Don't Leave Me

Don't Leave Me
Semangat Lexa



Lexa duduk diam di ruangannya. Menatap jelas ke arah luar jendela, berhias taman dengan air mancur disana. Suara gemericik yang ditimbulkan membuat hatinya tenang. Walau duduk sendiri di ruangan serba putih dan berseragam putih juga.


Hari ini dia telah menjalani serangkaian pemeriksaan dengan dokter Heryawan. Dibantu seorang perawat yang selalu menemaninya di ruangan khusus. Ratih dan Angga selalu berjaga di luar ruangan menanti Lexa keluar dan menyambutnya dengan senyum semangat.


Ratih sedang membeli makanan untuk dirinya. Dia juga bercerita kepada Lexa akan membelikan cemilan untuk dia makan. Alhasil, Lexa sekarang sendiri di ruangannya. Angga izin pulang, mengambil beberapa pakaian untuk dirinya yang menyatakan akan tinggal di rumah sakit, di ruang dokter jaga.


Lexa menatap mantap ke luar ruangan dari balik jendela besar. Entah apa yang dia rasakan. Dia terlihat tenang. Gemericik air dari luar sungguh terdengar syahdu, merasuk ke seluruh tubuh Lexa yang kurus.


Tak lama, Ratih datang. Menenteng sebuah kantong plastik berukuran sedang. Menyapa Lexa yang langsung mengalihkan perhatiannya untuk Ratih. Bersama saling berbalas senyum.


"Tante bawakan kamu jus dan buah segar. Kamu mau yang mana?" Kata Ratih sambil membuka isi kantong yang dia bawa.


Mengeluarkan jus berwarna kuning, merah, dan hijau. Sementara buah yang ditunjukkan berwarna merah. Buah Apel. Terlihat segar dan enak untuk disantap.


Ratih menaruh semua yang dia bawa di meja tamu, termasuk makanan yang dia beli untuk dimakan. Lexa mendapat kamar VIP. Atas bantuan Angga pastinya. Dia memakai kartu khusus untuk kenyamanan Lexa. Walaupun Ratih tidak berkenan sama sekali, tapi Angga tidak peduli. Dia akan membuat orang yang dia sayangi merasa nyaman berada disini, dekat dengannya.


Lexa menghampiri Ratih. Melihat antusias segala yang Ratih bawa. Dan mengambil salah satu jus yang Raih tawarkan. Lexa memilih jus mangga sebagai pembuka. Dia menyedot jus tersebut pelan. Merasakan sensasi mangga di mulutnya. Lexa terlihat menikmati hidangannya itu. Ratih melihatnya dengan senyum senang, dia tahu betul kalau Lexa sangat menyukai buah kuning dengan kulit hijau itu.


Sore itu mereka habiskan untuk menyantap makanan dan minuman yang ada di depan mereka. Sambil mengobrol kesana-kemari bercerita tentang hal-hal menarik yang pernah mereka lalui. Tentu saja dengan senyum yang tak lepas dari keduanya.


****


Malam sudah mulai datang, menyapa Lexa yang kini terbaring di ranjang menatap jendela yang sama seperti yang dia lihat sore tadi. Pemandangan air mancur dan gemericik airnya sungguh membuatnya candu. Kebetulan ranjang di ruangannya berada di posisi yang tepat. Sehingga Lexa bisa menatapnya dari ranjang dengan posisi tubuh miring ke arah kiri.


Suasana di luar ruangan Lexa sepi, mungkin karena ruangan VIP jadi Lexa seperti mendapatkan privasi di tempat itu. Lagi pula, dia berada di lantai atas. Jadi suara bising kendaraan atau hal-hal yang biasa di dengar di kota terdengar samar dari ruangannya.


Ratih baru saja keluar dari kamar mandi, memperhatikan Lexa yang tampak tenang di ranjang membuatnya sedikit lega. Apalagi dia menyantap habis hidangan makan malam yang di sajikan dari Rumah Sakit ini. Dan yang membuatnya lebih lega adalah Lexa mau meminum setiap obatnya dengan baik. Tak terlewat satu butir pun.


Ratih melihat ada hasrat kehidupan di dalam diri Lexa. Dia tahu betul perubahan yang ditunjukkan oleh keponakannya itu. Dulu Lexa selalu menyendiri di dalam kamar. Menikmati kegelapan dan kesunyian sendiri, tak izinkan dia untuk menemani. Tugasnya hanya seperti membuat Lexa makan dan menemani Lexa makan. Sedih rasanya saat Ratih mengingat masa-masa itu.


Kini, Lexa sungguh berbeda. Sejak memulai kehidupannya di tempat yang jauh dari kenangan kota, Lexa menemukan dirinya yang dia sembunyikan. Perlahan tapi pasti, Lexa membuka diri untuknya. Mulai berbicara banyak kepadanya, mulai bisa bergaul dengan orang lain, dan banyak hal kecil lain yang membuat Ratih merasakan kebahagian lagi.


Walaupun ada beberapa hal yang masih membuat Lexa menutup diri, tapi Ratih berusaha memahami perasaan Lexa dengan kondisinya yang tak lagi sama. Menjaga perasaan Lexa adalah hal yang paling utama.


Ratih teringat sosok Erick. Betapa beruntungnya Lexa memiliki teman seperti Erick. Dia bahkan berucap janji kepadanya akan menjaga Lexa. Ratih tersenyum mengingatnya, tapi kemudian kembali menarik senyum. Erick belum tahu soal Lexa yang sakit. Apa Erick masih bisa bersikap sama ketika dia tahu kalau Lexa sakit? Mendadak raut muka Ratih menjadi masam.


Ratih juga teringat ucapan Lexa saat terakhir kali di kamar Lexa. Dia membicarakan soal Rachel, teman sekolah Lexa di kota. Ekspresi Ratih menjadi gelisah.


'Tuhan.... Kenapa ada hal-hal yang tak terduga datang ketika semuanya akan baik-baik saja?!'


Keluh Ratih dalam diam.


Ratih memejamkan matanya, berharap ada keajaiban yang datang di tengah badai yang sudah siap menerjang. Hati mereka masih terluka, belum sempat sembuh. Tapi di depan mata, badai kelam menunggu. Menunggu waktu untuk meluluh lantahkan perasaan mereka. Membayangkan hal itu, membuat wajah Ratih menjadi pasrah.


****


...I'm standing on a bridge...


...I'm waitin' in the dark...


...I thought that you'd be here by now...


...There's nothing but the rain...


...No footsteps on the ground...


...I'm listening but there's no sound...


...Isn't anyone tryin' to find me?...


...Won't somebody come take me home?...


...It's a damn cold night...


...Trying to figure out this life...


...Take me somewhere new...


...I don't know who you are...


...But I, I'm with you...


...I'm with you...


Lirik lagu itu mendengung di telinga Lexa yang duduk bersandar di ranjang. Masih mengamati pemandangan yang sama. Walaupun gemericik airnya tak terdengar, tapi lirik lagu yang dia dengar cukup untuk menenangkan suasana hatinya pagi ini.


Ratih sedang membersihkan diri di kamar mandi setelah bersantap pagi bersama Lexa dan Angga yang membawakan sarapan spesial untuk Ratih. Sementara Lexa cukup puas dan kenyang menyantap hidangan yang disiapkan Rumah Sakit untuknya. Angga kini sudah berpamitan, hendak bertugas setelah memastikan Lexa meminum obatnya dengan baik..


Lexa masih menikmati aktifitasnya di ranjang, ditemani MP3 player yang setia dalam dekapannya. Sampai tak sadar jika Ratih sudah duduk di sampingnya sambil mengelus rambut Lexa yang hitam.


Lexa tersenyum menyapa Ratih yang nampak segar, dan dibalas senyum juga oleh sang tante yang memberi isyarat kepada Lexa untuk segera membersihkan diri juga. Walaupun tak bisa mendengar ucapan Ratih karena earphone yang melekat di telinga, tapi dia paham kalau Ratih memang menyuruhnya untuk segera bangun dan mandi. Lexa pun mengangguk pertanda setuju.


****


Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan. Dokter Heryawan akan segera visit. Ratih bersiap menyambutnya, begitu juga dengan Lexa yang duduk tampak tenang di ranjang, masih dengan earphone yang dia pasang di telinga. Ratih tak berani mengganggu aktifitasnya, dia hanya duduk menunggu di sofa yang tersedia di sana sambil membaca sebuah koran yang dibawa Angga.


Tak lama suara pintu kamar di ketuk dari arah luar. Ratih dengan sigap membukakan pintu untuk orang yang sepertinya hendak meminta izin untuk masuk ke ruangannya. Ratih meyakini kalau orang itu adalah dokter Heryawan.


Benar sekali. Dokter yang dinanti datang dengan dua perawat yang selalu mengikuti langkahnya. Mengucap salam kepada Ratih dengan ramah, kemudian mulai masuk menemui Lexa yang sudah siap menyambut kedatangan sang dokter dengan melepas earphone terlebih dahulu.


"Selamat Pagi, Lexa..." Sapa sang dokter hangat.


"Bagaimana tidurnya? Nyenyak?" Basa-basi sang dokter dijawab anggukkan kepala saja oleh Lexa.


"Sudah sarapan?" Tanya Dokter lagi.


"Sudah, dok." Jawab Lexa santai.


Dokter memulai pemeriksaan dasar. Mengecek denyut nadi, pupil, detak jantung dan sebagainya. Kemudian mengecek catatan yang dibawa salah satu perawat yang ikut bersamanya. Mereka berbincang serius, sepertinya memberikan sebuah resep obat untuk diberikan kepada Lexa. Lexa hanya diam sambil memainkan bibirnya, sepertinya Lexa gelisah. Sementara Ratih menatapnya dengan penuh perasaan.


"Baiklah. Semuanya bagus. Lexa terlihat sehat dan semangat rupanya." Kagum sang dokter dengan senyum terkembang penuh.


Lexa membalas sebisanya, dia tidak bisa menutupi kegelisahannya.


"Istirahat yang cukup, minum obat jangan sampai lupa ya!" Tegas dokter sambil menyapu rambut Lexa.


"Bu Ratih, saya permisi dulu. Nanti saya akan kabarkan hasil tes yang kemarin Lexa jalani di ruangan saya." Ucap dokter.


"Sus, nanti tolong Bu Ratih dikabari kalau saya sudah di ruangan." Imbuh sang dokter memerintah salah seorang perawat yang ikut dengannya.


Mereka bertiga pamit lanjut berkeliling ke ruangan lain untuk melakukan kunjungan pagi. Ratih mengantar mereka sampai ke pintu.


Lexa terlihat lega. Menghela napas panjang dan kembali merebahkan diri di ranjang. Ratih menghampiri Lexa dengan senyum geli melihat ekspresi Lexa yang terlihat masih tegang.


"Kenapa kelihatan takut gitu?" Tanya Ratih dengan ekspresi meledek.


Lexa kembali menghela napasnya, berusaha memberikan senyum yang dipaksakan. Ratih terkekeh melihat tingkah lucu Lexa.


Lexa masih belum bisa menyembunyikan rasa tegang, gelisah, takut yang bercampur dari mukanya. Ratih berusaha menghibur dengan membiarkan Lexa kembali menikmati lagu yang tadi sempat dia dengar lewat pemutar lagunya.


"Nih, dengerin lagu lagi! Biar gak takut lagi. Apa mau tante panggil lagi dokternya biar sama-sama dengerin lagu disini?" Gurau Ratih.


"Tante....." Rengek Lexa manja.


Ratih malah tertawa melihat raut wajah Lexa yang kembali memucat.


"Gak.. Tante bercanda. Sudah, lanjutkan lagi! Ini, pasang di telinga!" Perintah Ratih yang masih terkekeh.