shica.
Shica terdiam sejenak dan mencerna kata-kata yang diungkapkan Rangga. Dia tidak berniat memotong ucapan Rangga.
"Apa kau masih ingat malam itu? Waktu aku datang ke rumahmu.. Dan bilang kalau Raihan ingin melakukan panggilan video denganmu? " tanya Rangga.
Shica tampak mengingat kembali apa yang terjadi beberapa tahun lalu.
"Iya" jawab Shica.
"Saat itu, dia akan melakukan operasi " kata Rangga pelan.
Namun Shica mendengarnya. Dia sangat terkejut dan menatap Rangga.
"Operasi? Jangan bercanda! " kata Shica.
"Untuk apa aku bercanda " gerutu Rangga.
Shica tampak berpikir.
"Terjadi patah tulang di lengan kanannya yang menyebabkan dia harus di operasi.. " kata Rangga dengan suara bergetar mengingat keadaan temannya waktu itu.
"Dia bukan kapten voli seperti dulu lagi " kata Rangga.
Shica terlihat sedih.
"Saat di Singapura, dia ikut bergabung dengan klub voli dan dia menjadi kapten voli.. Saat pertandingan, terjadilah hal yang tidak di inginkan.. Sungguh aku menyesal mengatakan ini terlambat.. Itu karena ibumu melarangku memberitahumu" kata Rangga.
Shica terkejut dan menatap Rangga. "Ibuku? " tanya Shica.
"Iya.. Ibumu.. Dia tahu semuanya.. Tapi dia tidak mau kau mengetahuinya.. Ibumu sangat membenci Raihan.. Dia tidak ingin kau bersama Raihan" jawab Rangga.
Shica tidak mengira ibunya akan sejahat itu.
"Saat di rumah sakit, dia melakukan panggilan video denganku dan dia juga bilang kalau dia ingin melihatmu sebelum operasi berlangsung.. " kata Rangga.
Shica mengepalkan tangannya. Dia sangat menyesal.
"Operasinya berjalan lancar.. Tapi Raihan tidak bisa voli lagi.. Sekarang dia mengurus perusahaan ayahnya dan aku juga bekerja di kantornya. Shica, Aku tidak berhak ikut campur dengan urusan dan hubungan kalian.. Tapi.. Percayalah.. Dia selalu mengingatmu.. Memperdulikan dirimu selama kalian berjauhan.. " kata Rangga.
Shica menitikkan air matanya. Dia merasa sangat bersalah. Selama ini dia sendiri yang sudah bersikap egois. Dia sendiri yang menyebabkan posisinya sulit.
Rangga menatap Shica. ".. Raihan peduli padamu dengan caranya sendiri.. Dia tidak pernah melupakanmu sedikitpun Shica" kata Rangga.
"Lalu.. Kenapa dia selalu datang terlambat.. Kenapa dia selalu datang dan pergi di waktu yang tidak tepat? " tangis Shica.
"Bukan dia, Shica.. Tapi kau.. Kau yang pergi dan datang di waktu yang tidak tepat.. " kata Rangga.
Shica mencerna kata-kata Rangga.
"Sebenarnya kesalahan Raihan hanya dua.. Pertama Dia telah membullymu di junior high school.. Dan yang kedua.. Dia tidak bilang kalau dia akan pergi ke Singapura.. " kata Rangga.
Shica menyentuh dadanya yang terasa sesak.
Kenapa dia baru menyadarinya sekarang?
Rangga benar..
Selama ini Raihan memang jarang berkorban..
Tapi Raihan telah membuat sesuatu hal yang kecil menjadi kebahagiaan yang besar bagi Shica.
"Dan semoga kau sadar.. Kalau saat ini, bukan hanya Raihan yang menderita karenamu, Reynaldi bisa terluka juga jika kau tidak segera memilih salah satu diantara mereka.. Apa kau akan tega? " tanya Rangga.
"Cukup.. Cukup Rangga.. Aku mengakuinya.. Ini salahku.. Salah diriku.. " tangis Shica.
"Aku tidak bermaksud membuatmu tertekan, tapi aku bermaksud untuk menyadarkanmu" kata Rangga.
Shica menatap Rangga. Rangga tersenyum.
"Aku tahu.. Pasti kau sangat sedih karena Raihan.. Tenang saja.. Aku juga sudah bicara padanya.. Aku sudah membelamu.. Dan dia juga sedih dan mengatakan apa yang kau katakan barusan" kata Rangga.
"Kenapa kisah ku sangat rumit.. Lebih rumit dari kisah novel.. "
By
Ucu Irna Marhamah