
Shica Mahali
Selama satu minggu ini aku bersama Raihan tinggal di mansion Adiwijaya. Aku merawat Reynaldi hingga sembuh. Raihan juga membantuku. Walau tidak secara langsung.
Aku bingung. Kenapa aku bisa memiliki dua orang suami. Aku tahu ini salah. Tapi bagaimana bisa aku bercerai dari Raihan. Aku juga tidak bisa meninggalkan Reynaldi yang terlalu banyak berkorban.
Sungguh aku bingung..
Tapi aku tidak melakukan hubungan bebas begitu saja dengan mereka. Apalagi saat ini aku sedang mengandung anaknya Raihan.
Aku melayani mereka hanya sebatas kebutuhan umum. Seperti menyiapkan makanan untuk mereka berdua, memberikan obat sesuai jadwal untuk Reynaldi, dan menyiapkan setelan jas untuk Raihan yang ingin berangkat kerja.
Setiap hari melakukan hal yang sama. Jika aku melakukan hal yang lain, mereka akan menceramahiku.
Jangan banyak bekerja, kau sedang mengandung, jaga kesehatanmu, itu kalimat yang sering aku dengar dari Reynaldi.
Jangan terlalu lelah, jangan lupa makan tepat waktu, minum susu formula dan istirahat secukupnya, itu yang sering aku dengar dari Raihan.
Aku mulai terbiasa dengan kehidupan baruku yang bisa dikatakan aneh.
Setiap malam, aku tidur dengan Reynaldi. Tentu saja Raihan yang menyuruhku untuk tidur bersamanya.
Lalu, jika tengah malam aku merasakan kontraksi pada perutku, Raihan harus pindah ke kamar tempat aku dan Reynaldi untuk menenangkanku dan bayiku.
Reynaldi juga sering membantu meredakan sakit di perutku dengan usapan lembutnya. Namun mungkin bayiku ini cukup rewel dan ingin ayahnya yang melakukan hal tersebut. Hingga kadang kami bertiga tertidur di ranjang yang sama hingga pagi dengan keadaan dua manusia tampan itu memeluk diriku.
Pagi ini, para pelayan memasak. Aku menyajikan makanan ke meja. Kudengar langkah kaki menuruni tangga. Aku menoleh. Ternyata Raihan dan Reynaldi.
Para pelayan segera berlalu. Aku yakin mereka juga tidak terlalu paham dengan hubungan serta statusku disini.
"Selamat pagi " kata Reynaldi dan Raihan bersamaan kemudian mereka mengecup pipiku dengan lembut.
Aku bisa merasakan kedua pipiku memanas. "Pagi.. Duduklah" kataku kemudian membawakan mereka nasi dan lauk.
Aku tahu Raihan tidak suka sarapan dengan roti. Dia biasa sarapan dengan nasi dan lauk pauk ala Indonesia. Kata Raihan, dia perlu banyak tenaga untuk bekerja di kantor.
Sementara Reynaldi biasa sarapan dengan roti dan selai coklat kacang. Dia tidak biasa sarapan dengan makanan berat. Dia bilang dia akan sakit perut jika sarapan dengan makanan berat seperti nasi.
Kami pun sarapan bersama.
"Jadi.. Kapan bayi kalian akan lahir? " tanya Reynaldi setelah selesai dengan sarapannya.
"Perkiraan dokter, pada bulan ini tanggal 28" kata Raihan menjawab pertanyaan Reynaldi.
"Wah.. Apa kalian sudah membeli barang-barang untuk bayi kalian? Sementara bayi kalian akan segera lahir" tanya Reynaldi.
"Kami belum sempat.. Tapi kami pasti akan membelinya " kata Raihan.
"Kakakku bisa mengantarmu untuk membeli kebutuhanmu.. Dia sudah berpengalaman dalam hal itu.. " kata Reynaldi sambil menoleh kearahku.
"Emm.. Aku terserah suamiku saja" kataku.
Reynaldi dan Raihan saling pandang. "Maksudmu aku atau dia? " tanya Raihan.
"Emm.. Kalian berdua" kataku ambigu.
"Bagiku, tidak masalah.. Karena kakaknya Reynaldi sudah memiliki anak.. Kurasa kau bisa bertanya apapun padanya" kata Raihan.
Aku mengangguk.
"Kau tidak pernah rapi melipat dasinya " kataku. Raihan tersenyum. "Aku sengaja melakukannya agar kau bisa melakukannya untukku " kata Raihan kemudian mengecup lembut bibirku. Aku tersenyum.
"Nakal" kataku.
"Tapi kau suka kan? " goda Raihan.
"Terserah" kataku menggerutu. Raihan kembali mengecup bibirku kemudian mencium perutku. Dia berjongkok dihadapanku.
"Jangan nakal ya.. Dengarkan kata-kata Mama.. Jangan buat Mama lelah dan sakit perut lagi yaa" kata Raihan seolah berbicara dengan bayi kami.
Aku tersenyum. "Dia bayi yang penurut dan akan selalu mendengarkan apa kata Papanya" kataku.
"Amiinn.. Aku berangkat ya" kata Raihan. Aku mengangguk. Dia pun berlalu aku menatap punggungnya yang semakin menjauh.
Reynaldi keluar dari kamar mandi. Dia mengenakan dasinya. Dan seperti Raihan, dia tidak bisa melipat dasinya dengan rapi.
Aku menghampirinya kemudian memasangkan dia dasi. "Begini caranya.. Kamu seorang pemimpin perusahaan, harus rapi dan memberikan contoh yang baik untuk para karyawanmu" kataku.
Kulihat bibir Reynaldi menyunggingkan senyuman manis. "Terimakasih " kata Reynaldi.
Aku tersenyum. "Oh ya.. Boleh aku menyentuh perutmu? " tanya Reynaldi. Aku mengangguk.
Reynaldi mencondongkan tubuhnya dan menyentuh perutku. "Aku tidak tahu apakah aku bisa berbicara pada bayimu seperti Raihan atau tidak.. Tapi kau jangan mentertawakan diriku ya" kata Reynaldi.
Aku tersenyum geli mendengar ucapannya. "Tidak masalah" kataku sambil menahan tawa.
"Haii.. Apa kau ada didalam? " tanya Reynaldi sambil serius memperhatikan perutku dan terus mengusap perutku. Aku tersenyum geli melihat tingkahnya.
"Semoga setelah kau lahir nanti, kau menjadi bayi yang cantik seperti ibumu, jika kau perempuan dan tampan seperti ayahmu jika kau laki-laki.. Semoga kau lahir dengan sehat.. Jadi anak yang baik ya.. Dan panggil aku Daddy ya, meskipun aku bukan ayah kandungmu " kata Reynaldi membuatku terharu. Aku membelai lembut rambut Reynaldi.
"Wah dia bergerak-gerak" kata Reynaldi semangat sambil menatap diriku.
Aku tersenyum. "Itu artinya, dia meresponmu" kataku.
"Benarkah? Wah.. Anak yang baik " kata Reynaldi. Aku tersenyum. Dia kembali berdiri tegak dan menatap diriku.
"Aku harus berangkat.. Ini sudah hampir siang" katanya sambil melihat jam tangannya. Aku mengangguk dan mengantarnya sampai teras depan.
"Nanti siang, Reynala akan kemari untuk mengajakmu membeli perlengkapan bayi " kata Reynaldi.
Aku mengangguk. Dia tersenyum kemudian mengecup bibirku.
"Hati-hati " kataku. Dia mengangguk kemudian memasuki mobilnya. Mobilnya pun melaju meninggalkan mansion.
Aku menghela napas panjang.
By
Ucu Irna Marhamah