Don't Leave Me

Don't Leave Me
102








ESMERALDA berlayar membelah lautan biru yang begitu luas. Beberapa lumba-lumba bergerak meliuk-liukan tubuh mereka di permukaan air.



Teriakan camar dan burung penguasa samudra bersahutan diatas langit.



Didalam kapal, semua orang tampak sibuk dengan kesenangan masing-masing.



Ada yang berbincang-bincang bersama, berkenalan, bertegur sapa dan berjalan-jalan menyusuri isi kapal.



Ada juga para petugas kapal sedang membersihkan kapal, beraktivitas sesuai tugas masing-masing.



Sementara itu, Reynaldi sedang berbicara dengan beberapa rekan kerjanya.



Dan Shica?



Dia sedang menyisir rambutnya sambil duduk didepan cermin. Shica melirik nakasnya lewat pantulan cermin. Terdapat buku novel semalam.



Dia berbalik dan bangkit dari duduknya kemudian mengambil buku berjudul



Raihan & Shica



Dia menatap covernya.



Seorang siswi SMA yang dipeluk oleh siswa SMA dari belakang. Mereka saling menatap penuh Cinta.



Shica memutar bola matanya kemudian dia membuka lembar demi lembar.



Isinya menggambarkan kisah SMA Shica dan Raihan dulu. Kedua alis Shica terangkat sedih setelah membaca kata demi kata yang terungkap di buku itu.



Sama sekali tidak ada rekayasa. Semuanya nyata.



Nyata sesuai dengan apa yang terjadi pada mereka berdua.



Shica jadi mengingat masa lalunya lagi. Novel itu membangkitkan rasa rindu yang selama ini Shica pendam.



Rindu pada masa itu..



Rindu pada kisah itu..



Rindu pada Raihan..



Hari terus belalu..



Kapal pesiar mewah itu terus menyusuri laut dan tiba saatnya kapal besar itu melewati selat Inggris.



Shica masih belum menyelesaikan novelnya.



"Rastani"



Shica terhenyak dan menoleh kearah Reynaldi yang berdiri didepannya.



"Sebentar lagi kita akan sampai di pelabuhan Inggris" kata Reynaldi.



Shica mengangguk.



Reynaldi melirik novel yang dibaca oleh Shica. Kemudian dia berbalik untuk pergi keluar dari kamar mereka.



Setelah Shica mendapatkan novel itu, dia sering menghabiskan waktu dikamar.



Shica membuka lembaran selanjutnya yang merupakan halaman terakhir.



Dia mengerutkan keningnya. Tertulis disana..



          Raihan kembali dari Singapura. Dia menemui Shica di London. Dia begitu merindukan Shica. Kini mereka saling berhadapan dan saling menatap satu sama lain. Raihan merasakan detak jantungnya berpacu dengan cepat setiap melihat paras cantik yang dirindukannya. Langkah gontai itu membawanya kepada Shica.


             Raihan memeluk Shica. Dia melepaskan kerinduannya. Shica juga membalas pelukannya. Menara jam terbesar di dunia itu menyaksikan pertemuan mereka.


             Akhirnya mereka hidup bersama selamanya.. Bahagia..



Ini bukan tentang seperti apa pengorbanan..



Bukan tentang seperti apa Cinta pertama..



Bukan tentang apa dan siapa yang mengalami jatuh Cinta..



Namun..



Ini tentang takdir Tuhan..



Takdir yang menentukan jodoh seseorang itu sendiri..



Karena seperti apapun kita berjuang, jika Tuhan tidak menghendaki, maka mereka tidak akan berjodoh..



By



Raihan Alfarizi



Kedua alis Shica terangkat. Dia tidak mengira Raihan akan mengakhiri novelnya dalam happy ending. Sementara kisah mereka sebenarnya belum selesai.



Raihan telah mengakhiri kisahnya melalui novel itu.



Shica melirik novel yang satunya lagi.



Kita Bahagia Selamanya



Shica melihat nama Raihan & Shica tertera dibawah judul besar tersebut.



Jadi buku itu adalah sequel dari buku pertama yang berjudul Raihan & Shica



Shica membuka lembaran pertama. Di novel itu terdapat banyak sekali kata-kata mutiara.



Shica tersenyum. Dia pernah berpikir menerbitkan sebuah novel karyanya.




Shica menutup novel itu dan menyimpannya ke nakas. Dia merasa bosan sudah beberapa minggu berada di kapal pesiar mewah itu.



Hari-hari pertama, dia merasa senang berada di kapal itu. Setelah hari berlalu dan berganti, dia merasa bosan karena setiap hari yang dia lihat adalah air laut dan suara deru ombak.



Reynaldi juga belakangan ini lebih sering berbicara dengan teman-temannya daripada menghabiskan waktu dengan dirinya.



Shica keluar mencari Reynaldi. Dia melihat Reynaldi sedang berbicara dengan beberapa temannya.



Shica menghampiri mereka. "Emm.. Reynaldi"



Reynaldi menoleh. "Rastani.. Perkenalkan.. Ini rekan-rekan kerjaku yang kebetulan bertemu disini " kata Reynaldi.



Shica dan rekan-rekan Reynaldi pun berkenalan sambil menjabat tangan.



"Aldi, kita perlu bicara " bisik Shica.



"Baiklah, emm permisi.. Aku harus bicara dulu dengan istriku " kata Reynaldi sambil berlalu bersama Shica.



Mereka memasuki kamar.



"Ada apa sayang? " tanya Reynaldi.



"Kapan kita akan sampai? " tanya Shica.



"Malam ini kita akan berhenti di pos Selat Inggris.. Orang-orangku sudah disana menunggu kita" kata Reynaldi.



"Emm.. Aku merasa bosan disini.. Aku mau merasakan daratan" kata Shica.



Reynaldi tersenyum. "Bosan? Bagaimana kalau kita melakukan sesuatu yang tidak membosankan? " tanya Reynaldi.



Shica mengerutkan keningnya. "Melakukan apa? "



Reynaldi mendekat dan menarik pinggang Shica agar merapat padanya. Shica menahan dada Reynaldi.



Reynaldi mendekatkan wajahnya dan mengecup lembut bibir Shica. Shica membalas ciumannya dan memeluk tengkuk Reynaldi.



Reynaldi melepaskan ciumannya dan menatap Shica.



"Apa kita akan melakukannya sekarang? " tanya Reynaldi.



Kedua pipi Shica memerah.



"Bagaimana menurutmu? Apa kau sudah siap? " tanya Aldi lagi sambil melelapkan wajahnya di ceruk leher Shica.



Menghirup aroma tubuh istrinya dan memberikan tanda kepemilikan disana.



Shica merasa geli. Dia meremas jas yang dikenakan Reynaldi.



Reynaldi menatap Shica. "Jika kau mau bermain denganku, maka kita akan bermain sampai pagi.. Tidak ada waktu untuk beristirahat " kata Reynaldi.



Shica menyentuh pipi Reynaldi. "Kau begitu buas" kata Shica.



Reynaldi tersenyum. "Jadi, bagaimana? " tanya Reynaldi.



ESMERALDA  berhenti dengan tiba-tiba. Shica dan Reynaldi terkejut.



"Pemilik karcis no E88342WT di persilahkan untuk menepi di pos darurat Selat Inggris " suara pengumuman itu membuat Shica dan Reynaldi saling padang.



"Kita sudah sampai? Ye!! " Shica segera berlari keluar dan menginjakkan kakinya di tanah berumput hijau itu.



"Akhirnya aku menemukan daratan" gumam Shica.



Di belakangnya Reynaldi berjalan gontai dengan kedua tangan membawa sepasang sepatunya dan high heels milik Shica.



"Itu pos nya" kata Reynaldi. Shica mendongkak melihat ada pos yang cukup besar di perbukitan dekat selat.



Beberapa pria berjas menghampiri Reynaldi. Dia berbicara sesaat kemudian memasuki kapal dan membawa beberapa barang milik Tuan dan Nyonya mereka.



Kapal pesiar mewah itu pun kembali berlayar meninggalkan mereka.



Shica melambaikan tangannya. "Terimakasih "



"Pakai sepatumu" bisik Reynaldi sambil memberikan sepatu milik Shica.



Shica pun memakainya. "Terimakasih, sayang " kata Shica sambil mengecup pipi Reynaldi kemudian berlari ke pos.



Kedua pipi Reynaldi merona. Dia tersenyum kemudian menyusul istrinya.



"Gadis nakal" gumam Reynaldi.



Shica duduk di bangku pos. Dia merasakan dinginnya malam menusuk tulang.



Reynaldi sampai dan duduk di samping Shica.



"Hmm.. Dingin sekali bukan? " tanya Reynaldi.



"Iya" jawab Shica.



Reynaldi membuka jasnya kemudian memakaikan jasnya ke tubuh Shica.



"Terimakasih " kata Shica.



"Ayo kita masuk mobil. Kita tidak mungkin berdiam disini seperti rakyat jelata " kata Reynaldi kemudian bangkit dari duduknya dan memasuki mobil.



Shica menyusulnya.



By



Ucu Irna Marhamah