
•••Reynaldi Alexander Adiwijaya•••
Aku dan Shica tengah berada didalam mobilku. Sopir pribadiku yang menyetir.
Kami akan pergi ke pelabuhan untuk berbulan madu di kapal pesiar yang cukup mewah ya meskipun tidak sebesar Titanic.
Rutenya akan melewati selat Inggris. Kami akan memilih untuk turun di tengah perjalanan. Karena kami akan mengunjungi ibuku di London.
Setelah menginap beberapa hari di mansion ibuku, kami akan pergi ke Perancis. Dan tinggal di mansionku.
Shica asyik memperhatikan jalan yang sudah dilalui mobil ini. Aku memperhatikannya. Dia sangat manis.
Aku tidak mengira, aku akan benar-benar menikah dengan dia..
Waktu di toko buku, kupikir Shica akan memilih Raihan. Namun ternyata dia memilihku..
Aku sangat bahagia..
Ya..
Walaupun ku tahu sebenarnya Shica memang mencintai Raihan.
Perlahan tanganku bergerak menggenggam tangannya. Shica menoleh kearahku.
Manik hazel itu selalu membuatku bergairah. Aku tersenyum padanya. Dia juga tersenyum.
"Kau mau mengatakan sesuatu? " tanya Shica.
"Tidak.. Aku hanya takut.. " kataku menjawab pertanyaannya.
"Takut? Apa yang di takutkan oleh Tuan Adiwijaya sepertimu? " tanya Shica.
"Aku takut kehilanganmu" jawabku enteng.
Shica tertawa. "Sungguh aku tidak suka gombalanmu Tuan Adiwijaya" kata Shica sambil mencubit perutku.
Benarkah?
Lalu kau sangat menyukai gombalan Raihan?
Tentu saja..
"Berjanjilah kau tidak akan meninggalkan diriku" kataku.
Shica berhenti tertawa dan seketika dia menatap diriku.
Aku yakin.. Suatu hari dia pasti akan meninggalkanku untuk Raihan..
Aku tidak akan membiarkan itu terjadi.
"Aku tidak mungkin meninggalkan dirimu" kata Shica pelan.
"Aku ingin kau berjanji " kataku.
"Apa kau tidak percaya padaku? " tanya Shica.
Percaya padamu?
"Tidak" kataku.
OK aku terlalu keras pada istriku ini. Namun aku juga ingin dia menuruti permintaanku yang ini.
Seharusnya malam itu aku menyentuhnya saja agar dia benar-benar jadi milikku seutuhnya.
Namun..
Aku tidak mau memaksanya karena aku tidak mau dia melayaniku dengan keterpaksaan.
Sama saja aku memperkosanya.
"Baiklah " kata Shica tiba-tiba yang membuat lamunanku buyar.
Shica menatapku. Dia menyentuh Puncak kepalaku.
"Aku Rastani Adiwijaya, berjanji.. Akan selalu berada disamping suamiku.. Reynaldi Adiwijaya.. Aku tidak akan pernah meninggalkannya.. Dalam keadaan apapun dan bagaimanapun.. " kata Shica.
Aku tersenyum dan menggenggam tangannya yang menyentuh Puncak kepalaku.
"Terimakasih, sayang " kataku.
Shica tersenyum. "Bukankah kau sudah berjanji padaku.. Kau juga sudah menepatinya dan sekarang giliranku" kata Shica.
Aku memang berusaha menepatinya.. Tapi aku tidak yakin kau bahagia bersamaku..
Mobilku pun terhenti di pelabuhan. Kami segera turun dari dalam mobil menuju kapal pesiar yang sudah siap.
Tertulis nama ESMERALDA yang terpatri jelas di badan kapal tersebut.
Banyak sekali orang-orang yang berkantung tebal yang juga ingin menghabiskan uang mereka untuk menikmati sensasi berada di kapal pesiar itu.
Aku dan Shica memasuki kapal tersebut. Di belakangku, ada dua orang bodyguard yang tugasnya membawa barang-barang kami.
Setelah memberikan tiket, kami bisa melihat kemewahan kapal pesiar bernama Esmeralda itu.
Kulihat Shica juga terpukau dengan dekorasi didalam kapal. Tangan Shica tidak lepas dariku. Dia terus menggenggam tanganku.
"Kamar ini juga memiliki 2 kamar mandi dan 2 walk in closet" kataku.
"Wah.. Ini luar biasa.. Aku benar-benar merasa berada di film Titanic" kata Shica semangat.
Dia duduk di tepi ranjang. Tangannya bergerak menyentuh ranjang tersebut.
"Mandilah.. Dan pakai pakaian yang sudah di sediakan didalam lemari" kataku.
"Baiklah " kata Shica kemudian memasuki kamar mandi. Aku tersenyum kemudian memasuki kamar mandi yang satunya lagi.
Selesai mandi, aku pun memakai pakaianku. Pakaian seperti seorang raja..
Aku serius.
Aku keluar dari walk in closet kulihat Shica sudah rapi dengan dress yang Indah seperti seorang Ratu.
Warna putih senada dengan pakaian yang kukenakan. Shica menoleh kearahku.
"Kau serius? Kita memakai pakaian kerajaan seperti ini? " tanya Shica.
"Iya.. Bukankah romantis? Sudah kubilang ini bulan madu kita.. " kataku sambil meraih tangannya dan membawanya keluar dari kamar menuju keluar untuk melihat langit yang kelam.
Kami sampai dan melihat ke langit yang ditaburi bintang-bintang yang berkelip seolah berkedip.
Angin semilir menerpa kami. Rambut Shica yang panjang bergerak-gerak.
Shica menyentuh pagar kapal. Dia menunduk kebawah melihat air laut yang bergerak-gerak.
Aku memeluknya dari belakang.
"Terimakasih sudah memilih kapal ini untuk liburan kita.. Aku sangat senang.. Ini pengalaman pertamaku menaiki kapal pesiar " kata Shica.
"Apapun untukmu, sayang " kataku berbisik di telinganya.
"Aku rasa lebih baik kita kedalam menikmati alunan musik yang romantis.. Disini anginnya kencang sekali.. Aku tidak mau kau masuk angin.. Ayolah" kataku sambil merangkul pinggangnya dan membawanya kembali masuk.
Semua orang didalam sibuk dengan aktivitas masing-masing.
Ada grup musik yang memainkan alunan musik romantis. Aku membawa Shica kesana dan menyuruhnya duduk.
Anggota grup musik itu membungkukkan badan mereka kemudian memainkan musik yang berbeda. Namun masih jenis musik yang romantis.
Shica tersenyum. Dia terlihat begitu menikmati musik yang kami dengar.
Setelah beberapa menit mendengarkan musik, kami pun memilih untuk makan malam di ruangan khusus.
Ya..
Kapal ini memiliki banyak ruangan yang fungsinya berbeda-beda. Layaknya di hotel Bintang lima.
Sungguh nyaman.
"Kira-kira berapa lama kita diperjalanan? Aku ingin segera sampai" tanya Shica.
"Entahlah.. Pasti akan sangat lama" kataku menjawab pertanyaannya.
"Hai" seorang wanita menghampiri kami. Aku menoleh dan terkejut melihat keberadaan wanita itu.
Wanita yang kukenal sebelum mengenal Shica.
"Bagaimana kabarmu, Reynaldi? " tanya wanita itu sambil mencium kedua pipiku.
Aku menoleh kearah Shica. Kulihat ekspresinya kesal.
Apa mungkin dia cemburu?
Oh senangnya diriku..
"Aku baik-baik saja" kataku sambil tersenyum pada wanita itu.
Shica mendelik kesal pada wanita itu. Wanita itu menoleh pada Shica.
"Siapa wanita ini? Temanmu malam ini? " tanya wanita itu padaku sambil menatap Shica dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Halo, Nona.. Namaku Rastani.. Istrinya Reynaldi.. " kata Shica sambil tersenyum sinis dan mengulurkan tangannya.
Wanita itu tampak terkejut dan melirikku sekilas kemudian dia menerima uluran tangan Shica.
"Oh.. Maaf.. Aku tidak tahu Reynaldi sudah menikah " kata wanita itu.
"Kenapa kau tidak mengundang semua temanmu, sayang? " tanya Shica sambil menatapku dan menekan kata sayang.
Sungguh aku senang mendengarnya.
"Dan ya.. Kami disini juga sedang berbulan madu" kata Shica pada wanita itu. Wanita itu terkejut.
"Wah"
"Dan siapa namamu Nona? " tanya Shica.
"Charlotte Mitchell, mantan kekasih suamimu"
By
Ucu Irna Marhamah