Don't Leave Me

Don't Leave Me
94





".. Loved can't tested by kisses, but the fine felling is the testor.. "



***



Hari pernikahan telah tiba. Rumah besar Mahali terlihat begitu Indah dengan dekorasi serba putih. Sementara itu, para perias tengah merias wajah sang pengantin wanita.



Shica tampak dewasa dan berbeda. Polesan makeup yang sempurna di wajahnya dengan goresan Jawa yang khas. Dia juga memakai kebaya dan samping yang melilit pas di pinggangnya.



Ratna memasuki ruang rias. Para pelayan membungkukkan badannya kemudian berlalu.



Ratna menatap sedih pada putrinya.



"Aku tidak tahu.. Apakah aku harus sedih atau bahagia.. Karena aku sendiri tidak tahu bagaimana perasaanmu.. " kata Ratna pelan.



Shica tersenyum tipis. "Seharusnya Mama bahagia.. Seperti Papa" kata Shica.



Ratna terlihat sedih.



"Aku menikah dengan laki-laki yang sesuai dengan keinginan Mama.. Dan bukankah ini yang Mama inginkan dari dulu? " tanya Shica.



"Maafkan Mama.. Mama yang salah.. " gumam Ratna.



Shica mengalihkan pandangannya. "Tidak.. Mama tidak salah.. Mama ingin aku memiliki masa depan yang cerah dan menikah dengan laki-laki yang berpendidikan.. Laki-laki yang berasal dari keluarga yang baik-baik.. Aku tidak marah pada Mama" kata Shica.



Ratna memeluk Shica. "Sebelum semuanya terlambat, batalkan saja pernikahan ini.. Mama akan mencari Raihan untukmu.. Meski Mama tidak tahu dia dimana" kata Ratna yang menangis dipelukan putrinya.



"Tidak.. Itu tidak akan terjadi.. Dia hanya pedagang nasi goreng.. Mama pasti malu.. Itu akan meruntuhkan reputasi Mahali" kata Shica berbohong.



"Tidak.. Tidak! Itu tidak benar! Mama sekarang tidak peduli lagi siapa itu Raihan.. Tolong.. Jangan siksa Mama dengan senyuman palsumu itu, Shica" tangis Ratna.



Shica terdiam.



Sementara itu, Reynaldi sudah duduk berhadapan dengan Ridan yang akan menikahkan sendiri putrinya pada Reynaldi.



Reynaldi terlihat begitu tampan dengan tuxedo putih yang melekat di tubuhnya. Rambutnya juga terlihat rapi dengan model klasik.



"Lama sekali " gerutu Tama pelan. "Suttssss.. Jangan keras-keras " bisik Adi. Reyna yang duduk disamping ayahnya tersenyum mendengar ocehan Tama yang seperti anak kecil. Begitupun dengan Salia yang duduk disamping Tama.



Terdengar suara langkah kaki menuruni tangga. Semua mata tertuju pada gadis cantik berkebaya putih dengan ekor gaun yang panjang. Dia juga mengenakan samping batik yang Indah melekat di pinggangnya yang berwarna senada dengan kebayanya.



Reynaldi terpukau dengan kecantikan calon istrinya. Ratna dan beberapa pelayan mengantar Shica menuju altar pernikahan.



Shica pun duduk di samping Reynaldi. Ratna dengan berat hati memasangkan selendang brukat berwarna putih ke kepala Shica dan Reynaldi.



Shica menundukkan kepalanya dalam. Reynaldi melirik Shica kemudian dia tersenyum mengingat sebentar lagi, Shica akan menjadi istrinya.



Ridan dan Reynaldi berjabat tangan. "Saya nikahkan dan kawinkan engkau, Reynaldi Alexander Adiwijaya dengan putriku Rastani Primantari Sukma Riandhini Dharma Wijaya Kusuma Mahali dengan mas kawin tersebut dan seperangkat alat shalat.. Di bayar tunai.. " kata Ridan dengan tegas. Shica terlihat sedih.



Seharusnya, Raihan lah yang duduk di sampingnya dan berjabat tangan dengan ayahnya kemudian mengucap ijab kabul pernikahan.



Reynaldi bisa melihat kesedihan di wajah Shica. Namun dia tidak berniat menghentikan pernikahan itu.



"Saya terima nikah dan kawinnya Rastani Primantari Sukma Riandhini Dharma Wijaya Kusuma Mahali dengan mas kawin tersebut dan seperangkat alat shalat di bayar tunai" jawab Reynaldi tak kalah tegas.



"Bagaimana, sah? "



"Sah" jawab para tamu serempak.



Mereka pun berdo'a sesuai dengan kepercayaan masing-masing. Begitupun dengan Reynaldi dan Shica.



Cincin pernikahan pun melingkar dengan Indah di jari mereka berdua.



Reynaldi dan Shica saling menatap.



"Mempelai harus mencium tangan pasangannya " goda salah satu tamu pernikahan.



Reynaldi tersenyum kemudian akan mencium tangan Shica. Namun Shica menarik tangan Reynaldi.



"Aku yang harus melakukannya " kata Shica kemudian mencium punggung tangan Reynaldi.



Reynaldi membelai lembut rambut Shica. Kemudian dia mengecup kening Shica dengan lembut.



"Kalian telah sah menjadi sepasang suami istri dimata hukum dan agama" kata Adi sambil membelai lembut pucuk kepala Shica dan Reynaldi.



Selesai ijab kabul, dilakukan tradisi sungkeman. Sungguh tradisi itulah yang selalu menguras air mata pasangan pengantin dan juga para tamu.




Sementara itu, Shica dan Reynaldi duduk berdampingan di kursi singgasana pernikahan.



Reynaldi terlihat bahagia ditandai dengan senyumannya yang tidak pernah luntur.



"Kau tidak mengundangnya? " tanya Reynaldi tanpa menoleh kearah Shica karena dia tidak mau melihat kesedihan di wajah istrinya.



Shica menoleh kearah Reynaldi. "Siapa? " tanya Shica.



"Cinta pertamamu" jawab Reynaldi kemudian menatap Shica.



Sejenak mereka saling menatap. Shica memilih memutuskan kontak mata dengan suaminya.



"Apa maksudmu dia itu adalah Raihan? " tanya Shica.



"Iya.. Siapa lagi memang" jawab Reynaldi ketus.



"Aku tidak mengundangnya karena dia berhalangan hadir " jawab Shica.



Reynaldi membuang muka tidak suka. "Ada apa? Kenapa dia tidak mau menghadiri acara pernikahanmu? " tanya Reynaldi.



"Dia sedang di rumah sakit.. Sedang di operasi " jawab Shica.



Reynaldi cukup terkejut mendengarnya. Sontak dia menatap Shica.



"Apa dia punya penyakit usus buntu? " tanya Reynaldi sambil menahan tawanya.



Shica menatap kesal pada suaminya. "Dia mengalami cedera tulang lengan kanannya.. " jawab Shica dengan suara bergetar.



Reynaldi menatap Shica. "Hmm.. Semoga dia cepat sembuh " kata Aldi kemudian mengalihkan pandangannya.



Shica juga mengalihkan pandangannya. Dia menyembunyikan air matanya yang mengalir membasahi pipinya.



Belum kering setelah tradisi sungkeman, sekarang basah lagi.



Reynaldi menggenggam tangan Shica dengan erat.



"Ingatkan? Kalau aku pernah berjanji akan membahagiakan dirimu? Maka percayalah, kita akan bahagia.. " kata Reynaldi.



Shica menatap Reynaldi. Begitupun dengan Reynaldi.



"Ehmm.. Kalian bertatapan seperti itu seolah tidak sabar lagi.. Tenanglah Aldi, ini masih siang" kata Tama yang menghampiri mereka bersama Salia.



Shica dan Reynaldi menoleh. Reynaldi tersenyum. "Memangnya kenapa jika ini masih siang? Aku bisa melakukannya kapanpun " kata Reynaldi.



Shica mencubit lengan Reynaldi. "Tidak punya malu.. Jangan keras-keras " gerutu Shica. Tama dan Salia tertawa. Shica dan Reynaldi berdiri ketika Tama dan Salia mengulurkan tangan mereka.



"Selamat ya.. Kalian benar-benar pasangan yang romantis" kata Tama sambil menjabat tangan Reynaldi dan Shica.



"Tentu saja" kata Reynaldi dengan bangganya. Salia tersenyum. Dia juga menjabat tangan Reynaldi dan Shica.



"Kalian pasti akan hidup bahagia" kata Salia.



"Terimakasih, Kak Salia" kata Shica.



Pasangan cerita La'grimas itu pun berlalu. Kemudian Reynala bersama suaminya menghampiri mereka.



"Wah aku senang sekali melihat kalian menikah" seru Reyna sambil memeluk Reynaldi dan Shica. Shica hanya tersenyum. Reyna membelai lembut pipi Shica. Suami Reynala menjabat tangan Shica dan Reynaldi dan mengucapkan selamat.



"Terimakasih telah menepati janjimu " bisik Reyna kemudian berlalu bersama suaminya menyusul Tama dan Salia.



"Apa yang kau janjikan pada kakakku? " tanya Reynaldi yang ternyata mendengar bisikan Reynala.



"Tidak ada " jawab Shica.



"Shica "



Shica menoleh. Dia terkejut dengan keberadaan Jane dan Rangga.



"Kalian? " gumam Shica. Dia melihat tangan Jane menggandeng tangan Rangga.



Rangga dan Jane saling pandang kemudian tersenyum.



By



Ucu Irna Marhamah