
Para pemain basket sedang diberikan arahan oleh Pak Bayu. Mereka terlihat sangat serius. Sementara penonton, masih setia menyuarakan dukungan penuh untuk mereka.
Hari ini adalah hari Kejuaraan Bola Basket tingkat SMA. Dimulai dari pertandingan penyisihan 8 peserta yang dibagi menjadi 4 tim yang akan bersaing untuk babak berikutnya.
Tim basket SMA Bhakti Bangsa ada di grup ketiga. Kali ini mereka akan bertanding melawan SMA Satu Nusa. Pertandingan akan segera dimulai. Penonton sudah mulai penuh dudu di kursi penonton yang sudah disiapkan panita dengan tenda besar sebagai peneduh. Ada beberapa penonton yang lebih memilih berdiri dekat dengan tempat pertandingan yang dikeliling pagar menjulang.
Lexa dan teman-temannya sudah bersiap menjadi supporter. Mereka tampak asyik bercanda sambil menikmati pertandingan yang sudah dimulai. Skor unggul masih berpihak untuk SMA Bhakti Bangsa. Lawannya ini bukan tandingan juara bertahan. Sepertinya pertandingan pertama akan sangat mudah untuk sekolah mereka.
Riuh suara penonton menggema di udara. Memekik ke telinga Lexa yang sudah 2 hari ini tidak karuan karena Erick terlihat jelas menghindarinya. Di sisi lain tempat Lexa berada, ada Erick, Ari dan beberapa teman kelasnya yang lain terlihat menikmati pertandingan. Rupanya Lexa mengawasi mereka dari kejauhan. Mukanya nampak kesal melihat mereka, atau mungkin salah satu di antara mereka.
Pertandingan basket membuat Lexa begitu bosan. Mungkin karena dia lebih suka mendengarkan musik ketimbang berolahraga, sehingga dia tidak begitu menikmati pertandingannya. Melihat pertandingan adalah bentuk formalitas Lexa untuk mendukung sekolahnya saja. Mungkin juga karena hatinya sedang tidak baik-baik saja, sehingga segala yang ada di hadapannya membuat dia bosan dan jenuh..
Lex memilih berlalu dari tempat duduk penonton, setelah berpamitan dengan Ana. Tadinya Ana ingin mengikutinya karena khawatir dengan keadaan Lexa, tapi Lexa memintanya untuk tetap di tempat setelah meyakinkan bahwa dia baik-baik saja. Lexa pergi menuju ruang kelas yang kosong. Memilih menyembunyikan diri dari semua orang.
Lexa mendengarkan lagu lewat earphonenya, suasana hatinya sedikit membaik setelah kembali menyelami diri lewat lagu-lagu yang dia putar. Ritual magis yang selalu membuat dirinya nyaman. Menikmati kesendirian adalah hal ajaib yang membuat dia damai. Sampai tiba-tiba, salah satu earphonenya terlepas dari telinganya dan beralih tempat di telinga seseorang.
Lexa tampak kaget. Hampir saja dia merasa akan melempar orang itu dengan buku yang dia genggam. Tapi niatnya urung, setelah tahu bahwa itu ulah Erick.
Erick hanya diam, menikmati lagu yang dia dengar lewat earphone Lexa. Mukanya datar, tapi terlihat menghayati setiap lantunan lagu yang berdendang di telinganya.
Lexa melihat Erick lekat. Ada rasa haru yang tiba-tiba muncul dalam hatinya. Menatap Erick dalam dan menghela napas lega. Keduanya menikmati lantunan lagu "My Immortal" dengan khusyuk.
****
Beberapa lagu sudah mendengung di telinga mereka, Lexa tampak tenang menikmati lagu-lagu yang diputar, mungkin karena sudah terbiasa mendengarnya. Sementara Erick, tubuhnya sudah bersandar di kursi yang tadi dia tarik agar lebih dekat menggapai posisi earphone Lexa. Tangannya dia tumpuk, mendekap di dada. Matanya terlihat terpejam menikmati alunan lagu.
Lexa melirik Erick yang sedari tadi hanya diam. Lexa mulai mengamati Erick. Tangannya dia kibas dekat dengan wajah Erick. Dan Erick tak terganggu. Rupanya, Erick tertidur. Ada hembusan napas berat khas orang tidur bersumber dari Erick. Lexa tersenyum geli melihat Erick yang malah tertidur pulas karena mendengarkan lagu-lagu yang dia putar.
Lexa sedikit memandang Erick lebih lama dari biasanya, raut mukanya tenang tapi ada guratan wajah penuh ketegasan pada diri Erick. Lexa tersenyum sendiri terbawa pikirannya. Kemudian segera berpaling dari wajah Erick menatap keluar melalui jendela dan memejamkan mata. Luapan emosional muncul dari ekspresi Lexa.
Lexa masih sibuk dengan buku-buku yang dia baca dan pendengarannya samar karena terpasang earphone dan dengkuran halus Erick yang menandakan dia sedang dalam posisi tidur nyenyak. Mereka sampai tak sadar kalau sudah ada Adhit hadir diantara mereka. Tubuhnya masih terlihat berkeringat dan raut wajahnya terlihat tidak menyukai pemandangan di hadapannya.
"Ehemmm"
Adhit menyapa Lexa dan Erick dengan 'dehemannya' yang keras.
Lexa langsung mendongak menuju asal suara. Sorotan mata Adhit tajam ke arahnya. Lexa hanya menatap Adhit santai.
"Lagi ngapain kalian disini?" Tanya Adhit dengan suara tegas.
Lexa tidak berniat menjawab, karena jawaban Lexa tidak akan mengurangi tatapan tajam Adhit kepadanya.
Sudah dua hari ini, Adhit gencar mendekati Lexa, tanpa bisa dia hindari. Adhit sering berkunjung ke kelas Lexa, sehingga Lexa menjadi bahan gunjingan di sekolahnya. Dia juga bahkan pergi ke rumah Lexa hanya untuk sekedar berkunjung. Tindakan Adhit cukup gigih, sampai kadang membuat Lexa tak bisa berkutik. Seperti kali ini.
Adhit masih menatap tajam Lexa, sedangkan Lexa masih terdiam seribu bahasa.
"Ayo ikut aku, Lex!"
Pinta Adhit kepada Lexa. Tapi Lexa enggan beranjak dari tempatnya.
"Sebentar saja..." Ucap Adhit dengan tatapan melunak penuh pengharapan.
Lexa berusaha menepis, tapi Adhit menatapnya dengan penuh perasaan. Lexa hampir tak kuasa menolak. Dia hanya bisa menelan ludahnya dalam-dalam menghadapi situasinya yang tidak menguntungkan ini. Baru saja Lexa hampir goyah karena tatapan Adhit, tiba-tiba tangan Adhit sudah di cengkeram kuat oleh Erick. Erick ternyata terusik dengan kejadian di hadapannya. Mata yang tadi terpejam akhirnya menyudahi mimpinya, beralih menatap laki-laki di hadapannya.
Kini Erick dan Adhit yang saling bertatap tajam. Dan Lexa mulai gusar dengan tatapan mereka. Akhirnya Lexa putuskan untuk memegang tangan Erick. Kini tangan ketiganya bertaut. Tangan Adhit memegang tangan Lexa, tangan Adhit di cengkeram tangan Erick, sementara tangan Erick dipegang Lexa. Erick mengalihkan pandangannya ke arah Lexa, mengerutkan kening atas sikap Lexa. Lexa tak mampu berkata apa-apa.
Erick mengendurkan cengkeramannya dari tangan Adhit, sehingga Adhit dengan leluasa bergerak memandu Lexa untuk mengikutinya. Erick melihat mereka berdua berlalu dengan muka geram, ada gesekkan keras diantara giginya. Mukanya mendadak berwarna merah. Dan tangannya terlihat mulai mengepal. Sosok Erick begitu menakutkan sekarang.
****
Erick sudah berjalan melenggang keluar ke arah gerbang sekolah yang mulai lengang karena pertandingan hari itu sudah selesai. Dia berjalan tegap membawa tubuhnya yang tinggi dengan kedua tangannya dia simpan dalam saku celana seragamnya bagian depan. Tatapannya tajam ke depan, masih menggunakan mode muka datar tanpa ekspresi, padahal pikirannya masih beradu sengit mengingat kejadian di ruang kelas tadi. Tapi salut, dia masih bisa menunjukkan sikap tenang dan bisa menguasai diri.
Langkah Erick terhenti ketika di depannya terlihat laki-laki yang sedari tadi mengganggu pikirannya sedang berjalan menuju ke arahnya. Adhit sudah berganti kostum rupanya.
Dia memakai kaos putih bergambar bola basket dan sedikit tulisan di dada dengan celana abu-abu yang sama persis dipakai oleh Erick. Keduanya bertatapan di kejauhan.
Erick masih terlihat cool, berjalan santai menuju ke arah Adhit yang juga berjalan ke arahnya. Kedua laki-laki paling populer itu kini sedang beradu pandang, berjalan dengan gayanya masing-masing seperti seorang petarung, tapi bagi para remaja putri keduanya malah seperti sedang tebar pesona.
Mereka hampir berpapasan, pandangan mereka belum rela saling melepaskan. Masih saja berbalas tatapan tajam.
"Kamu suka sama Lexa??" Tanya Adhit yang kini tepat berdiri di samping Erick.
Erick menghentikan langkahnya. Melirik Adhit yang juga melirik ke arahnya.
"Mulai sekarang, jangan ganggu dia! Karena aku ga suka kalo ada laki-laki yang deket-deket sama Lexa." Tukas Adhit, mantap.
Erick masih mencoba mendengarkan.
"Kamu paham kan?!" Suara Adhit sedikit meninggi.
Erick hanya terkekeh sinis.
Adhit mulai tak sabar, keduanya kini saling berhadapan. Mengamati satu sama lain dengan tatapan sinis.
"Kenapa aku harus jauhi Lexa?" Tanya Erick jelas.
"Karena Lexa ga akan milih kamu." Jawab Adhit sambil menyeringai.
Erick tak mau kalah. Dia memasang muka sinis dan sadis di hadapan Adhit.
"Ada hak apa kamu sampai harus melarang Lexa berteman dengan siapapun?" Kata Erick tajam.
Belum sempat Adhit menjawab, Ari sudah berada diantara keduanya. Menepuk pundak Erick, agar Erick tersadar dan tak terpancing emosi. Tapi Erick dan Adhit benar-benar berada di titik didih masing-masing.
Tangan mereka berdua mulai saling kepal. Keduanya juga terlihat sangat menahan emosi yang hampir keluar. Ari sampai dibuat takut oleh suasana yang mereka ciptakan.
"Erick..." Teriak Lexa.
Erick langsung menoleh ke arah Lexa yang berdiri di samping Ana yang terlihat khawatir.
Erick tak ambil pikir, dia langsung melepas tangan Ari yang menahannya sekuat tenaga kemudian melegos pergi setelah menatap tajam rivalnya itu.