
Reynala dan Shica sedang memilih barang-barang untuk perlengkapan bayi. Mereka terlihat gemas dengan barang-barang mungil itu terutama pakaian-pakaian bayi.
"Shica, lihatlah ini lucu sekali.. Tapi apa bayimu itu laki-laki atau perempuan? " tanya Reynala.
"Aku tidak melakukan pengecekan.. Aku mau menjadikannya kejutan" kata Shica.
"Baiklah, kita pilih salah warna netral saja ya.. Barang-barang dan pakaian-pakaian yang cocok untuk laki-laki dan cocok juga untuk perempuan " kata Reynala.
"Baiklah.. " kata Shica.
Setelah membeli apa yang mereka cari, mereka pun memilih pergi ke toko buku.
Shica bukan mau membeli novel, tapi dia mau membeli buku panduan ibu hamil yang akan melahirkan. Reynala yang lebih berpengalaman yang membimbingnya.
Setelah mendapatkan buku yang mereka mau, mereka keluar dari toko dan berpapasan dengan seorang pria.
"Hai, Shica" sapa pria itu. Shica menatap pria itu. Dia terkejut.
"Sean.. " gumam Shica.
"Wah perutmu sudah sangat besar ya.. Kapan kamu akan melahirkan? " tanya Sean. Shica menautkan alisnya.
Reynala menarik tangan Shica agar pergi saja jangan mendengarkan ucapan pria asing itu. Namun Sean menarik tangan Shica yang satunya lagi.
"Lepaskan tanganmu dari tangannya " geram Reynala penuh ancaman.
"Tenangkan dirimu, Nyonya Lee.. Aku hanya ingin sedikit berbincang dengan Shica" kata Sean.
"Lepaskan tanganmu! " ancam Reynala.
Sean menurut. Dia mengangkat kedua tangannya. "Aku lepas.. Shica.. Apa kau tahu siapa ayah dari bayimu? " tanya Sean.
Shica merasa sangat tersinggung dengan ucapan Sean. Sean tersenyum mengejek.
"Kau bahkan tidak tahu yang mana ayah dari bayimu kan? Kau juga tidak tahu yang mana suamimu" kata Sean.
"Jangan membuatku marah, Sean Jansen" kata Shica memperingatkan.
"Shica.. Apa kau tidak merasa malu? Kau punya dua suami.. Astaga Shica " kata Sean sambil mengusap kasar wajahnya.
"Lalu apa masalahmu? " tanya Shica.
"Seandainya waktu itu kau lebih memilih diriku, maka hidupmu tidak akan serumit ini" kata Sean.
Reynala menautkan alisnya geram. "Jaga ucapanmu.. Beraninya kau menghina menantu keluarga Adiwijaya" geram Reynala.
"Ayo, jangan dengarkan dia, kak" kata Shica sambil menarik tangan kakaknya dan berlalu meninggalkan Sean.
"Sebenarnya kau wanita macam apa, Shica? Setiap hari tidur dengan dua lelaki yang berbeda.. Bahkan jalang akan bekerja dengan satu pria dalam satu malam" kata Sean.
Shica kehabisan kesabaran. Dia berbalik dan menampar wajah Sean dengan keras.
Sean tertawa. "Kau punya harga diri? Benarkah? Berapa harganya? Apa harganya terjangkau? Sehingga keluarga Adiwijaya dan keluarga Abdurrachman mampu membelimu untuk memuaskan putra mereka? " tanya Sean.
Shica menautkan alisnya. Kedua matanya sudah berlinangan air mata. Dia ingin sekali menghajar pria di depannya. Tak peduli meskipun didepan umum sekalipun.
"Boleh aku mengatakan sesuatu? " tanya Sean. "Kau sudah terlalu banyak bicara! Menyakiti perasaan wanita hamil sama saja kau menyakiti perasaan ibumu! " geram Reynala.
"Biarkan saja.. Ibuku sudah tiada.. Jadi aku tidak menyakiti ibuku.. Dan satu lagi.. Apa yang kukatakan pada Shica itu, anggap saja sebagai balasan dia telah menolakku dulu.. Dan balasan ini tidaklah seberapa, karena aku akan membalasmu sampai kau menyadari kalau hidupmu gagal, Rastani Mahali" kata Sean tanpa beban.
Shica menatap wajah Sean. "Apa aku begitu menyakiti dirimu? Apa waktu itu aku menolakmu dengan kasar? Aku menolakmu dengan baik-baik.. Tapi kau terlalu sombong sehingga kau marah padaku sampai sekarang " kata Shica.
Sean mencengkram kedua lengan Shica. "Ya! Aku sakit dengan penolakanmu! Dan yang sombong itu adalah kau! Kau menolak diriku yang jelas sempurna untukmu " geram Sean.
Sean mendorong Shica. Shica berteriak. Reynala panik. Namun sepasang tangan menangkap tubuh Shica.
Shica mendongkak ternyata Reynaldi. Rahang kokohnya mengeras. Ekspresinya terlihat begitu murka.
"Apa kau berniat menantang malaikat maut datang lebih cepat?! " teriak Reynaldi penuh kemarahan. Sean menautkan alisnya.
Reynaldi membawa Shica pada Reynala. Dia berjalan menghampiri Sean kemudian tanpa basa-basi lagi, dia menghajar Sean. Sean membalas pukulan Reynaldi. Terjadi perkelahian yang cukup sengit.
Shica ketakutan. Dia memeluk Reynala dan menyembunyikan wajahnya. Reynala memeluk Shica dan berusaha mengalihkan pandangan Shica.
Tanpa ampun, Reynaldi menghajar Sean seperti orang kesetanan dan Sean melawan walaupun tetap dia yang kalah.
"Bersyukur pada Tuhan karena aku tidak menghabisimu! " bentak Reynaldi. Semua mata orang yang lewat tertuju pada mereka.
Reynaldi membawa Shica dan Reynala ke mobilnya.
Reynaldi yang menyetir berkali-kali memukul stir mobil. Shica yang duduk di sampingnya terlihat ketakutan akan kemarahan Reynaldi.
Reynala yang duduk di kursi belakang tampak masih kesal. Terlihat dari ekspresinya.
"Sialan! Aku masih belum puas menghajar pria berengsek itu! Beraninya dia mendorongmu! Bagaimana jika terjadi sesuatu padamu dan anakmu.. " geram Reynaldi.
"Su.. Sudahlah.. Aku.. Aku tidak apa-apa " kata Shica pelan.
"Iya, kau tidak apa-apa.. Tapi bagaimana jika aku lengah? Lain kali, aku akan menghabisi pria sialan itu " geram Reynaldi.
Shica terdiam seribu kata. Dia tidak mau mendebat suaminya yang sedang dalam keadaan marah.
By
Ucu Irna Marhamah