Don't Leave Me

Don't Leave Me
Harapan Martha



Ratih terdiam di kursi tamu. Pikirannya masih terngiang saat kebersamaannya dengan Mama Angga. Dia masih jelas mengingat, bahwa Mama Angga memberikan kesempatan kepadanya untuk menjalani tes kesehatan agar mengetahui apakah dirinya juga ikut tertular penyakit Lexa atau tidak.


Selama ini Ratih selalu menghabiskan waktunya, bahkan separuh hidupnya untuk mengurus Lexa. Setiap mengurus Lexa, dia selalu memperhatikan kebersihan badannya. Dia sering diingatkan oleh dokter Heryawan tentang resiko care-taker.


Ratih memisahkan peralatan makannya dengan Lexa. Dia juga selalu menggunakan sarung tangan medis untuk membersihkan setiap bekas peralatan Lexa. Dia menjaga diri dengan meminum anti biotik dan menjaga pola makannya.


Tapi memang beberapa hari ke belakang, Ratih kurang mawas diri. Dia sering lupa menggunakan sarung tangan medis saat membersihkan darah Lexa saat Lexa muntah darah di kamarnya. Ratih juga merasa tidak menjaga pola makannya dengan baik.


Ratih sedikit khawatir dengan dirinya sekarang. Bagaimanapun dia ingin sehat dan bisa beraktifitas normal seperti kebanyakan orang pada umumnya. Dia tahu betul bagaimana pandangan dan sikap orang lain terhadap seseorang yang sakit AIDS.


Ratih menghela napas berat. Dia terlihat pasrah dengan apa yang akan menimpanya nanti. Dia percaya Tuhan Maha Baik, Dia pasti tidak akan menguji hamba-Nya di luar batas kemampuan umat-Nya. Ratih meyakini hal itu.


Pikirannya sudah sedikit rileks. Ratih segera sandarkan tubuhnya di kursi tamu yang sedang dia duduki. Matanya terpejam, tapi tidak ingin terlelap. Dia hanya ingin merilekskan hati dan pikirannya agar tetap waras.


Kemudian dia teringat akan sesuatu yang Angga berikan padanya saat Angga pamit untuk pulang ke kota. Ratih ingat jelas, Angga memberikannya sebuah kotak berhias pita emas. Dia belum sempat membuka hadiah Angga. Ratih pun mencari kotak itu, penasaran dengan apa yang Angga hadiahkan untuknya.


Kini kotak berwarna biru gelap dan bertahtakan pita emas sudah siap dia buka. Ratih perlahan membuka pita emas itu yang Angga jadikan simpul untuk membungkus kado biru gelap darinya.


Perlahan rasa penasarannya itu terjawab, setelah kado dibuka oleh Ratih. Ratih agak terkejut dengan isi kado yang Angga berikan. Sebuah benda elektronik yang biasa disebut Telepon selular atau HP terbungkus rapi di dalam kotak.


Ratih merasa tak enak hati. Hadiah yang diberikan Angga adalah barang mewah pada saat itu. Walaupun bentuk HPnya jadul dan tak secanggih HP buatan masa kini, tapi pada masa itu HP masih merupakan barang tersier. Apalagi untuk orang sekelas Ratih, HP adalah barang mahal.


Ratih cepat mengurungkan niatnya untuk mengambil HP yang sudah terbuka segelnya. Sepertinya Angga tidak mempersulit Ratih untuk mengaktifkannya. Walaupun Ratih sangat tertarik dengan HP yang Angga beri, tapi Ratih merasa tak enak hati.


Ratih akhirnya membungkus lagi kotak biru dongker itu. Tapi pita emas tidak dia pasangkan lagi. Dia membawa kado hadiah itu ke dalam kamarnya. Ratih benar-benar tidak menginginkan barang itu. Dan akhirnya hadiah dari Angga hanya teronggok saja di meja sudut kamar Ratih.


****


Martha baru pulang dari puskesmas sambil menenteng sebuah kantong kresek berukuran sedang. Dia tidak terlihat payah membawanya, itu berarti barang bawaannya bukan sesuatu yang berat.


Erick sedang asyik menonton televisi. Dia terlihat cengengesan, sepertinya acara televisi yang dia tonton lucu sehingga membuat Erick tertawa.


"Sudah makan, belum??" Tanya Martha penasaran.


"Sudah, Ma..." Jawab Erick yang matanya masih asyik menonton acara kartun di televisi.


Martha sedikit membuang napas panjang melihat tingkah laku anaknya yang sedang random. Martha akhirnya memilih berlalu ke kamarnya untuk berganti pakaian.


Erick masih asyik dengan tontonannya di depan layar televisi. Dia tak berhenti terkekeh melihat tokoh kartun yang sedang dia saksikan. Sementara Martha baru keluar dari kamarnya. Dia langsung menghampiri anaknya yang tengah asyik dengan aktifitasnya.


Martha memandang anaknya itu lekat. Ada gurat kesedihan yang sedang dia rasakan. Dengan lembut Martha mengelus rambut Erick dengan kasih sayang yang secara langsung membuat Erick langsung melirik ke arahnya.


Martha masih saja mengelus rambut Erick sepenuh hati.


"Kamu sudah hampir dua minggu tidak ke sekolah, Rick." Ucap Martha.


Erick masih menunjukkan senyum tenang di hadapannya.


"Kapan kamu akan berangkat ke sekolah? Mama ingin kamu melanjutkan pendidikanmu. Kamu baru kelas satu SMA, perjalananmu masih panjang. Masa kamu mau berhenti sampai disini?" Tanya Martha.


Ekspresi Erick mulai berubah, dia sudah tidak menunjukkan senyum tenang lagi. Erick malah mengalihkan perhatiannya ke arah tontonan televisi yang tadi membuatnya terkekeh. Walaupun sekarang, dalam hatinya tontonan itu sudah tidak lucu lagi.


"Mama tahu, kamu masih kesal dengan guru dan teman-temanmu. Tapi apa kamu harus mengorbankan sekolah dan masa depanmu?" Tanya Martha lagi.


"Apa kamu mau pindah sekolah saja?" Tanya Martha lagi dan lagi.


Sebagai seorang Ibu, dia masih ingin mendengar jawaban tentang keputusan Erick yang tak kunjung ingin ke sekolah setelah kepergian Lexa.


Erick menunduk. Dia tidak bisa menjawab pertanyaan Ibunya. Martha menjadi terlihat sedih. Dengan naluri keibuannya, Martha sedikit menyeret tubuh Erick agar berada dalam dekapannya dan Erick tak menolak.


Sebuah pemandangan yang tidak biasa. Ibu dan anak itu saling dekap. Erick jadi seperti anak kecil yang meminta perlindungan kepada ibunya. Dia pasti nyaman dalam dekapan Martha.


"Mama selalu dukung kamu apapun yang ingin kamu lakukan. Tapi apa Mama salah kalau Mama hanya ingin kamu melanjutkan sekolahmu? Mama gak akan memaksamu seperti Kakakmu. Kalian dua orang yang berbeda. Mama tidak akan memaksakan kehendak Mama kepada kalian. Tapi sebagai seorang Ibu, Mama berharap anak-anak Mama bisa sekolah tinggi, punya pekerjaan yang layak dan hidup berkecukupan. Mama gak mau yang lain." Jelas Martha.


Erick masih terdiam belum bisa membuka mulutnya. Sepertinya dia ingin mendengarkan apa yang menjadi curahan hati Ibunya.


"Mama sudah tua. Selagi Mama masih diberi umur panjang, Mama hanya ingin melihat anak-anak Mama menyelesaikan sekolahnya dengan baik. Kamu menyelesaikan 2 tahun sekolah dan Kakakmu menyelesaikan satu tahun kuliah. Akh... Mama ingin berdiri di samping kalian yang dengan bangga membawa ijasah kelulusan kalian." Harap Martha.


Erick tersenyum geli membayangkan ekspresi Mamanya. Tapi Martha malah tersenyum bangga memikirkan hal yang baru saja dia katakan.


****


Ratih baru saja selesai mandi. Tubuhnya masih beraroma sabun mandi. Wangi dan segar. Dia sudah berpakaian rapi. Hendak bertarung dengan mesin jahit lagi.


Ratih mendapat pekerjaan dari Martha, yang tadi membawakan sekantong bahan untuk dijadikannya baju seragam kawinan atasannya. Ada 5 baju yang harus dijahit Ratih. Semua milik teman Martha yang memang puas dengan hasil jahitan tangan Ratih.


Ratih masih bersolek di depan cermin. Dia menempelkan pelembab wajah saja untuk menemani aktivitas menjahitnya sore itu. Tapi ada suara yang sedikit mengganggu telinganya. Dia merasa seperi mendengan suara sirine di dalam kamarnya.


Ratih merasa sedikit takut. Dia mencoba mencari asal suara yang menggangunya itu. Dan ternyata suara seperti sirine berasal dari dalam kotak hadiah dari Angga. Ratih segera membuka kotak Angga yang dia biarkan, karena masih merasa tidak enak untuk menerimanya.


Ponsel yang ada dalam kotak biru gelap itu berbunyi. Dari layarnya muncul tulisan 'Angga'. Ratih masih mengamati ponsel itu, tanpa menyentuhnya. Dia sedikit ragu akan menerima panggilan Angga atau tidak.