
Erick melangkah pasti menuju ke sekolah. Menatap jauh ke depan dan tak mengizinkan kepalanya untuk menoleh ke belakang. Walaupun di hatinya masih terganjal sesuatu, tapi Erick tampil percaya diri.
Gerbang sekolah di depan matanya. Pak Satpam penjaga sekolah tersenyum menyapanya. Erick membalas senyum Pak Satpam sekedarnya. Dia memilih untuk tetap berlalu, meski Pak Satpam menanyakan kabarnya.
Erick masih terus berlalu melewati pandangan mata teman-temannya yang terus mengawasinya. Erick tampil cuek, dia bersikap seolah dia hanya berjalan sendiri di sekolahnya.
Erick sudah di depan pintu kelas, seketika kakinya berhenti melangkah. Dia seperti berpikir sejenak. Dia mulai mengambil napas panjang, Erick nampak menyemangati dirinya sendiri untuk melangkah masuk ke kelas.
Dan akhirnya ruang kelas pun terlihat jelas di matanya. Ruang kelas yang sudah lama dia tinggalkan nyata jelas di matanya. Dia melirik barisan kursi yang biasa dia lewati. Tapi matanya sedikit berkaca-kaca karena kursi Lexa sudah tidak ada dan kursi miliknya sudah maju satu langkah menggantikan kursi Lexa.
Erick seperti ingin melarikan diri sekarang. Baru mulai masuk ke kelas saja melihat pemandangan tak menyenangkan untuknya, tapi Erick mencoba bertahan. Walaupun mukanya terlihat merah padam, dia berusaha untuk menahan emosinya.
Erick berjalan menuju kursinya. Dia menebar senyum santai kepada teman-teman yang menatapnya. Bahkan ada salah satu teman laki-laki yang menepuk pundaknya.
"Rick!" Sapa Ari sambil berdiri menyapa Erick.
Erick tersenyum simpul me arahnya, dia juga membalas tepukan di pundaknya dengan menepuk lengan Ari.
"Selamat datang kembali ke sekolah." Tegas Ari bangga.
Dia juga terlihat terharu, karena matanya yang ditutup kacamata sedikit berkaca-kaca.
Erick membalasnya dengan menganggukkan kepalanya, tapi Ari ternyata meminta lebih. Dia tanpa ragu merangkul tubuh Erick untuk dia dekap. Sudah lama sekali Ari menantikan hal ini. Hal yang sudah lama sekali tidak mereka lakukan, padahal mereka adalah seorang sahabat.
Erick tahu Ari adalah sahabat terbaiknya. Jadi, sekecewa apapun Erick kepada Ari, dia tetap masih bisa merasakan getaran sahabat dalam dirinya untuk Ari. ini yang membuat Erick pun dengan sukarela membalas rangkulan Ari.
Tak lama saling merangkul, mereka pun duduk di tempatnya masing-masing. Ari masih saja mengawasinya, lebih tepatnya Ari merasa tenang karena sahabatnya sudah datang kembali ke sekolah. Jadi perhatiannya tak lepas dari Erick. Mungkin Ari takut, sahabatnya akan menghilang lagi.
Kini giliran Ana yang langsung datang menghampiri Erick. Ana menatap Erick cukup dalam, membuat Erick sedikit salah tingkah.
"Kamu benar Erick kan??!" Sapa Ana.
Erick masih diam tak membalas sapa Ana.
Ana menepuk pipi Erick.
"Aw....." Jerit Erick yang mendapat tepukan reflek dari seorang Ana.
"Kamu benar Erick kan??!" Tanya Ana sekali lagi.
"Ets... Iya, aku Erick, An! Sudah jangan ditepuk lagi, sakit tahu!" Ucap Erick yang langsung menciut gara-gara tangan Ana.
"Syukurlaaah...." Ucap Ana lega, sambil mengelus dadanya.
Ada perasaan lega yang Ana rasakan. Dia menunjukkan wajah sumringah setelah tahu pasti kalau yang di hadapannya benar Erick. Sementara Erick masih mengelus-elus pipinya yang masih merasa perih karena tepukan dari Ana.
Bel pun berbunyi. Semua teman Erick masuk ke dalam kelas karena Irma sudah mulai memasuki ruang kelas mereka.
"Selamat pagi anak-anak..." Sapa Irma ramah, dan dibalas ucapan selamat yang sama dari semua muridnya tak terkecuali Erick.
Pandangan Irma langsung tertuju kepada tempat duduk Erick. Matanya terlihat berbinar melihat sosok Erick yang lama dia nantikan akhirnya datang juga mengisi kursi dalam kelasnya.
****
Bel istirahat berbunyi. Semua siswa membereskan buku-bukunya dan mulai berhamburan keluar kelas untuk beristirahat. Begitu juga dengan Erick, yang sudah siap untuk pergi ke kantin dengan Ari dan beberapa temannya.
"Erick, bisa Ibu bicara dengan kamu sebentar?" Tanya Irma yang masih merapikan buku-buku di mejanya.
Erick mengiyakan ajakan Irma yang ingin berbincang dengannya.
"Kita nunggu di kantin biasa, ya?!" Ucap Ari yang memberi tanda kepada Erick agar setelah selesai urusan dengan Bu Irma, dia bisa bergabung kembali dengan Ari dan kawan-kawannya di kantin. Erick pun mengangguk membalas ucapan Angga.
Irma berjalan menghampiri Erick yang berdiri di depan mejanya.
"Akhirnya kamu datang lagi ke sekolah, Rick. Ibu senang melihat kamu disini. Semoga kamu bisa mengikuti pelajaran dengan baik." Ucap Irma
"Terimakasih, Bu Irma." Jawab Erick singkat.
"Ibu harap kamu lebih giat lagi untuk belajar. Jangan ragu untuk bertanya tentang pelajaran yang sudah terlewat kepada Ibu atau teman kamu yang lain." Imbuh Irma.
"Iya, Bu.." Jawab Erick lagi.
"Ya sudah, silahkan barangkali kamu mau ke kantin." Kata Irma sambil mengelus lengan Erick.
"Baik, Bu. Saya permisi." Balas Erick sambil mengembangkan senyum untuk Irma.
Irma pun terlihat puas dengan sikap Erick kepadanya. Dia melihat anak didiknya itu berlalu dari pandangannya. Erick pasti ingin segera menemui teman-temannya.