Don't Leave Me

Don't Leave Me
120



RAIHAN ALFARIZI



 


RASTANI MAHALI



 


REYNALDI ADIWIJAYA



 


 


 


Sinar matahari dengan malu-malu mengintip lewat celah tirai kamar Shica. Raihan yang masih tertidur merasa silau.


Perlahan dia membuka matanya dan sejenak mengerjap untuk menyesuaikan pandangannya dengan cahaya diruangan tersebut.


Dia terkejut mendapati Shica memeluk dirinya dan begitupun sebaliknya, dia juga memeluk Shica.


Raihan segera menarik tangannya. Dia tidak mau kalau Reynaldi sampai melihatnya atau Reynaldi akan berpikiran yang bukan-bukan.


Namun tangan Shica masih melingkar di lehernya. Belum lagi wajah mereka begitu dekat.


Raihan menoleh ke sisi lain ranjang. Tidak ada Reynaldi disana.


Mungkin dia sudah berangkat ke kantor pagi-pagi dan meninggalkan mereka berdua.


Perlahan, Raihan menjauhkan tangan Shica darinya. Kemudian dia bangkit dan menyentuh dahi Shica.


"Suhu tubuhnya sudah normal" gumam Raihan.


Dia berlalu, namun tangan itu menyentuh tangannya.


Raihan menoleh, ternyata Shica sudah bangun.


"Kau mau kemana? " tanya Shica pelan.


"Emm.. Aku harus membawakan sarapan untukmu " jawab Raihan gugup.


"Dimana Aldi? " tanya Shica.


"Emm.. Aku tidak tahu, mungkin dia pergi ke kantor.. Aku juga baru bangun" kata Raihan.


"Kau tidak perlu membawa sarapan.. Kau pasti harus pergi ke kantor.. Pergilah.. Tanggung jawabmu adalah dirimu sendiri.. Tidak denganku" kata Shica ambigu bagi Raihan.


"Aku tidak mungkin meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini " kata Raihan.


Shica tersenyum mendengar ucapan Raihan. Terselip kecemasan dalam kalimat yang diungkapkannya.


"Jangan khawatir, ada pelayan.. Sebelum kau pergi, temui Zack ya" kata Shica.


"Emm.. Baiklah jika kau tidak apa-apa.. Aku akan bilang pada Zack agar mengantarkan sarapan untukmu " kata Raihan.


Shica tersenyum. "Terimakasih " kata Shica.


Raihan tersenyum. "Kau tidak apa-apa sendiri? " tanya Raihan.


"Iya.. Aku bukan anak kecil " gerutu Shica.


"Baiklah, sampai jumpa " kata Raihan. Shica mengangguk.


Raihan pun berlalu pergi meninggalkan Shica. Shica terlihat sedih.


Sementara itu, Raihan langsung pulang ke mansionnya dan bersiap untuk pergi ke kantor.


Sesampainya di kantor, Raihan duduk di kursi kebesarannya dan melamun. Dia memikirkan keadaan Shica yang mungkin kesepian sendiri di mansion.


Tiba-tiba pintu ruangannya di ketuk. Raihan terhenyak kaget dan lamunannya pun buyar. Dia menoleh kearah pintu.


"Masuk" kata Raihan sambil membenarkan dasinya.


Pintu terbuka dan masuklah Reynaldi. Raihan terkejut.


"Emm.. Siang.. Tumben kau kemari" kata Raihan.


"Aku ingin bicara serius denganmu " kata Reynaldi.


"Emm.. Sekarang? " tanya Raihan.


"Iya" jawab Reynaldi.


Raihan melihat jam tangannya. "Baiklah.. " kata Raihan ragu.


"Kita bicarakan di tempat lain" kata Reynaldi.


"Kenapa tidak disini? " tanya Raihan.


"Ya.. Karena ini privasi" kata Reynaldi menjawab pertanyaan Raihan.


Mereka berdua pun pergi ke restoran yang dekat dengan kantor Raihan.


Mereka memesan minuman dingin. "Hmm.. Langsung saja.. " gumam Reynaldi.


"Iya.. Katakan " kata Raihan yang sudah lewat penasaran.


"Aku akan bercerai dengan Rastani" kata Reynaldi.


"Apa? Tapi.. " Raihan tidak melanjutkan kata-katanya. Dia melihat ekspresi sedih yang terpancar dari wajah Reynaldi.


".. Tapi kenapa? Bukankah Shica sudah bahagia denganmu? " gerutu Raihan.


"Aku mau kau yang menikah dengan dia.. Aku yakin kau bisa lebih mencintai dia dan lebih melindungi dia" kata Reynaldi.


"Tapi kenapa? Kau tidak biasanya seperti ini.. Seolah kau bukan dirimu yang biasa aku kenal " kata Raihan.


"Aku telah menyakiti Rastani " jawab Reynaldi.


Raihan mengerutkan keningnya. "Menyakiti dia? Apa yang kau lakukan padanya? " tanya Raihan.


"Aku telah merenggut kehormatannya secara paksa dan kasar.. " gumam Reynaldi pelan.


Raihan terbelalak. Seketika dia menarik bagian depan jas Reynaldi. Rahangnya mengeras.


"Apa? Beraninya kau melakukan kejahatan itu.. Kenapa kau memaksanya.. Kau bisa melakukannya secara baik-baik kan? " geram Raihan.


Semua mata pengunjung restoran tertuju pada mereka. Mereka segera kembali ke posisi semula.


"Kenapa.. Kenapa kau sekejam itu, aku sudah percaya padamu.. Percaya kalau kau adalah pendamping hidup terbaik untuk Shica.. Namun kau tetaplah kau.. Yang kejam pada wanita.. Setidaknya perlakukan istrimu dengan rasa hormat.. Bukan malah menyakiti fisik dan batinnya " geram Raihan dengan muka yang sudah merah padam menandakan bahwa dia sedang marah.


"Aku tahu.. Malam itu aku sedang sangat marah dan kecewa.. " gerutu Reynaldi.


".. Itu karena aku melihat fotomu berciuman dengan istriku!!! " batin Reynaldi.


"Semarah apapun dirimu, tidak ada alasan untuk kasar pada istrimu, memangnya apa yang membuatmu semarah itu dan melampiaskan kemarahanmu lewat napsu bejatmu" gerutu Raihan.


"Aku melihat fotomu dan istriku sedang berciuman.. " jawab Reynaldi tanpa beban.


Raihan terbelalak. "Percayalah.. Itu terjadi sudah sangat lama.. " kata Raihan.


"Iya.. Aku tahu.. Dan aku sangat menyesal.. Dan makanya aku mau kau menikah dengan Rastani.. Dan aku mohon.. Bahagiakan dia" kata Reynaldi.


"Dia tidak mungkin menerima perceraian yang akan kau ajukan.. Dia pasti akan bertanya" kata Raihan.


"Maka aku akan menjawabnya.. Aku sendiri yang akan bilang padanya.. Temani aku Raihan.. Setelah aku menggugat cerai dirinya, segeralah bawa dia dan nikahi dia" kata Reynaldi.


Raihan terlihat bingung. Disisi lain ada rasa senang jika Shica bisa menjadi miliknya, tapi disisi lain, dia juga akan merasa tidak enak pada Reynaldi.


"Sore ini, datang ke mansion " kata Reynaldi kemudian beranjak dari duduknya.


 


 


Terimakasih sudah membaca cerita aku. jangan lupa follow ig aku @ucu_irna_marhamah dan boleh juga chat aku 085351921224 insya allah aku balas asalkan chatnya baik ya.


by


Ucu Irna Marhamah