Don't Leave Me

Don't Leave Me
Harus Bangkit



Hujan gerimis masih membersamai mereka di acara pemakaman Lexa siang ini. Langit seolah ikut menangisi kepergian Lexa hari ini.


Gundukan tanah merah sudah sempurna menutupi peti milik Lexa. Pak RT sibuk membacakan doa untuk Lexa. Erick sudah sedikit tenang, dia terlihat duduk di bawah pohon besar yang rindang tak jauh dari tempat Lexa.


Mata Erick belum bisa berbohong, dia sedang tidak baik-baik saja. Luka karena kehilangan sungguh membuatnya pilu.


Setelah mengucapkan kata 'amin', Pak RT dan beberapa asisten serta orang suruhannya pamit undur dari dari acara Ratih dan keluarganya. Mereka bersalam-salaman sambil mengucapkan kata terimakasih.


Pak RT hanya melirik Erick dari tempatnya berdiri, tak kuasa sepertinya Pak RT mengganggu Erick. Dia yakin, dia tidak bisa berbuat banyak atas duka Erick kehilangan Lexa. Dan Pak RT pun memilih berlalu.


Ratih menaburkan bunga warna-warni di atas gundukan tanah Lexa didampingi Martha dan Angga. Mereka terlihat khusyuk menghiasi tanah Lexa, kemudian menciptakan suasana hening sambil memanjatkan doa untu Lexa.


Ratih sudah mulai terlihat tabah, buktinya dia memandang tempat yang sekarang Lexa tinggali dengan sunggingan senyum manis miliknya. Ratih sepertinya tahu, bahwa tempat Lexa sekarang adalah yang terbaik. Lexa tidak akan pernah merasa sakit lagi. Tak ada orang yang mencibirnya lagi, Lexa pasti bahagia. Ratih meyakinkan diri.


Ratih mengelus papan nisan bertuliskan nama Lexa dengan lembut, masih dengan senyum yang mengembang di wajahnya.


"Lexa.... Sudah tenang ya, Lexa punya tempat baru. Lexa pasti bahagia bisa bertemu Ibu disana kan?" Ucap Ratih masih tersenyum, tapi linangan airmata jatuh membasahi pipinya.


"Lexa.... Sudah tidak sakit lagi sekarang. Lexa bisa main sepuasnya disana, di tempat yang paling indah pastinya." Imbuh Ratih sambil mengecup papan nisan milik Lexa.


Angga dan Martha hanya melihat Ratih dengan senyum yang pahit. Tapi dalam batin mereka, mereka mempercayai ucapan Ratih. Karena mereka juga menjadi saksi betapa baiknya Lexa di dunia, dia pasti mendapatkan tempat yang terbaik di sisi-Nya.


Erick masih melihat lurus ke depan dengan tatapan kosong. Tubuhnya benar-benar terlihat lesu tak bergairah. Sebuah kehilangan yang teramat dalam dia rasakan, pasti membutuhkan waktu untuk bisa bangkit kembali menjalani kebiasaan sehari-hari. Tentunya dengan kondisi dan keadaan yang tak lagi sama.


Ratih, Martha dan Angga sudah bangkit dari tempatnya. Mereka sudah pamit undur diri kepada Lexa, dengan mengecup papan nisan milik Lexa. Sementara Erick masih nyaman di tempatnya, masih juga dengan tatapan kosong ke depan.


Mereka bertiga berjalan perlahan mendekati Erick, dipimpin Ratih yang mengambil langkah di depan. Mengambil posisi duduk agar sejajar dengan Erick yang kini tepat berada di hadapan mata dan tubuhnya.


Perlahan Ratih mengelus rambut Erick penuh kelembutan. Tersenyum manis melihat Erick yang di matanya seperti anak yang sedang merajuk.


"Erick...." Sapa Ratih lembut.


Erick masih terdiam dalam lamunannya sendiri.


Tapi matanya tidak bisa diam, mendengar Ratih menyapanya membuat dia menjatuhkan airmata untuk kesekian kalinya. Bedanya kini emosinya lebih terkontrol, tidak seperti saat Lexa hendak di kebumikan.


"Ayo, pulang..." Pinta Ratih halus.


"Tante sudah lelah. Tante ingin istirahat." Rayu Ratih.


Benar saja. Ucapan Ratih membuat Erick melirik ke arahnya. Ratih memang sosok yang tidak biasa untuk Erick, apalagi untuk Lexa. Ratih selalu bisa mengambil hati orang lain dengan ucapan dan kelembutannya.


Memandang Ratih yang benar-benar terlihat lelah dengan matanya yang sembab, membuat Erick menjadi tersentuh. Erick dengan pasti menganggukkan kepalanya pertanda setuju dengan ajakan Ratih untuk pergi dari tempat pemakaman dan kembali menuju rumah.


Belum jauh langkah mereka, Erick berhenti. Dia melirik makam Lexa penuh arti.


"Erick..." Sapa Ratih lagi.


Erick tak melepas pandangan dari makam Lexa.


"Erick boleh jenguk Lexa lain kali, saat Erick sudah tenang." Lembut Ratih.


Erick melirik Ratih penuh haru. Tapi Ratih segera menarik lengannya lembut, agar sesuatu yang lebih mengharukan tidak terjadi. Keempatnya kini sudah melenggang pergi meninggalkan tempat Lexa.


Matahari yang tadi bersembunyi di kegelapan awan pun akhirnya dengan cantik mulai terlihat. Membiaskan cahaya sinar keemasan yang hangat. Menghangatkan mereka yang sedang dilanda lara.


Sinar yang memberi arti bahwa setelah gelap selalu ada terang yang akan jauh lebih indah jika kita mensyukuri dan menikmatinya sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa.


Sinaran matahari saat itu benar-benar hangat, memberi salam perjumpaan juga kepada tubuh kurus yang baru saja menikmati kebahagian kekalnya.


****


Ratih tertidur pulas di kamar Lexa. Foto Lexa bersama ibunya ada dalam dekapan tangannya. Angga tak kuasa mengganggu tidur lelapnya, walaupun saat ini adalah waktunya Ratih untuk makan malam.


Martha masih setia di rumah Ratih bersama anaknya yang sedang terlelap di ruang depan televisi. Hari ini mereka semua terlihat sangat lelah, hampir di setiap sudut raut wajah mereka hanya tersirat muka lesu dan tak bergairah.


Martha dengan muka kusamnya masih sempat memasak untuk orang rumah Ratih. Tapi tak berselera untuk makan, melihat yang lain juga lemas tak bertenaga. Tapi Martha tak egois, dia mengajak Angga untuk tetap menyantap makanan yang dengan susah payah dia buat.


****


Suasana menjadi sangat sepi karena tengah malam sudah lewat. Jam di dinding menunjukkan pukul dua pagi. Angga masih tertidur di sofa berseberangan dengan Erick yang kini sedang terduduk dalam diam dan sunyi. Sementara Martha sudah pamit undur diri sejak dia selesai membereskan peralatan makan dan perlengkapan dapur yang dia gunakan untuk makan malam.


Mata Erick terlihat terbuka lebar menatap langit-langit rumah Ratih. Batin dan pikirannya membisu, hanya tatapan kosong yang menerawang jauh. Tetap diam dalam lamunan yang dia bangun sendiri.


'Kreeekkk'


Suara itu sedikit mengejutkan Erick. Melihat pintu kamar Lexa terbuka, dia sudah menebak Ratih akan muncul dari sana. Walaupun Erick masih berharap Lexa yang keluar dari ruang tidurnya kemudian menyapanya dengan ramah.


"Erick? Belum tidur?" Sapa Ratih yang juga kaget melihat Erick yang masih terjaga.


Erick lekas menjawab dengan menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.


"Sudah makan?" Tanya Ratih.


Jawaban Erick masih sama yaitu menggelengkan kepalanya.


"Ayo makan sama tante!" Ajak Ratih santai.


Erick tampak ragu untuk berdiri meninggalkan kursinya, atau lebih tepatnya lamunannya akan Lexa yang tak tega dia tinggalkan.


Ratih memberi isyarat kepada Erick agar mau menemaninya makan, karena Ratih tau Erick juga pasti lapar seperti dirinya. Erick pun akhirnya tak menolak, dan mengikuti Ratih ke ruang makan.


"Wah... Mamamu masak ternyata. Hmmm, tante jadi tak enak hati karena merepotkan Bu Martha terus." Keluh Ratih.


"Tidak apa-apa tante, Mama memang hobi masak. Perkara masak seperti ini, dia tidak akan mengeluh." Jawab Erick dengan tenang.


Ratih menatapnya dengan seutas senyum yang lebih mengekspresikan rasa terimakasih.


"Mari, makan! Tante kelaparan ternyata." Ucap Ratih sambil memandang makanan Martha yang tersaji di bawah tudung saji yang sudah Ratih buka.


Makanannya terlihat sangat menggoda. Ada ayam yang dimasak dengan bumbu kecap menggoda. Ada juga sambal terasi buatan Martha yang paling Ratih suka. Di sebelahnya ada semangkuk sayur labu yang dimasak dengan bumbu kuning, sungguh sangat menggoda selera makan.


Ratih menyuruh Erick untuk duduk berhadapan dengannya. Dia ambil dua buah piring yang masih kosong, kemudian mulai mengisinya dengan nasi putih. Sengaja Ratih tak memberi lauk di dalam piring Erick agar Erick dengan leluasa bisa mengambil lauk yang dia inginkan.


Ratih memboyong paha bagian bawah di piring menu ayam kecap. Tak lupa dia sendok sambal terasi yang sudah menggoda lidahnya. Mata Ratih berbinar, menyantap menu makanan di piring makannya. Sementara Erick masih mengaduk-aduk nasi di piringnya.


"Rick... Makanlah! Masakan Mamamu ini enak sekali. Sayang kalau kamu tidak memakannya." Pinta Ratih.


Tak tega rasanya Ratih menikmati sendirian makanan lezat ini, jadi dia berusaha untuk membujuk Erick agar mau memakannya.


Erick melirik Ratih yang terlihat senang. Kemudian mencoba melepas senyum lega secara perlahan dan tak lupa menghela napasnya bersiap untuk makan malam di pagi buta bersama Ratih.


Awalnya tak ada obrolan berarti di antara keduanya. Mereka terlihat menikmati makanan di mulutnya masing-masing. Dan kemudian Ratih mencoba membuka pembicaraan dengan Erick.


"Semuanya akan baik-baik saja, Rick." Ucap Ratih pelan.


Erick hanya mencoba mencerna makanan dan perkataan Ratih itu.


"Kita harus segera berbenah diri melanjutkan hidup kita. Walaupun tidak akan sama seperti semula, tapi... kita harus tetap menjalaninya. Sebagai bentuk penghormatan kita kepada Yang Maha Kuasa, dan sebagai janji kita untuk Lexa." Tegas Ratih.


Erick masih terdiam seribu bahasa, bukan karena makanan yang sedang menguasai mulutnya tapi karena Erick kehabisan kata-kata hari ini. Hanya ekspresi di wajahnya saja yang bisa mengungkapkan perasaannya.


"Lexa sudah tenang di tempat lain. Tempat yang jauh, yang tidak bisa kita jangkau. Rasanya ingin sekali tante menemani Lexa disana. Tapi apalah daya, bukan kuasa tante untuk itu." Ratih menghentikan aktivitas makannya.


Mencoba menggali perasaannya lebih dalam.


"Rick.. Lexa pasti akan sangat bahagia lagi jika kita disini hidup dengan bahagia juga. Lexa pasti tidak ingin kita bersedih. Tante tahu, kehilangan Lexa adalah hal yang tidak mudah. Tapi... Akan tidak mudah juga untuk kehidupan Lexa di alam sana jika kita terus menerus meratapi kepergiannya bukan?" Tanya Ratih menatap Erick.


Erick tak berani membalas tatapan Ratih. Dia masih saja menundukkan kepala melihat nasi dan lauk pauk yang baru sedikit dia nikmati.


"Kita harus bangkit. Mulai lagi dari awal menata kehidupan kita..... tanpa Lexa." Ucap Ratih.


Ucapan yang sarat makna, tapi diucapkan Ratih dengan tatapan kosong dan nanar.