Don't Leave Me

Don't Leave Me
136



 


 


Mobil itu terhenti di pelataran mansion. Shica dan Reynaldi keluar dari dalam mobil. Kemudian mereka memasuki mansion. Terlihat Raihan sedang duduk di meja makan. Banyak sekali hidangan disana. Melihat ekspresi kemarahan diwajah Reynaldi, Raihan mengerutkan keningnya.


Reynaldi memilih duduk. Begitupun dengan Shica.


Sunyi..


Tidak ada yang berniat memecahkan keheningan diantara mereka. Para pelayan yang berada disana membungkukkan badan kemudian berlalu memberikan privasi pada mereka bertiga.


"Makanlah.. " kata Reynaldi memecahkan kesunyian. Mereka pun menyantap hidangan makan malam.


Tidak ada yang berbicara saat makan malam. Mereka terdiam dan fokus dengan makanan masing-masing.


Selesai dengan makan malam mereka, Reynaldi memilih pergi ke ruang keluarga.


Raihan membelai rambut Shica. "Apa terjadi sesuatu yang buruk? " tanya Raihan lembut.


"Tadi.. Aku bertemu dengan Sean.. Dia.. Dia bicara yang buruk" kata Shica pelan.


"Sepertinya dia memang tidak pernah bicara yang  bagus-bagus " kata Raihan.


Shica terlihat sedih.


"Jangan sedih.. Apapun yang dikatakan Sean, jangan membuatmu sedih.. Nanti bayi kita juga sedih kalau Mamanya sedih" kata Raihan lembut sambil mengusap perut Shica.


Shica memeluk Raihan. "Aku takut.. "


"Takut apa? Apa dia mengancammu? " tanya Raihan sedikit geram.


"Aku takut.. Karena dia bilang.. Dia akan membalaskan rasa sakitnya padaku.. Aku takut " tangis Shica. Raihan memeluk Shica dengan erat.


Tiba-tiba mereka mendengar suara teriakan Reynaldi dari ruang keluarga.


"Aku harus melihatnya" kata Raihan pada Shica. Shica mengangguk. Raihan berlalu ke ruang keluarga.


Ternyata, Reynaldi sedang marah-marah pada para pelayan.


"Siapa yang berani mengirimkan foto-foto bodoh ini! " teriak Reynaldi pada para pelayan. Mereka terdiam dan tertunduk dalam karena takut.


"Kalian boleh pergi" kata Raihan pada para pelayan kemudian dia menghampiri Reynaldi. "Ada apa? Apa ada sesuatu yang buruk? " tanya Raihan. Reynaldi memberikan amplop coklat yang dia pegang pada Raihan. Raihan terbelalak melihat isi dari foto-foto tersebut.


"Sean.. Aku yakin dia yang melakukannya.. Dasar tikus kecil.. Dia ingin meneror kita.. " geram Reynaldi.


"Kita pindah ke mansionku saja.. Mansionku dekat kantor polisi.. Aku yakin dia tidak akan berani macam-macam " kata Raihan.


"Bagaimana jika ada keluargamu dan bagaimana jika mereka bertanya yang bukan-bukan? " tanya Reynaldi.


"Jika mereka datang ke mansionku, mereka akan mengabariku dulu.. Oh ya.. Aku ingin bertanya.. Apa keluargamu tahu tentang hubunganmu dengan Shica? " tanya Raihan.


"Reynala yang tahu lebih dulu. Dia yang mengatakan pada Papa kalau aku berpisah dengan Rastani tapi nyatanya dalam surat penting apapun, kami masih sah sebagai pasangan suami istri.. Dan ya Papa marah dan menghajarku.. Dia bilang beraninya aku mempermainkan hubungan pernikahan.. Lalu saat dia tahu Rastani kembali bersamamu dan bersamaku juga, dia masih marah.. Namun dia bilang, tidak masalah Rastani memiliki dua orang suami.. Asalkan kita berdua tidak menyentuhnya sembarangan.. Mungkin ini salah dimatamu, Raihan.. Tapi menurutku, ini tidak salah selama ditegakkan peraturan yang pasti diantara kita" kata Reynaldi.


Raihan mencerna kata-kata Reynaldi. "Kau benar.. Dan ya.. Orang tuaku tidak tahu soal ini.. Jika mereka sampai tahu, ini akan sangat berbahaya karena mereka pasti akan menyuruhku untuk menceraikan Shica.. Sementara aku tidak mungkin melakukannya" kata Raihan.


Reynaldi menepuk bahu Raihan. "Maafkan aku.. Ini salahku.. Karenaku, kita semua berada diposisi yang sulit" kata Reynaldi.


"Sudahlah semuanya sudah terlanjur terjadi.. Dan sebaiknya kita ke mansionku sekarang " kata Raihan.


Shica menghampiri mereka berdua. Raihan dan Reynaldi menoleh kearahnya.


"Pilihan yang salah jika kita tinggal di mansionmu, Raihan.. Bagaimana kata keluargamu nanti.. Lebih baik tinggal di apartemenku" kata Shica.


Mereka berdua tampak berpikir.


"Apartemenku jaraknya cukup jauh dari sini maupun dari mansion Raihan.. Tapi tempatnya cukup luas dan menurutku nyaman.. Aku takut jika berada disini ataupun di mansion Raihan" kata Shica.


Reynaldi dan Raihan saling pandang.


"Aku setuju.. Jika kita tinggal di apartemenmu, aku yakin akan aman selama jendela dan pintu di kunci.. Lalu kita bisa pergi kerja dengan jadwal yang di tentukan.. Kurasa lebih simpel" kata Reynaldi.


"Tapi aku tidak setuju.. Kita tinggal di apartemen bertiga? Tanpa pelayan? Shica.. Itu ide buruk" kata Raihan.


"Tidak masalah.. Mungkin tugas yang perlu di lakukan hanya membersihkan apartemen.. Tidak ada yang lain.. Sisanya gampang " kata Reynaldi.


"Hemm.. Baiklah " kata Raihan.


Malam itu juga mereka bertiga pergi ke apartemen milik Shica. Sesampainya di apartemen tersebut, Reynaldi dan Raihan merebahkan tubuh mereka di sofa.


Shica melihat ke sekeliling apartemen. Semuanya masih sama seperti saat dia meninggalkan apartemen tersebut.


Shica memilih untuk menyeduh secangkir teh untuk kedua suaminya. Dia menyimpan teh manis yang hangat itu di meja.


"Kenapa kau repot-repot membuat teh? Apa kau tidak lelah? Kita baru sampai " kata Reynaldi.


"Tidak apa-apa.. Ini hanya teh.. Minumlah" kata Shica. Mereka pun meminum teh tersebut. Shica duduk berhadapan dengan mereka.


"Malam ini aku butuh kopi.. " kata Reynaldi. "Iya aku juga.. Sudah lama aku tidak kerja malam suntuk" kata Raihan.


Shica mengerutkan keningnya.


"Iya.. Kerja malam adalah kebutuhan" kata Reynaldi. "Iya.. Tubuhku rasanya pegal " kata Raihan.


Shica terbelalak. Dia menelan salivanya.


"Shica.. Boleh aku.."


"Tidak.. Tidak.. " Shica memotong ucapan Raihan. Raihan mengerutkan keningnya.


"Aku harus tidur.. Kalian bebas bergadang " kata Shica kemudian berlalu.


Reynaldi dan Raihan saling pandang. "Kenapa dia gugup begitu? " tanya Reynaldi.


Raihan mengedikkan bahunya. "Pekerjaanku menumpuk.. Besok aku harus berangkat kerja.. Kau disini temani Shica " kata Raihan.


"Baiklah "


By


Ucu Irna Marhamah