Don't Leave Me

Don't Leave Me
139



 


 


Shica mengetuk pintu kamar Raihan. "Raihan.. Buka pintunya " kata Shica. Pintu pun di buka Raihan.


"Emm.. Jangan marah.. Maafkan aku.. Lain kali aku akan minta izin darimu" kata Shica.


Raihan memeluk Shica. "Aku tidak marah, sayang.. Aku hanya cemas.. Aku takut terjadi sesuatu padamu.. " kata Raihan.


Shica membalas pelukan Raihan. Raihan membelai lembut pungung Shica.


"Aku tahu, Reynaldi bersamamu, tapi aku tetap cemas.. Lain kali jangan keluar dari sini ya tanpa bicara dulu padaku" kata Raihan.


"Iya.. Aku akan mengingatnya " jawab Shica. Mereka melepaskan pelukan dan saling menatap.


Raihan berjongkok didepan Shica dia mengecup perut Shica. "Apa kamu merindukan Papa? Atau tidak? Seharian kamu main sama Mama dan Daddy Reynaldi, kamu melupakan Papa ya" kata Raihan.


Shica tersenyum. "Tadi dia berulah.. Sehingga Reynaldi kesulitan membujuk bayimu ini.. Reynaldi bahkan harus menyebut namamu dulu, baru kontraksi perutku mereda" kata Shica.


Raihan tertawa. "Bayi nakal ya kamu.. Jika kamu lahir nanti, dengarkan juga nasehat Daddy Reynaldi.. Bagaimanapun juga dia ayahmu" kata Raihan. Shica tertawa.


"Aku tidak yakin dengan itu" kata Shica.


Raihan kembali berdiri dan menatap Shica. "Kamu lapar? Aku akan memasak " kata Raihan.


"Tidak.. Aku yang harus melakukannya" kata Shica.


"Tidak apa-apa.. Ayo " kata Raihan. Mereka pun memasuki dapur. Raihan mulai dengan memotong sayuran. Shica memperhatikannya. Reynaldi memasuki dapur dengan membawa handuk di pundaknya.


"Raihan.. Apa kau tahu dimana sabun mandi ku? " tanya Reynaldi.


"Aku tidak tahu.. Kau pakai saja punyaku di kamar mandi yang ini" kata Raihan sambil menunjuk ke kamar dekat dapur.


"Kau menyuruhku mandi disini? Ini kan kamar mandi dapur" gerutu Reynaldi.


"Ya sudah kalau tidak mau" kata Raihan. Reynaldi memasuki kamar mandi tersebut kemudian membawa sabun mandi milik Raihan dan kembali ke kamar mandi yang lain.


"Kalian aneh sekali" kata Shica.


Raihan menoleh sesaat pada Shica kemudian tertawa dan kembali mengerjakan aktivitasnya. "Aneh kenapa, sayang? " tanya Raihan.


"Tadi kalian bertengkar dan sekarang kembali bicara.. Itu aneh kan? " jawab Shica diakhiri pertanyaan.


Raihan tertawa.


Terdengar pintu apartemen di ketuk. Raihan menghentikan aktivitasnya. "Biar aku saja yang membukanya " kata Shica kemudian bangkit dari duduknya. Raihan kembali melanjutkan aktivitasnya.


Shica membuka pintu. "Ingin bertemu siapa? " tanya Shica pada pria didepannya yang menundukkan kepalanya dalam.


"Kau"


Raihan memasukkan sayuran ke panci yang berisi air.


"Raihan!!!!"


Raihan terkejut mendengar suara teriakan Shica. Dia segera mematikan kompor dan berlari ke pintu. "Shica.." gumamnya. Tidak ada Shica disana. Reynaldi segera menghampiri Raihan. "Apa yang terjadi? Aku mendengar suara Shica, kemana dia? " tanya Reynaldi.


Raihan tidak merespon pertanyaan Reynaldi. Dia berlari mencari Shica ke seluruh penjuru gedung apartemen. Reynaldi juga.


"Shica! " teriak Reynaldi. Dia tampak khawatir. Reynaldi segera menelpon orang-orangnya. Sementara Raihan menemukan gelang Shica di lantai. "Reynaldi, cepat.. Kita harus cepat! " gertak Raihan kemudian berlari ke tempat parkir. Reynaldi menyusulnya.


Raihan memasuki mobilnya dan melajukannya dengan kecepatan tinggi. Reynaldi terlihat cemas begitupun dengan Raihan.


"Kenapa kau membiarkannya pergi? " gerutu Reynaldi.


"Dia yang membuka pintu " kata Raihan dengan nada penyesalan.


"Sialan! " geram Reynaldi.


"Ini pasti ulah Sean.. " geram Raihan. Mereka melihat mobil Sean terparkir di depan gedung terbengkalai. Raihan menghentikan mobilnya. Mereka segera keluar dari mobil dan memasuki gedung itu.


Shica berdiri disana. Dia menangis dan terlihat ketakutan.


"Shica.. " gumam Raihan.


"Rastani.. " gumam Reynaldi.


"Jangan mendekat.. " kata Shica pelan saat melihat kedua suaminya akan melangkah menghampirinya.


"Kenapa? Kami harus membawamu kembali" kata Reynaldi. Shica mengangkat kepalanya melihat ke langit-langit gedung itu. Raihan dan Reynaldi mendongkak. Mereka terkejut melihat banyak pisau diatas sana. Dan disekitar mereka banyak jebakan. Salah menginjakkan kaki, maka salah satu pisau itu akan jatuh dan menancap.


Reynaldi mengepalkan tangannya geram. Jika seperti itu, maka bukan hanya Reynaldi atau Raihan, Shica juga dalam bahaya. Karena ada pisau di atas Shica.


Terdengar suara tepuk tangan. Mereka menoleh, ternyata Sean. Raihan menautkan alisnya geram. Reynaldi mengeratkan rahangnya.


"Tepat waktu, jadi siapa yang mau menyelematkan istri kalian ini? " tanya Sean.


"Lepaskan dia dari sana.. Apa kau sadar! Dia sedang mengandung! " teriak Reynaldi geram. Sean tertawa sarkas.


"Untuk apa aku peduli.. Anak yang ada di perutnya itu bukan anakku, bukan anakmu juga kan? Anak itu adalah darah dagingnya! " kata Sean sambil menunjuk wajah Raihan.


"Hentikan kebodohan ini! Lepaskan istriku! " bentak Reynaldi.


"Istrimu? Istri kalian? Bukankah kalian memang berbagi istri? " ledek Sean.


"Diam atau ku robek mulutmu, bedebah! " teriak Reynaldi. Sean tertawa.


"Sebenarnya apa tujuanmu? Kami tidak punya masalah denganmu" geram Raihan berusaha menahan kemarahannya.


"Aku hanya ingin tahu, apa kalian akan keluar dari sini dalam keadaan hidup? " tanya Sean. Dia pun melangkahkan kakinya dengan hati-hati menghampiri Shica. Kakinya bergerak dengan mulus. Dia menyentuh rambut Shica.


"Jangan menyentuhnya! " geram Raihan.


"Tenang saja.. Aku tidak akan menyakitinya.. " kata Sean sambil tersenyum sinis.


"Jawab pertanyaanku dengan jujur, Shica.. Maka kau akan aman.." bisik Sean. Shica mengangguk cepat.


"Jadi.. Katakan.. Siapa suamimu yang over protektif? " tanya Sean.


"Re.. Reynaldi.. " jawab Shica. Reynaldi tersenyum mendengar jawaban Shica. Raihan menoleh kearah Reynaldi.


"Raihan.. " jawab Shica. Raihan tersenyum mendengar jawaban Shica. Reynaldi menoleh kearah Raihan.


"Sekarang katakan.. Siapa diantara mereka berdua yang paling kau cintai? " tanya Sean lagi.


Sunyi..


Shica tidak mengeluarkan suaranya. Yang terdengar adalah isak tangisnya yang tertahan.


Sean menarik rambut Shica. "Sean! Jangan! " teriak Reynaldi.


"Raihan!! " teriak Shica sambil berusaha melepaskan tangan Sean yang menjambak rambutnya.


Reynaldi menatap Raihan.


Sean tertawa.


"Kemarilah.. Jemput istri kalian" kata Sean kemudian menginjak salah satu jebakan. Pisau diatas kepala Shica pun jatuh. Sean menggeser posisinya. Tangannya dimasukkan kedalam saku. Raihan dan Reynaldi berlari kearah Shica. Kaki mereka menginjak banyak jebakan. Semua pisau berjatuhan. Reynaldi jatuh terduduk karena salah satu pisau menancap dipunggungnya. Pisau menghujani tubuh Raihan. Namun dia segera memeluk Shica melindunginya dari ribuan pisau itu. Tak peduli tubuhnya tertancap banyak pisau dan darah dimana-mana.


Reynaldi yang melihat itu terbelalak. Dia tidak mengira Raihan akan lebih kuat darinya.


"Aku mencintaimu " bisik Raihan lirih di telinga Shica. Shica mendongkak menatap Raihan. Kedua manik hazelnya bergetar. Seolah kalimat itu jarang terucap. Padahal setiap hari Raihan mengatakannya. Namun kali ini, Shica merasa sakit mendengarnya.


Raihan meringis kesakitan. Tubuhnya dipenuhi pisau yang menancap. Shica menyentuh tengkuk Raihan, ada pisau disana. Shica meringis. Raihan menarik tangan Shica.


"Jarimu terluka.. " kata Raihan kemudian menghisap jari Shica yang terluka. Shica menyentuh rahang Raihan.


"Kau yang terluka.. Aku mohon.. Jangan banyak bergerak.. " kata Shica.


"Aku hanya ingin melindungimu.. Dan anak kita.. " kata Raihan. Shica mengecup lembut bibir Raihan didepan Reynaldi dan Sean. Reynaldi merasa sakit melihat itu.


Sean menautkan alisnya kemudian dia mengeluarkan pistol dari dalam saku celananya dan.


"Tidak!! " Reynaldi berlari kearah Sean untuk merebut pistol itu.


DOR!


Terlambat..


Reynaldi menghentikan langkahnya kemudian menoleh kearah Shica dan Raihan.


Raihan jatuh tersungkur. Shica terbelalak. "Ra.. Raihan.. " gumam Shica.


Reynaldi menerjang dada Sean. Pistolnya terlempar. Terjadi perkelahian antara Sean dengan Reynaldi.


"Ra.. Raihan!!!!! " teriak Shica sambil mengguncangkan tubuh Raihan. Tangan besar yang penuh dengan darah itu terulur menyentuh pipi Shica membuat pipi Shica ternodai darah.


"Aku tidak apa-apa.. " kata Raihan bergetar. "Raihan!! Aku mohon bertahanlah.. " Shica membawa ponsel dari saku celana Raihan.


Sementara itu, Reynaldi menghajar Sean habis-habisan. Sean membawa pisau dan menusuk perut Reynaldi. Reynaldi terpundur. Darah segar mengalir membasahi kemeja putihnya. Shica terbelalak. Dia tidak bisa membiarkan kedua pria yang berarti dihidupnya terluka.


Shica melihat pistol di lantai. Dia mengambilnya dan membidik tubuh Sean.


Shica menutup matanya.


"Luruskan tanganmu" kata Raihan. Shica menatap wajah Raihan yang bertumpu dibahunya.


Shica mengingat arahan Raihan. Ucapannya terngiang ditelinganya. Dia meluruskan tangannya.


"Jangan menutup sebelah matamu" kata Raihan. Kata-kata itu kembali terngiang.


Shica membuka kedua matanya dan menatap Sean dengan tajam. Sean masih tertawa melihat kekalahan Reynaldi.


"Kau memerlukan kedua matamu untuk melihat target.. Jangan memandang targetmu dengan sebelah mata.. Atau kau akan kalah" kata Raihan. Itu juga kembali terdengar ditelinga Shica.


"Sasaran akan terlihat seimbang dengan kedua matamu.. Karena kedua matamu bisa melihat dengan sisi mereka.. " kata Raihan.


Shica mengangguk sigap.


"Tembak!!" teriak Raihan.


DOR!


Peluru itu menembus dada bagian kiri Sean. Sean terpundur. Raihan tersenyum melihat Shica yang berhasil menembak Sean.


"Itu untukku.. " geram Shica.


DOR!!


Sean terduduk ke lantai.


"Itu untuk Reynaldi.. " geram Shica.


"Dan ini untuk Raihan! " Shica kembali menarik pelatuknya. Namun pelurunya habis.


Sean tertawa sambil terbatuk darah. Reynaldi menendang wajah Sean.


"Dariku! Untuk Raihan! " teriak Reynaldi. Sean pun terkapar tak sadarkan diri. Sean masih menghajarnya.


"Hentikan.. Hentikan.. Nanti lukamu mengeluarkan banyak darah.. " kata Shica. Reynaldi menoleh kearah Shica.


"Kemarilah " kata Shica. Reynaldi berbalik dan menghampiri Shica. Namun Sean bangkit dan akan menghajar Reynaldi. Shica terbelalak dan tanpa pikir panjang, dia melempar pistol tak berpeluru itu hingga mengenai wajah Sean dan Sean kembali jatuh tak sadarkan diri.


Reynaldi memeluk Shica. "Kau berdarah.. Ini pasti sakit.. " kata-kata Shica tidak di teruskan karena Reynaldi mengecup bibir Shica. Shica terbelalak.


Raihan tertawa pelan. "Pencemburu.. "


By


Ucu Irna Marhamah


Follow Instagram dan Wattpad aku, yaaa... @ucu_irna_marhamah


Baca juga cerita baru aku ATHERIO PARK dan DRUCLESS


Beli Ebook aku juga yaaaa, hehe