
"Permisi, Bu Ratih.." Teriak Martha dari luar rumah Ratih.
Lama Martha menunggu Ratih keluar dari rumahnya. Dia sempatkan duduk di kursi teras di depan rumah Ratih sambil mengamati sekeliling.
Tak lama Martha duduk santai. Ratih terlihat sudah muncul dari balik pintu rumahnya, menyambut Martha dengan senyum hangatnya.
"Bu Martha.. Mari masuk!" Pinta Ratih.
Martha mengangguk dan mengikuti langkah Ratih untuk masuk ke dalam rumahnya.
"Silahkan duduk, Bu Martha." Pinta Ratih lagi.
"Terimakasih..." Jawab Martha santai.
"Ada apa Bu Martha?" Tanya Ratih penasaran.
"Tidak ada apa-apa, Bu. Saya hanya ingin mengantarkan ini. Bu Ratih dan Lexa kan mau pergi untuk perjalanan jauh, jadi saya siapkan bekal makanan untuk di jalan." Jawab Martha seraya menyerahkan tempat makan berbentuk bulat berukuran sedang.
"Tidak usah repot-repot, Bu Martha." Kata Ratih sungkan.
"Tidak repot, Bu. Kebetulan saya masak banyak. Lagian ini hanya menu sederhana saja. Lumayan untuk bekal." Tegas Martha.
"Terimakasih sekali, Bu Martha." Balas Ratih sedikit haru, karena mendapat perhatian dari tetangganya.
"Oh ya, Bu. Baju jahitan pesanan Bu Martha sudah saya selesaikan." Ucap Ratih.
"Oh ya? Sudah jadi semua?" Tanya Martha.
"Sudah, Bu. Sebentar saya ambilkan." Kata Ratih yang dengan segera mengambil jahitan baju yang dimaksud.
****
Ratih dan Lexa berada di terminal. Menunggu sebuah bus yang akan mereka kendarai untuk melakukan perjalanan ke kota. Ratih sudah menggenggam dua tiket yang telah dia beli di agen bus.
Lexa mengamati sekitar. Suasana terminal tidak terlalu ramai sehingga tidak terlihat kumuh dan penuh sesak. Yang lebih menarik perhatian Lexa adalah terminal ini. Terminal ini yang dulu pernah diceritakan oleh Ana, teman sekelasnya.
Ana pernah bercerita tentang danau di atas bukit. Danaunya jernih, suasananya pun sejuk karena ada di puncak. Tapi jika ingin bepergian ke sana hanya ada satu kendaraan yang bisa dia naiki.
Lexa menceritakan hal itu kepada Ratih. Ratih tersenyum, melihat reaksi Lexa yang sumringah. Melihat ekspresi Lexa yang mengembangkan senyum, menjadi semangat tersendiri untuk Ratih. Besar harapan Ratih melihat keponakannya bisa sembuh dan ceria seperti dulu lagi.
Lama mereka menunggu bus dengan bercengkerama riang, sejenak melupakan cerita sedih tentang Lexa dan semua kenangan Ratih. Mereka berdua hanya ingin menghabiskan waktu menunggu dengan banyak berbagi cerita, agar waktu yang mereka miliki tidak sia-sia seperti keinginan Lexa.
****
Perjalan panjang di mulai. Mereka sudah berada di dalam bus menuju kota. Mereka duduk di bagian tengah. Lexa langsung tertidur ketika bus baru meninggalkan terminal. Ratih menyelimutinya dengan kain yang sudah dia siapkan.
Ratih memandang Lexa dalam, memperhatikan setiap bentuk tubuh Lexa yang mulai terlihat tulangnya. Lexa terlihat semakin kurus dan pucat, membuat Ratih tak kuasa meneteskan airmatanya. Ratih tahu, Lexa kesakitan. Tapi Lexa bisa menyembunyikan dengan baik kesaktiannya itu, karena Lexa masih memperhatikan dirinya.
Ratih mengenang kembali saat mereka bercengkerama di terminal tadi. Lexa tak sengaja merintih ketika Ratih sedang bercerita. Ratih tahu Lexa menahan sakit, tapi Ratih yang tak mau melihat dirinya sedih berpura-pura tidak melihat ekspresi Lexa yang disembunyikan darinya. Begitulah, akhir-akhir ini mereka saling memendam kesedihan sendiri. Seakan hanya boleh ada bahagia untuk mereka.
****
Perjalanan panjang nan melelahkan baru separuh jalan. Bus berhenti di sebuah terminal untuk menurunkan penumpang. Ratih dan Lexa memilih tidak turun, karena terminal yang mereka singgahi ramai dan sesak. Membuat Lexa tak nyaman.
Ratih ingat beka yang dia bawa. Bekal pemberian Martha. Mereka menyantapnya di bus. Mereka makan nasi dengan lauk acar timun dan rendang sapi. Enak sekali. Masakan Martha benar-benar enak. Ratih dan Lexa sampai tak menyisakan makanan sedikitpun.
Perjalanan masih separuh jalan, mereka butuh energi untuk tetap bugar selama perjalanan. Makan makanan sehat tentu menjadi hal wajib yang harus dibawa. Untungnya mereka punya tetangga yang memperhatikan mereka.
****
Ratih dan Lexa sudah sampai di kota. Kenangan buruk tentang kota langsung menghampiri Lexa. Tubuhnya sampai limbung.
"Lexa..." Teriak Ratih panik.
Memegang erat tubuh ponakannya itu dengan kedua tangannya. Dua koper dalam genggamannya pun dia letakkan di tanah.
Ratih memapah Lexa perlahan. Ratih dudukan Lexa di salah satu kursi tunggu di pojok. Mengibaskan tangan memberi Lexa angin agar Lexa merasa segar.
Benar-benar di kota. Ratih melirik orang-orang di sekitarnya yang tak merasa peduli dengan dirinya dan juga Lexa. Dia berkeliling mencari telepon umum, dan akhirnya ketemu.
"Lexa... Tante akan menghubungi Om Angga. Lexa bisa duduk sendiri disini?" Tanya Ratih sedikit khawatir.
Lexa mengangguk perlahan.
Ratih secepat kilat berlari ke arah telepon umum. Mengisi koin dan mulai memencet nomor yang dia tulis di buku kecil. Lama sekali telepon tersambung, sampai akhirnya.
"Halo..." Suara Angga terdengar dari balik gagang telepon umum.
Ratih merasa lega.
****
Ratih sudah mendampingi Lexa duduk di kursi tunggu. Masih mengibaskan tangannya. Tak ragu juga untuk mengoles minyak angin ke kening, leher dan telapak tangan Lexa. Ratih sedikit khawatir dengan keadaan Lexa. Suasana terminal sungguh membuat sesak.
Tak lama, sosok yang mereka tunggu datang. Seorang laki-laki dengan setelan hem kotak-kotak dan celana bahan berwarna hitam. Laki-laki itu celingukan mencari Ratih dan Lexa.
"Angga..." Teriak Ratih.
Ratih melambaikan tangan ke arah Angga. Posisi badannya berdiri, meninggalkan Lexa yang masih terduduk lemas.
Berkali-kali Ratih memanggil Angga dan melambaikan tangan. Keadaan terminal yang ramai membuat suara Ratih tenggelam. Untungnya penglihatan Angga cukup tajam. Angga berhasil menemukan Ratih yang melambaikan tangan.
Mata mereka bertemu di kejauhan. Ada rasa aneh yang muncul di hati keduanya. Angga perlahan mendekati Ratih. Terlihat Angga sedikit gugup, begitupun dengan Ratih.
Mereka berhadapan langsung sekarang. Dua insan yang lama tidak bertemu, kini bersua. Dua hati yang lama menahan rindu, kini bisa melepaskannya. Tapi seperti ada tembok tinggi di antara mereka. Mereka hanya bisa saling tatap dengan mata yang sendu.
"Ratih... Apa kabar?" Tanya Angga sedikit parau.
Ratih mendadak kelu. Dia hanya menganggukkan kepala saja menjawab pertanyaan Angga.
Kemudian Angga langsung sigap.
"Bagaimana Lexa?" Tanya Angga yang langsung menghindari Ratih dan fokus dengan keadaan Lexa.
"Lexa kelelahan sepertinya." Jawab Ratih.
Angga memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan Lexa. Membuka sedikit kelopak mata Lexa. Betapa kagetnya Angga ketika lengannya dicengkeram oleh tangan Lexa.
"Om Angga..." Sapa Lexa lirih dengan posisi masih bersandar di tembok belakang kursi tunggu.
"Lexa..." Jawab Angga.
Lexa membuka matanya lebar, memastikan bahwa benar orang di depannya adalah Angga.
Angga melempar senyum ke arah Lexa. Mengelus rambut Lexa dengan satu tangannya lagi yang tidak dicengkeram Lexa. Lexa pun tersenyum menyambut Angga dan tubuhnya dia hempaskan ke arah Angga. Lexa memeluk Angga dengan hangat, dan Angga membalasnya dengan mengelus punggung Lexa. Ratih terharu dibuatnya, menyeka airmata yang meleleh tanpa permisi di pipinya.
"Anak hebat! Kemana saja kamu? Tega meninggalkan Om Angga sendiri." Tegas Angga.
Elusan tangannya ke rambut Lexa berubah menjadi mengacak-acak rambut Lexa, membuat Lexa tersenyum malu. Tapi tangannya tak lupa menyeka airmata yang ternyata sudah jatuh ke pipinya. Angga semakin memeluknya erat.
"Kurus sekali, anak hebat ini! Belum makan? Apa tantemu tidak memberi makan selama satu tahun?" Gurau Angga.
"Ayo, kita ke Mc*, beli makanan favoritmu!" Ucap Angga yang melepaskan pelukannya dan hendak menggandeng Lexa.
"Ayo!!" Kata Lexa penuh semangat.
Ratih melihat Angga dan Lexa dengan senyum sumringah. Kelakuan mereka tidak pernah berubah, masih sama seperti dulu.