Don't Leave Me

Don't Leave Me
Masa Lalu (2)



"Lex... Tante hari ini mau lembur, yaa?!" Tanya Ratih disela santap sarapan mereka.


"Boleh, Tan.. Pulang malem ya?" Balas Lexa.


Ratih menggeleng.


"Sebenernya, tante..... Diajak makan malam sama Angga." Ucap Ratih malu-malu.


"Owhhh... Ciyeee.... Mau ada kabar bahagia rupanya?" Ledek Lexa yang membuat muka Ratih memerah.


"Apaan sih, kamu... Cuma makan malam biasa." Jawab Ratih dengan ekspresi yang masih malu-malu.


"Hmmmm.. Kalaupun ada kabar bahagia, diaminkan saja, tan... Lagian Lexa lihat, Om Angga tuh baik, bisa jagain tante..." Jawab Lexa polos.


"Oh ya tan, sudah waktunya tante nerusin kuliah lagi. Sayang kan tan... Tante ga usah khawatir sama Lexa, Lexa udah bisa jaga diri Lexa sendiri." Tukas Lexa mantap.


"Hmmmm gaya ya sekarang, mentang-mentang udah bisa cari uang sendiri." Ujar Ratih seraya mencubit gemas hidung mancung Lexa.


"Kalau kamu pengin tante kuliah lagi, kamu juga janji harus sekolah lagi." Tawar Ratih.


Lexa hanya menampilkan ekspresi berpikir keras. Tapi kemudian mengangkat bahu. Ratih hanya terkekeh.


****


Ratih sedang bersiap merapikan diri di kamar mandi tempat dia bekerja. Dia memakai blus warna gelap yang dipadukan dengan celana jeans panjang. Bibirnya dia pulas tipis dengan pewarna bibir, sedangkan pipinya dia oles dengan bedak.


Ratih yang sudah anggun menanti Angga di dekat gerbang pos satpam. Tak lama sebuah mobil sedan putih datang, dan mengajak Ratih untuk masuk. Mereka pun berlalu menuju restoran yang sudah dipesan.


Makan malam sederhana di sebuah restoran kecil dengan temaram cahaya membuat suasana terlihat romantis.


"Ratih..." Tanya seorang laki-laki berkacamata yang duduk di depannya.


"Ya, Ngga..." Jawab Ratih.


"Aku pengen ngomong sesuatu sama kamu." Tanya Angga serius.


Ratih sedikit gugup, tapi berusaha untuk mengendalikan ekspresi wajahnya.


"Kamu..... Mau ga melangkah ke hubungan yang lebih serius denganku?" Tanya Angga yakin.


Mendengar pertanyaan itu, Ratih sudah tidak bisa lagi mengendalikan ekspresinya. Mulutnya langsung menganga dan matanya sedikit melotot.


Angga buru-buru memegang tangan Ratih. Berusaha meyakinkan pacarnya itu.


Ratih dan Angga sudah lama saling kenal. Sejak masuk kuliah di Universitas yang sama, mereka sering bertemu. Awalnya hanya sekedar teman saja, tapi lama-lama Angga jatuh hati pada Ratih yang tinggi, berhidung mancung dan berambut lurus sebahu. Dengan kepribadian yang hangat, Ratih berhasil membuat Angga luluh, padahal banyak perbedaan mendasar yang membuat mereka terlihat senjang. Angga adalah anak dari seorang dokter ternama, sementara ibunya adalah seorang donatur tetap kampusnya. Sementara Ratih hanya seorang anak pensiunan PNS dan lama menjadi yatim piatu. Terlebih sekarang ini, saudara kandung satu-satunya Ratih sudah berubah menjadi seorang kriminal karena terlalu sering judi dan mabuk-mabukan. Tapi kenyataan itu tidak serta merta membuat Angga pergi meninggalkannya, malah membuat dia semakin berdiri kokoh di belakang Ratih untuk mendukungnya.


Angga banyak membantu Ratih dan Lexa. Angga yang mengusulkan ide kos dan mencarikan tempat kosan untuk Lexa. Dia juga yang selalu datang setiap kali Lexa mendapat surat peringatan dari sekolah. Lexa dan Ratih sangat terbantu dengan sosok Angga, sehingga membuat Lexa berharap kalau Angga bisa menjadi pasangan hidup Ratih.


"Aku akan atur pertemuan dengan orang tuaku." Ucap Angga yang sumringah setelah mendapat jawaban 'Ya' dari Ratih.


"Tapi.... Apa kamu yakin, orang tuamu bisa menerima aku?" Tanya Ratih meragu.


Angga mengelus rambut Ratih manja sambil melempar senyum untuk menyemangati kekasihnya.


"Kalaupun orang tuaku ga setuju, aku akan tetap menikah denganmu." Jawab Angga yakin.


Ratih membalasnya dengan sebuah senyum yang sedikit terpaksa.


****


"Sama-sama. Salam buat Lexa. Nanti aku kabari kamu soal tadi, ya..." Balas Angga yang segera berlalu meninggalkan Ratih yang melambaikan tangan.


Ratih hendak masuk ke dalam rumah. Hatinya dibuat deg-degan karena pintu rumahnya dalam keadaan di rusak paksa. Ratih segera berlari menuju kamarnya, memeriksa lemari pakaian yang sudah acak-acakan. Dia meraih sebuah kotak perhiasan yang dia simpan. Sebuah kotak peninggalan dari Ibunya yang isinya sudah tidak ada. Ratih hampir menangis, tapi kemudian dia sadar akan keselamatan Lexa. Dia langsung pergi menuju lantai atas, hendak memeriksa keadaan Lexa karena dia curiga yang masuk ke rumahnya adalah kakak kandungnya sendiri Danang.


Ratih melihat pintu kamar Lexa sedikit terbuka. Bau alkohol sudah tercium sejak dia masuk ke dalam rumah, tapi di kamar Lexa baunya lebih menyengat. Ratih dengan ketakutan yang terlihat dari raut wajahnya memberanikan diri untuk membuka lebih lebar pintu kamar Lexa.


Kreeekk...


Danang tergeletak di lantai dengan botol miras di tangan, bertelanjang dada dan hanya memakai kolor di atas lutut. Mata Ratih langsung terperangah ketika pandangannya beralih ke kasur Lexa. Tubuh keponakannya sudah tergeletak telanjang dengan banyak lebam di wajah, pergelangan tangan, paha dan kaki. Sedangkan di bagian selangk****n Lexa mengeluarkan banyak darah. Bahkan masih ada darah segar yang mengalir dari sana. Tubuh Ratih lemas tak bertenaga. Dia hanya bisa berteriak histeris. Mengambil langkah berani mendekati Lexa. Mengusap lembut wajahnya yang penuh lebam. Berusaha memanggil nama Lexa agar dia terbangun. Ratih menangis sejadi-jadinya. Lama dia menangis tanpa melakukan apa-apa, hanya memanggil nama Lexa. Kemudian Ratih tersadar, segera mengambil handphone jadul yang dia miliki. Mencari kontak bertuliskan nama Angga.


****


Ratih sudah di rumah sakit, menunggu di depan ruang UGD bersama Angga yang tak berhenti mondar-mandir dan sesekali melihat kekasihnya yang diam seperti patung di kursi tunggu. Wajah Ratih terlihat diliputi awan penyesalan. Airmatanya terus meleleh. Ratih pasti terpukul atas kejadian ini.


Terdengar suara nada dering berasal dari saku Angga, dia lekas mengangkat panggilan.


"Halo..." Jawab Angga.


"Pak Angga, saya Pak RT yang tadi datang ke rumah Neng Ratih." Suara itu terdengar dari seberang ponsel Angga.


"Oh ya Pak RT, gimana?" Tanya Angga sedikit khawatir, karena dia berpesan kepada Pak RT yang membantu evakuasi Lexa kalau ada masalah Pak RT harus menghubungi Angga. Angga pun sudah meninggalkan kartu nama untuknya.


"Maaf, Pak Angga. Saya bersama warga sudah membawa Pak Danang ke kantor polisi agar dapat ditindak sebagaimana mestinya." Kata Pak RT.


"Oh ya Pak RT. Terimakasih atas bantuannya." Balas Angga yang kemudian mengizinkan Pak RT untuk mengakhiri panggilan suaranya.


Ratih dan Angga masih khawatir dengan keadaan Lexa yang masih juga belum ada kabar. Angga masih gelisah dan menghabiskan beberapa botol air, sedangkan Ratih hanya memegang botol utuh saja. Rupanya Ratih masih belum bisa menelan apapun ke dalam mulutnya sebelum ada kabar dari Lexa. Angga mengelus pundak Ratih, memberi energi kepada Ratih agar Ratih kuat dan bisa bersabar.


Hampir 2 jam berlalu, akhirnya seorang dokter keluar dari ruang yang sedari tadi ditunggui Ratih dan Angga.


"Gimana keadaannya, dok?" Tanya Angga cemas.


"Saudari Lexa sudah ditangani cepat oleh tim kami, luka luarnya juga sudah diobati. Hanya saja, robek dan luka di alat vitalnya cukup parah dan dalam, kami akan mengobservasinya lebih lanjut. Jadi nanti saudari Lexa akan kami pindahkan ke ruang ICU untuk perawatan." Kata sang dokter.


"Baik, Dok.. Lakukan saja yang menurut anda baik. Kami siap, Dok." Mantap Angga.


Angga berjalan mendekati Ratih. Memegang tangan Ratih yang basah karena airmata yang terus menerus dia seka.


"Ratih... Lexa akan dibawa ke ICU untuk perawatan. Dia baik,-baik saja, hanya harus dipantau kondisinya beberapa hari ke depan. Kamu bisa minum sekarang." Ucap Angga penuh perhatian.


Ratih masih membeku, tatapannya kosong ke depan. Tapi airmata tak berhenti mengalir ke pipinya.


Di ruang ICU, Lexa tergeletak dengan selang infus di tangan, alat bantu bernapas juga ada di tubuh Lexa. Beberapa bagian tubuhnya diperban untuk menutupi luka. Hati Ratih teriris menyaksikan pemandangan ini. Dia hanya bisa terkulai di lantai sambil memegang tangan Lexa yang rapuh.


"Sudah Ratih... Sudah... Lexa akan segera siuman, kamu harus bisa menguasai diri kamu agar Lexa tidak semakin hancur. Kamu yang kuat." Ucap Angga yang merangkul Ratih dari belakang.


"Maafin tante, Lex.... Tante egois. Kamu jadi seperti ini gara-gara tante..." Sesal Ratih.


Berkali-kali Ratih mengucap maaf, menandakan sebuah penyesalan yang dalam.


Luka Lexa begitu banyak, tapi luka Ratih lebih besar. Ratih benar-benar tak berdaya, keponakannya mengalami kejadian tak menyenangkan disebabkan oleh kakak laki-laki yang dulu sangat dia banggakan dan dia tidak bisa menjaga Lexa dengan baik sehingga membuat malapetaka ini datang kepada Lexa yang sangat dia sayangi.