Don't Leave Me

Don't Leave Me
144



 


 


 


 


 


Shica Mahali


Hari ini adalah hari pernikahanku dengan Reynaldi. Kami telah selesai melakukan resepsi pernikahan di mansion Reynaldi. Aku merasa ini sangat konyol karena aku sudah dua kali menikah dengan suamiku sendiri. Padahal kami belum pernah bercerai. Tapi, karena hubungan kami sangat rumit, kami terpaksa menikah didepan keluarga besar kami.


Aku mengenakan kebaya putih sederhana. Sementara Reynaldi mengenakan tuxedo putih. Kami duduk berdampingan. Deva yang memakai kemeja putih dan jas mungil berwarna serupa duduk dipangkuan Reynaldi. Dia terlihat senang. Terlihat dari tadi dia bertepuk tangan.


Yang hadir di acara pernikahan kami hanya keluarga dan beberapa kerabat terdekat saja. Mereka juga tidak terlalu lama disini. Mungkin sebagian dari mereka harus segera menyelesaikan tugas yang telah mereka tinggalkan untuk menghadiri acara sederhana ini.


Papa Adi menghampiri kami. Dia melihat pada Deva sebentar kemudian menatapku.


"Shica, maafkan putraku yang telah mempermainkan tali pernikahan yang sakral, tidak seharusnya dia seperti itu.. Namun aku tidak bisa berbohong, kalau aku sangat senang kau kembali padanya.. " kata Papa Adi. Aku mengangguk kemudian menoleh pada Reynaldi yang menunduk.


Deva yang berada dipangkuan Reynaldi merentangkan kedua tangannya pada Papa Adi. Aku sedih melihatnya, seandainya dia mengerti kalau Papa Adi bukan kakeknya. Mungkin dia merindukan Papa Hariz yang selalu menggendongnya dan mengajaknya bermain. Tapi Papa Hariz dan bahkan tidak ada satupun keluarga Abdurrachman yang menghadiri acara pernikahan ini.


Papa Adi tersenyum kecil kemudian membelai lembut kepala pangeran kecilku. "Jadi anak yang baik ya" kata Papa Adi kemudian berlalu. Aku tidak mampu membendung air mataku. Aku segera mengalihkan pandanganku. Aku tidak mau Reynaldi melihatku menangis, nanti dia bisa tersinggung.


Hari mulai malam..


Reynaldi menidurkan Deva di ranjang bayi. Dia menggerakkan ayunan ranjang bayi tersebut dengan pelan.


"Deva bobo ya, Daddy mau main-main sama Mommy.. Nanti Deva punya adek " kata Reynaldi yang membuatku menahan tawa mendengar ucapannya itu.


Tak membutuhkan waktu lama, Deva sudah berpetualang didunia mimpinya. Reynaldi tersenyum kecil. "Mimpi indah, pangeran kecil " kata Reynaldi kemudian mengecup pipi bulat putraku.


Reynaldi berbalik menatap diriku. Dia tersenyum jahil dan menghampiriku. Kami saling menatap sejenak. Aku mengalihkan pandanganku, kedua pipiku terasa sangat panas. Dan ku yakin sekarang kedua pipiku sudah memerah.


"Apa kau tidak berniat memberikan adik pada Deva? " tanya Reynaldi sambil menyentuh kedua bahuku. Aku tersenyum mendengar pertanyaannya itu.


"Namun aku tidak akan pernah menyentuhmu tanpa seizinmu" kata Reynaldi.


Entahlah, aku masih merasa canggung padanya. Meski kami pernah melakukannya satu malam, itu sudah lama. Aku menatap Reynaldi kemudian tersenyum.


"Kau suamiku.. Dari dulu kau adalah suamiku.. Kau berhak atas diriku" kataku lembut. Reynaldi tersenyum kemudian mengecup lembut bibirku. Kedua pipiku semakin memanas. Reynaldi menatapku.


"Sungguh.. Aku sangat mencintai dirimu.. Rastani Adiwijaya.. "


Indah..


Perlahan aku membuka kedua mataku. Aku merasa ada beban berat yang **** tubuhku. Ternyata Reynaldi yang tertidur diatas tubuhku. Rasanya sesak sekali.


Semalam dia memperlakukanku dengan lembut. Aku merasa sangat bahagia. Dia memperlakukanku seperti seorang wanita. Seperti seorang istri.


Aku mendengar suara tangisan kecil Deva. Aku menoleh ke ranjang bayi. Ternyata Deva sudah bangun. Aku merasakan pergerakan Reynaldi. Aku berpura-pura tertidur. Kurasakan Reynaldi bangkit dari atas tubuhku. Aku mengintip dan kulihat dia menghampiri ranjang bayi dimana Deva berada. Ternyata dia mengganti popok Deva. Dia sangat telaten. Aku terharu melihatnya. Reynaldi menoleh kearahku. Aku segera menutup mataku.


Kurasakan beban di samping ranjangku. Kurasakan selanjutnya adalah kecupan pada bibirku.


Aku mendorong dadanya. "Kau tahu? Aku sudah terbangun? " tanyaku memastikan kalau dia tidak berbohong.


"Iya.. Aku tahu karena aku mendengar detak jantungmu yang semakin lama semakin cepat menandakan kau mengingat kejadian semalam dan kau merasa.. " Reynaldi menggantung kalimatnya. Dia menatap diriku.


"Kedua pipimu sudah memerah.. Aku tidak mau melanjutkan kata-kataku atau nanti kedua pipimu akan seperti kepiting rebus " kata Reynaldi.


"Kalau kau tahu aku sudah bangun, kenapa kau tidak menyuruhku untuk mengganti popok Deva? " tanyaku.


"Aku tahu kau sangat lelah karena semalam kau berusaha melayaniku.. Aku tidak mungkin tega melihatmu melakukan apapun meski itu hal kecil.. " kata Reynaldi. Sungguh romantis dia.


"Hemm.. Aku harus mandi" kataku sambil bangkit dari ranjang. Aku merasa bagian bawah perutku terasa ngilu. Kudengar Reynaldi terkekeh pelan. Sialan dia!


"Pakai boxermu, menyebalkan! " kataku menggerutu. Dia malah tertawa semakin kencang. "Bukankah aku terlihat lebih tampan seperti ini? " tanya Reynaldi.


Tidak punya malu!


Aku memasuki kamar mandi dan membersihkan tubuhku. Rasanya segar sekali. Setelah selesai, aku kembali memasuki kamar dan kulihat Reynaldi bermain-main dengan Deva.


"Aku akan membersihkan Deva, mandilah.. " kataku pada Reynaldi.


"Mau ikut? " goda Reynaldi.


"Sana sendiri " kataku menggerutu. Dia malah tertawa dan tersenyum kemudian memasuki kamar mandi.


Aku menggendong putra kecilku. "Hai.. Pangeran kecil Mommy.. Kamu lapar ya? Nanti Mommy buatin bubur yaa.. " kataku.


Beberapa menit kemudian, Reynaldi kembali dengan dasi dan jasnya terlihat rapi.


"Sayang, aku harus ke kantor " kata Reynaldi. "Kau bahkan belum sarapan" kataku.


"Aku bisa sarapan dikantor nanti" kata Reynaldi kemudian berlalu. Namun Deva malah menangis melihat Daddy nya pergi. Reynaldi menghentikan langkahnya dan menoleh kearah Deva yang menangis. Dia kembali dan menggendong Deva.


"Daddy harus pergi kerja.. Buat Deva sekolah nanti" kata Reynaldi membujuk Deva. Deva masih menangis.


"Deva mau ikut ke kantor? " tanya Reynaldi. "Jangan.. Nanti dia malah mengganggu.. Aku tidak mau kau terganggu dengan keberadaan Deva.. Dia akan membuatmu kesusahan.. " kataku.


"Tidak masalah.. Aku akan sangat senang dan semangat.. Asalkan kau juga ikut " kata Reynaldi.


"Aku benci suasana kantor.. Kau tahu, aku pernah kabur dari Indonesia ke Perancis karena menolak memegang perusahaan milik ayahku.. " kataku menggerutu.


"Haha.. Pantas saja nilai ekonomimu jelek sekali, Rastani.. Tidak ada penolakan, kau harus ke kantor bersama Deva, atau seharian dia akan menangis karena jauh dari daddy nya yang tampan ini" kata Reynaldi dengan percaya dirinya.


"Baiklah, ayo.. "


By


Ucu Irna Marhamah