
Lexa sudah bangun dan dia juga sudah mandi. Wajahnya terlihat berseri melihat ada Ratih dan Angga di depannya.
"Ayo dimakan! Mau Om suapi?" Tanya Angga yang melihat ke arahnya dan Ratih tanpa melirik hidangan makan malamnya.
Lexa menggeleng dan senyum bahagia mengembang disana.
"Ayo, cepat makan! Habis itu minum obat." Pinta Angga.
"Om Angga sama tante Ratih gak makan?" Tanya Lexa.
"Ini kita mau makan." Jawab Angga yang terlihat kikuk.
"Kita makan sama-sama, Om!" Pinta Lexa.
Ratih dan Angga mengangguk bersama. Kemudian menikmati makan malam bersama seperti waktu sarapan tadi.
****
Angga sudah berganti setelan kemeja dan jeans. Dia sudah selesai tugas hari itu. Tapi dia masih di Rumah Sakit. Dia menginap sejak kemarin. Tidur di kamar dokter jaga. Tapi sekarang dia sedang menemani Lexa. Mereka terlihat asyik mengobrol. Tak lupa canda dan tawa juga mereka tunjukkan. Sudah lama sekali rasanya mereka tak berjumpa, sehingga banyak sekali hal yang dapat mereka bagi.
Ratih mengamati mereka dari sofa, sambil mengupas apel yang dia beli untuk dijadikan teman mereka mengobrol. Seru sekali mereka. Sampai Ratih lupa ada perasaan sedih yang dia sembunyikan untuk Lexa.
"Asyik sekali ngobrolnya. Ini, tante sudah kupas apel sebagai teman kalian ngobrol. Tante mau cari minuman hangat dulu." Ucap Ratih.
Angga dan Lexa menerima sepiring apel dengan semangat, tak lupa untuk mengizinkan Ratih untuk pergi meninggalkan mereka.
Tak lama, Ratih kembali ke ruangan Lexa. Menggenggam dua cup gelas yang terbuat dari plastik. Dari aromanya jelas sekali kalau yang Ratih bawa adalah kopi. Ratih menyerahkan satu cup gelas berisi kepada Angga.
"Terimakasih." Balas Angga.
Ratih tersenyum.
"Om... Lexa ngantuk." Rajuk Lexa.
"Oh ya? Katanya mau cerita lagi sampai pagi?!" Kata Angga.
Lexa menggeleng. Dia menyerah. Matanya sudah terlihat lelah. Mungkin karena pengaruh obat juga yang membuat Lexa menjadi mengantuk.
"Baiklah. Ayo rapikan bantal dulu. Dan... Siap! Lexa bisa tidur." Kata Angga yang terlihat merapikan ranjang untuk Lexa.
"Terimakasih, Om." Balas Lexa dengan senyum manisnya.
Angga sampai tak kuasa mengacak-acak rambut Lexa, seperti orang yang gemas.
Angga menunggui Lexa sampai dia terlelap. Ratih perlahan Ratih menghampiri.
"Minumlah kopinya, nanti keburu dingin." Tukas Ratih.
Angga tersenyum melihat Ratih berdiri di sampingnya. Merapikan selimut Lexa agar Lexa nyaman dengan tidurnya. Kemudian mengajaknya untuk duduk di sofa sambil menikmati kopi yang Ratih bawa.
Ratih dan Angga duduk bersebelahan. Tak seperti siang tadi, saling berangkulan. Mereka menjaga jarak aman sendiri. Menyeruput kopi yang ada di tangan, sambil menyelami suasana malam di Rumah Sakit. Agak canggung awalnya suasana yang mereka ciptakan sendiri, tapi Angga berusaha mencairkan suasana.
"Kamu sudah memberi tahu Lexa tentang keadaannya sekarang?" Tanya Angga membuka pembicaraan.
Ratih meneguk kopinya perlahan, kemudian memalingkan wajah menghadap Angga.
"Belum... Aku belum sempat mengatakannya." Jawab Ratih berat.
Angga memandang wajah Ratih lekat, dia tahu ini akan sangat sulit untuk mereka. Mereka butuh waktu.
"Apa Lexa harus tahu?" Tanya Ratih.
Angga sedikit kagey dengan pertanyaan yang tidak terduga dari Ratih. Angga jadi terlihat seperti orang yang berpikir keras mendengar pertanyaan dari Ratih itu.
Lama mereka diam dengan pikirannya masing-masing. Tidak tahu harus mulai pembicaraan darimana lagi, karena awal pembicaraan mereka saja malah menjadikan suasana semakin sunyi.
"Aku belum siap, dan belum berani mengatakannya kepada Lexa." Kata Ratih ragu.
Angga meraih tangan Ratih, mengusapnya penuh kasih sayang.
Ratih menunduk lemas, airmatanya juga jatuh membasahi pipinya. Angga lebih mempererat genggaman tangannya di jemari Ratih, seperti hendak memberi kekuatan untuk Ratih.
"Kita tidak bisa menyembunyikan kondisi ini dari Lexa." Jelas Angga lagi.
"Dia anak pintar. Dia pasti tahu kondisi tubuhnya lebih dari yang lain." Tegas Angga.
Mata Angga menatap punggung Lexa yang kurus berselimut kain putih. Matanya ikut tak kuasa meneteskan airmata. Bagaimana pun Lexa sudah dia anggap seperti keponakannya sendiri. Bahkan jika Lexa bukan keponakan Ratih, dia tetap akan menyayangi Lexa. Karena Angga tahu, Lexa adalah anak yang baik. Jika saja Angga bisa menggerutu kepada takdir, dia pasti sudah berharap kemalangan ini tidak akan menimpa Lexa.
Ratih masih terisak. Getir rasanya melihat wanita yang dicintai diterpa kemalangan yang tak kunjung usai. Sebagai seorang laki-laki ingin sekali Angga melindungi keluarga ini dengan seluruh jiwa raganya. Tapi apa daya, kuasa Sang Pencipta lebih besar dari dirinya. Angga hanya bisa memeluk Ratih dalam dekapannya saja.
"Ratih... Ada hal yang harus kamu tahu." Suara Angga terasa berat.
Ratih sedikit menahan airmatanya. Berusaha mendengarkan apa yang akan dikatakan Angga dengan sepenuh hati.
"Berjanjilah kamu akan tetap tegar dan kuat." Kata Angga lagi.
Suaranya sedikit tercekat, seperti ingin mengucapkan sesuatu hal yang besar kepadanya.
Ratih melepaskan pelukan Angga. Dia menatap Angga penuh tanya. Matanya menelisik Angga dengan penuh prasangka. Angga terdiam sejenak. Mulai mengatur napasnya dalam.
"Ada yang ingin aku sampaikan. Ini tentang Ayahnya Lexa." Ucap Angga.
Ratih mendadak membuang muka. Perasaannya tidak menentu sekarang.
"Ayahnya Lexa..."
"Tunggu, tunggu..." Ucap Ratih.
Dia masih berusaha mempersiapkan diri mendengar apapun yang akan dikatakan Angga.
Dia terlihat mengatur napas. Airmatanya tak bisa dia bendung lagi, hampir saja tangisnya meledak.
"Ssshhh... Jangan berisik. Lexa sedang tidur." Angga mencoba memperingatkan.
Ratih menatap Angga dengan tatapan memelas. Angga tak kuasa. Lagi-lagi dia hanya bisa memeluk tubuhnya erat. Ratih membalas. Dia malah lebih erat memeluk Angga, seperti meminta kekuatan lagi agar dia bisa menerima apapun yang akan dikatakan Angga.
"Ayah Lexa..." Ucap Angga sedikit terbata-bata.
"Jangan bilang dia sudah keluar dari penjara, Ngga!" Rintih Ratih dalam pelukan Angga.
Angga menggeleng lirih. Ratih menahan pili di dadanya.
Kakak yang dia sayangi dengan setulus hati, yang kemudian berubah menjadi monster menakutkan baginya dan juga anak semata wayangnya. Apa yang dia lakukan kini? Ratih tidak sanggup memikirkannya. Terlintas dalam benaknya pun sudah membuat Ratih merinding.
"Tenanglah, Ratih. Dengarkan aku, baik-baik. Kamu harus tetap tenang." Pinta Angga lembut.
Ratih menangis. Luka di hatinya seperti dicabik-cabik kembali mendengar Ayah Lexa disebut.
"Pak Danang... Masuk ke tempat rehabilitasi sebulan yang lalu. Dia... Sakit." Terang Angga.
Ratih masih menahan tangis.
"Tepat seminggu yang lalu, aku datang berkunjung. Menemui Ayah Lexa. Mencoba mencari tahu kondisinya." Cerita Angga.
Ratih sudah tidak terdengar menangis. Sepertinya Ratih sedikit tenang.
"Dan... Ketika aku ingin menemuinya. Ayah Lexa..." Angga menelan ludahnya dalam.
"Ayah Lexa... Sudah meninggal. Dengan penyakit yang sama seperti Lexa." Jelas Angga.
Ratih yang tadi tampak tenang, sedikit terperanjat. Pelukan erat Ratih di tubuh Angga juga menjadi tak bertenaga. Tangannya tiba-tiba terkulai di paha Angga.
Berita apa yang barusan dia dengar tadi? Kenapa darahnya seakan berhenti berdesir. Ratih terpaku. Matanya mendadak menatap kosong. Dia bingung, harus berekspresi bagaimana. Ratih hampir seperti patung.
Angga menghela napasnya dalam-dalam. Dia sudah tahu akan begini jadinya. Ratih memang belum siap menerima kabar tak terduga lainnya. Angga pasrah. Dia mencoba menepuk punggung Ratih, memberi isyarat agar Ratih tetap tegar dan kuat.
Badai akan berlalu. Percayalah.