
"Kau tahu seberapa berat perjuanganku untuk mendapatkan dirimu, tapi kau tetap berada pada perasaanmu yang lama."
_Reynaldi Adiwijaya_
•••Reynaldi Alexander Adiwijaya•••
Demi Tuhan!
Aku benci mendengar Shica menagis lagi-lagi karena Raihan. Aku juga tidak mengerti dengan jalan pikiran kedua orang tuanya yang sepertinya otoriter. Mereka terkesan mengekang kebebasan Shica.
Yang membuatku bingung, adalah apa yang mereka bahas tentang Raihan.
Nasi goreng?
Apa benar pengusaha seperti Raihan itu seorang pedagang nasi goreng?
Tidak masuk akal..
Sepertinya ada yang aku lewatkan.
Jika mereka pernah tidak menyukai hubungan Raihan dengan Shica, apa mereka juga tidak menyukai hubunganku dengan Shica? Karena tadi tampaknya Nyonya Mahali juga tidak menyukaiku. Terserah saja, aku akan tetap menikahi putri mereka.
Aku memilih menaki tangga memasuki kamar yang di tunjukan pelayan mansion ini.
Kamarku ada di lantai dua. Terlalu berlebihan jika tamu tidur di lantai dua menurutku.
Aku melewati kamar yang ada hiasan yang menggantung di pintu tersebut.
Aku melihat ada nama Rastani yang tertera di hiasan itu.
Aku penasaran ingin melihat kamarnya dan ingin tahu seperti apa dia ketika di Indonesia.
Aku memasuki kamar dan kulihat kamarnya sangat rapi dengan dominan warna biru tua. Kulihat banyak buku di rak dan banyak sekali skesta yang pasti buatan dia.
Aku melihat ada ban lengan di nakas. Ban lengan berwarna biru tua. Ada huruf C besar di ban tersebut.
"Captain " aku bergumam. Ini pasti milik Raihan. Menurut orang-orangku, Raihan memang seorang atlet voli yang juga kaptennya.
Aku melihat buku berwarna merah muda yang mencolok. Aku mengambilnya. Ternyata buku diary.
Aku membuka lembar demi lembar diary itu. Semua isinya sangat menyedihkan. Curahan hati Shica tidak ada yang menyenangkan.
Masa kecil dan masa remajanya tidak ada yang menarik. Semuanya tentang kesedihan. Termasuk hari pertama bertemu dengan laki-laki yang bernama Raihan. Aku yakin ini Raihan yang sama.
Dan aku terkejut mengetahui Raihan pernah berjualan nasi goreng. Aku baru tahu.
Dari awal pertemuan, Shica sepertinya sangat membenci Raihan. Namun kebencian Shica semakin berkurang. Apalagi setelah mereka masuk SMA.
Bahkan semakin lama.. Aku membaca ada kata Cinta..
Shica mencintai Raihan..
Aku tidak mengira.. Perjalanan Cinta mereka begitu rumit. Namun siapa peduli!
Shica milikku..
Akan tetap menjadi milikku!
Aku sangat geram dan murka mengetahui bahwa Raihan adalah laki-laki yang merenggut ciuman pertama Shica.
Berani sekali dia.
Aku mendengar langkah kaki menuju ruangan ini. Aku segera menghampiri pintu. Namun pintu di buka dari luar. Aku segera bersembunyi di balik pintu.
Ternyata Shica yang memasuki kamar. Dia membanting tubuhnya ke ranjang dan menggerutu tidak jelas.
Perlahan aku bergerak menutup pintu dan menguncinya. Aku berusaha untuk pelan agar Shica tidak menyadari keberadaanku.
Aku pun menghampirinya setelah pintu terkunci. Kulihat Shica memukul bantal. Rok pendeknya agak menyingkap memperlihatkan betisnya yang mulus.
Astaga..
Rasanya sesak sekali.. Entah berapa bulan aku tidak melakukan pelepasan.
Aku tidak tahan lagi..
Kali ini Shica harus merelakan dirinya untukku malam ini.
Aku menyentuh betisnya. Shica terhenyak kaget dan segera beringsut menjauh dariku.
Sungguh, ekspresinya membuatku semakin menginginkannya.
Aku mendekatinya.
"Aldi.. Kkau.. "
Aku menarik dagunya dan melahap bibirnya. Aku bosan mendengar ocehannya. Kali ini aku mau menyumpalnya.
Shica memejamkan matanya dengan rapat. Aku menindih tubuhnya. Dia meronta sambil mendorong dadaku.
Aku melepaskan ciumanku. Sejenak kami saling menatap. Shica terlihat begitu menggoda saat berada di bawahku.
Seandainya tanpa pakaian yang melekat pada tubuh indahnya..
"Aldi.. Aldi.. Aku mohon.. Jangan seperti ini " kata Shica dengan suara bergetar.
Aku menyeringai. Kulihat ekspresinya semakin panik.
"Shica.. Aku mohon.. Berikan dirimu.. Aku tidak bisa menahan diriku lagi.. Aku menginginkan dirimu.. Aku laki-laki.. Membutuhkan pelepasan.. Jika tidak, aku menderita.. Apa kau tega melihatku menderita? " kataku berbisik di telinganya.
"Aldi.. Aku mohon.. Aldi menyingkir dari tubuhku" teriak Shica.
"Ssuuttssss" aku meletakkan telunjukku di bibirnya.
"Nanti orang tuamu mendengar teriakanmu" kataku berbisik lagi.
"Aku tidak peduli! " Shica mendorongku. Namun aku tidak mau kalah. Aku mencumbu lehernya.
Dia meronta bahkan semakin kuat. Aku sangat kesal dan membuat tanda-tanda kepemilikanku di lehernya. Aku pikir, Shica akan terangsang. Namun dia mendorongku dengan kuat. Aku tidak terima jika terus menerus ditolak seperti ini. Aku menggigit lehernya. Shica berteriak kencang. Dia meremas dan menjambak rambutku.
Aku melepaskannya. Dia meringis sambil beringsut menjauh. Namun dia tersungkur jatuh ke lantai. Dia beringsut ke sudut kamar sambil menangis ketakutan. Aku bangkit dan menyentuh rambutku yang sedikit acak-acakan karena ulahnya. Aku menghampirinya. Dia gemetar sambil terus berusaha menjauhi dariku.
"Rastani.. Maaf.. Maafkan aku.. Aku tahu kamu belum siap.. Maaf" kataku sambil akan menyentuhnya.
Tapi dia berteriak ketakutan. "Jangan!! Jangan sentuh aku!! " teriaknya.
Aku sangat menyesal..
Padahal aku masih merasa sesak.
"Rastani" aku memeluknya. Dia berontak dalam pelukanku. Namun aku tidak peduli meski di memukuliku.
Namun rontaannya semakin lama semakin pelan. Dia masih menangis dengan tubuh gemetar.
"Maaf" kataku lirih.
Shica meringis sambil menyentuh lehernya.
Aku melihat darah membasahi pakaian putihnya.
Astaga!
Apa itu karena bekas gigitanku?
Apa aku sekasar itu?
Aku menyentuh luka yang cukup besar itu. Shica meringis kesakitan.
"Maaf.. Aku telah menyakitimu" kataku pelan. Aku merangkulnya. Shica masih menangis dalam diam.
Namun lama-lama, tubuhnya tenang dan napasnya mulai teratur.
Sepertinya Shica sudah tertidur. Aku mengangkat tubuhnya ke ranjang.
Aku mengambil beberapa lembar tissu dan mengelap darah di lehernya.
Aku tidak bermaksud menyakitinya. Tapi aku kesal jika ada wanita yang menolakku.
Melihat ketenangan Shica dalam tidurnya, membuatku semakin sulit mengendalikan napsuku. Aku ingin menyentuhnya. Aku ingin dia malam ini.
Aku menyentuh pahanya. Sungguh menggoda. Aku yakin tubuhnya belum di jamah siapapun. Aku mau jadi yang pertama.
Jika Raihan mendapatkan bibirnya, aku yang harus mendapatkan tubuhnya.
Aku menyelimuti tubuh Shica sebelum setan lewat dan membuatku buta.
By
Ucu Irna Marhamah